Secara substansi, saya mendukung gagasan Khilafah Islamiyah. Khilafah 
Islamiyah, dalam pengertian sebuah pemerintahan yang menyatukan seluruh umat 
Islam di seluruh dunia untuk melawan kapitalisme, liberalisme, 
neo-kolonialisme, dan sebagainya, jelas merupakan sebuah solusi alternatif. 
Begitulah pula yang dikehendaki komunisme melalui gagasan Internasionalisme: 
"Persatuan Kaum Buruh se-Dunia" dalam sebuah partai komunis internasional untuk 
melawan kekuatan eksploitatif kapitalisme.

Hanya saja, Khilafah Islamiyah berbeda jauh dengan gagasan Internasionalisme 
Komunisme. Khilafah Islamiyah, ya hanya sekedar gagasan. Ia tidak memiliki 
bagunan konsep yang jelas-tegas, metode perjuangan, analisa sosial, sistem 
pemerintahan, sistem politik, sistem ekonomi, sistem sosial-budaya, dan 
sebagainya. Menolak demokrasi, tapi dalam banyak kesempatan justru mendukung 
demokrasi sendiri. Mengkampanyekan Khilafah Islamiyah (baca: kepemimpinan 
tunggal), tapi tak punya tawaran tentang bagaimana kekhalifahan dan khalifah 
itu dibentuk. Menolak sistem ekonomi yang liberal-kapitalistik, tapi tidak 
dipersiapkan konsep ekonomi tandingannya. Sistem eknomi syariah kah? Rasanya 
tak ada bedanya dengan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem pemerintahan 
presidensil dan parlementer ala demokrasi yang ada saat ini tak pernah ada 
tawaran jelas dari kelompok-kelompok yang mengusung wacana Khilafah Islamiyah. 
Seolah-olah mereka juga setuju dengan sistem tersebut.

Berbeda dengan Internasionalisme Komunisme. Ia, dalam banyak hal, memiliki 
gagasan, konsep, metode dan perangkat-perangkat yang jelas untuk mewujudkannya. 
Bahwa persatuan kaum buruh se-dunia dalam sebuah partai tunggal yang mendunia 
pula adalah sebuah keharusan untuk mewujudkan sebuah masyarakat sosialistik 
tanpa kelas-kelas sosial yang sejahtera, tanpa eksploitasi. Bagaimana 
mewujudkannya pun sudah jelas (walaupun dalam beberapa hal masih pro-kontra), 
yakni melalui revolusi, revolusi yang menumbangkan kekuasaan sebelumnya; 
kapitalisme. Revolusi merebut aset-aset produksi dan kemudian dikuasai serta 
dikelola bersama-sama/kolektif. Kepemimpinan dalam dalam konsep 
Internasionalisme Komunisme pun terang benderang, yakni pembentukan kekuasaan 
diktator proletariat (sementara) yang dikendalikan oleh sebuah partai tunggal. 
Sistem ekonominya, tiada lain kecuali (melalui) nasionalisasi aset-aset 
produksi oleh negara. Sistem produksi, distribusi dan konsumsi dilakukan secara
 bersama-sama. Tidak ada perorangan yang memiliki hak atas alat-alat produksi. 
Semua berada di tangan negara yang dikelola oleh masyarakat secara kolektif.

Begitulah letak perbedaannya.


Muhammad Rizqi Ramadlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                              
    Sebenarnya masalah khilafah islamiyah gampang, 
 tinggal berdayain aja OIC ato OKI, jangan malu2 niru 
 Uni Eropa. Jadi indonesia bisa tetep presidensial 
 (kenyataannya sih parlementer he2) dan ikut uud 45 
 walo dah amandemen. OKI dikuatin ekonominya ato 
 tambah sayap militer. Pemimpin OKI diberi mandat 
 boleh ikut mengkordinasikan keadaan negara 
 anggotanya (bukan hanya masalah agama saja yg 
 diurusin). Tapi kayanya tetep aja g ada yg mau. 
 Gembong khilafah islamiyah (bc wahabi) aja g mau 
 nurunin sistem kerajaan di saudi, padahal kerajaan 
 itu G ISLAMI kali? He2
 --- In [email protected], "Mukhlisin" 
 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 > Satu poin plus buat Din S. Dia hadir untuk 
 "menolak" secara halus ditengah masa HTI... dia ga 
 perlu repot2 nundang orang HTI untuk berceramah tapi 
 dibuatkan acaranya oleh Ismail Yusanto.....
 > Dan kita semakin tau siapa HTI (Ismail Yusanto)...
 ternyata ujung2nya Politik juga :)
 > Katanya menolak demokrasi tapi kok mau ikut pemilu 
 dengan membuat parpol HTI...ini orang pinter apa 
 cerdas atau pikun susah mbedainya...:)
 > 
 > Salam,
 > Mukhlisin
 > Din: Tak Perlu Khawatirkan Wacana Khilafah
 >        
 >       KHILAFAH INTERNASIONAL: Ribuan warga Hizbut 
 Tahrir Indonesia mengikuti jalannya acara Khilafah 
 Internasional 2007 di Stadion Utama Gelora Bung 
 Karno, Jakarta, Minggu (12/8). Selain diramaikan 
 ribuan kontingen dari dalam negeri, Kilafah 
 Internasional 2007 ini juga diramaikan kontingen 
 dari sejumlah negara Islam.(30)  
 >      
 > JAKARTA- Ide untuk mewujudkan khilafah harus tetap 
 dalam kerangka negara bangsa, yakni Negara Kesatuan 
 Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila. Hal 
 itu dikatakan Ketua Umum PP Muhammadiyah, M Din 
 Syamsuddin, dalam sambutannya pada Konferensi 
 Internasional Khilafah di Stadion Utama, Senayan, 
 Minggu (12/8).
 > 
 > Menurut Din, khilafah adalah ajaran Islam yang 
 baik dan disebutkan dalam Al-quran, bahkan dalam 
 nada bahwa setiap manusia adalah khalifah Allah di 
 muka bumi. Oleh karena itu konsep khilafah tidak 
 mungkin kita tolak. Namun, kata dia, jika khilafah 
 ditarik kepada kelembagaan politik keagamaan maka 
 terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan 
 cendekiawan muslim dari dulu hingga kini.
 > 
 > Soal khilafah historis yang pernah ada dalam 
 sejarah Islam, misalnya, Ibnu Khaldun mengkritiknya 
 sebagai bukan lembaga kepemimpinan politik yang 
 bersifat keislaman, karena sesungguhnya khilafah 
 waktu itu adalah kerajaan.
 > 
 > Menurut Din, gagasan untuk menegakkan khilafah 
 sekarang ini mempunyai makna esensial perlunya 
 persatuan umat Islam. Oleh karena itu penegakan 
 khilafah harus tetap dalam kerangka NKRI. ''Khilafah 
 seperti itu menolak separatisme pada satu sisi dan 
 universalisme pada sisi lain,'' katanya.
 > 
 > Sebagai manifestasi persatuan umat Islam khilafah 
 tidak boleh mengurangi inklusifisme dan pluralisme 
 bangsa. Kepada semua pihak diimbau untuk tidak perlu 
 khawatir dengan wacana khilafah sebagai bagian dari 
 proses demokrasi dan pluralisme. ''Justru sikap 
 menolak dan mengecam wacana yang hidup di kalangan 
 bangsa bisa bersfat antidemokrasi dan pluralisme.''
 > 
 > Soal kehadirannya pada acara tersebut, Din 
 mengatakan, kita harus bersikap adil pada saudara 
 sendiri. ''Saya sering hadir pada acara Buddha dan 
 Konghocu, masak diundang saudara sendiri tidak,
 ''jawabnya.
 > 
 > Akui Pluralitas
 > 
 > Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), 
 Muhammad Ismail Yusanto, menolak sistem demokrasi 
 yang menempatkan kedaulatan di tangan rakyat, tapi 
 tetap mengakui adanya pluralitas di dalam 
 masyarakat. 
 > 
 > ''Kami menolak demokrasi yang menempatkan 
 kedaulatan di tangan rakyat, karena kedaulatan itu 
 seharusnya berada di tangan Allah,'' katanya kepada 
 wartawan dalam Konferensi Kekhilafahan Internasional 
 di Jakarta, Minggu.
 > 
 > Namun, kata dia, pihaknya juga tidak serta-merta 
 menolak pemilihan umum (pemilu) dan sistem 
 perwakilan yang terdapat di berbagai negara, 
 termasuk Indonesia. Bahkan, ujar Ismail, gerakan 
 Hizbut Tahrir di berbagai negara juga pernah 
 memiliki pengalaman mengikuti pemilu seperti yang 
 terjadi di Lebanon dan Jordania.
 > 
 > Ia menuturkan ketika Indonesia menyelenggarakan 
 pemilu tingkat nasional pada 2004, pernyataan resmi 
 yang dikeluarkan HTI adalah agar rakyat memilih yang 
 terbaik karena setiap pilihan pasti akan 
 dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. (bn,di-48) 
 > 
 > 
 > 
 > [Non-text portions of this message have been 
 removed]
 >
 
 
     
                       

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke