PARA TOKOH NU BERHALAL BIHALAL
Gus Dur dan Hasyim Berbagi Humor 
Rabu, 7 November 2007 00:05 
  Jakarta, NU Online
Para tokoh NU bertemu dalam forum halal bihalal yang diadakan oleh Pengurus 
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang pertemuan Hotel Sultan Jakarta, Selasa 
(6/11) malam. Halal bihalal kali ini sangat istimewa karena dua tokoh sentral 
NU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Hasyim Muzadi berkumpul dalam satu 
forum dan saling berbagi humor segar ala NU.
  Selain mantan dan ketua umum PBNU itu, hampir semua pengurus PBNU baik dari 
jajaran mustasyar, syuriyah dan tanfidziyah, para kader NU yang berkecimpung 
dalam berbagai partai politik, empat menteri dari kalangan NU, juga para 
pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif dan militernya juga hadir dalam 
halal bihalal itu.
  Rais Am PBNU KH Sahal Mahfudz (Mbah Sahal) saat memberikan taushiyahnya 
meyatakan, warga nahdliyin saat itu benar-benar sedang berhalal bihalal dalam 
suasana Idul Fitri. "Halal bihalal artinya halal berhadapan dengan halal. 
Artinya nun jauh di sana ada haram biharam," kata Mbah Sahal bergurau.
  Menurut Mbah Sahal, sudah sejak lama PBNU ingin mengadakan silaturrahim dan 
halal bihalal bersama semua tokoh NU dan baru kali ini terlaksana. "NU ada 
dimana-mana namun tidak kemana-mana. Ini yang penting," kata Mbah Sahal.
  Forum itu lanjut Mbah Sahal, bisa menjadi awal yang baik bagi para tokoh NU 
untuk saling berbagi informasi dan pengalaman yang berbeda-beda, saling 
bertanya dan tukar menukar fikiran, kemudian dikelola bersama dalam satu tubuh 
organisasi NU.
  "Yang terpenting, agar NU tetap kuat, bermanfaat dan berkah, ayo semua fihak 
mengembangkan kultur saling memberi nasihat, munashohah, karena addinu nasihah 
(agama adalah nasihat) memberi dan menerima nasihat itu artinya saling 
bersimpati," kata Mbah Sahal.
  Usai penyampaian tausyhiyah dan doa oleh Mbah Sahal, halal bihalal diisi 
dengan acara dialog dan saling berbagi cerita yang dipimpin oleh Wakil Rais Am' 
PBNU KH Thalchah Hasan. Gus Dur yang mendapatkan kesempatan berbicara pertama, 
seperti biasanya langsung menyegarkan suasana dengan melempar humor.
  "Saya tadi cerita ke Pak Sutardjo Surjoguritno (Mbah Tardjo sesepuh PDIP, 
red) kalau mau ada halal bihalal NU di hotel. Lalu dia heran 'lho NU kog di 
hotel'," kata Gus Dur menirukan Mbah Tardjo disambut tawa hadirin.
  Gus Dur melanjutkan cerita dengan mengutip humor KH Hasyim Muzadi saat berada 
di Malang, Jawa Timur. Waktu itu Kiai Hasyim mendapatkan pengaduan dari warga 
yang mengaku gelisah karena perbedaan jumlah shalat tarawih dan witir. "Lalu 
katanya tarawah dan witir yang 23 rakaat itu boleh, yang 11 rakaat juga boleh. 
Yang tidak shalat tarawih juga boleh," kata Gus Dur mengutip pernyataan Hasyim 
Muzadi.
  Hasyim Muzadi sendiri saat mendapatkan kesempatan berbicara buru-buru 
menimpali cerita Gus Dur. "Itu tadi cerita Gus Dur masih kurang. Ada lagi yang 
berdebat tentang puasa 29 ataukah 30 hari. Saya jawab dua-duanya boleh. Yang 
masalah itu yang geger-gegeran mengenai 29 atau 30 hari tapi dia sendiri nggak 
puasa," kata Hasyim disambut tawa hadirin.
  Halal bihalal itu dihadiri oleh para mustasyar (sesepuh dan penasihat) PBNU 
antara lain KH Muchit MUzadi, AGH KH Sanusi Baco, dan KH Endin Fahruddin 
Mastoro. Sementara KH Ilyas Rukhiyat berhalangan hadir karena menurut Gus Dur 
beliau sedang dirawat di rumah sakit.
  Juga hadir para pengurus syuriyah PBNU antara lain KH Idris Marzuki, KH 
Ma'ruf Amin, KH Hafidz Utsman, KH Mashuri Naim, KH Saifudin Amtsir, KH 
Nazaruddin Umar, KH Sadid Jauhari dan para pengurus tanfidziyah PBNU seperti KH 
Said Aqil Siradj, KH Masdar Farid Mas'udi, Fajrul Falakh serta para ketua dan 
pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU.
  Halal bihalal juga dihadiri oleh empat orang kader NU yang menjabat sebagai 
menteri yakni menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Koperasi dan UKM Surya 
Dharma Ali, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno dan Menteri 
Komunikasi dan Informasi M Nuh serta para kader NU yang berkecimpung di PKB, 
PPP, PDIP, PKNU, PBR, Partai Golkar, dan partai-partai politik lainnya.
  "NU itu memang ada dimana-mana, namun tidak kemana-mana. Warga Nahdliyyin 
pasti akan kembali kepada NU, kembali kepada fiqrah nahdliyah. Kalau yang tidak 
kembali itu nanti seperti Bang Toyib," kata Kiai Ma'ruf Amin. "Bang Toyib itu 
kalau di lagu dangdut kan sudah tiga tahun nggak kembali. Kiai-kiai sekali-kali 
juga ngerti dangdut lho," katanya. (nam)

       
---------------------------------
 For ideas on reducing your carbon footprint visit Yahoo! For Good this month.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke