Dari Gatra minggu lalu. http://www.gatra.com/2007-09-17/majalah/ artikel.php?pil=14&id=108048&crc=-1532733103
KOLOM Beragama, Berbagi atau Berebut Kebenaran? Agama dilahirkan oleh rahim dunia yang penuh krisis buat mengatasinya. Para nabi dan pendiri agama meneladankan betapa agama adalah jalan pencarian, di mana orang-orang beriman penuh mesra saling berbagi kebenaran guna menuju Yang Hakiki. Jadi, mengapa kita kini cenderung menggunakan agama untuk berkelahi memperebutkan klaim kebenaran? Oleh: Achmad Munjid Kandidat doktor bidang religious studies Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat Secara umum, agama-agama lahir di tengah jagad yang getir atau semesta yang `tak tentu arah'. Hindu dan Buddhisme, misalnya, hadir sebagai jalan pembebasan bagi hidup manusia yang dipersepsi sebagai labirin samsara atau perangkap dukkha. Sementara Yahudi, Kristen dan Islam, muncul sebagai energi moral dan spiritual bagi para pemeluknya buat melampaui dunia yang dilanda aneka kemelut. Agama dilahirkan oleh rahim dunia yang penuh krisis, buat mengatasinya. Para nabi dan pendiri agama meneladankan betapa agama adalah jalan pencarian di mana orang-orang beriman penuh mesra saling berbagi kebenaran, guna menuju Yang Hakiki. Jadi mengapa kita kini cenderung menggunakan agama untuk berkelahi memperebutkan klaim kebenaran? Dominus Iesus Dalam konteks perebutan klaim kebenaran itulah pernyataan Paus Benediktus XVI pada 7 Juli 2007 lalu (The Washingotn Post 20/7/07) bahwa di luar Katolik Roma tidak ada Gereja (baca: kebenaran, keselamatan) yang sejati sungguh mencemaskan. Terutama di telinga kita yang bukan Katolik, ia menggemakan kembali argumen usang Paus Boniface VIII (1294-1303) extra ecclesiam nulla salus (di luar Gereja tidak ada keselamatan) dengan segala cabikan luka hitam menganga yang ditinggalkannya dalam sejarah itu. Sejarah memang selalu merupakan medan perebutan makna dan kuasa. Terlebih untuk peristiwa penting seperti Konsili Vatikan (KV) II (1962-65) di kalangan umat Katolik. Buat kaum progresif, KV II adalah tonggak masuknya "angin segar" ke lingkungan Tahta Suci Roma. Ia adalah momentum dimulainya "perubahan mendasar dan pembaharuan" dalam pelbagai tradisi Katolik, termasuk hubungan mereka dengan ummat beragama lain. Islam, misalnya, bukan saja kini tidak lagi dipandang sebagai bid'ah atau aliran sesat, tapi diakui sebagai agama yang `otentik', meski tidak sesempurna Katolisisme, sebagai jalan keselamatan. Argumen "masuknya angin segar" itulah yang kemudian disambut antusias oleh banyak teolog cemerlang seperti Hans Kung, Edward Schillebeeckx, Bernhard Haring, Raimundo Panikkar, Leonard Swidler, Paul F. Knitter dll. yang mempromosikan gagasan pluralisme dan dialog tulus antar- agama. Sedihnya, oleh Roma gagasan mereka dipahami secara `terpelintir' sebagai relatifisme agama yang membahayakan iman Kristen. Berbeda dengan kaum progresif, kelompok Katolik konservatif memang memandang KV II lebih sebagai "kelanjutan" mata rantai tradisi. Sejak KV II hingga hari ini tarik menarik kedua kubu itu terus berlangsung. Itulah sebabnya di tahun 2000 Kardinal Ratzinger, paus sekarang, merasa perlu menerbitkan dokumen Dominus Iesus. Selain menegaskan kesinambungan KV II dengan tradisi Katolik, dokumen itu sekaligus juga ditujukan buat mengoreksi `kekeliruan' sejumlah `teolog nakal' dan gagasan pluralisme agama mereka. Ummat Kristen, menurut dokumen itu, harus dengan teguh meyakini bahwa keselamatan paripurana hanya ada dalam Gereja Katolik sebagai pewaris tunggal yang sah atas ajaran Yesus Kristus. Kebenaran Gereja Katolik bersifat universal, final, dan karenanya mutlak. Mensejajarkan Yesus, Gereja Katolik, dan kebenaran yang dibawanya dengan pendiri dan ajaran agama lain tidak boleh diterima demi kemurnian iman Kristen. Itu pulalah yang kembali ditegaskan Paus Benediktus XVI awal Juli lalu. Lantas, masuk neraka semuakah siapa saja yang bukan Katolik? Ekslusifisme Muslim, Pluralisme al-Qur'an Pandangan ekslusif demikian jelas bukan monopoli ummat Katolik. Arus utama banyak ummat beragama, termasuk Muslim, juga menganut paham serupa. Kaum Muslim lebih suka mengulang-ulang ayat "Agama yang diridai di sisi Allah hanyalah Islam" (QS 3:19) sebagai argumen `standar' tentang superioritas Islam atas agama-agama lain. "Islam" di situ hanya boleh ditafsirkan sebagai sistem keyakinan baku yang dipraktikkan menurut tata-cara tertentu. Menafsirkan "islam" bukan sebagai kata benda, tapi sebagai kata kerja atau "sikap kepasrahan total kepada Allah" dianggap mengutak-atik pesan Allah yang sudah terlalu gamblang maknanya. Maka, ayat-ayat `inklusif' lain manapun umumnya akan ditafsirkan menurut `semangat' ayat QS 3:19 yang telah distandarkan tersebut. Padahal, meski mayoritas Muslim bersikap ekslusif, menurut Mahmoud Ayoub (2007: 190), seorang pakar kajian tafsir kelahiran Libanon, sesungguhnya al-Qur'an sendiri bersifat pluralis. Al-Qur'an menegaskan bahwa Tuhan mengutus seorang rasul bagi setiap komunitas (QS 10: 47). Secara hampir persis, al-Qur'an bahkan menegaskan kesederajatan antara kaum Muslimin dan ummat beragama lain, sembari menyatakan bahwa `tolok-ukur' tingi-rendahnya seseorang di depan Tuhan bukanlah identitas agama, tapi "amal saleh". (QS 2:62 and 5:69). Jika dibaca dengan cermat dan batin yang jernih, pesan pluralisme QS 5: 48 bahkan lebih jelas lagi. "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami telah menetapkan aturan dan jalan untuk diikuti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu melalui apa yang telah dikaruniakanNya kepadamu. Maka berlomba-lombalah satu sama lain dalam kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya akan kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu mengenai apa yang telah kamu perselisihkan." Sayangnya, argumen-argumen tentang pluralisme dan kesejajaran agama demikian itu lebih sering diposisikan sebagai tafsir `sempalan', atau pandangan yang suversif. Sama seperti para `teolog `nakal' di kalangan Katolik, para penafsir al-Qur'an yang pluralis akan serta merta `ditendang' dari lingkaran "Islam itu luhur dan tak ada yang melampaui keluhurannya". Betapapun, Islam memang tidak selalu identik dengan Muslim, Katolisisme tidak identik dengan umat Katolik. Waktu dan, terutama, proses dalam sejarahlah yang akan menentukan kapan para pemeluk agama mau menerima ummat lain sebagai pencari kebenaran yang berkedudukan sederajat serta kawan seperjalanan yang dibutuhkan untuk saling berbagi. Tapi sebelum itu terwujud, mari kita sadari, perebutan klaim kebenaran itulah yang sungguh kerap menjadi salah satu sumber percekcokan dan perkelahian antar umat yang berbeda keyakinan. Padahal, jika cuma Tuhan yang berhak menentukan dan memiliki kebenaran mutlak, bukankah secara teologis, klaim kemutlakan atas nama agama itu merupakan `kudeta' atas kemutlakan Tuhan? Sementara secara sosiologis, kita semua tahu, ia rawan memicu pecahnya konflik sosial. Ketika agama lebih ditempatkan sebagai legitimasi perebutan klaim kebenaran, krisis dunia di sekitar kita bukannya ada untuk diatasi. Tapi ia dijadikan sebagai alasan pertengkaran demi pertengkaran tak berkesudahan. Maka, krisis lebih dahsyatlah yang sebetulnya sedang secara sengaja kita ciptakan. Bukankah kebenaran itu ibarat api yang memancarkan cahaya? Semakin dibagi, semakin terang cahaya yang terpancar. Dan ia tak pernah berkurang. Sebaliknya, jika diperebutkan, ia bisa padam, lalu kita semua tersesat ditelan kegelapan. Atau, lebih celaka lagi, ia malah membakar dan mengubah siapa saja yang memperbutkannya jadi arang hitam. Ataukah, kelak kita hendak menyalahkan Tuhan yang telah menurunkan agama?
