http://www.kompas.com/
Peradaban Dialog dan Toleransi Zuhairi Misrawi Raja Abdullah bin Abdul Aziz melakukan kunjungan bersejarah ke Vatikan dalam rangka melakukan dialog singkat dengan Paus Benediktus XVI. Harian al-Syarq al-Awsat, dalam headline-nya, menyebut kunjungan itu sebagai pertemuan bersejarah (liqâ’ târîkhî). Dalam kacamata peradaban, kunjungan pemimpin tertinggi Arab Saudi itu mempunyai arti yang amat penting dalam konteks kemanusiaan global, terutama dalam rangka membendung arus-arus radikalisme yang bergejolak di dunia. Relasi global Setidaknya ada dua potret yang paling mencolok tentang relasi antara Islam dan Barat. Pertama, sejak tragedi 9/11 bipolarisasi antara Islam dan Barat merupakan sebuah diskursus yang senantiasa dibangun oleh kedua pihak untuk menunjukkan adanya ketegangan, bahkan konfrontasi. Islam dan Barat diidentikkan sebagai dua entitas yang yang berseberangan, laksana air dan minyak. Kedua, secara politis ada gambaran yang mendukung diskursus itu, khususnya konflik antara Palestina dan Israel yang tidak kunjung menemukan titik terang. Selain itu, langgam politik yang dimainkan Ahmadinajed, Presiden Iran, kian mengukuhkan bahwa seolah ketegangan itu tidak hanya terjadi pada ranah diskursus belaka, tetapi juga pada ranah politik global. Selebihnya, invasi Amerika Serikat ke Irak dianggap banyak kalangan telah menyebabkan betapa kusutnya relasi antara Islam dan Barat. Secara ideologis, banyak pemerhati di Barat menyebutkan, Wahabisme yang secara origin tumbuh di Arab Saudi merupakan salah satu paham yang paling banyak disorot sebagai biang keladi dari pelbagai aksi terorisme. Khaled Abou el-Fadl dalam The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists menyebut, Taliban dan Al Qaeda banyak dipengaruhi Wahabisme. Dalam pandangan mereka, hanya ada satu tafsir atas kebenaran. Mereka menolak berbagai pemikiran yang datang dari Persia, Turki, dan Yunani. Tidak hanya itu, Wahabisme juga menolak pandangan para ulama abad pertengahan yang merupakan khazanah peradaban Islam. Mereka menolak sufisme, filsafat, dan rasionalisme. Pemikiran mereka tidak hanya berhenti di situ, tetapi juga merambah pada ranah melawan modernitas. Yang terakhir ini merupakan dasar bagi mereka untuk membenarkan kekerasan terhadap umat lain. Pemikiran ini yang diadopsi oleh Taliban dan Al Qaeda. Pentingnya perdamaian Dalam konteks seperti ini, silaturahmi Raja Abdullah bin Abdul Aziz ke Vatikan mempunyai arti yang amat mendalam. Setidaknya ada tiga hal penting yang hendak disampaikan dalam kunjungan tersebut. Pertama, ia menegaskan perihal pentingnya perdamaian, khususnya perdamaian yang dibangun di atas fundamen dialog di antara agama-agama samawi: Islam, Kristen, dan Yahudi. Ia juga menegaskan, terorisme tidak beragama dan tidak pula berbangsa. Artinya, terorisme bukan produk Islam dan tidak terkait dengan negara tertentu. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pelbagai agama dan negara-negara lain untuk melawan terorisme. Sejak abad ke-18, Wahabisme merupakan paham yang determinan di Arab Saudi. Kemudian berkembang menjadi sebuah paham yang memondial, terutama setelah naiknya harga minyak dan mendapat dukungan resmi dari kerajaan dalam rangka melawan Dinasti Ottoman. Kini situasinya sudah berubah. Arab Saudi seakan memulai sebuah peradaban baru dalam politik global. Raja Abdullah bin Abdul Aziz hendak mengabarkan, Arab Saudi telah membawa pesan baru kepada dunia tentang pentingnya peradaban dialog dan toleransi. Kedua, ia menggarisbawahi, setiap agama mempunyai common platform, yang seharusnya dijadikan modal untuk membudayakan dialog antaragama. Paus Benidiktus XVI menyambut baik pandangan itu, terutama agar dialog antarperadaban dapat mendorong perdamaian dan keadilan, terutama dalam membangun nilai-nilai spiritual dan moral di tengah keluarga. Ketiga, secara politis kunjungan itu dapat dimaknai sebagai penyeimbang atas politik luar negeri Iran yang sejauh ini menata benteng perseteruan dengan Barat. Sebaliknya, Arab Saudi ingin membawa peradaban toleransi, bukan konfrontasi. Dengan demikian, komitmen kedua tokoh penting itu semestinya dapat dijadikan acuan untuk menabuh genderang relasi antara agama yang lebih harmonis di masa mendatang. Sebab, dunia sedang membutuhkan oase toleransi, bukan intoleransi, apalagi anarki. Zuhairi Misrawi Direktur Moderate Muslim Society (MMS); Ketua Bidang Hubungan Antaragama PP Baitul Muslimin Indonesia ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
