Saya Memerlukan Seorang Pemandu
Shaykh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani

Bismillah hirRohman nirRohim

Allah berfirman dalam al-Qur’an [9:109],  “bahwa jika
seseorang membangun rumahnya pada jurang yang terjal
tanpa pondasi yang kuat, maka rumahnya pasti akan
runtuh”. Jika seseorang membangun pondasi rumahnya
dengan bahan yang baik, atau pada tanah yang padat,
lapisan demi lapisan direncanakan dengan baik, dia
akan mempunyai rumah yang kokoh. Setiap hal
membutuhkan orang yang ahli dalam setiap bidangnya.

Jika Saya bertanya  kepada kalian, “Bisakah kamu
membuatkan rumah untuk kami?” maka orang yang tidak
ahli akan menjawab, “Tidak, saya bukan tukang kayu,
saya tidak pernah membangun rumah.” Jadi kita harus
memanggil orang lain dan berkata, “Tolong buatkan
rumah untuk kami karena anda ahlinya.” Maka orang itu
akan menjawab, “Baiklah! Begini rencananya, di sini
saya akan meletakkan dinding, lalu di sini pondasi
harus lebih kuat, atap dengan kuda-kuda kayu dan
seterusnya.”

Jadi jika kalian memerlukan seorang ahli untuk
membangun rumah yang biasa, bagaimana dengan membangun
hati kalian? Bagaimana kalian  dapat membuat suatu
pendekatan kepada Tuhanmu tanpa dibimbing seorang
ahli? Kalian harus mencari ahlinya, karena kalian
tidak dapat mencapai-Nya tanpa bantuan seorang
pemandu, tidak peduli betapa keras kalian mencoba
mengikuti jalan-Nya sendirian. Tak seorang pun yang
dapat mencapainya sendirian karena kadang-kadang
walaupun seseorang tahu bahwa dia berada di jalur yang
benar, bisa saja dia melakukan sesuatu yang bukan pada
tempat dan waktunya. Hingga seterusnya dia akan gagal.

Jadi kita memang memerlukan bantuan seorang ahli dan
dia akan menjadi pemandu kita. Kalian tidak akan
menemukan jalan dalam mengarungi gurun kehidupan untuk
mencapai Tuhan, kecuali dengan bantuan seorang pemandu
karena hempasan badai dari keinginan ego dan hasrat
ingin menonjolkan diri dapat mengubah segalanya. 

Ego memiliki keinginan. Angin badai  ego kalian adalah
keinginan yang kosong dan nafsu untuk menonjolkan
diri. Bila keinginan tersebut muncul, dia akan
menutupi jalur yang benar sehingga kalian akan
tersesat. Kalian akan berhenti dan tidak tahu cara
melanjutkannya. Itulah sebabnya kalian membutuhkan
bantuan dari seorang pemandu yang benar-benar ahli
dalam mengarungi gurun kehidupan tersebut. Pemandu
Sejati adalah ahli dalam mengarungi jalur-jalur ego.
Bila kalian tidak dapat menemukannya berarti
buang-buang waktu saja dalam mencoba mendekati Tuhan
di kehidupan ini.

Tuhan Maha Penyayang, karena kalian berusaha keras
untuk mencapai-Nya, maka akhirnya  kalian akan
menemukan-Nya di akhir hayat meskipun tanpa bantuan
seorang pemandu, tetapi kalian telah kehilangan waktu
tanpa kemajuan yang berarti, kalian tersesat dahulu
kesetiap tempat  dan tidak bisa mencapai-Nya dengan
cepat. Segera setelah kalian menemukan seorang pemandu
dan kalian menerima panduan yang diberikannya,
mengalahkan kemauan ego dan keinginan untuk
menonjolkan diri, maka kalian akan sampai di sisi
sebrang yang kalian tuju. Sebaliknya jika dengan
kesombongan kalian tidak menerimanya, maka kalian akan
tersesat di gurun yang sangat luas dalam waktu yang
sangat lama.

Ketika Rasulullah saw diperintahkan untuk berhijrah
dari Mekkah ke Madinah, beliau bersabda, “Saya
memerlukan seorang pemandu.” Beliau adalah seorang
Rasul, mengapa beliau memerlukan seorang pemandu? Hal
ini untuk mengajari kita bahwa walaupun beliau adalah
seorang rasul, beliau tetap membutuhkan seorang
pemandu, pemandu eksternal yang dapat menunjukkan
jalan menuju Madinah. Misalnya, kita ingin menunjukkan
jalan ke air terjun Niagara kepada anak kita, tetapi
kita tidak tahu jalan menuju ke sana, maka kita akan
mencari seorang yang ahli, yang tidak akan menyesatkan
kita.

Beliau adalah Rasul tetapi beliau tetap mencari
seorang pemandu, apakah beliau tidak tahu? Nabi ‘Isa
as bersabda, “Salah satu di antara kalian akan
menghianatiku.” Ini adalah benar, dan sebagai Muslim
kita wajib mempercayainya. Beliau mengatakan ‘salah
satu di antara kalian,’ apakah beliau tidak tahu?
Beliau tahu tetapi tidak mengatakannya. Rasulullah saw
pun tahu, tetapi mereka (Nabi ‘Isa dan Rasulullah saw)
ingin menunjukkan kelemahan dan kerendahan hati
sepenuhnya. Beliau mengajari kita untuk mencari
seorang pemandu. Mereka membutuhkan seorang pemandu
untuk menunjukkan jalan dari Makkah ke Madinah dan
dengan bantuannya mereka bisa sampai di Madinah dengan
aman.

Jika kita membutuhkan seorang pemandu untuk mengarungi
gurun pasir, bagaimana dengan kehidupan spiritual
kita? Ini lebih sulit. Kalian jelas membutuhkan
seorang pemandu untuk masalah ini. Rasulullah saw
mempunyai pemandu, yaitu malaikat Jibril as yang
memberinya inspirasi dan menyampaikan wahyu. Pada
peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw dibimbing
menuju Kehadirat Ilahi. Jadi secara eksternal beliau
membutuhkan seorang pemandu yaitu ketika hijrah dari
Makkah ke Madinah dan secara internal beliau juga
membutuhkan seorang pemandu, ketika hijrah menuju
Tuhannya di malam Isra’ Mi’raj. Tanpa ada jalan
mustahil melakukan hijrah, kalian tidak bisa pergi ke
mana-mana tanpa ada jalan.

Itulah sebabnya mengapa setiap orang harus mencari
seorang pemandu untuk menunjukkan jalan kebenaran dan
jalan menuju realitas. Tanpa panduannya kalian akan
berada dalam keraguan, apakah yang kalian lakukan
benar atau salah. Kalian tidak akan mengetahuinya.

Dengan adanya pemandu, kalian akan bergantung
kepadanya karena dia adalah seorang yang ahli. Seperti
yang telah dikatakan bahwa Rasulullah saw mengambil
seorang pemandu untuk menunjukkan jalan ke Madinah.
Beliau tidak berkata kepadanya, “Tidak! Mengapa kamu
membawaku ke jalan yang ini, bukan yang itu?” Beliau
menggantungkan dirinya kepada pemandunya karena
keahliannya.

Pemandu yang menunjukkan jalan harus dapat dipercaya.
Kalian tidak bisa mengambil sembarang pemandu
danmengaku bahwa dia adalah pemandu kalian. Jika
kalian  mengambil pemandu yang keliru, bisa saja dia
membawa kalian ke dalam samudra Setan. Kalian akan 
tersesat dalam samudra halusinasi. Banyak orang yang
mengikuti pemandu semacam ini, suatu saat para
pengikutnya akan mengalami halusinasi. Apa yang mereka
lihat sebenarnya tidak ada. Oleh sebab itu pemandu
yang sejati sangatlah penting.

Bagaimana kalian bisa mengenalinya? Grandsyaikh 
Abdullah Faiz ad-Daghestan pernah berkata bahwa jika
kalian ingin mengetahui apakah seseorang itu adalah
seorang pemandu yang sejati, pertama kali yang harus
dilakukan adalah melihat pakaian luarnya. Apakah dia
telah memakai pakaian luar dengan lengkap? Jika belum,
berarti ada kerusakan dalam hatinya, oleh sebab itu
jangan ikuti  dia. Segala sesuatu pada seorang guru
Sufi, (kitaberbicara tentang Sufisme, bukan hal yang
lain) yang tidak sesuai dengan pakaian dan perilaku
seorang guru yang sejati, menunjukkan suatu
ketidaksempurnaan atau kesalahan.

Grandsyaikh berkata, “Jika kalian mempunyai sebuah jam
dan jam itu secara internal bekerja 100% tetapi tidak
mempunyai jarum, jam itu tidak bisa menunjukkan waktu
kepada kalian sehingga tidak ada manfaat yang dapat
diambil darinya. Sama halnya dengan jam yang mempunyai
jarum, tetapi mekanik internalnya tidak bekerja 100%,
dia juga tidak dapat menunjukkan waktu yang tepat bagi
kalian.” Jadi bagi seorang pemandu bagian eksternal
dan internal harus sempurna.

Kita tidak berbicara tentang diri kita. Kita mengikuti
guru kita. Beliaulah pemandu kita. Beliau bekerja 100%
baik secara eksternal maupun internal. Kita hanya
mencoba mengikutinya. Itulah sebabnya bila kita
melihat kepada seseorang dan berpikir apakah dia
adalah seorang pemandu sejati, kalian harus melihat
bahwa dia telah melengkapi bagian eksternalnya tanpa
ada kekurangan. Jika ada sesuatu yang hilang, kalian 
jangan mengikutinya. Bila dia kehilangan salah satu
bagian eksternalnya berarti dia telah kehilangan
banyak bagian internalnya, yang tidak dapat diketahui
orang.

Kalian berpakaian dengan rapi karena tahu bahwa orang
melihat kalian. Tetapi bila menyangkut hal-hal yang
tidak dapat dilihat, kalian berkata, “Biarkan saja,
toh tidak ada yang melihat.” Jika kalian kehilangan
salah satu item dari pakaian eksternal yang jelas akan
dilihat orang, berarti kalian ‘tidak fit’. Apalagi
kalau menyangkut hal-hal yang tidak terlihat, tentu
akan lebih banyak yang hilang. Orang seperti itu tidak
bisa menjadi pemandu sejati. Dia adalah pemandu yang
tidak terhubung. 

Bisa saja dia membawa kalian ke jarak tertentu dalam
kehidupan spiritual, tetapi dia tidak terhubung dengan
tingkat yang lebih tinggi lagi. Pemandu sejati harus
mempunyai penampilan luar yang mengikuti sunah Nabi
saw  yang lengkap, tidak kurang sedikit pun.
Grandsyaikh berkata bahwa itu adalah langkah pertama
untuk menentukan seorang pemandu sejati. Bila kalian
melihatnya dan mengatakan, “Dia sudah lolos,” bukan
ujian pertama, tetapi lolos dari “kriteria pertama.” 
Berikutnya kita tinjau dari sisi dalam. Bagaimana
kalian bisa melihat sisi dalamnya? Grandsyaikh
berkata, “Kalian harus lihat bahwa orang itu mempunyai
rasa hormat kepada setiap orang tanpa diskriminasi
sekecil apa pun, tanpa memandang agama karena setiap
manusia adalah hamba Tuhan yang saja.

Sang pemandu harus menghormatinya, pertama karena
seluruh manusia adalah ciptaan Tuhan dan mempunyai
Cahaya Ilahi dalam hatinya. Selain itu dia juga harus
mempunyai rasa cinta terhadap mereka. Menerima apa
yang dia inginkan baginya dan bagi anak-anaknya, untuk
menjadi dan bertindak atas nama mereka, walaupun
mereka hanya orang biasay yang belum menjadi
pengikutnya. Jadi dia harus bisa menunjukkan rasa
hormat dan cinta kepada mereka. Ketiga, dia harus
menunjukkan kerendahan hati kepada mereka. Dia tidak
bisa berkata bahwa dia lebih tinggi dari mereka. Tidak
ada seorang pun yang tinggi kecuali Tuhan. Jika dia
menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka berarti
dia seperti Setan yang menganggap dirinya lebih tinggi
dari Adam as.

Ketiga kriteria ini adalah “aksesoris dalam” yang
dimiliki pemandu sejati. Dalam hal pakaian dia harus
memiliki pakaian lengkap seorang guru Sufi. Jika guru
kalian seperti itu, barulah dia seorang pemandu
sejati, ikutilah dia. Bersamanya kalian akan menemukan
kepuasan hati dan menemukan hal-hal yang telah hilang.
Jika kalian tidak menemukan orang seperti itu,
lanjutkan pencarian kalian. Kalian akan menemukannya
karena Allah Maha Penyayang. 

Bila kalian melihatnya, Allah akan memberi. Bila
kalian tidak meminta, Allah tidak akan memberi. Jika
kalian sungguh-sungguh, memohonlah dengan hati kalian.
Kalian akan menemukannya dan dia akan memberi kunci
hati kalian. Jika kalian tidak melakukannya dengan
sungguh-sungguh, tidak melakukannya sepenuh hati,
hanya di lidah saja mungkin kalian akan menemukannya
atau mungkin juga tidak.
Ahmad al-Badawi adalah seorang wali yang sangat
terkenal di semua kalangan Sufi. Beliau menyatakan
“Aku tidak membutuhkan seorang pemandu. Pemanduku
adalah al-Qur’an,” sebagaimana yang dikatakan orang
Wahhabi sekarang, “…dan cara hidup Rasulullah saw.”
Beliau mencoba mendekati Tuhannya sebagaimana
Rasulullah saw bersabda atas nama Tuhannya, “Hambaku
tidak berhenti untuk mendekati-Ku melalui ibadah
sunnah atau perbuatan baik, sampai Aku mencintainya.
Dan bila Aku Mencintainya, pada saat itu Aku akan
menjadi telinga yang digunakan untuk mendengar, mata
yang dipakainya untuk melihat, tangan untuk merasakan,
dan kaki untuk berjalan.

Jika dia meminta, Aku akan memberi. Jika dia memohon
perlindungan, Aku akan melindunginya. Aku akan menjadi
dia, dan dia dapat mengatakan kepada sesuatu,
“Jadilah!” maka jadilah ia.”2 Orang-orang Wahhabi
biasanya memotong bagian terakhir dari hadits
tersebut, tetapi kita mengucapkannya secara lengkap. 

Ahmad al-Badawi berusaha mendekatai Tuhannya sampai
mencapai pintu Kehadirat Ilahi, lalu dia berkata, “Ya
Tuhanku! Bukakanlah pintu ini untukku.” Tetapi dia
tidak mendapat jawaban. Dia mencobanya berulang-ulang
sampai akhirnya dia bertemu ‘secara tidak sengaja’
dengan seseorang. Saya bilang ‘tidak sengaja’ tetapi
sebetulnya itu sudah direncanakan dengan sangat rapi,
karena itu adalah Kehendak Allah untuk mengujinya. Dia
bertemu orang itu di jalan, seseorang yang
kelihatannya biasa saja. Orang itu lalu memanggilnya,
“Hei Ahmad!” bahkan dia tidak menyebutnya “Syaikh
Ahmad!” sebagai tanda penghormatan. Dia berkata,
“Wahai Ahmad! Engkau perlu kunci untuk mencapai
kehadirat Ilahi? Aku punya kuncinya dan jika Kau mau,
datanglah kepadaku dan akan kuberikan kepadamu.”

Banyak di antara kita yang menolak fakta atau
kenyataan karena merasa bangga, walaupun dia tahu
sebenarnya itu adalah jalan yang benar. Mereka tidak
menerima sebab ego mereka mengatakan, “tidak!”. Ego
Ahmad berkata kepadanya, “Bagaimana mungkin Engkau
menerima sesuatu darinya? Jangan menerima kunci
darinya. Terimalah dari Tuhan.” Lalu dia berkata,
“Wahai Saudaraku, Aku tidak akan menerima kunci
darimu, tidak juga dari orang lain, kecuali dari Sang
Pembuat Kunci. Siapa Engkau. Engkau bukan
siapa-siapa.”

Selanjutnya Ahmad berusaha untuk mencapai Kehadirat
Ilahi sampai dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya,
“Wahai Ahmad, kehidupan ini adalah kehidupan yang
berisi sebab dan akibat. Aku tidak akan memberimu
kunci. Sesuai Kehendakku kunci untukmu berada pada
orang itu. Pergilah dan dapatkan kunci itu darinya.”
Sekarang persoalannya sudah selesai. Dia mendengarnya
langsung dari Tuhannya, dan dia menerimanya. Sekarang
dia harus mencari pemandunya. Tetapi sang pemandu
telah lenyap. Dia telah meninggalkannya. 

Selama enam bulan pemandu itu mengamati hati Ahmad
secara rahasia, melihat bahwa dia mencarinya dan
berdo’a kepada Tuhan siang dan malam, “Ya Tuhanku
kirimkanlah orang itu kembali kepadaku,” sampai
akhirnya dia bisa menemukannya kembali. Dengan segera
orang itu membuka tabir yang ada pada dirinya selama
ini.

Jadi sang pemandu membuka tabir dan menampakkan
dirinya di hadapan Ahmad. Ahmad berkata, “Wahai
Syaikhku! Aku menemukanmu.” Dia tidak menemukannya
tetapi sang pemandulah yang menghilangkan tabirnya.
Tetapi tetap saja dia berpikir bahwa dia telah
menemukannya. Dia berkata, “Wahai Syaikhku, Aku
menerimamu sebagai pemanduku.” Sang pemandu menjawab,
“Jika engkau menerimaku sebagai pemandumu sekarang,
engkau harus pasrah, menyerahkan diri, dan 
menyerahkan seluruh kehendakmu kepadaku. Engkau tidak
diperkenankan mempunyai kemauan selama bersamaku.
Engkau telah membangun ilmu pengetahuanmu pada sebuah
karang yang hanya dengan satu tiupan angin dari ego,
dia akan jatuh.

Aku harus membangun pondasi yang kuat bagimu. Jadi,
lihatlah ke dalam mataku.” Ahmad melihat ke matanya
dan pemandu itu dengan segera menghapus seluruh
pengetahuan yang telah dipelajari oleh Ahmad al-Badawi
dari buku. “Lewat buku” maksudnya ada banyak hal yang
berasal dari ego si penulis. Maka dia menghilangkan
pengetahuan itu dari hati Ahmad dan kemudian lenyap.
Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi bahkan dalam
keadaan tidak tahu bagaimana mengucapkan, “bismillahir
rahmaanir rahiim,” bahkan tanpa mengetahui bagaimana
mengucapkan Nama Allah.

Orang-orang di kota kini mengejek Ahmad al-Badawi,
yang kelihatannya seperti orang gila setelah
sebelumnya menjadi ulama yang terkemuka. Karena
keterbatasan pengetahuan spiritual mereka, mereka
berpikir bahwa dia benar-benar sakit. Yang mereka
ketahui hanyalah bahwa dia mengikuti seseorang yang
membuatnya gila, tetapi Ahmad al-Badawi tahu bahwa dia
telah mendengar suara Tuhannya yang mengatakan bahwa,
“Kuncimu ada pada orang itu.” Tidak ada yang
membuatnya gila. Dia mengikuti orang itu. 

Tetapi bila dia menerimanya sejak awal, ketika pemandu
itu datang untuk pertama kalinya atas Kehendak Allah,
dia tidak harus melewati ujian ini. Jadi mengapa
kalian membuat diri kalian harus melewati ujian yang
sama? Bila kalian menemukan kebenaran, seorang pemandu
yang benar, terimalah dia dengan segera! Jangan
bermain-main dengan ego kalian. 

Dia meninggalkannya selama 6 bulan lagi dan muncul
kembali di waktu yang lain. Dalam kurun waktu tersebut
Ahmad al-Badawi terus mencarinya dan ketika dia
bertemu kembali, Ahmad al-Badawi berkata, “Wahai
Syaikhku, Aku menemukanmu lagi.” Saat itu sang pemandu
memandang mata Ahmad al-Badawi dan memancarkan sesuatu
dari lubuk hatinya kepada hati Ahmad al-Badawi melalui
matanya. Pada saat itu terjadi transfer pengetahuan
internal, pengetahuan dari Kitab Allah dan
rahasia-rahasianya. Pemandu itu melakukannya 3 kali
sampai mata Ahmad al-Badawi memancarkan sinar yang
begitu kuat bahkan orang yang melihatnya bisa tewas.
Oleh sebab itu dia menutup wajahnya dengan cadar. Saat
itu dia bisa memasuki Kehadirat Ilahi dan dia menerima
kuncinya.

Tanpa bantuan pemandu sejati kalian tidak akan bisa
mencapai Kehadirat-Nya. Dialah yang akan membukakan
pintu bagimu ke mana pun kalian akan pergi. Ahmad
al-Badawi adalah seorang ulama besar yang mengetahui
banyak hal. Dia bangga dengan pengetahuannya itu dan
tidak mau menerima pelajaran dari orang lain. Dia
hanya mau mengambil langsung dari posisi Yang Maha
Tinggi. Dia tidak melihat ada yang lebih tinggi
darinya kecuali Tuhan. 

Bagaimana mungkin dia akan mengambil pelajaran dari
orang lain? Berarti tidak ada sifat rendah hati pada
dirinya. Dia telah kehilangan satu dari tiga
karakteristik yang diperlukan oleh hamba Allah. Dia
mempunyai rasa hormat, dia juga mencintai sesamanya,
tetapi dia tidak mempunyai kerendahan hati untuk
menerima nasihat dari orang lain. Dan karena dia telah
kehilangan satu karakteristik itu, seolah-olah dia
tidak mengalami kemajuan lagi.

Seorang Wali, seorang guru harus memiliki
karakteristik hormat, cinta dan rendah hati. Jika
kalian melihat salah satunya tidak ada, maka dia
bukanlah seorang pemandu sejati. Dia hanya akan
membawa kalian ke jarak tertentu seperti yang kita
lihat pada diri Ahmad al-Badawi yang bisa mencapai
Tuhan sampai pada jarak tertentu, namun tidak bisa
membukanya. Dia membutuhkan seseorang yang mempunyai
kunci tetapi ketika ditemukan dia tidak menerimanya
langsung karena kesombongannya. Dia terlalu banyak
memikirkan dirinya. Akhirnya dia menerima juga setelah
mendengar langsung dari Tuhannya, tetapi dia harus
melewati ujian tertentu. Jika pada mulanya dia
langsung menerimanya tanpa melalui rasa bangga
terhadap dirinya, pintu itu segera terbuka baginya
tanpa harus melewati ujian selama 2 tahun.

Bila kalian menemukan seorang pemandu dan hatimu
merasa senang dengan kehadirannya, jangan dengarkan
egomu. Katakan kepada ego, “Kau salah! Apa ruginya
jika Aku menerimanya sebagai guru? “ Kalian tidak akan
kehilangan apa pun. Bila kalian menunjukkan sifat
rendah hati, ini cukup bagi Allah untuk menaikkan
kalian. Jika Saya datang dan mengatakan, “Si Anu dan
si Anu” adalah Syaikh Saya, dan Saya telah berbay’at
dengannya. Apa salahnya? Saya menerimanya dan Saya
menunjukkan kerendahan hati, Allah akan menaikkan
Saya.

Mempunyai sifat rendah hati adalah sangat penting.
Jika kalian bersifat rendah hati, kalian akan menerima
semua orang sebab setiap orang dapat menjadi pemandu
bagimu. Ada sebuah peribahasa di Turki yang berupa
pertanyaan kepada seseorang yang baik, “Dari mana
Engkau belajar perilaku yang sempurna dalam
masyarakat?” jawabnya, “Dari orang-orang yang
bersalah. Aku mengamatinya, melihat kesalahan yang
mereka lakukan lalu Aku menghindarinya. Jadi Aku bisa
memperbaiki diriku lewat kesalahan orang lain.” Jika
kalian bisa menerima semua orang sebagai pemandu
kalian, bahkan seorang yang jahat pun dapat memandumu.
Dengan mengamati dan melihat kesalahan yang
dilakukannya, kalian berhenti.

Wa min Allah at taufiq

UNDANGAN THE TEACHING OF SUFI MASTER

Yayasan Rabbani Sufi Institut Indonesia & Yayasan
Haqqani Indonesia mengundang Bapak, Ibu dan
saudara-saudara sekalian untuk menghadiri acara
bersama:
As-Sayyid Syekh Muhammad Hisyam Kabbani ar-Rabbani qs
USA ( President Islamic Supreme Council of America )

Mawlana Syaikh Hisyam qs merupakan Ulama Terkemuka
Dunia, banyak President, Raja, Ulama Dunia dan para
Awliya menjadi murid beliau begitu juga di Amerika
beliau juga dikenal sebagai Syaikh Sufi of Hollywood,
karena banyaknya bintang film besar bergabung dalam
tariqah sufi yang beliau pimpin. 

Beliau menguasai 7 bahasa dan memiliki 3 gelar
akademik, Master Syariah Al-Azhar, Medical Doctor ( MD
Louvain Unibersity Belgia ) dan Sarjana Kimia. Beliau
mendalami tasawuf sejak berusia 10 tahun dan saat ini
beliau berusia 64 tahun. Beliau memberikan banyak
kuliah di Universitas Ternama Dunia, Harvard,
Standford, Oxford, Hillsdale dan berbagai universitas
besar lainnya di Amerika, Eropa dan Asia. 

Ribuan perjalanan dunia telah beliau lakaukan sejak
berusia muda, dan ribuanbuku telah beliau tulis dan
menjadi best seller dunia.

Skedul Acara:

Kamis, 30 Agustus 2007, 18.30-21.00 WIB
Ceramah Sufi & Zikir Sufi Khatm Khwajagan 
Masjid Baitul Ihsan (Bank Indonesia Thamrin ) Jl.Budi
Kemuliaan, Jakpus

Jumat, 31 Agustus 2007, 11.30
Salat Jumat Masjid Ukhuwah Islamiyah UI,
Kampus Universitas Indonesia (UI Depok )

Jumat 31 Agustus 2007, 18.30-22.00
Zikir Khatm Khwajagan dan Sohbet
Brawijaya IA No.16, Kebayoran Baru, Jaksel
18.00-22.00 WIB. Dibelakang RSKO/ Apotik Darmawangsa

Minggu, 2 September 2007, Jam 09.00-11.00WIB
Peresmian Masjid al-Madinah. Kompleks CBD Jl. Hos
Cokroaminoto 93, Karang Tengah, Ciledug .

Minggu, 2 September 2007, Jam 18.00- 22.00WIB
Kampus STEKPI, Jl. Kampus Stekpi No. 1, Didepan Taman
Makam Pahlawan Kalibata, Pasar Minggu Tari Rumi
"Sema", The Naqshbandi Haqqani Rabbani Whirling
Dervishes Indonesia & Australia, Sohbet Rumi Poetry
Reading, Hadrah Sufi Dance.

Senin, 3 September 2007, 18.00 – 22.00
Sohbet, Zikir dan Hadrah, Zawiyah Haqqani Rabbani
Cinere Jl.Vila Terusan No.16 (masuk lewat Vila Cinere
Mas)

Rangkaian Salat Malam, Masjid Darussalam (di belakang
Hotel Gran Melia, Jl. Rasuna Said, Kuningan Jakpus)
Jumat-Selasa, 31 Agt-4 Sep 2007. Jam 03.30-06.00 pagi
WIB

wasalam, arief hamdani
HP. 08881335003, 0816830748, 021-7255508
RABBANI SUFI INSTITUT INDONESIA


       
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 

Kirim email ke