Undangan Yayasan Wakaf Paramadina mengundang Anda menghadiri acara pemutaran dan diskusi film setiap hari Jum'at selama bulan Ramadan. 14 September 2007 The War Within Pembicara: Ade Armando dan Hamid Basyaib 21 September 2007 Goya's Ghost Pembicara: Trisno S. Susanto dan Ihsan Ali-Fauzi 28 September 2007 Freedom Writers Pembicara: Garin Nugroho dan Ucu Agustin Jadwal acara: 16.00 - 18.00 Pemutara Film 18.00 - 19.00 Buka puasa bersama dan salat 19.00 - 21.00 Diskusi Tempat: Aula Yayasan Wakaf Paramadina, Pondok Indah Plaza III Blok F 4-6 Jl. Walanda Maramis, Jakarta RSVP: 081586199143 (Saidiman) atau 081382006446 (Wulan) Sinopsis The War Within The War Within adalah film yang bercerita tentang kisah Hassan, seorang mahasiswa tehnik asal Pakistan di Paris yang secara keliru diduga sebagai teroris dan kemudian diinterogasi oleh intelejen Amarika Serikat. Ia bahkan dipenjarakan. Tergoncang oleh peristiwa itu, ia kemudian bersumpah untuk membalas dendam dengan bergabung dalam sebuah jaringan teroris yang bermarkas di New York City dan merencanakan sebuah perang bawah tanah di Amerika Serikat. Di pagi hari ketika rencana penyerangan akan dilaksanakan, semua anggota jaringan itu ditangkap kecuali Hassan dan pemimpin spiritual kharismatiknya, Khaled. Karena tidak memiliki alternatif lain, hassan kemudian minta perlindungan kepada Sayeed, teman masa kecilnya, yang tinggal di New Jersey. Pada saat-saat itulah drama politik dan kemanusiaan bergejolak hebat dalam diri Hassan, apakah ia harus melanjutkan misi teror bunuh dirinya atau tidak. Banyak komentator, seperti C. Antonio Romero, yang menyatakan bahwa film ini menggambarkan dengan baik bagaimana ketegangan yang sebetulnya terjadi antara Barat dan Islam menyusul beberapa gesekan, baik terorisme maupun invasi militer Amerika ke Timur Tengah dan Afganistan. Hubungan antara Barat dan Timur banyak dilakukan dalam bentuk kecurigaan yang berlebihan. Film ini dibintangi oleh Ayyad Akhtar sebagai Hassan dan Firdaus Bamji sebagai Sayeed. Film yang ditulis sendiri oleh Ayyad Akhtar, Josep Castelo, dan Tom Glynn ini disutradarai oleh Josep Castelo. Film ini banyak dipuji dalam penggunaan bahasa yang solid, baik Urdu, Inggris, maupun Prancis. Goyas Ghost Film yang berlatarbelakang Spanyol tahun 1792 ini menampilkan cerita seorang pelukis istana yang bernama Fransisco Goya. Sebuah lukisan Goya mengusik lembaga Inkuisisi Spanyol. Lorenzo adalah orang yang dengan gigih membantunya, dia mengatakan bahwa karya Goya bukanlah iblis, melainkan sekedar menggambarkan iblis. Ia kemudian mengusulkan bahwa seharusnya memang Inkuisisi membasmi semua praktik anti-Katolik Roma. Menguatnya Inkusisi di Spanyol pada tahun-tahun itu disebabkan oleh antisipasi Gereja Katolik terhadap merebaknya semangat revolusioner Perancis. Lukisan kontroversial Goya sendiri menggambarkan seorang wanita muda yang bernama Inez (Natalie Portman), saudara perempuan Thomas Bilbatua (Jose Luis Gomez). Lembaga Inkuisisi kemudian memanggil Inez dan mendakwanya sebagai bidah dan melakukan praktik Yahudi. Dari sanalah tragedi dan bagaimana manusia bergulat untuk secercah kebebasan terjadi. Film dengan gendre drama ini menarik karena memotret sisi-sisi kehidupan yang penuh nuansa dan dalam detil yang mengagumkan. Freedom Writers Film yang dibintangi oleh Hillary Swank, Scott Glenn, Imelda Stauton, dan Patrick Dempsey ini adalah film yang didasarkan kepada buku The Freedom Writers Diary yang disusun oleh seorang guru bernama Erin Gruwell. Film ini adalah kisah nyata yang dialami oleh sejumlah remaja California yang hidup dalam ancaman kerusuhan rasial setelah terjadinya kerusuhan di Los Angeles 1992. Hillary Swank yang berperan sebagai guru bahasa Inggris Erin Gruwel terlibat di dalam upaya penyelesaian masalah rasisme yang begitu kental di kelasnya. Kelas yang dipimpin oleh Gruwel memang dihuni oleh murid-murid dengan latar belakang ras dan budaya yang sangat beragam. Tak heran, sentimen rasial setiap hari muncul di ruang kelas. Dengan menggunakan pendekatan simpatik, Gruwel memasuki dan mencoba memahami latar belakang murid-muridnya yang begitu sensitif dalam hal ras. Dia mencoba membandingkan antara karikatur seorang murid kulit hitam dengan bibir tebal dan karikatur yang dibuat oleh Nazi mengenai Yahudi yang berhidung besar. Gruwell memperkenalkan dan mengajak murid-muridnya untuk membaca buku The Diary of Anne Frank. Kemudian mereka melakukan perjalanan mengunjungi Museum of Tolerance di Los Angeles untuk memberi gambaran tentang bagaimana peristiwa rasial yang paling mengerikan pernah terjadi: Holocaust.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
