25 September 2007
Arogansi LDII Harus Dilawan

Ansor Desak Ali Sofyan Minta Maaf

JAKARTA - Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor merasa tidak terima dengan 
tindakan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang berani membubarkan 
pengajian yang digelar Ansor di Pondok Pesantren Pesantren Nurul Huda, Desa 
Trowulan, Kecamatan Trowulan, Ahad (23/9) lalu. 
Karena itu, Ansor mengancam akan membawa kasus tersebut ke hukum, jika LDII 
tidak segera memohon maaf ke Ansor atau pihak panitia penyelenggara pengajian 
tersebut. "Arogansi seperti ini harus dilawan dan harus dienyah dari Indonesia. 
Kalau LDII tidak meminta maaf Ansor akan melakukan dan akan membawa masalah ini 
ke hukum," ungkap Sekjen PP GP Ansor A. Malik Haramain kepada Duta di Jakarta, 
Senin (24/9) kemarin.
Sebagaimana diberitakan Duta kemarin, Pengajian dalam rangka menyambut bulan 
suci Ramadhan yang dilakukan oleh GP Ansor Kabupaten Mojokerto, dibubarkan oleh 
orang yang diduga pengikut LDII. Tidak hanya membubarkan pengajian, massa juga 
menurunkan secara paksa bendera Ansor yang terpasang disekitar lokasi kegiatan.
Menurut Malik, yang mantan Ketua Umum PB PMII, apapun alasannya, aksi 
pembubaran tersebut tidak dapat dibenarkan. Atas kejadian tersebut, katanya, 
Ansor merasa dihina dan menjadi korban intimidasi oleh LDII."Apa pun alasanya 
pembubaran tersebut tidak dapat dibenarkan. Ini merupakan bentuk intimidasi 
kelompok terhadap kelompok lain," tuturnya.
Menanggapi alasan tidak ada izin yang dikemukaan pihak kepala desa, Malik 
mengatakan, bahwa alasan tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan karena 
pengajian tersebut digelar di dalam pondok pesantren. "Pengajian tersebut 'kan 
digelar di pondok pesantren. Jadi ada sentimen kelompok juga," katanya. 

Didesak Minta Maaf
Sementara itu, Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Mojokerto, mendesak agar Ali 
Sofyan membuat pernyataan permintaan maaf secara terbuka kepada GP Ansor dan 
masyarakat luas pada umumnya. Sebab, dampak dari pemaksaan pembubaran 
pengajian, serta pembongkaran seluruh bendera GP Ansor yang dipasang di pinggir 
jalan, dinilai telah mengganggu sendi-sendi kehidupan.
Demikian diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Mojokerto, H Heri 
Ermawan, kemarin. "Kami juga menghimbau semua pihak untuk bersikap jernih dan 
arif dalam menanggapi masalah tersebut. Terutama kepada Muspika untuk segera 
menyelesaikan persoalan tersebut," kata Heri.
Karena itu, pihaknya juga mendesak agar Ali Sofyan yang merupakan pengikut 
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) itu, meminta maaf kepada GP Ansor, secara 
terbuka. Namun, sejauh ini belum ditentukan bagaimana teknis permintaan maaf 
itu harus dilakukan. "Apalagi Ali Sofyan juga selaku Kepala Desa, harus berani 
memberikan klarifikasi atas peristiwa itu," ujar Heri.
Ia juga sangat menyesalkan atas kejadian tersebut. Untuk itu pihaknya berharap 
agar persoalan ini tidak terjebak dalam gerakan-gerakan vandalisme yang 
bersifat kontraproduktif dalam membangun harga diri bangsa. 
"Kami juga tidak ingin persoalan ini akhirnya menjadi pemicu perpecahan dan 
mengganggu sendi-sendi kehidupan," tegas Heri.
Hari ini, GP Ansor Kabupaten Mojokerto juga menggelar rapat pimpinan dengan 
seluruh PAC untuk membicarakan langkah yang akan ditempuh dalam persoalan 
tersebut. "Kami masih menunggu hasil rapat besok (hari ini-red). Yang jelas, 
kita terus mengkoordinasikan langkah-langkah untuk menjernihkan persoalan ini," 
jelas Heri.
Sementara, hingga kemarin, Kepala Desa Trowulan, Ali Sofyan, serta Sekretaris 
Desa, Supriadi, juga belum bisa dikonfirmasi atas masalah tersebut. Bahkan, 
rumahnya yang ada di kawasan jalan Damar Wulan itu, dibiarkan sepi. Kecuali 
hanya adik dan istri yang tinggal di rumahnya.
Namun demikian, mereka juga enggan memberikan komentar. "Saya tidak tahu mas, 
mas Ali (Ali Sofyan-red) pergi sejak kemarin. Sampai saat ini juga belum 
pulang," kata adik ipar Ali Sofyan, Endang.
Hal yang sama juga dikatakan Sarni, istri Supriadi, yang mengaku tidak 
tahu-menahu perihal keributan kemarin. Dia mengaku sejak menjelang kemarin, 
suaminya pergi bersama perangkat desa. "Ndak tahu mas, sejak kemarin keluar 
dari rumah," kata Sarni.
Sebelumnya, pengajian dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan yang dilakukan 
oleh GP Ansor Kabupaten Mojokerto, di Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa 
Trowulan, Kecamatan Trowulan, kemarin berakhir ricuh. (van, amh)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke