Memang sepatutnya kita semua mau dan ridho untuk "telanjang" dan bercermin, 
agar kita jangan menyerupai mereka yang berteriak untuk menyelesaikan konflik, 
tetapi mereka perlu memelihara konflik untuk kebutuhan keberlanjutan program.
tapi saya yakin, teman-teman melakukan itu semua bukan seperti yang 
dikhawatirkan Daeng Anchu.
salam,

iful


----- Pesan Asli ----
Dari: lkpmp makassar <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Rabu, 26 September, 2007 8:30:04
Topik: Re: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama

mbak ida...

sebelum mengangatakan pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan.. 
ada baiknya dilakukan penelitian. siapa tahu banyak dari PSK itu yg memang 
tidak memiliki keterampilan. maksud saya, jangan terlalu mencari kesalahan pada 
struktur (disamping saya mengakui hal itu memang ada..), tetapi harus dilihat 
juga kinerja teman-teman LSM yg selama ini mendampingi mereka... apa yg telah 
mereka lakukan dan apa hasilnya... jangan sampai beberapa LSM memang senag 
kalau mereka ada...

sekali lagi.. maksud saya, kalau mereka ada, proyek juga lancar...
kan banyak proposal yg mengatasnamakan mereka... tapi sejak proyek itu jalan... 
perubahan apa yg terjadi pada PsK itu...

anchu

----- Original Message ----- 
From: siti infirohah alfaridah 
To: [EMAIL PROTECTED] s.com 
Sent: Monday, September 24, 2007 9:51 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama

bukan hanya masalah setuju dan tidak setuju, tetapi ini masalah realitas
sosial, nyata adanya. Tidak ada satu orang pun yang bercita-cita jadi
PSK, tetapi mereka menjadi PSK kan banyak faktor, salah satunya
pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak untuk
semua warga negara. jadi kalo ada yang jadi PSK kan tetap harus
dilindungi haknya sebagai warga negara.Contohnya, kalau program
pemerintah tentang HIV/AIDS lebih serius dan dilakukan secara terpadu
(tidak sekedar formalitas dan ceramah agama melulu), maka paling tidak
kita punya harapan lebih baik agar HIV/AIDS tidak menyebar kemana-mana.
Kita akan mengalamai inflasi penderita HIV/AIDS jika cara pandang kita
terhadap kelompok2 Risti (Resiko Tinggi, misal PSK dan pengguna Narkoba)
hanya menggunakan etika moral keagamaan. Lebih baik kita menggunakan
etika moral kemanusiaan (dan ini bagian dari moral keagamaan juga kan?).Saya
juga menganggap alat reproduksi perempuan itu sesuatu yang berharga
istimewa, tetapi dengan mengabaikan proses-proses pencegahannya dari
HIV/AIDS bagi saya itu sama dengan tidak menghargai alat reproduksi
perempuan.begitu bapak-bapak dan ibu.....

----- Original Message -----
From: "nur aini"
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Subject: Re: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
Date: Sun, 23 Sep 2007 13:29:15 +0100 (BST)

Salam kenal Mbak ida,
Saya sepakat kang anam, kadang para aktifis gender itu
terlalu..--meminjam istilah bang haji. Sebagai perempuan saya juga
nggak rela dong kalu kehormatan kaum saya dikomersilkan. .. Kalau
memang kepepet kebutuhan ekonomi ya itu mgkin, tapi jangan lantas
membenarkan semua cara, kayak kiaimat sudah dekat saja... Tapi juga
yang sering kurang diperhatikan oleh laki2 itu kang, kalau ada yang
begituan mesti yang disalahkan kog selalu perempuannya. .kenapa tidak
para laki-laki buaya itu...jadi ya adillah dalam menilai. mestinya
yang dikasih penyuluhan dari pak kyai itu ya juga para buaya itu
donk...tuh gimana caranya setia sama istrinya di rumah (dan maaf
malulah sama ibu, saudara atau anak perempuannya) .

Jadi begitu, hehehe

kh anam <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
Mbak,
Ada satu hal yang sering diupakan oleh kaum feminis soal PSK, bahwa
alat
reproduksi sangat dihargai dalam agama, dia mendapatkan fungsi
istimewa
dalam memberlangsungkan hubungan seksual yang "manusiawi" dan
berdasar cinta
yang suci, juga untuk meneruskan keturunan. Jika ini tidak dilupakan,
tentunya kerja sebagai kuli bangunan dibedakan dengan kerja sebagai
PSK,
meskipun keduanya sama-sama berkeringat. Dulu sih disebut pelajur
saja,
karena istilah "pekerja" itu sendiri menimbulkan efek hukum dan
interpretasi
yang berbeda. Maka jangan mudah salah faham.

Nah.... Rumitnya memang kalau berbicara komesialisasi karena "Apapun
ada
formulanya," kata salah satu iklan sikat gigi. Semua bisa
dikomersilkan.
Tanyakan kepada Madun sendiri (kalau ga percaya) yang menulis tentang
"tragedi komersialisasi agama itu", bahwa tulisannya pun bisa
bernilai
komersial kan? Ini hampir sama dengan ejekan kaum kapitalis kepada
aktivis
sosialis bahwa kaos bergambar "Karl Marx dan manifesto komunispun"
bisa
bernilai kapital. Yo piye ngono kuwi... Kalau saya jadi kiai mungkin
saya
akan bilang, "berkhusnudz dzonlah....

Jadi begitu,

On 9/22/07, siti infirohah alfaridah <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
>
> Menjelang puasa, tepatnya 6 September 2007, di lokalisasi Kedung
Banteng
> Kabupaten Ponorogo, beberapa orang dari Dinas Sosial dan Departemen
Agama
> Kabupaten Ponorogo memberikan ceramah agama kepada para PSK
(Pekerja Seks
> Komersial) dalam rangka penutupan Lokalisasi Kedung Banteng selama
bulan
> Ramadhan. Tetapi yang aneh, Spanduk yang dipasang berbunyi:
PENDIDIKAN
> DAN PELATIHAN KETRAMPILAN USAHA BAGI EKS PENYANDANG MASALAH SOSIAL.
> Awalnya aku mengira penceramah kedua akan memberikan materi yang
terkait
> dengan isi spanduk yang dipasang. Tetapi sampai acara berakhir, tak
satu
> katapun tentang ketrampilan usaha aku dengar.Coba kawan-kawan
pikir,
> praktik seperti ini lebih tepat dibilang apa ya......? Siapa
sebenarnya
> PSK? Siapa yang lebih pantas disebut sebagai PENYANDANG MASALAH
SOSIAL?
> PSK yang bekerja dengan mengeluarkan keringatnya sendiri atas jasa
> pelayanan seks yang ia berikan pada pelanggan atau para Pekerja
Sosial
> Komersial yang berceramah tentang ramadhan, taubat, surga-neraka
dari
> balik spanduk bertuliskan seperti diatas? ida
>
> ----- Original Message -----
> From: Mukhlisin
> To: [EMAIL PROTECTED] s.com <kmnu2000%40yahoogr oups.com>
> Subject: [kmnu2000] Tragedi Komersialisasi Agama
> Date: Fri, 14 Sep 2007 08:47:19 +0700
>
> http://www.kompas. com/
> Tragedi Komersialisasi Agama
>
> Muhammadun AS
>
> Bagi umat Islam, kehadiran bulan suci Ramadhan merupakan anugerah
tak
> terkira. Selain menjadi saat kontemplasi paling efektif dalam
> meningkatkan keimanan dan ketakwaan, bulan suci juga menjadi ajang
> memupuk dan mengonsolidasi persaudaraan (ukhuwah) sesama manusia.
>
> Dengan tarawih berjamaah, seorang Muslim diharapkan mampu
menjadikan
> kesempatan itu untuk memecahkan masalah internal umat Islam,
> lebih-lebih mampu memecahkan persoalan bersama, dalam konteks
> lingkungan, kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan sebagainya.
>
> Hilangnya substansi agama
>
> Momentum ini jika dilakukan maksimal akan mampu membangkitkan jiwa
> perjuangan seorang Muslim yang tangguh dalam menyelesaikan problem
> keberagamaan dan kebangsaan. Namun, jika hanya dijadikan "pemanis"
> beragama, yang terjadi adalah kebuntuan dan keterasingan diri,
dalam
> beragama ataupun berbangsa.
>
> Keterasingan inilah yang sedang terjadi pada masyarakat kita karena
> agama hanya diciptakan dari penampilan luar, sementara dimensi
> spiritual yang esoteris terabaikan. Bahkan, spiritualitas
> keberagamaan kita dewasa ini lebih banyak ditunjukkan dalam
berbagai
> siaran kolosal, baik melalui media cetak (koran) maupun elektronik
> (televisi).
>
> Yang terjadi dalam kolosalisasi keberagamaan ini adalah kaburnya
> nilai substantif agama. Menjadi Muslim dengan kesadaran
spiritualitas
> tinggi hanya terjadi saat berperan di televisi. Pascapentas,
manusia
> kembali "merobek" agama. Begitu pula dengan para penonton,
aksi-aksi
> spiritual di televisi hanya dijadikan hiburan tanpa dimaknai
sebagai
> kontemplasi beragama. Sementara itu, industri televisi dan insan
> perfilman menjadikan momentum puasa sebagai media untuk mengeruk
> keuntungan sebesar-besarnya.
>
> Bagi Ruslani (2005), meski film-film spiritual dikatakan untuk
> memberi pencerahan kepada umat Islam. Namun, jika diperhatikan
> saksama, akan dijumpai berbagai kejanggalan, alur cerita tak logis,
> penulisan skenario yang terkesan mengejar waktu dan setoran, dan
> penafsiran agama yang membuat umat terikat simbol-simbol formal
tanpa
> pemaknaan mendalam atas pesan-pesan kemanusiaan. Dalam konteks ini,
> nalar kapitalistik beragama telah mengaburkan dimensi
spiritualitas.
> Dengan kata lain, telah terjadi komersialisasi spiritual dalam
> beragama, yang menimbulkan hilangnya makna substantif agama dalam
> mencerahkan kehidupan manusia.
>
> Komersialisasi beragama
>
> Tragedi komersialisasi beragama yang kini sedang marak ditimbulkan
> oleh beberapa hal.
>
> Pertama, masih terjebak dalam keberagamaan formalistik.
Keberagamaan
> yang mengalir dalam urat nadi hanya "pemanis". Beragama menjadi
> khusyuk hanya dalam sesaat atau bahkan hanya mengikuti tuntutan
> lingkungan. Seandainya tidak ada bulan Ramadhan, seolah kita tidak
> akan menonton hal-hal yang bersifat religius. Maka tak heran jika
> pasca-Ramadhan, kita akan kembali seperti semula. Korupsi, kolusi
dan
> nepotisme (KKN) serta segala kejahatan kemanusiaan lain akan
semarak
> lagi. Pada saat itu Ramadhan sebagai bulan yang dialamatkan Allah
> sebagai bulannya umat Muhammad, akan tercabik-cabik. Yang tersisa
> hanya puing-puing ibadah temporal yang tak memberi nilai dan daya
> beragama secara revolusioner.
>
> Kedua, Ramadhan telah dijadikan komoditas kapitalistik. Berbagai
> industri media dan stasiun TV berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk
> menayangkan program-program dakwah, dengan semua artis manggung di
TV
> dengan pakaian islami.
>
> Menghadapi realitas pelik ini, perlu dibangun kembali nalar
> keberagamaan yang sedang tercabik-cabik. Yakni bagaimana kita
> menghadirkan kembali makna substantif agama dan meluruskan kembali
> makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam tayangan sinetron
> itu. Respiritualisasi ini agar kita tidak terjebak ke dalam
> sinyalemen Rasulullah, "berapa banyak amal yang berwujud amal
akhirat
> tetapi menjadi amal dunia karena niat yang jelek dan berapa banyak
> amal yang berwujud amal dunia tetapi menjadi amal akhirat karena
niat
> yang baik".
>
> Hadis itu mengindikasikan Ramadhan harus disambut dengan ibadah,
> bukan dengan gegap gempita melalui berbagai kegiatan yang tidak
> berkaitan langsung atau tidak langsung dengan Ramadhan. Salah
> mengartikulasi dan menginterpretasi puasa, hanya akan menghasilkan
> rasa lapar dan dahaga.
>
> Muhammadun AS Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies
> (CePDeS) Jakarta
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> --
> We've Got Your Name @ www.mail.com! !!
> Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- ---
For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good
this month.

[Non-text portions of this message have been removed]

-- 
We've Got Your Name @ www.mail.com! !!
Get a FREE E-mail Account Today - Choose From 100+ Domains

[Non-text portions of this message have been removed]

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition. 
Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.30/1029 - Release Date: 9/24/2007 
7:09 PM

[Non-text portions of this message have been removed]





      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke