http://www.kompas.com/
Keagamaan
Tantangan Umat yang Semakin Kompleks 


M Zaid Wahyudi dan Imam Prihadiyoko

Sebagai bagian terbesar dari bangsa Indonesia, umat Islam masih menghadapi 
berbagai masalah pelik dalam bidang ekonomi dan sosial. Namun, tarikan politik 
terhadap umat justru lebih kuat daripada usaha untuk segera menyejahterakan 
mereka. 

Diakui atau tidak, sebagian besar penghuni kolong jembatan tol, permukiman 
kumuh, dan desa-desa tertinggal adalah umat Islam. 

Kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan berimbas pada kemunduran moral dan 
kualitas hidup mereka. Globalisasi yang menawarkan modernisasi sulit diikuti 
umat dan sering menempatkan mereka hanya sebagai penonton. 

Gaya hidup konsumtif yang dibawa ideologi kapitalis dengan menumpang 
globalisasi juga menyergap umat. Kurangnya kemampuan untuk menyaring ide 
negatif dan buruknya teladan dari para elite membuat mereka makin terjebak 
dalam ketidakberdayaan. 

Kesenjangan antara kaum mapan yang berlimpah sumber daya dan kaum papa yang 
turun temurun terjerat kemiskinan semakin lebar. 

Dalam pemikiran keagamaan pun, berbagai aliran masuk bebas ke Indonesia tanpa 
adaptasi dengan nilai lokal, mulai dari aliran paling kanan hingga paling kiri. 
Semua berebut pengaruh untuk tampil sebagai pemikiran terbenar, semua mengklaim 
paling sesuai dengan ajaran Tuhan dan paling mungkin diterapkan. 

Hal itu menambah kebingungan umat yang hampir tak pernah dipersiapkan untuk 
menghadapi keragaman pemikiran. 

Di sisi lain, para elite politik dan kelompok agamawan terus mendesakkan 
pentingnya keluhuran susila. Moral dianggap menjadi kunci menuju kesejahteraan. 
Karena itu, moral umat harus diatur sedemikian rupa tanpa peduli moral diri 
sendiri. 

Organisasi massa Islam yang semula didirikan untuk menyejahterakan umatnya juga 
mulai bergeser orientasinya. Mereka lebih suka membawa umat ke dalam masalah 
politik dan terjebak dalam rutinitas organisasi. 

Sistem ekonomi ribawi 

Dalam pandangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengampanyekan konsep 
Khilafah Islamiyah, seluruh keterpurukan umat terjadi akibat tak 
dilaksanakannya syariat Islam secara penuh. Sistem dalam Islam hanya diambil 
sebagian sesuai keinginan mereka yang mengamalkannya. 

Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto seusai diskusi Forum Kajian Sosial 
Kemasyarakatan "Konferensi Khilafah Internasional 2007 dan Upaya Penegakan 
Khalifah" di Jakarta, pekan lalu, mengatakan, kemiskinan, kebodohan, dan 
keterbelakangan yang dialami umat Islam saat ini akibat sekulerisasi yang 
terjadi dalam hampir seluruh kehidupan umat. 

"Jika Indonesia ingin baik pada masa mendatang, tidak ada cara lain selain 
dengan khilafah. Selamatkan Indonesia dengan syariah," ujarnya. 

Khilafah Islamiyah adalah sistem politik tunggal yang menyatukan umat Islam di 
seluruh dunia-jumlahnya mencapai 1,4 miliar-yang perlu diatur dalam sebuah 
pemerintahan tunggal tanpa ada sekat negara. 

Kemiskinan yang mendera umat, lanjut Ismail, terjadi akibat sistem ekonomi 
ribawi. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi bukanlah pertumbuhan riil. Uang yang 
ada lebih banyak menumpuk di bank sentral daripada digunakan untuk menggerakkan 
dunia usaha. 

Kapitalisme global, lanjutnya, harus dilawan dengan persatuan umat. Terpecahnya 
umat Islam dalam batas negara membuat mereka tak berdaya menghadapi segala 
konflik internal dan eksternal. Karena itu, umat harus disatukan di bawah 
penerapan hukum agama secara mutlak. 

Lemahnya internalisasi 

Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Syafii Ma'arif menilai, kemiskinan yang dialami 
umat terjadi akibat lemahnya internalisasi nilai Islam yang sebenarnya oleh 
penganutnya sendiri. Umat lebih peka terhadap persoalan susila daripada masalah 
sosial. Rendahnya kepedulian terhadap sesama membuat kemiskinan yang dialami 
umat Islam Indonesia sulit diatasi. 

Secara terpisah, Ketua Pusat Kajian Islam dan Negara Universitas Paramadina 
Yudi Latif menilai, kemiskinan yang terjadi dapat memunculkan individu yang 
radikal. Bagi kelompok menengah atas dan terdidik, terhambatnya proses 
mobilisasi vertikal akibat mandeknya ekonomi dapat menyuburkan fundamentalisme 
dan perlawanan ideologis terhadap sistem yang berlaku. 

Sedangkan bagi kelompok masyarakat berpendidikan rendah, radikalisme akan 
muncul dalam bentuk fantasi hadirnya "Sang Ratu Adil". Figur ini dapat muncul 
dari elite bangsa yang dianggap mampu memberi solusi. 

Tetapi, saat elite yang dapat menjadi panutan masyarakat tak muncul, masyarakat 
mengidealisasikannya dengan syariat. Penerapan syariat dianggap sebagai solusi 
pembebasan diri dari ketersisihan. Kondisi ini sering dimanfaatkan elite 
tertentu dengan menggeneralisasi pandangan masyarakat terhadap syariat demi 
kepentingan pribadi. 

Kondisi ini, lanjut Yudi, kurang mampu disikapi oleh organisasi massa Islam. 
Selama 1,5 abad terakhir, ormas Islam di Indonesia lebih intensif untuk 
memperluas gerakan sosial politik dan dakwah mereka. Infrastruktur ilmu 
pengetahuan tak berkembang. Akibatnya, umat Islam kurang memahami substansi 
pemikiran Islam yang ada. "Setiap muncul tantangan baru dalam interpretasi 
agama, muncul reaksi yang berlebihan," kata Yudi. 

Terlambat 

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 
Jakarta, Azyumardi Azra dalam Konferensi Nasional "Islam, Good Governance, dan 
Pengentasan Kemiskinan" di Jakarta, 27 Agustus lalu, menilai, organisasi massa 
Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, terlambat 
dalam menyikapi kemiskinan umatnya. 

NU dan Muhammadiyah justru terperangkap dalam struktur pengelolaan organisasi 
besar. Akibatnya, mereka lambat untuk merespons permasalahan aktual yang 
dihadapi anggotanya. 

"Ormas Islam cenderung mengalami stagnasi, khususnya dalam program advokasi 
untuk pemberdayaan sosial," kata Azyumardi. 

Karena itu, ormas Islam perlu memiliki visi sosial baru agar mampu menjawab 
kebutuhan umat. Dakwah yang disampaikan harus lebih komprehensif dan inklusif, 
alias dakwah yang mencerahkan. 

Menurut Yudi, kemiskinan dan ketertindasan merupakan produk murni dari 
kapitalisme. Kemiskinan bukanlah produk kebencian dari agama lain. Kemiskinan 
tidak mengenal agama, ras, maupun bangsa. 

Karena itu, kemiskinan tidak bisa diselesaikan dengan kebencian terhadap 
kelompok agama lain. Justru kerja sama antarkelompok agama harus dilakukan 
untuk menggalang semangat menghadapi globalisasi budaya massa. 

"Saat negara dan pasar tak bisa diandalkan untuk menjadi penyangga masyarakat, 
maka komunitas agama yang seharusnya mengambil peran," ujar Yudi. 

Terobosan harus segera dilakukan untuk segera menyelamatkan umat dari 
bayang-bayang formalisasi dan politisasi agama yang dianggap mampu 
menyelesaikan seluruh masalah umat. 

Agama hanya memberikan panduan dan arah dalam membangun masyarakat. Namun, 
masyarakat sendirilah yang harus mengambil inisiatif strategis untuk memuliakan 
dirinya sendiri berdasarkan panduan tersebut. 

Azyumardi menilai, politisasi agama hanya akan membuat umat lupa akan masalah 
riil yang harus dihadapi. Masalah aktual umat tidak dapat diselesaikan dengan 
gagasan ilusif. 

"Seolah-olah dengan syariat semua masalah sosial akan selesai, padahal tak 
sesederhana itu," katanya. 

Politisasi agama juga hanya akan mereduksi nilai-nilai agama itu sendiri. 
Sebab, agama dan politik sering kali menjadi hal yang bertentangan. Agama yang 
mengutamakan moral dan toleransi harus berhadapan dengan politik yang memandang 
segala sesuatu sebagai teman dan lawan. 

"Agama seharusnya kembali berperan seperti saat diwahyukan, sebagai titik temu 
moral bersama," kata Yudi. 

Ketua Umum Pengurus Besar NU KH Hasyim Muzadi berpendapat, agama harus mampu 
menjawab persoalan bangsa. Jika kehadiran agama hanya menimbulkan perselisihan 
dan konflik, agama hanya akan menjadi masalah yang mengganggu negara. 

Formalisasi atau politisasi agama hanya akan menimbulkan perpecahan bangsa. 
Dalam ruang publik bersama, nilai-nilai universal agamalah yang harus tampil, 
yaitu cinta keadilan, penebar kasih sayang, antikekerasan, membawa kedamaian, 
dan peduli kesejahteraan umatnya. 


     



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke