G30S: Arus Balik Soekarno 
Gerakan 30 September (G30S), atau Gestapu mungkin hanya setetes dari 
air di lautan yang maha luas bagi sejarah perjalanan dunia, tapi bagi 
Indonesia G30S sangat berarti, karena di sinilah sejarah Indoenesia 
bermula dengan pemerintahan baru yang mengaku dirinya Orde Baru. 
Membicarakan G30S secara otomatis akan membuat kita kembali menengok 
sejarah yang sampai sekarang masih menimbulkan pro dan kontra, 
lengkap dengan teori seputar kejadiaannnya, termasuk di dalamnya 
teori yang mengatakan bahwa presiden Soekarno terlibat dengan tragedi 
militer sepanjang tahun enam puluh lima tadi, yang dilontarkan oleh 
Anthony Dake.
Lambert Guebels dalam buku yang berjudul De Fatale Gebeurte Nissen 
yang terbit medio tahun 2005, dengan cermat menuliskan suasana pada 
hari sepanjang tahun 1965, saat sekelompok tentara Angkatan Darat 
dengan dukungan massa komunis berusaha merebut kekuasaan dan akhirnya 
malah menyeret runtuhnya kekuasaan presiden Soekarno. Apakah presiden 
Soekarno terlibat? Bagaimana peran DN Aidit bersama partai komunis 
Indonesia (PKI) yang dipimpinnya? Siapa di balik Letnan Kolonel 
(Letkol) Untung, tokoh yang secara terbuka mengaku dirinya komandan 
G30S, serta menculik enam jenderal Angkatan Darat? Mengapa Panglima 
Kostrad Mayjen Soeharto berhasil memulihkan situasi dan dahkan 
akhirnya tampil menggantikan presiden Soekarno?
Sejak lengsernya rezim Orde Baru pada tahun 1998 di tanah air dikenal 
beberapa versi sejarah yang berbeda. Selain menonjolkan keterlibatan 
pihak asing seperti CIA, juga muncul tudingan terhadap keterlibatan 
Soeharto dalam "Kudeta Merangkak", yaitu rangkaian tindakan dari awal 
Oktober 1965 sampai keluarnya (Supersemar) Surat Perintah Sebelas 
Maret 1966 dan ditetapkannya Soeharto sebgai pejabat Presiden tahun 
1967. "Kudeta Merangkak" terdiri dari beberapa versi ( Saskia 
Wieringan Peter Dale Scot ), dan beberapa tahap.

Polemik Pemikiran
Gerakan yang mengakibatkan gugurnya enam Jenderal dan seorang perwira 
Angkatan Darat itu memang meninggalkan banyak pertanyaan, yang masih 
perlu dicarikan jawabannya. Kalaupun ada yang pasti dari peristiwa 
G30S malam itu adalah berubahnya jalan hidup presiden Soekarno. Sinar 
matahari yang menyinari bumi pada tanggal 1 Oktober dan hari-hari 
sesudahnya tak lagi tampak sama di mata presiden Soekarno. Sejak pagi 
itu, perlahan namun pasti mulai surut ke belakang. Tanggal 1 Oktober 
merupakan Turning Point (Arus Balik) dalam perjalanan hidup Bung 
Karno. Karena peristiwa G30S, sehari sebelumnya mengawali kejatuhan 
Bung Karno dari tampuk kekuasaannya.
Sejak peristiwa naas G30S, Presiden Soekarno bukan lagi pemipin 
tertinggi di Indonesia. Pada hari yang sama Pangkostrad Mayjen 
Soeharto mulai membangun kekuatan tandingan yang secara sepihak 
mengambil alih Pimpinan Angkatan Darat dari tangan Jenderal Ahmad 
Yani, yang belum diketahui keberadaannya. Bukan itu saja, Soeharto 
juga mencegah beberapa perwira yang dipanggil presiden Soekarno untuk 
menghadap.
Siang hari, dalam pertemuan dengan menteri Angkatan Udara, Laksdya 
Omar Dani, Menteri Angkatan Laut, Laksdya RE. Martadinata, serta 
Menteri Polisi, Inpspektur Jenderal, Soetjipto Joedo Diharjo, 
Presiden Soekarno memutuskan untuk megambil alih seluruh tanggung 
jawab dan tugas Menteri Angkatan Darat, serta mengangkat asisten 
Menteri Angkatan Darat bidang personel, Mayjen Pranoto Reksosamudro 
sebagai Caretaker Menteri Angkatan Darat.
Usai pertemuan itu, pukul 17.00, Presiden Soekarno memerintahkan 
ajudannya, Kolonel Bangbang Widjanarko, memanggil Mayjen Pranoto 
Reksosamudro untuk menghadap. Namun seperti pada harinya, Mayjen 
soeharto kembali menegaskan bhwa untuk sementara Ia memegang kendali 
Angkatan Darat. Dengan alasan, Ia tak ingin Angkatan Darat kehilangan 
Jederalnya lagi.
Pembangkangan terhadap Presiden Soekarno itu bukanlah yang pertama 
kali dilakukan oleh Mayjen Soeharto. Sebab di saat Presiden Soekarno 
gencar-gencarnya berkonfrontasi dengan Malaysia, di Kostrad dibentuk 
operasi khusus (Opsus) Letkol Ali Moertopo dan dibantu Mayor LB 
Moerdani. Personel Opsus secara diam-diam melakukan kontak rahasia 
dengan pihak Malaysia untuk mengupayakan perdamaian antara kedua 
belah pihak.
Dalam buku yang bertajuk Memoar Oei Tjoe Tat Pembantu Presiden 
Soekarno, terbitan Hasta Mitra, Oei Tjoe Tat menuturkan,"Dengan cepat 
iklim dan suasana politik di ibu kota bergeser 180 derajat. Menrut 
pengamatan saya, sejak 1 dan 2 Oktober 1965 kekuasaan de facto sudah 
terlepas dari tangan Presiden selaku penguasa Republik Indonesia. 
Memang padanya masih ada corong mikrofon, tetapi inisiatif, dan 
kontrol atas jalannya situasi sudah hilang".
Supersemar, Arus Balik Soekarno.
Setelah usaha merebut jabatan di dalam kabinet dikuasai berhasil, 
Soeharto ternyata tak berhenti sampai di situ, Ia terus mengganggu 
pemerintahan Presiden Soekarno. Meskipun Ia merupakan salah seorang 
menteri dalam pemerintahan itu, dengan mengerahkan Mahasiswa turun ke 
jalan untuk berdemontrasi. Gangguan itu mencapai puncaknya pada 
tanggal 11 Maret 1966 yang ditandai dengan pengerahan pasukan tak 
beridentitas di balik Para Mahasiswa yang mengadakan unjuk rasa. 
Peristiwa ini berbuntut dikeluarkannya Supersemar 1966.
Setelah mendapatkan Supersemar, keesokan harinya Soeharto langsung 
membubarkan PKI dan orgsnisasi massanya, serta menytakan PKI sebagai 
organisasi terlarang. Pada ta7 Maret Soeharto menahan 15 menteri 
kabinet Dwikora yang diduga terlibat G30S dan memasukkan orang yang 
mendukung. Presiden Soekarno mengkritik keras tindakan Soehrarto, dan 
menyebutnya sebagai bertindak di luar wenangannya. Namun Soeharto tak 
menggubrisnya.
Situasi itu membuat ajudannya, Bambang Widjanarko dalam buku, Sewindu 
Dekat dengan Bung Karno menulis," Berdasarkan Surat Perintah sebelas 
Maret yang ditandatangani oleh BK sendiri itulah jalan hidup BK 
berubah, dan karier politiknya berakhir.
Kalau mau, Presiden Soekarno masih bisa bertahan dan menghadapi 
rongrongan Pangkostrad Mayjen sooeharto terhadap kekuasaannya, karena 
masih banyak rakyat serta kesatuan-kesatuan angkatan bersenjata yang 
berdiri di belakangnya yang secara terbuka menyatakan siap membela 
Presiden Soekarno. Namun instruksi untuk bertindak tak pernah ada. 
Dari orang-orang terdekatnya, diketahui bahwa Ia tak ingin melihat 
perang saudara terjadi di Negara kesatuan republik Indonesia, apalagi 
anacaman neokolonisme sudah ada di pelupuk mata.
Akhirnya Sang Fajar merelakan adanya mentari yang akan terbit. Dengan 
ketetapan MPRS nomor XXXIII / MPRS/ 1967, tentang pencabutan 
kekuasaan pemerintahan negara dari tangan Presiden Soekarno, dan 
mengangkat Jenderal Soeharto sebagai Presiden.



--- In [email protected], lisno bin solikan 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bagaimana jika seorang jenderal besar kita dan pemimpin kita 
saudaranya pernah terlibat oleh PKI?
>   Bagaimana jika Jend Soeharto mempunyai serorang anak yang lahir 
dari rahim PKI?
>   
>   Mengapa data intilen kita anyak yang tidak transparan?
>   Dan siapakah Soekotjo yang pernah membunuh tan malaka dan PKI 
yang lain?
>   
>   Dan sudah habiskah cerita itu?
>   
>   Bukankah soekarno mengatakan "jasmerah"
>   
>   
> 
> Umar Said <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:                                            (Tulisan ini juga 
disajikan dalam website
>   
>   http://kontak.club.fr/index.htm)
>   
>   Sekitar G30S, Suharto,  PKI dan TNI-AD
>   
>   Berikut di bawah ini adalah lanjutan dari serangkaian tulisan Sdr 
Harsutejo
>   mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan peristiwa G30S. Dalam 
tulisan
>   ini secara berturut-turut ia mengungkap kembali soal-soal yang 
berkaitan
>   dengan G30S, istilah Gestapu dan Gestok, Lubang Buaya, Gerwani, 
Letkol
>   Untung, Kolonel Abdul Latief dll.
>   
>   Serangkaian tulisan ini bisa merupakan bantuan kepada banyak 
orang untuk
>   memperoleh informasi atau pandangan mengenai berbagai hal yang 
berkaitan
>   dengan peristiwa tersebut, yang berbeda dengan versi rejim 
militer Orde
>   Baru.
>   
>   Tulisan bersambung ini juga disajikan berturut-turut dalam website
>   http://kontak.club.fr/index.htm
>   
>   Sekitar GERWANI
>   (5)
>   
>   Oleh: Harsutejo
>   
>   Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) didirikan pada 1954, sedang 
cikal
>   bakalnya sudah berdiri pada 1950. Organisasi ini sangat aktif 
sampai tragedi
>   1965, terutama di kalangan rakyat kecil dari perkotaan sampai 
pedesaan. Para
>   pemimpin Gerwani terdiri dari kaum intelektual cerdik pandai 
maupun kaum
>   aktivis buruh dan tani. Mereka telah menghimpun kaum perempuan 
untuk
>   berjuang bersama kaum laki-laki merebut hak-hak sosial politiknya.
>   
>   Di bidang pendidikan mereka telah mendirikan sekolah Taman Kanak-
kanak,
>   utamanya untuk kalangan tak berpunya dengan bayaran kecil maupun 
gratis di
>   seluruh pelosok negeri. Gerakan ini juga giat mendirikan tempat 
penitipan
>   anak-anak bagi ibu pekerja dengan bayaran ringan maupun gratis. 
Gerwani
>   merupakan organisasi kaum perempuan paling luas menjangkau 
seluruh pelosok
>   Jawa khususnya. Mereka memberikan pendidikin kesadaran akan hak-
hak
>   perempuan termasuk hak-hak politik dan kesadaran politik. Mereka 
aktif juga
>   dalam kesenian, kursus masak-memasak, pemeliharaan bayi dan anak, 
kesehatan
>   perempuan dan anak-anak. Pendeknya organisasi ini telah melakukan
>   pemberdayaan perempuan di seluruh kalangan, utamanya kaum buruh 
dan tani
>   serta kaum pinggiran, sesuai dengan cita-cita Ibu Kartini. 
Gerwani ini pula
>   yang menjadi primadona sasaran fitnah keji rezim militer Orba 
dengan segala
>   macam dongeng horornya. (Lihat Lubang Buaya).
>   
>   Pertama-tama propaganda hitam Orba pada 1965 dimulai dengan 
menyerang
>   Gerwani habis-habisan sebagai bagian dari serangan terhadap PKI. 
Rusaknya
>   nama dan porak porandanya organisasi perempuan ini berarti rusak 
dan
>   lumpuhnya separo organisasi kiri Indonesia. Setelah itu dilakukan 
serangan
>   fisik terhadap PKI dan seluruh organnya sebagai bagian penumpasan 
lebih
>   lanjut pada 1965/1966. Tidak aneh jika kekejaman terhadap tapol 
perempuan
>   anggota Gerwani maupun yang didakwa Gerwani dilakukan dengan amat 
kejamnya,
>   sering lebih mengerikan karena harkat perempuannya. Seperti 
disebutkan dalam
>   studi Dr Saskia Eleonora Wieringa, mungkin tak ada rekayasa lebih 
berhasil
>   untuk menanamkan kebencian masyarakat daripada pencitraan Gerwani 
sebagai
>   gerakan perempuan kiri yang dimanipulasi sebagai "pelacur bejat 
moral".
>   Kampanye ini benar-benar efektif dengan memasuki dimensi moral 
religiositas
>   manusia Jawa, khususnya kaum adat dan agama.
>   
>   Kaum perempuan tidak hanya mengalami penderitaan karena diciduk, 
ditahan,
>   dipenjarakan, dibuang, disiksa, tetapi juga ditelanjangi dan 
diperkosa
>   bergiliran dan dilecehkan martabat kemanusiaannya, dihancurkan
>   rumahtangganya, pendeknya mereka mengalami penderitaan luar biasa 
lahir dan
>   batin. Perkosaan telah menjadi kecenderungan umum para petugas 
keamanan
>   ketika berhadapan dengan tapol perempuan. Sering pelecehan 
seksual dan
>   perkosaan terhadap tapol perempuan menyebabkan kehamilan dan yang
>   bersangkutan melahirkan di tempat tahanan.
>   
>   Penderitaan itu menjadi lebih lengkap lagi karena mereka melihat 
kehancuran
>   keluarga dan nasib anak-anaknya, terpisah-pisah di tempat yang 
berbeda-beda
>   dengan kondisi terpuruk yang berbeda-beda pula dengan perlakuan 
buruk negara
>   dan masyarakat yang diprovokasi. Tak jarang para ibu ini telah 
kehilangan
>   jejak anak-anaknya selama bertahun-tahun setelah dibebaskan dari 
penjara,
>   bahkan sebagian sampai saat ini. Tak jarang pula setelah orangtua 
mereka
>   dibebaskan, anak-anak yang berkumpul kembali dengan orangtuanya, 
terutama
>   dengan ibunya, anak-anak memusuhi dirinya karena merasa menjadi 
korban
>   perbuatan ibunya, suatu penilaian amat tidak adil. Itulah salah 
satu buah
>   indoktrinasi menyesatkan rezim Orba selama bertahun-tahun yang 
sangat
>   merusak.
>   
>   Suami seorang perempuan kembang desa di Purwodadi yang anggota 
BTI ditangkap
>   pada November 1965, kemudian dibuang ke Pulau Buru. Setiap malam 
sang isteri
>   kembang desa ini digilir diperkosa oleh pamong desa setempat, 
tentara,
>   pentolan ormas agama dan nasionalis. Bahkan suatu kali datang 
seorang tokoh
>   penjagal kaum komunis yang ketika malam datang menidurinya dengan 
pakaian
>   berlumuran darah dan kelewang yang besimbah darah pula. Ini bukan 
dongeng
>   horor model Lubang Buaya, tetapi sejarah horor, sejarah hitam 
legam kaum
>   militer Orba sebagai panutannya yang telah menciptakan kondisi 
dan konsep
>   kebuasan tersebut. (Baca buku John Roosa cs [ed], Tahun yang Tak 
Pernah
>   Berakhir, Elsam, Jakarta, 2004).
>   
>   Sungguh nama baik Gerwani yang telah mengabdikan dirinya untuk 
Ibu Pertiwi
>   dan rakyat kecil umumnya itu, sebagai kelanjutan cita-cita Ibu 
Kartini telah
>   dinodai dan dirusak habis-habisan dengan fitnah jahat tiada tara. 
Dengan
>   upaya bersama semua pihak yang peduli, terlebih lagi kaum 
sejarawan dan
>   aktivis perempuan, hari depan negeri ini akan memberikan tempat 
yang layak
>   bagi Gerwani dalam sejarah bangsa.
>   
>   TOKOH G30S, LETKOL UNTUNG (6)
>   
>   Tokoh ini tipikal seorang militer lapangan, sama sekali bukan tipe
>   intelektual dengan otak cemerlang yang mampu melakukan langkah 
manipulasi
>   canggih penuh perhitungan. Ia anak bodoh tetapi berani dan setia 
pada
>   Sukarno. Hal ini amat berbeda dan berbalikan dengan Jenderal 
Suharto beserta
>   beberapa pembantunya seperti Ali Murtopo [dan Yoga Sugomo] Begitu 
analisis
>   Ben Anderson.. Sekalipun demikian ia salah satu lulusan terbaik 
Akademi
>   Militer.
>   
>   Letkol Untung salah satu pelaku G30S yang sebelumnya pernah 
menjadi anak
>   buah Suharto di Jawa Tengah dalam Divisi Diponegoro. Ia pun 
pernah menjadi
>   anggota "Kelompok Pathuk" di Yogya meskipun bukan dalam kelas 
yang sama
>   dengan Suharto atau Syam. Mereka berpisah pada tahun 1950, 
kemudian bertemu
>   kembali pada tahun 1962 ketika bersama bertugas merebut Irian 
Barat, ia
>   berada di garis depan. Mendengar kisah keberaniannya selama 
bertugas di
>   medan Irian, ia dianugerahi Bintang Penghargaan oleh Presiden, 
lalu ditarik
>   menjadi Komandan Batalion I Resimen Cakrabirawa, suatu kedudukan 
cukup
>   strategis. Sebelumnya ia pernah menjabat Komandan Yon 454 
Diponegoro,
>   pasukan yang memiliki kualitas yang kemudian terlibat G30S.
>   
>   Letkol Untung menikah pada umur yang agak terlambat pada akhir 
1964. Acara
>   perkawinannya dilaksanakan di tempat cukup jauh di daerah udik di 
desa
>   terpencil Kebumen. Sekalipun demikian Mayjen Suharto memerlukan 
hadir
>   bersama isterinya ke tempat yang ketika itu tidak begitu mudah 
dicapai. Ia
>   merupakan satu-satunya perwira tinggi yang datang, ini merupakan 
kehormatan
>   besar bagi Untung dan menunjukkan hubungan keduanya cukup akrab. 
Bahkan yang
>   mempertemukan Untung dengan calon isterinya ialah Ibu Tien 
Suharto. Soal
>   kehadiran Suharto ini tidak pernah diungkapkan olehnya sendiri 
yang memiliki
>   ingatan tajam itu, tetapi toh terekam dalam sebuah berita koran 
Pikiran
>   Rakyat.
>   
>   Letkol Untung pernah dikirim belajar ke AS, tentunya CIA memiliki 
cukup
>   catatan tentang dirinya sehingga ia dapat direkomendasikan. 
Seperti
>   tercantum dalam catatan laporan CIA tertanggal 1 Oktober 1965 
dalam CIA
>   2001:300, memorandum untuk Presiden Johnson bahwa Untung 
memiliki "military
>   police background and was trained in the United States". 
Sementara orang
>   menyebut catatan CIA ini tidak akurat karena Untung tidak pernah 
belajar ke
>   AS. Banyak pihak menyatakan ia seorang muslim yang taat, sangat 
muak dengan
>   korupsi dan tingkah laku kehidupan sejumlah perwira tinggi.
>   
>   Menurut David Johnson, Letkol Untung bukanlah tergolong pada apa 
yang
>   disebut "perwira progresif", ia pun bukan tergolong perwira yang 
tidak puas.
>   Ia lebih tergolong sebagai seorang militer profesional yang 
berhasil. Ia pun
>   menunjukkan tanda-tanda memiliki pandangan anti komunis. Selama 
beberapa
>   bulan berkumpul di Penjara Cimahi, Bandung, Subandrio mencatat 
bahwa Untung
>   bukan orang yang menyukai masalah politik, ia tipe tentara yang 
loyal kepada
>   atasan. Ia risau dengan adanya isu Dewan Jenderal yang hendak 
menggulingkan
>   Presiden Sukarno. Kepribadiannya polos dan jujur, hal ini antara 
lain
>   dibuktikan dengan kenyataan, sampai detik terakhir sebelum 
eksekusinya, ia
>   masih percaya vonis mati terhadap dirinya tidak mungkin 
dilaksanakan.
>   "Percayalah Pak Ban, vonis buat saya itu hanya sandiwara", 
ujarnya kepada
>   Subandrio. Ia percaya Suharto mendukung tindakannya terhadap para 
jenderal
>   dan akan memberikan bantuan seperti dijanjikannya.
>   
>   Dalam persidangan Letkol Untung terungkap ia baru mengenal Syam 
dan Bono
>   ketika dipertemukan oleh Mayor Udara Suyono kepada sejumlah 
perwira dalam
>   pertemuan pertengahan Agustus 1965 sebelum gerakan. Untung yang 
tidak pernah
>   sepenuhnya percaya kepada Syam, mencoba melakukan penyelidikan 
tentang
>   hubungan rahasianya dengan ketua PKI. Hal ini tidak berlanjut, dan
>   menganggap lebih bijak untuk tidak menantang Syam berhubung ia 
terdesak
>   waktu bagi penyelesaian agendanya sendiri. Bagi Letkol Untung 
agenda mereka
>   adalah mengambil langkah-langkah untuk menggagalkan kudeta Dewan 
Jenderal
>   serta melindungi Presiden Sukarno. Kudeta itu diyakininya akan 
terjadi pada
>   5 Oktober 1965.
>   
>   Berdasarkan kesaksian Mayor AU Suyono maka dapat disimpulkan 
adanya berbagai
>   pertentangan di antara tokoh gerakan dengan ketegangan yang kian 
meningkat
>   serta bermacam perbedaan pendapat selama berjalannya waktu yang 
mendekat.
>   Letkol Untung menjadi cemas dan mungkin mempertimbangan untuk 
menghentikan
>   semuanya. Rencana gerakan semula adalah tanggal 25 September, 
tetapi karena
>   pasukan dari Jawa Timur belum tiba maka gerakan ditunda sampai 30 
September.
>   
>   Dapat disimpulkan Untung bukanlah seorang komunis bawah tanah. 
Jika ia
>   seorang komunis semacam itu, ia mungkin sekali akan mendapatkan 
akses lebih
>   mudah untuk menghubungi langsung ketua PKI DN Aidit untuk 
memastikan
>   kedudukan Syam yang sebenarnya. Andaikata ia seorang komunis 
demikian maka
>   dalam kedudukan dan pangkat yang disandangnya ia bakal memiliki 
serangkaian
>   pendidikan dan pengalaman politik yang cukup memadai yang akan 
dengan mudah
>   membuang ilusi pribadi terhadap Jenderal Suharto, bahwa Suharto 
telah
>   berkhianat terhadapnya bagi keuntungan diri dan kelompoknya. 
Dengan begitu
>   ia akan menyadari kesalahan analisisnya terhadap Suharto. Ia 
seorang
>   prajurit yang setia kepada Bung Karno. Dokumen yang terkenal 
dengan Cornell
>   Paper menyebutkan sebelum peristiwa telah bertahun-tahun, 
Sukarno, para
>   jenderal [AD], pimpinan komunis dan golongan lain telah terjerat 
dalam
>   manuver politik yang rumit. Semua itu secara keseluruhan 
menyebabkan Letkol
>   Untung melakukan aksinya.
>   
>   Letkol Untung dieksekusi mati pada tahun 1969 di Cimahi. 
Demikianlah nasib
>   seorang prajurit yang naif politik itu tetap memendam ilusi 
pribadi besar
>   sampai saat terakhir, yang pundaknya telah menjadi panjatan sang
>   manipulator. Adatah itu memang realitas kehidupan di sepanjang 
sejarah.
>   Pemeo menyatakan itulah politik dalam kenyataan telanjangnya, 
menghalalkan
>   segala cara. (Petikan dari Harsutejo, "Sejarah Gelap G30S" / 
revisi).
>   
>   No virus found in this outgoing message.
>   Checked by AVG Free Edition.
>   Version: 7.5.488 / Virus Database: 269.13.32/1032 - Release Date: 
26/09/2007
>   20:20
>   
>   [Non-text portions of this message have been removed]
>   
>   
>       
>                                                     
> 
>        
> ---------------------------------
>  For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good 
this month.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke