Dear all,

Sekedar berbagi tulisan yang sempat saya buat untuk mengisi buku "25
Tahun Ilmu Lingkungan di (Universitas) Indonesia" yang akan
diterbitkan PSIL akhir September ini. Beberapa bagian dari tulisan
ini adalah recycle dari tulisan saya yang terdahulu.

Mohon maaf atas kelancangan menforward tulisan tak bermutu ini ke
milis ini..Any respected comment, however, will be greatly
appreciated.

salam,
asep
"Love and Fair"


"25 Tahun Ilmu Lingkungan di (Universitas) Indonesia"

Masalah lingkungan hidup adalah masalah yang multi sumber,
multipenyebab dan multi dampak. Kita bisa sebutkan beberapa yang
sangat krusial, yaitu permasalahan sampah domestik dan perkotaan,
limbah industri, menurunnya kualitas ekosistem, polusi di perairan
dan teresterial, pemanasan global dan isu perubahan iklim serta yang
tak kalah penting adalah kenyataan betapa rendahnya prilaku dan
kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Satu hal besar yang selalu mengganjal di benak saya -dan saya
percaya juga di kepala banyak orang- dewasa ini adalah pertanyaan
bagaimana mengatasi atau menjawab masalah-masalah lingkungan hidup
tersebut? Ketika hukum dan undang-undang telah dibuat, konferensi
tingkat tinggi diselenggarakan, kebijakan dicanangkan, tetapi
masalah lingkungan terus saja berlangsung dengan skala yang makin
meningkat hingga sekarang. Karena itu bukan kebetulan jika saya
menemukan suatu kritik yang sangat tajam ditulis dalam sebuah
Pendahuluan buku berjudul "This Sacred Earth: Religion, Nature
Environment" yang diedit oleh Robert Gottlieb (1996). Isinya
adalah sebagai berikut: "Â…the environmental crisis is a crisis of
our entire civilization. It casts doubt on our political, economic,
and technological systems, on theoretical science and western
philosophy, on how we consume or eat. Corporate greed, nationalistic
aggression, obsessions with technological "development",
philosophical attitudes privileging "man's" reason above the natural
world, addictive consumerismÂ…all these collaborate in the emerging
ruin of the earth."

Menyadari betapa kompleksnya permasalahan lingkungan tersebut maka
usaha apapun untuk mengatasinya tidak akan pernah berhasil hanya
dengan semata-mata mengandalkan pada satu disiplin ilmu, satu
paradigma berpikir atau satu aspek saja, melainkan haruslah
merupakan sebuah upaya komprehensif antar disiplin terkait
(interdisciplinary effort).

Lantas semesta pengetahuan yang seperti apa yang perlu ditawarkan
atau tersedia dalam ilmu lingkungan?, seperti apakah ilmu lingkungan
itu? bagaimana ilmu lingkungan bisa kita definisikan?

Dalam benak saya ilmu lingkungan adalah suatu ilmu yang lintas
disiplin. Ilmu lingkungan adalah ilmu yang membahas tentang
interaksi sangat kompleks yang terjadi antar ekosistem darat, air,
udara beserta kehidupan hayati --dan manusia menjadi elemen penting
yang ada di dalamnya. Karena itu ilmu lingkungan dalam pandangan
saya adalah ilmu yang mencakup aspek ekonomi, sosial, budaya, agama,
politik, hukum, sains dan teknologi, pembangunan, manajmen,
komunikasi dll. Dalam ilmu lingkungan tidak ada hirarki disiplin
ilmu apa yang lebih utama. Setiap komponen ilmu yang ada di dalamnya
memiliki nilai penting. Ilmu lingkungan membahas masalah keterkaitan
(interrelatedness) dan ketersalinghubungan (interconetedness) antar
displin-disiplin tersebut sehingga tergambar bahwa memang itulah
yang ternyata terjadi di alam atau lingkungan hidup. Pembelajaran
mengenai aspek sains (kimia, biologi, ekologi dll) dan teknologi
yang terkait dengan isu lingkungan tidak lebih penting atau
prioritas daripada aspek sosial atau teologi misalnya. Ini penting
jika kita ingin secara serius dan berhasil menjawab problem-problem
lingkungan yang ada.

Saya khawatir krisis lingkungan menjadi suatu krisis peradaban.
Karena itu satu kata kunci jawabannya adalah melakukan pendekatan
holistik (wholeness) bukannya pendekatan parsial. Peranan ilmu
lingkungan diharapkan akan membantu tumbuhnya masyarakat yang sadar
lingkungan hidup, masyarakat yang menemukan ecoself-nya bahwa
kelangsungan hidup dan eksistensi kita sangat bergantung pada
lingkungan: air, udara, tanah, bumi dan semesta. Dalam istilah yang
pernah dikembangkan oleh Fritjof Capra wawasan dan pengetahuan
mendasar tentang ekologi itu disebut sebagai ecoliteracy.

Ke depan peranan ilmu lingkungan (tentunya beserta para pemikir,
akademisi, pembuat kebijakan dan keputusan, para top manajer dan
pemimpin) di Indonesia idealnya bisa membawa peradaban bangsa saat
ini dari semata-mata berorientasi pada peradaban industri tetapi
yang lebih penting adalah kepada peradaban ekologis. Dalam konteks
ekologis, sistem ekonomi misalnya, perlu bergeser dari paradigma
ekonomi kompetitif menjadi lebih kooperatif, dari cita-cita
pertumbuhan tanpa batas menjadi pertumbuhan berkelanjutan, dari
ekonomi yang mengabaikan lingkungan menjadi ekonomi berbasis
ekologi. Dalam sektor pertanian, dari monokultur ke polikultur,
dari pertanian yang memakai pupuk sintetik dan pestisida menjadi
pupuk organik dan mengandalkan pembasmi hama biologis berbasis
biodiversitas. Dalam peradaban ekologis, paradigma saintifik juga
perlu bergeser dari sifatnya yang semata-mata mekanistik menuju
organismik, dari pandangan alam sebagai mesin menjadi sebagai suatu
semesta proses yang saling berinteraksi, dari sifatnya yang
deterministik menjadi nondeterminsitik dan probabilistik, dari
kausalitas linear menjadi dinamik nonlinear, dari atomistik menjadi
holistik.

Di wilayah epistemologis terjadi pergeseran orientasi utama dari
logiko-positivistik menjadi realisme-kritis, dari reduksionisme
menjadi integralisme. Peranan manusia bergeser dari karakter
superiositas dan arogansi atas alam menjadi reflektif dan kreatif
terhadap alam, dari dominasi ke ko-evolusi simbiotik, dari penguasa
alam menjadi bagian dari alam. Termasuk juga dalam aspek nilai-
nilai; dari alam sebagai sumber daya menjadi alam sebagai pemelihara
biodiversitas, dari antroposentrik-humanis menjadi biosentik-
ekosentris. Di tataran teologi dan agama, citra alam sebagai musuh
yang menakutkan karena itu harus ditaklukkan menjadi sesuatu yang
sakral, dari divinitas transenden menjadi divinitas imanen -- dunia
dipercaya menjadi tempat kehadiran sang maha ideal di bumi melalui
kehadiran manusia. Tuhan ada pada segala sesuatu. Dalam aspek
teknologi, dari kebergantungan pada bahan bakar fosil kepada sumber
yang dapat diperbaharui (solar cell, biofuel, microbial fuel cell
dan biodiesel), dari penghasil limbah menjadi daur ulang dan daur
pakai, dari eksploitatif dan konsumeristik menjadi protektif dan
preserpatif terhadap ekosistem, dari teknologi berorientasi
keuntungan menjadi teknologi tepat guna (appropiate technology). Di
lapangan pendidikan dan penelitian, dari disiplin yang
terspesialisasi ke multidisiplin yang integratif, dari pengetahuan
miskin nilai menjadi kaya nilai, pandangan yang fragmentaris ke
pandangan dunia yang terunifikasi.

Sebagai bagian dari masyarakat berpengetahuan, saya pribadi sebagai
pengajar matakuliah Kimia, percaya bahwa ilmu kimia, khususnya Kimia
Lingkungan beserta metodologi baru riset dan teknologi Kimia (Green
Chemistry) yang saya pelajari dapat turut memberikan kontribusi
posistif bagi berkembangnya ilmu lingkungan di Indonesia umumnya dan
di Universitas Indonesia pada khususnya. Sehingga cita-cita
tercapainya masyarakat dan peradaban ekologis yang telah saya
paparkan di atas bukanlah hanya mimpi yang tidak pernah bisa menjadi
kenyataan.

Sekian dan mohon maaf jika ada kekurangan dan kekhilafan dalam
penulisan di atas.

Salam Hijau Lestari
Asep saefumillah










Kirim email ke