DUTA MASYARAKAT, Senin 24 September 2007 hlm 6 (Nahdliyin)


Pengajian Ansor Dibubarkan LDII

- Disinyalir Sentimen Kelompok

MOJOKERTO - Pengajian dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang dilakukan 
oleh GP Ansar Kabupaten Mojokerto, dibubarkan oleh orang yang diduga pengikut 
Lembaga Da'wah Islam Indonesia (LDII). Pengajian dalam bentuk safari Ramadhan 
itu, dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Trowulan, Kecamatan 
Trowulan, Ahad (23/9), kemarin.

Karena dipicu kelompok tertentu, akhirnya, Ali Sofyan, yang merupakan Kepala 
Desa setempat, memaksa GP Ansor untuk membongkar seluruh bendera GP Ansor yang 
dipasang di pinggir jalan. Ia juga meminta agar pengajian tersebut dibubarkan 
dan meminta kepada perwakilan untuk segera menghadapnya. Bahkan pihaknya juga 
mengancam, jika pengajian tersebut diteruskan, akan mendatangkan pasukannya.

Namun, pengajian tersebut masih tetap berlanjut hingga buka puasa. Namun 
sekitar pukul 18.00 WIB, ratusan GP Ansor beserta Bansernya, langsung 
mendatangi rumah Ali Sofyan. Dalam aksi tersebut, Ali Sofyan langsung melarikan 
diri dari rumahnya dan selamat dari amukan massa. Akhirnya massa melampiaskan 
kemarahan mereka dengan mengobrak-abrik rumah milik Ali Sofyan.

Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim, H Abdul Muchid, yang juga warga setempat, 
mengatakan, Ali Sofyan memang merupakan kelompok dari LDII. "Kita ini melakukan 
pengajian di pondok. Tidak ada aturan untuk ijin. Hanya karena dia (Ali 
Sofyan-red) itu, merupakan orang LDII, sehingga meminta pengajian GP Ansor ini 
dihentikan," kata Muchid.

Apalagi, lanjut Muchid, pakai mengancam dengan mendatangkan pasukannya. 
"Silahkan datangkan pasukan itu. Apa dikira kita ini tidak berani, minta 
didatangkan berapa anggota Banser. Kita ini juga sudah meminta maaf pada dia, 
kalau memang hanya karena ijin," ujar Muchid.

Pihaknya saat ini masih terus melakukan penyidikan terkait dengan adanya 
pembubaran pengajian tersebut. "Kita akan membicarakan hal tersebut dengan 
pimpinan wilayah. Karena kelompok mereka, ajarannya berbeda dengan keyakinan 
dan kebiasaan orang-orang NU, dan ini sudah menginjak pada persoalan jihad. 
Jangan bersikap seperti itu, pakai atasnama desa segala," tandas Muchid.

Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Mojokerto, H Heri Ermawan, mengatakan, 
menyikapi kasus ini, pihaknya juga langsung memusyawarahkan hal tersebut dengan 
PCNU setempat. "Kami akan konsultasikan dengan para ulama dulu. Apapun 
keputusannya, kita akan siapkan barisan. Karena bagaimanapun ini sudah 
menginjak pada persoalan ideolagi kita," kata Heri.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Erlang Dwi Permata, meminta hal ini agar 
tidak dibesar-besarkan. Karena hal tersebut hanya merupakan keributan biasa 
saja. "Persoalan ini hanya kesalahpahaman. Jadi, jangan sampai 
dibesar-besarkan, yang akhirnya menjadi konflik antar organisasi," kata Erlang. 

Sementara, hingga berita ini diturunkan, Ali Sofyan tidak dapat di konfirmasi, 
karena tidak ada di tempat. Bahkan hingga malam lalu, suasana di Desa Trowulan 
masih terlihat tegang. Sejumlah petugas kepolisian juga terlihat bejaga-jaga di 
rumah Ali Sofyan. (van)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke