Kala itu sang mentari berjarak sejengkal dari sisi barat bumi ini. Antrian
panjang kendaraan berada tepat dihadapanku. Ups…tiba-tiba dari sebelah kanan
kendaraanku terdengar bunyi peliut kencang, walau sedikit mengagetkan namun ia
mampu menghentikan pijakan gas kakiku. Rupanya berasal dari seorang polisi
cepek yang sedang asyik melakukan aktivitas rutinnya yakni membantu setiap
pengguna jalan melintasi pertigaan ini dengan mengharapkan imbalan sekeping
atau selembar uang receh. Dari dalam kaca terus kumengamatinya, dengan kaos
oblong dan jeans robek di lututnya ia beraksi dengan ‘senjata’ peluit di mulut
tak ubah layaknya seorang preman jalanan yang biasa kita temui di banyak
perempatan lampu merah. Tapi sepertinya, wajahnya tak asing bagiku. Rasanya
pernah mengenalnya. Hmm tidak salah memang, ternyata dia temanku yang sudah
cukup lama berpisah, ya… Sandy namanya. Kami terakhir bertemu, di saat dia
sekeluarga pindah rumah. Secepat kilat kubuka jendela dan langsung
berteriak saat wajahnya sedikit kearahku. “San! Apa kabar?...Masih inget aku
ga?” Mendengar teriakanku, sambil mengkerutkan dahi sambil melambaikan tangan
kanannya, dengan agak ragu memang. Alhamdulillah, ternyata dia masih
mengingatku. Tapi sayang, dia tak sempat mendekati karena harus mengejar truk
yang menyodorkan uang ‘jatah” kepadanya. Dan akupun kembali melaju
meninggalkannya, khawatir akan menghalangi kendaraan di belakangku.
Di sepanjang sisa perjalanan, diriku masih saja memikirkannya. Namun ada
sedikit tanda tanya menghantui, kenapa dia bisa jadi seperti itu. Yang kutahu,
dulu dia termasuk pemuda kuliahan pintar dan cukup dihargai karena di daerah
tempat tinggal kami saat itu sangat sedikit anak muda yang berstatus mahasiswa.
Orang tuanya bisa dibilang tergolong ‘orang mampu’. Ayah ibunya selalu bekerja
dengan berpakaian sangat rapi, orang kantoran super sibuk biasa masyarakat
menyebutnya. Boro-boro tahu kabar tetangganya, maklumlah mereka selalu
berangkat pagi pulang malam. Mereka menempati rumah yang cukup besar bersama
Sandy dan dua orang adiknya. Namun, sering berita yang kudengar dari para
tetangga, kedua orang tuanya seringkali bertengkar di saat malam hari. Malah
kalau tidak salah mereka hampir bercerai setelah seringkali Ayahnya Sandy tidak
kembali ke rumah sepulang kerja, entah pergi kemana. Tidak lama setelah
kejadian itulah, Sandy bersama Ibu dan dua orang adiknya
memutuskan melego rumahnya dan pindah. Ayahnya? Tak seorangpun tahu kemana
dia. Kabar terakhir yang ku dengar kala itu, mereka hidup menjadi keluarga yang
berantakan tanpa seorang ayah di tempat tinggal barunya.
Cerita di atas kini bukan lagi sesuatu yang aneh, banyak hal serupa
kerapkali terjadi di masyarakat. Makna dan fungsi sebuah keluarga sebagai
entitas terkecil dalam masyarakat semakin sering memainkan peran yang tak
seharusnya. Banyak penyakit masyarakat berasal dari keluarga yang berantakan.
Pergaulan bebas, penyalahgunaan psikotropika dan perjudian adalah contoh
penyakit yang meradang di masyarakat bahkan semakin akut jika tidak segera
dibenahi.
Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia lainnya adalah tempat subur
untuk tumbuhnya berbagai penyakit masyarakat. Para kaum hawa misalnya, kini
mereka justru lebih bangga menyandang predikat wanita karir ketimbang ibu rumah
tangga. Dari 24 jam waktu yang tersedia setiap harinya, mereka sudah
menghabiskan delapan jam di kantor, enam jam untuk tidur, tiga jam harus
tersita dalam kemacetan saat pulang pergi bekerja, dua jam mungkin juga akan ia
habiskan untuk mengurusi dirinya, lalu berapa yang tersisa? Lima jam.. Itulah
waktu sisa bagi mereka, yang dapat dimanfaatkan merajut kasih sayang bersama
buah hati, orang tua dan suami. Namun bagi sang buah hati waktu tersebut bisa
saja akan semakin sedikit karena terkadang mereka sudah terlelap tidur kala
orang tuanya sampai di rumah sambil memikul letih, begitupun esok paginya ia
sudah tidak lagi melihat senyum ibunya yang ternyata sudah lebih dulu bergegas
ke kantor. Bagaimana dengan sang ayah? Jika sama-sama menyandang
predikat serupa maka keadaan tidak berkata beda.
Masalah akan kian rumit, jika dinding keluarga tidak dibangun sepenuh hati
oleh para orang tua. Tak jarang para anak menyaksikan drama kekerasan yang
dimainkan kedua orang tua mereka yang hanya bermula dari egoisme masing-masing.
Merasa paling lelah mencari nafkah untuk keluarga lah, merasa paling berhak
didahulukan untuk istirahat lah, intinya berlomba untuk merasa paling berhak
mengatur. Suami sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai ‘madrasah’ anak-anak
kini tak lagi menjadi profesi keren & marketable yang patut digapai. Padahal
”Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta'at kepada Allah lagi memelihara
diri” (QS. 4:34).Maka tak jarang mereka malah memilih perceraian sebagai
langkah akhir demi menjaga reputasi dan harga diri satu
sama lain. Nasib anak? Itu sih mudah dibicarakan kemudian bak sebuah rapat
koordinasi di perusahaan mereka bekerja. Nasib anak kini tak ubah dengan anak
buah di kantornya tempat mereka mencari uang. Sebuah paradigma yang membenamkan
bom waktu di lantai keluarga.
Hal ini terjawab oleh Ditjen Bimas Islam Departemen Agama RI dari seluruh
data Pengadilan Agama seluruh Indonesia, yakni pada tahun 2004 sudah tercatat
809 izin perceraian yang dikeluarkan, dari 1016 permohonan yang diajukan. Pada
tahun 2005 tercatat 803 izin, dari 989 permohonan dan pada tahun 2006 juga
tercatat 776 izin dari 1148 permohonan. Terlihat jelas bahwa fenomena
perceraian kian marak di tengah masyakarat kita. Dari data tersebut dapat
diperkirakan jika setiap keluarga yang bercerai memiliki sedikitnya dua orang
anak misalnya, maka mulai tahun 2004 sampai dengan 2006 diperkirakan terdapat
4.446 anak kehilangan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Dengan kata lain
sebanyak 4.446 anak menjadi yatim atau piatu secara hukum. Dan jika saja dari
total seluruh keluarga yang bercerai tersebut terdapat 50 % keluarga yang
memang sebelumnya tergolong keluarga tidak mampu maka akan tercipta 2.223 anak
miskin yang ‘yatim/piatu’. Belum lagi dari jumlah keluarga yang
‘miskin mendadak’ karena harta keluarga beralih menjadi milik salah satu dari
orang tuanya. Dari angka tersebutlah bermuara sebuah penetasan ratusan bahkan
ribuah anak-anak yang kemudian memilih jalan menjadi pengemis lampu merah,
pengamen bus kota dan ABG tuna susila. Tentu anda sendiri seringkali
menyaksikan dari berbagai berita di media, jika satu dari mereka terjaring
operasi yustisi maka alasan demi mencari sesuap nasi yang selalu otomatis
keluar dari bibirnya. Ternyata perceraian mampu mereproduksi kemiskinan dan
problematika bangsa. Sampai kapan?
Tentu banyak solusi yang terbetik di pikiran anda kala melihat fenomena di
atas. Namun pernahkah berfikir bahwa ada sebuah cara mudah untuk meminimalisir
masalah tersebut sedini mungkin, di awali oleh anda bersama sang buah hati.
Yakni dengan mengajarkan Anak Anda bersedekah sedari kecil. Caranya? Silahkan
mulai beri kesempatan kepada anak anda memberikan sedekah kepada seorang
pengemis yang mengetuk pintu rumah anda. Biasakan pula tak ragu untuk
meminjamkan alat tulis kepada teman sebangku kelasnya yang kebetulan tidak
memilikinya dan tidak cerewet menanyakan kapan akan dikembalikan. Tak lupa
ajarkan kepada mereka untuk selalu memberikan sesuatu yang terbaik yang
dimiliki. Para psikolog telah menyatakan bahwa kebiasaan memberi kepada sesama
oleh anak kita akan berpengaruh kepada karakter yang kuat dan tidak
individualistis. Mudah bergaul dengan siapapun nantinya, serta mampu berbaik
sangka terhadap sesuatu yang kontradiktif dengan keadaan dirinya. Bentuk
pengalaman
bersama mereka dalam suasana enjoy, fun dan full inside games. Manfaat lain
yang terkandung ialah keluarga akan lebih tenang, bahagia dan penuh rahmatNya.
Kita harus yakin bahwa dengan bersedekah segala bencana, musibah dan penyakit
akan teratasi bahkan terobati dengan izin-Nya. Tanpa anda sadari kemudian,
anda akan merasa sangat bahagia karena memiliki anak yang sholeh. Dan kelak
mereka mampu menyusun untaian doa kepada Allah untuk kita terbungkus keluguan
dan keihklasan mereka. Alhasil, keluarga sakinah mawaddah warahmah akan
terwujud karena diselimuti kasih sayang antara anggota keluarga
Manfaat besar akan tertuai dengan mengajarkan kebiasaan bersedekah kepada
buah hati anda. Keluarga selamat, orang lain mendoakan anda. Mulailah sedini
mungkin. Selagi buah hati berada dalam usia emas.
Salman Al Farisi
Institut Manajemen Zakat
www.imz.or.id
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
[Non-text portions of this message have been removed]