Salam
   
  Sebenarnya hanya diary pribadi
   
  Dilengkapi dengan beberapa  sudut info seputar Maroko
   
  Nasrul,
   
  http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5231
   
   
    Berulangkali, saya mencarinya di Bandara Casablanca, tetapi tidak pernah 
kutemukan pria bernama Moh Yassin.  ’Malaikat’-kah Dia? 
   

  Saat itu, genap empat bulan setelah bersungkem pada ayah-bunda di Tanah Air. 
Saya kembali ke Maroko, negeri tempatku kini menempuh studi di universitas 
al-Qurawiyin (oleh para wisatawan Eropa biasa disebut al-Karawiyine) Maroko.
   
  
  Ketika Qatar Airwaiys, pesawat yang kunaiki dari Jakarta-Casablanca, transit 
di Doha (Qatar) selama 18 Jam. Kebetulan mendapat fasilitas hotel al-Muntazah 
plaza, tidak jauh dari jantung kota Doha .  Tentu saja saya tidak mungkin 
mengurung diri dalam kamar hotel sejak pukul 7.00 pagi itu, dalam benakku 
memutuskan untuk jalan-jalan. 
   
  
  Setelah sholat Ashar, saya pun berjalan kaki secukupnya di jantung ibu kota 
Negara yang waktu itu sedang menjadi tuan rumah Asian Games ke-15. Jujur saja 
saya lebih dari empat kali transit di bandara Doha , tetapi baru kali itu bisa 
jalan-jalan di jantung kotanya.
   
  
  Tertarik ingin membeli beberapa barang kecil, utamanya makanan kecil, dalam 
benakku sekedar ingin ‘mencicipi’. Saya mendekati kotak Automatic Teller 
Machine (ATM) tertulis "Bank Islami" yang terletak di depan salah satu pusat 
perbelanjaan, dengan maksud mengambil sejumlah uang yang kubutuhkan.
  
  Awalnya, saya tenang-tenang saja, sebab di ATM itu jelas terdapat logo; 
Mastercrad, Visa, dan logo lainnya tanda fungsi ATM Internasional, sehingga 
berdasar logo-logo itu, saya pun yakin bahwa kartu ATM milikku bisa difungsikan 
di situ. 
   
  
  Sungguh kaget, di luar dugaan, entah kenapa  padahal sebelumnya orang 
silih-berganti tampak dengan normal bisa mengambil uang di situ. Tetapi ketika 
saya memasukkan kartu ATM, kok tiba-tiba eror? Kagetnya lagi, kartu ATM 
’tertelan’ alias tidak bisa keluar. Sedangkan waktu setempat sudah menunjukkan 
pukul 19.00, tutup kantor. Apalagi hari Jum'at adalah hari libur setempat yang 
tidak memungkinkan saya untuk langsung menghubungi pihak bank. 
   
  
  Awal Kesedihan
   
  
  Saya mulai gundah. Dalam hati, saya berdoa; "Semoga tidak terjadi apa-apa 
dengan sejumlah uang yang berada di rekeningku". Karena ketika itu, saya juga 
tidak bisa dan tidak mungkin menghubungi ke Indonesia (bank tempat saya buka 
rekening) untuk menutup kartu ATM yang tertahan  di kotak ini. 
  
  Dengan perasaan tidak menentu, saya meninggalkan kotak ATM, seraya berpikir 
bagaimana nanti biaya transportasiku dari bandara Casablanca, ke kota tempat 
kuliahku yang jaraknya sangat jauh. 
   
  
  Tiba-tiba saya ingat, ketika di bandara Soekarno Hatta, Jakarta , ibuku 
sempat memasukkan sejumlah uang cash ke dalam saku jaket hitamku, entah berapa 
jumlahnya. Kurogo sakuku, sayangnya, ternyata bukanlah Dollar atau Euro atau 
mata uang asing yang bisa ditukar di negara mana saja, tapi hanya 
lembaran-lembaran Rupiah. 
   
  
  Meski demikian dengan sikap spekulasi saya pun ‘nekat’ mendekati money 
changer yang kebetulan buka (meskipun di luar jam kerja itu), namun pelayan 
yang tampangnya orang pekerja asal Pakistan atau India itu, dengan mengggunakan 
bahasa Arab langsung menolaknya ketika saya mengeluarkan sejumlah Rupiah dari 
saku jaketku.
   
  
  Wajah Asia 
   
  
  Waktu setempat Adzan Maghrib sudah lama berkumandang dan dengan niat shalat 
maghrib dijama Ta'chir, dengan berjalan kaki sayapun memutuskan untuk kembali 
ke Hotel, tempatku transit.
   
  
  Baru saja sekitar 30 menit berbaring di kamar no: 22 lantai 6 hotel itu. 
Tiba-tiba telepon disampingku berbunyi kuangkat: Suara dari sebrang berbahasa 
Inggris,  "Para pengunjung hotel dipersilahkan turun untuk makan malam di 
restoran yang terletak di lantai dasar." 
   
  
  Restoran itu juga dibuka untuk umum, tidak hanya bagi tamu hotel. Keadaan 
restoran pun  cukup ramai dengan wajah-wajah pribumi beserta keluarganya, 
bersurban, gamis dan para wanita ber-abaya meski banyak juga yang membuka niqob 
(cadar)nya. Jauh berbeda ketika kondisi makan siang, tak terlalu ramai.
   
  
  Muaranya bertanya-tanya dalam hati, kenapa ketika saya duduk seorang diri di 
samping meja makan dan mengambil menu secukupnya dengan mengenakan kaos oblong 
dan jaket hitam, para pengunjung restoran (tampang pribumi) selalu saja melihat 
saya dengan tatapan sinis. Saya pun tetap bersikap tenang.
   
  
  Selepas makan, saya berbincang-bincang kecil dengan seorang gadis berwajah 
Filipina yang bekerja sebagai resepsionis di hotel itu, dengan pendekatan 
ke-Asia-an (dengan bahasa Inggris) saya bertanya, "Kenapa kok para pengunjung 
restoran hotel ini selama saya berada di ruang makan tampak sinis memandang, 
padahal sebelumnya saya pernah singgah di negara-negara bagian Teluk lain, 
seperti Saudi dan lainnya, tetapi tidak seperti ini?"
   
  
  Si gadis Filipina itu menjawab,"Bisa jadi mereka keanehan, ada wajah Asia 
nimbrung di meja makan restoran yang dikunjungi mayoritas oleh pribumi 
berkantong tebal, sedangkan mayoritas wajah Asia di sini hanya jadi pelayan. 
Dan memang biasanya mereka memandang rendah kepada orang Asia, karena di sini 
(Asia) dianggap bangsa kelas pembantu". Tandasnya. Setelah berpamitan, sayapun 
bergegas pergi meninggalkannya.
   
  
  Pukul 22.00 waktu setempat. Saat itu  2 Desember 2006. Pihak hotel pun 
memberitahukan, bahwa para pengunjung akan melangsungkan perjalanan ke 
Casblanca, agar bersiap-siap menuju bandara Doha .  
   
  
  Letak Kesalahanku
   
  
  Pukul 8.30. GMT,  saya tiba di bandara Mohammad V, Casablanca, Maroko. Lebih 
dari satu jam lamanya saya berpikir. “Bagaimana untuk bisa sampai ke kota 
tempat kuliahku, sedangkan tidak ada sepeserpun uang yang bisa kupakai untuk 
naik kereta api, transportasi tunggal dari bandara?”
   
  
  Dalam ketermenungan, saya berpikir apakah yang menyebabkan 'kesusahan' saya 
ini. Orang bijak bilang, “setiap hal ada sebabnya”. Tapi apa sebabnya? 
   
  
  Meditel (kartu Hand phone Maroko) pun saya aktifkan kembali, yang kusimpan 
selama berada di Indonesia. Bermaksud menghubungi kawan-kawanku di Maroko, 
tapi, nyatanya, tidak ada sepeserpun pulsa di dalamnya. Lengkaplah sudah. 
   
  
  Di tengah kegalauan, tiba-tiba ponselku berdering. Ibundaku dari Indonesia 
bertanya, "Kamu sudah sampai tujuan dengan selamat?"
   
  
  Setelah menjawab seperlunya, tidak sengaja saya sepontan bilang, ”Bahwa saya 
sedang dalam masalah.” Dengan nada sedikit kesal, ibunda berkata, "Apa kamu 
ingat, ketika ibumu menyelipkan sejumlah uang tunai rupiah di saku jaketmu di 
bandara Jakarta . Ibu sudah bilang, tukar dulu rupiah ini di money changer, 
untuk bekal diperjalananmu, tapi waktu itu kamu tampaknnya tidak mengindahkan 
pesan ibu, kamu bilang cukup dengan kartu ATM yang kau pegang itu. Itulah 
akibatnya kalau kurang mengindahkan omongan ibumu".
   
  
  ”Jeweran” ibu mengingatkan atas kesalahanku. Saat itu juga, saya langsung 
memohon maaf pada ibunda. Dengan ringan Beliau pun memaafkanku.
  
  "Pelayanan teknologi (ATM) bisa eror kapan saja. Tapi restu ibumu akan setia 
kapan dan di mana saja kamu berada, selagi kamu mengindahkan nasehatnya". 
   
  
  Sebelum telpon di putus, ibu sempat mendoakan, ”Semoga kamu mendapat jalan 
keluar." 
   
  
  Terbersit dianganku. Jika anak manusia selalu berusaha untuk mengindahkan 
(apalagi mentaati) sekecil apapun pesan-pesan orang  tua, utamanya ibunya. Maka 
ia selalu meraih keberuntungan dan kemudahan segala urusannya dunia dan 
akhirat. Di antara contohnya ”Malin kundang”, di tengah kesuksesannya dihunjami 
adzab Tuhan, akibat kedurhakaan kepada ibunya. Na'udzu billah mindzalik. 
   
  
  Pergolakan Prinsip
   
  
  Jam di dinding bandara Casablanca menujukan pukul 9.30. GMT.
  
  Dengan berifikir cepat, saya sempat melirik beberapa barang ditanganku yang 
memungkinkan untuk bisa dijual dengan harga murah demi untuk mendapatkan ongkos 
meneruskan perjalanan. Diantaranya, ada hand phone Nokia N 72 (waktu itu 
harganya masih cukup lumayan), ada handy Cam Sony jenis mini, laptop, dan 
berbagai barang berharga lainnya.
   
  
  Tetapi masih tetap terngiang di telinga pesan kedua orang tuaku, utamanya 
ibuku. Semenjak saya duduk di bangku pesantren tingkat SLTP, ibu pernah 
menasehati, "Anak-anakku, dalam kondisi bagaimanapun, jangan sekali-kali kamu 
menjual barang-barang yang kau pergunakan itu, karena sikap demikian berakibat 
tidak baik pada pribadimu". 
   
  
  Saya kembali termenung. Unsur Qowaid al-Fiqh pun sempat hinggap di 
benakku:”al-Hukmu yadurru ma’a illatihi a’daman wa wujudan”. Atau hal haram 
bisa menjadi halal sesuai tuntutan situasi dan kondisi. Seolah-olah pikiran 
semacam itu mendorongku untuk menjual sebagian barang-barangku, melanggar pesan 
ibuku. Demi mendapatkan ongkos.
   
  
  Akan tetapi, perspektif tasawwuf, sungguh tidak baik jika melanggar pesan 
orang tua kedua kalinya, utamanya ibunda. Meskipun sekarang ini saya dalam 
kondisi sangat membutuhkan uang, demikian gumamku. 
  
  Di sisi lain saya menyadari, ketika di bandara Jakarta saya kurang 
mengindahkan pesan ibunda, tersebut di atas tadi. Dan 'kesusahan' ini akibatnya.
   
  
  Berniat (belajar) selalu mentaati nasihat orang tuaku. Kuputuskan untuk tidak 
menjual barang apapun, apalagi laptop yang di dalamnya terdapat data-data 
penting. 
   
  
  Lagi-lagi, saya pun berspekulasi (seperti di Qatar tadi), sejumlah rupiah 
yang ada di saku kukeluarkan dan mendekati money changer, dan sudah 
kuperkirakan sebelumnya, di sanapun menjawab, "Di sini tidak menerima Rupiah". 
Demikian penjelasan mereka menggunakan bahasa Perancis, bahasa resmi di 
instansi-instansi Maroko itu.
   
  
  Di depan money changer itu, saya berdiri dengan memegang dua tasku, diam 
berdo'a dalam hati tak terasa air mataku membasahi pipi, termenung, berpikir 
mencari jalan keluar, di tengah-tengah kejamnya kota Casablanca itu. Ya, Maroko 
memang bagian Negara Arab berpenduduk mayoritas Muslim, tetapi berbagai aspek 
hidup dan kehidupannya sudah terkena imbas Eropa, individualistis dan 
egoistisnya lebih kejam daripada Jakarta . 
   
  
  'Malaikat'
  
  Di saat ketermenungan, tiba-tiba saya dikagetkan datangnya seorang laki-laki 
berpakaian dinas polisi bandara setempat. (Maaf), tangan kanannya buntung tanpa 
jari-jari. Sambil menepuk punggungku dia mengucapkan "Assalamu'alaikum".
   
  Belum selesai menjawab ucapan,"Wa'alaikum salam". Dia berkata lagi (dengan 
bahasa Arab), "Wahai anak muda, kamu berasal dari negara bagian Asia, ya? Dan 
ada masalah apakah tampaknya kamu gusar?" 
   
  
  Saya menjelaskan secukupnya saja. Tiba-tiba dia mengeluarkan sejumlah Dirham 
(mata uang Maroko) dengan jumlah yang lebih dari cukup untuk ongkos yang saya 
butuhkan, ia membeberkan dan menyodorkannya ke saya. 
  
   
  Awalnya sayapun menolak, tapi ia memaksaku untuk menerimanya. 
   
  
  Baru saja saya menyentuh uang itu, ia buru-buru merogoh sakunya lagi, dan 
mengeluarkan sejumlah uang dalam bentuk Riyal Saudi dan Dollar Amerika (saya 
lupa jumlah persisnya), seraya berkata, "Ini uang tambahan. Kalau tadi kamu 
menukar uang (Rupiah, pen) ditolak, maka tukarlah uang-uang ini, kamu tidak 
akan ditolak lagi”. Tandasnya, seolah-olah dia tahu kalau sebelumnya saya 
menukar Rupiah dan ditolak, seraya Ia pun buru-buru ngeloyor pergi.
   
  
  Saya buru-buru mencegat langkahnya. Dia bertanya: "Ada apalagi?" 
  
   
  "Bolehkah tau namamu?", tanyaku.
   
  
  "Tidak perlu?"
   
  
  "Bolehkan saya tahu nomer telponmu?"
   
  
  "Tidak ada manfaatnya," tambahnya.
   
  
  "Cukup besar uang yang kamu berikan padaku, maka ambillah salah-satu 
identitasku ini, entah passport, atau KTP (Maroko) atau kartu mahasisswa, besok 
atau lusa saya datang padamu untuk mengambilnya dan mengembalikan uang yang kau 
pinjamkan ini. Karenanya, saya minta nomer telpon antum," begitu pintaku.
   
  
  Dengan tegas, ia menjawab, ”Saya tidak meminjamkan uang padamu, uang-uang itu 
adalah hakmu. Jika kapan-kapan kamu singgah di bandara Casablanca ini, cari 
saja namaku, Mohammad Yasin." Dan, pria baik hati itupun  buru-buru pergi 
meninggalkanku yang saat itu masih kaget dan bercampur heran.
   
  
  Dua minggu kemudian, dari Tetouan, kota tempat kuliah, saya menjemput kakaku 
yang baru datang dari Saudi Arabia di bandara Casablanca. 
   
  
  Mengenal peristiwa sebelumnya, saya sudah saya menyiapkan  sejumlah uang 
dalam amplop, untuk saya kembalikan kepada orang yang mengaku bernama Mohammad 
Yasin tadi.  Tetapi sesampainya di Bandara Casablanca, saya tak menemukan pria 
itu.
   
  
  Sudah beberapa aparat dan kantor polisi bandara aku tanyai, tak ada orang 
bernama Mohammad Yasin.  
   
  
  Dua puluh hari kemudian, saya kembali lagi ke bandara Casablanca menjemput 
sahabatku mahasiswa universitas az-Zaituna Tunis yang berkunjung ke Maroko.
   
  
  Saya pun kembali mencari orang yang bernama "Mohammad Yasin" di setiap pos 
dan kantor pegawai bandara, termasuk mengecek di pusat data pegawai bandara, 
namun ternyata saya tetap belum menemukannya, dan mayoritas pegawai di sana 
menjawab: "Di bandara ini tidak ada pegawai yang bernama Mohammad Yasin"
   
  
  Jujur awalnya saya ragu menulis kisah ini. Tetapi karena pencarian itu sudah 
saya lakukan berulang- kali hampir satu tahun lamanya, kucari dan kucari dia 
setiap kali saya ada keperluan di bandara Casablanca. Namun belum kutemukan 
juga orang itu. Sampai saya buat tulisan ini. Jadi, siapakah Dia? Wallohu a'lam 
. [Nasrulloh Afandi. Sekarang sedang melanjutkan kuliah di Maroko.


 


       
---------------------------------
Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke