(kayaknya) KITA BELUM PUASA

 

Anda masih puasa ? apa yang membuat Anda mampu bertahan berpuasa ditengah cuaca 
yang seringkali tak bersahabat akhir-akhir ini ? Karena iman ? ataukah karena 
ingin mencapai predikat taqwa seperti tersurat dalam QS.al-Baqarah 183 ? Atau 
jangan-jangan Anda puasa karena takut kepada mertua ? atau takut kepada 
atasan-malu terhadap bawahan ?

Ada banyak alasan mengapa kita masih terus bertahan berpuasa.

Dan seperti dalam sebuah hadits qudsi, Allah SWT menyatakan bahwa puasa itu 
milik Allah (sehingga hanya Allah lah yang tahu siapa orang yang benar-benar 
berpuasa), karenanya Allah langsung yang akan membalas 'kegiatan' puasa kita.

Luar biasa ! betapa mulia posisi puasa disisi Allah. Bahkan Allah merahasiakan 
(dalam jumlah tak terhingga) pahala puasa itu.

Lantas, apakah kita akan berhasil "lulus" dalam puasa tahun ini ? Wallahu 
A'lam. (sekali lagi) ini hak yang dirahasiakan oleh Nya ?! Untuk itulah , Allah 
SWT lantas menyediakan lorong spiritual bagi kita untuk memasuki ruang 
rahasia-rahasia itu. Akankah kita mampu menyingkap pintu rahmat pada sepuluh 
hari pertama, lalu apakah kita berhasil memasuki ruang ampunan di sepuluh hari 
kedua, dan apakah kita dapat menerobos untuk dijauhkan dari api neraka pada 
sepuluh hari terakhir nanti ?

Apakah juga kita mampu merebut 'pulung' lailatur qadar ? atau apakah kita bisa 
menyediakan sayap-sayap untuk terbang di sorga kelak, dengan banyak tadarrus, 
infaq, sedekah ? Semuanya tergantung usaha keras kita untuk menyediakan diri 
secara ikhlas menerima segala larangan yang dapat membatalkan puasa. Tergantung 
apakah kita mampu membalikkan segala 'beban' puasa menjadi sebuah kenikmatan 
sehingga kita enggan beranjak dari bukan ramadlan.

Bila semua hal yang saya paparkan diatas adalah sebagian dari nilai (dengan n 
besar) puasa, maka dapat dimaknai bahwa ibadah puasa merupakan ibadah yang 
nilai spiritualnya sangat tinggi.

Tapi percayalah, kita seringkali dihadapkan dengan kenyataan penjungkir balikan 
nilai-nilai puasa yang bersifat spiritual ke dalam situasi yang bersifat 
materi. Puasa hanya dimaknai sebagai serangkaian tugas fisik yang dibebankan 
melalui beberapa syarat dan rukun saja. Puasa kerap diartikulasikan sebagai 
ritual menahan nafsu dikala siang hari, dan mengumbar nafsu di malam hari.

Akibatnya, puasa yang mestinya -menurut Rasulullah saw-menyehatkan malah 
membikin sakit, karena kita terlalu serakah ketika menghadapi hidangan berbuka. 
Puasa yang seharusnya menjadi ajang penghematan ekonomi (karena kita dilatih 
mengendalikan diri) justru menjadi medan pemborosan ketika kita memadati pasar, 
swalayan, supermaket, plasa dalam rangka  memanjakan nafsu konsumtif tanpa 
peduli dengan harga-harga yang melambung naik, tanpa menghiraukan kebutuhan 
yang lebih primer dalam rumah tangga.

Puasa yang -ketika berakhir-- semestinya menjadi ruang untuk mempererat 
silaturrahim, tiba-tiba menjadikan kita semakin jauh. Betapa tidak, budaya 
saling mengunjungi tiba-tiba diganti dengan budaya halal bi halal.  Jabat 
tangan dan salaman diganti dengan kartu, ucapan ditelepon, bahkan kini melalui 
SMS dan E-mail.

Bahkan ketika terjadi perbedaan penentuan awal Syawal yang seharusnya menjadi 
rahmatan lil 'alamin  tiba-tiba berubah jadi ajang saling curiga, saling 
intimidasi, saling membenarkan pendapat kelompoknya masing-masing. Akibatnya, 
puasa dan hari raya menjadi sebuah ibadah yang kering dan beku.

Dan apakah puasa kita kali ini pun masih harus ditandai dengan kegagalan kita 
untuk mempererat rasa persatuan sebagai bangsa ? ketika antar elit politik kita 
masih terus berseter; ketika masih ada diantara saudara-saudara kita sebangsa 
masih berpikiran sempit untuk memisahkan diri sebagai bagian dari NKRI, ketika 
ada diantara saudara kita yang berteriak-teriak mengancam sudaranya sendiri 
dengan mengatasnamakan agama, ketika kita masih mampu tertawa-tawa bersama 
anak-istri menyaksikan saudara-saudara kita sebangsa (dan sebagiannya seagama) 
ditimpa musibah dan bencana.. 

Ah, entahlah.....

 

Sumenep, September 2007

 

salam,
en. hidayat


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke