Trusss.....sudah dimusyawarahkan belum teman-teman di Maroko? Saya
mengusulkan nama KMNU Maroko saja, seperti PCINU-Mesir sebelum menjadi
yang sekarang. Biarkan nama ini menjadi tradisi komunitas NU LN yang
statusnya belum diangkat menjadi PCI.

Semoga KMNU Maroko bisa efektif menjadi wadah berorganisasi generasi
muda NU di sana. Terutama aspek pengembangan intelektual yang maha
penting untuk generasi muda NU yang sedang belajar di LN. Jangan
sampai organisasi ini nantinya hanya menjadi wadah kepentingan
individu maupun primordial.

Selamat! 

Salam,

  
 




--- In [email protected], Ahmad Ridho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Sukses Bermusyawarah 
> 
>   Musyawarah akan lebih "mengasyikkan" dan optimal bila kita mampu
berbicara tanpa keraguan, menyampaikan pendapat dengan santun dan
lembut, penuh data dan fakta serta tidak menyerang atau menjatuhkan
apalagi menghujat orang lain.
>   Coba bayangkan andai anda berada pada posisi "terhujat", lalu
apakah ada merasa nyaman? 
>   Saudaraku, paling tidak ada tiga prinsip yang akan membuat hidup
kita terasa lebih indah dan bahagia. Rumus tersebut adalah jujur, akur
dan syukur. 
>   Siapa pun yang mampu mempraktikkannya, maka ia akan menjadi
manusia paling bahagia di dunia. Dan, kita tidak bisa menuntut orang
lain melaksanakan tiga prinsip tersebut, sebelum kita sendiri
berinisiatif mengamalkannya terlebih dahulu. 
>   Berkaitan dengan prinsip akur, ada satu keterampilan yang harus
kita miliki, yaitu "musyawarah". Musyawarah adalah cara efektif
melahirkan kemenangan bersama, cara paling bijak untuk menyelesaikan
masalah dan cara tepat untuk bersinergi. Setidaknya, ada sembilan
resep musyawarah yang bisa kita jalankan. Ke-9 resepn itu adalah: 
>   [1]. Sadar realitas. Saudaraku, sesuatu yang ideal harus berpijak
pada realitas. Kita harus sadar bahwa tiap orang pasti berbeda. Entah
itu berbeda cara pandang, latar belakang, kepentingan ataupun
keinginan. Tidak mungkin semua orang sama. Dengan menyadari realitas,
kita akan terbuka untuk melakukan musyawarah demi mendapatkan hal yang
ideal dan membawa kemaslahatan bersama. 
>   [2]. Niat dan tekadkan musyawarah sebagai sarana mencari solusi
terbaik. Musyawarah harus membawa manfaat dan menjadi solusi terbaik
untuk bersama. Bukan solusi terbaik bagi sebagian satu pihak. 
>   [3]. Berani duduk bersama. Orang yang berselisih atau beda
pendapat biasanya tidak mau bertemu. Mereka bersikukuh dengan
pendapatnya sendiri. Bila kondisi ini terus dipertahankan, sampai
kapan pun masalah tidak akan terselesaikan, justru akan menambah
masalah baru. Jadi, musyawarah harus dilandasi "spirit pertemuan".
Perdamaian di Aceh misalnya, tidak akan pernah terwujud andai GAM dan
pemerintah RI tidak mau duduk bersama.
>   [4]. Miliki keterampilan mendengarkan. Musyawarah akan berjalan
baik bila setiap orang memiliki kemampuan untuk mendengarkan.
Mendengarkan di sini bukan mendengar untuk menyerang. Namun
mendengarkan untuk memahami. Rumus pemoceng bisa digunakan. Artinya,
yang boleh berbicara adalah orang yang memegang pemoceng, yang lain
harus mendengarkan. Keterampilan mendengarkan akan melahirkan rasa
saling menghargai.
>   [5]. Miliki keterampilan menjelaskan. Musyawarah akan berjalan
efektif serta "mengasyikkan" bila kita bicara tanpa keraguan, pendapat
disampaikan dengan santun dan lembut, penuh data dan fakta serta tidak
menyerang atau menjatuhkan. Dengan cara ini orang akan memahami tanpa
tersakiti, terpengaruh tanpa merasa digurui.
>   [6]. Miliki keberanian untuk mengambil sisi-sisi kebenaran dari
alasan orang lain. Hindari menganggap diri paling benar, pendapat kita
menjadi harga mati, sehingga menutup diri dari kebenaran yang
disampaikan lawan bicara. Di lain pihak, kita pun harus berani
mengakui kelemahan diri. Yakinlah, pendapat kita kita tidak akan benar
seratus persen.
>   [7]. Berani menurunkan keinginan ideal untuk mendapatkan posisi
ideal bersama. Prinsip win win solution menjadi kata kunci. Semua
harus merasa menang. Kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang
lain. Kita harus menang tanpa orang lain merasa dikalahkan. Contoh
terbaik adalah saat Rasulullah SAW menaklukkan kota Mekah. Tidak ada
pertumpahan darah, semua orang merasa dilindungi dan dihargai hak
serta harga dirinya. Walau demikian, inilah kemenangan paling
fenomenal dalam sejarah.
>   [8]. Bila kesepakan telah dicapai, berusahalah seoptimal mungkin
untuk komitmen. Jangan sampai lempar batu sembunyi tangan. Hasil
musyawarah adalah kesempakatan bersama dan harus menjadi tanggung
jawab bersama pula. Pantang bagi seorang Muslim untuk mengkhianati
komitmen. Rasulullah SAW menyebut orang yang melanggar komitmen
sebagai orang munafik. Na'udzubillah.
>   [9]. Yang tak kalah penting, semua kesepakatan hanya boleh
dilakukan dijalan Allah. Artinya, kita dilarang bersepakat dalam dosa
dan kemaksiatan. Tidak ada musyawarah dalam dosa. Saudaraku, standar
musyawarah harus menjadi standar keseharian kita. Saat kita senang
bermusyawarah, maka kerja akan lebih mudah dan menguntungkan.
Persahabatan pun akan makin erat dirasakan. Wallaahu a'lam.
> 
>  __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> http://mail.yahoo.com 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke