http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=304757
Jumat, 21 Sept 2007,
Khotbah Kemanusiaan


Oleh:
Husein Muhammad

Mimbar Jumat adalah satu ruang keagamaan penting sekaligus strategis dalam 
komunitas muslim. Ia adalah ruang pertemuan kaum muslimin sekali dalam sepekan 
yang dikemas dalam upacara keagamaan yang sangat spesifik. 

Khotbah adalah bagian tak terpisahkan dari ibadah salat Jumat. Kedudukannya 
sama dengan salat itu sendiri. Khotbah harus dilakukan dua kali. Keduanya 
ibarat menggantikan dua rakaat duhur. Para jamaah diharuskan mendengarkannya 
dengan "khusyuk", dan tidak boleh bicara, bahkan termasuk berzikir. Pikiran 
jamaah harus difokuskan untuk memperhatikan isi khotbah . 

Khotbah Jumat sejak awal dimaksudkan sebagai wahana penyampaian ajaran Tuhan 
kepada masyarakat sekali dalam sepekan. Agama-agama samawi yang lain: Yahudi 
dan Nasrani, juga menyelenggarakan hal yang sama meski dengan hari yang berbeda 
dan metode yang juga berbeda. 

Cara dan hari bukanlah sesuatu yang esensial. Yang esensial adalah pesan 
kebaikan. Dalam Islam pesan kebaikan disebut dengan takwa. Pesan ini adalah 
"rukun" utama khotbah . Tanpa pesan tersebut upacara keagamaan ini menjadi 
batal. 

Takwa adalah kata paling sentral bagi seluruh pesan Islam. Para ulama sepakat 
menyebut takwa sebagai jami' kulli khair, hal yang menghimpun segala kebaikan 
dan kesalehan, baik personal maupun kolektif. Para khatib Jumat biasanya 
menyampaikan bahwa takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi 
semua larangan-Nya. Tetapi, ini tentu saja sangat umum. 

Elaborasi mengenai tindakan-tindakan takwa, kriteria-kriteria atau sifat-sifat 
orang yang bertakwa secara lebih detail disebutkan dalam banyak ayat yang lain. 
Antara lain dalam Q.S. [2]: 177. Ayat ini mengandung tiga hal besar: 
kepercayaan personal, ibadah personal, dan komitmen kemanusiaan.

Banyak orang mengatakan bahwa khotbah Jumat yang disampaikan para khatib selama 
ini, lebih diarahkan pada pesan takwa dalam katagori yang pertama dan kedua. 
Keduanya sangat dominan. Sementara pesan takwa katagori ketiga begitu jarang 
disampaikan. Maka adalah keniscayaan bahwa masyarakat yang terbentuk kemudian 
adalah pribadi-pribadi yang saleh secara individual. Pandangan umum lalu 
menganggap bahwa intensitas seseorang dalam menjalankan ritus-ritus agama 
menunjukkan tingginya nilai kesalehan atau kebaikan pribadinya. 

Secara normatif keadaan ini seharusnya melahirkan realitas-realitas sosial yang 
saleh pula. Tetapi, realitas bangsa Indonesia sampai hari ini tetap tak 
bergerak ke arah kehidupan sosial yang lebih baik. Praktik hidup dan 
berkehidupan masyarakat memperlihatkan kondisi yang berlawanan dengan 
norma-norma agama. Realitas Indonesia adalah bangsa dengan kemiskinan yang 
besar sekaligus dengan tingkat korupsi paling tinggi di dunia. Korupsi telah 
menyebar ke dan di mana-mana. Kekerasan atas nama agama, kekerasan seksual, dan 
sejumlah pelanggaran hak-hak asasi manusia semuanya terjadi hampir setiap hari 
dan di banyak tempat.

Kesimpulan yang mudah kita tangkap adalah bahwa perilaku masyarakat muslim 
masih memperlihatkan wajah-wajah paradoks. Ibadah individual yang bergemuruh 
itu ternyata tidak/belum merefleksikan makna ketakwaan sosial yang berarti 
dalam kehidupan masyarakat muslim. 

***

Kenyataan sosial Indonesia yang memprihatinkan di atas seharusnya menjadi 
inspirasi para khatib. Isi khotbah Jumat sudah saatnya diarahkan untuk 
menyampaikan pesan keadilan, kesatuan, dan kedamaian dalam kerangka 
kemanusiaan. 

Kehadiran agama yang dibawa para utusan Tuhan sejatinya dimaksudkan untuk 
membebaskan manusia dari sistem sosial yang menindas atas nama kekuatan maupun 
kekuasaan apapun; yukhrijuhum min al zhulumat ila al Nur. 

Inti ajaran agama Islam adalah tauhid. Ini berarti bahwa hanya Allah, Tuhan 
Yang Mahabesar, Mahatinggi dan Mahaabsolut. Dengan begitu, hanya Allah jugalah 
satu-satunya yang patut disembah dan seluruh makhluk (ciptaan Tuhan) wajib 
menyembah atau mengabdikan seluruh hidupnya kepada-Nya. 

Atas dasar ini, substansi ibadah (pengabdian) kepada Tuhan seharusnya 
merefleksikan fungsi-fungsi pembebasan manusia atas manusia yang lain dari 
struktur sosial yang menindas dan menzalimi di satu sisi dan menegakkan 
kebenaran, keadilan, dan kemakmuran manusia di sisi yang lain. 

Bentuk-bentuk pengabdian kepada Tuhan secara personal (ibadah individual) 
sesungguhnya merupakan cara menghadirkan Tuhan dalam pribadi-pribadi muslim dan 
menanamkan kesadaran kepada mereka akan fungsinya sebagai hamba Tuhan untuk 
pada gilirannya mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan fungsi-fungsi 
tersebut di atas dalam kehidupan bersama mereka sehari-hari. 

Ibadah personal dengan begitu sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk diri 
sendiri, melainkan untuk kepentingan sosial dan kemanusiaan yang lebih luas. 
Islam dengan seluruh perangkat aturannya dihadirkan untuk manusia dan untuk 
mewujudkan kerahmatan dan kemaslahatan (kebaikan/kesalehan) di antara mereka. 
Inilah sejatinya makna ibadah dan takwa dalam Islam. 

Ketika ibadah individual tidak melahirkan efek ketakwaan sosial dan 
kemanusiaan, bahkan sebaliknya, melahirkan sikap-sikap hidup negatif atau 
destruktif, maka, di samping sebuah kesia-siaan, bisa dikatakan sebagai 
kebangkrutan agama. Nabi mengatakan, "Orang yang bangkrut dari kalangan umatku 
adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah 
salat, puasa, dan zakat. Tetapi, pada saat yang sama ia juga datang sebagai 
orang yang pernah mencaci-maki orang lain, menuduh orang lain, makan harta 
orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. 

Ini sejalan dengan pernyataan Tuhan dalam Alquran: "Sesungguhnya orang-orang 
yang menyakiti hati orang-orang beriman, laki-laki atau perempuan, maka mereka 
memikul kebohongan dan dosa yang nyata". (Q.S. [33]: 58). 

Pesan-pesan moral kemanusiaan Islam sungguh terungkap pada setiap teks suci. 
Nabi menginformasikan kepada kita bahwa mendamaikan konflik antarmanusia 
memiliki nilai lebih utama ketimbang salat, puasa, atau zakat. Sebab, kerusakan 
yang ditimbulkan oleh konflik tersebut adalah kebinasaan agama". (Al Jami' al 
Shaghir, I/197).

"Satu hari seorang pemimpin bertindak adil terhadap rakyatnya adalah lebih 
utama daripada orang yang beribadah selama 60 tahun" (Al Maqashid al Hasanah, 
hlm. 334). Dan Jihad yang paling utama adalah menyampaikan pesan kebenaran 
kepada pemerintah yang zalim" (Al Jami' al Shaghir, I/81). 

Sejarah kehidupan kaum muslimin awal memperlihatkan kepada kita bahwa mereka 
tidak pernah melakukan dikotomi antara ibadah individual dan ibadah sosial. 
Malam-malam kaum muslimin generasi awal (al Salaf al Shalih) adalah malam-malam 
yang khusyuk dalam sujud dan membaca Alquran, sementara siang hari mereka 
adalah gemuruh kaki kuda dan kerja-kerja kemanusiaan. Seluruh perjuangan untuk 
mewujudkan tatanan sosial yang adil dan menegakkan martabat kemanusiaan adalah 
ibadah, pengabdian kepada Tuhan.


Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Aryowinangun, Cirebon.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke