Biksu, Agama dan Praksis Revolusioner
Ternyata, di era modern seperti sekarang ini, agama masih memiliki cukup
energi untuk melakukan pembelaan terhadap kaum miskin dan tertindas. Agama
mampu mempelopori gerakan perlawanan terhadap penindasan, kekerasan,
ketidakadilan dan eksploitasi yang dilakukan negara.
Aksi Protes yang dilakukan Biksu di Burma adalahcontoh kongkrit betapa agama
mampu melakukan praksis revolusioner, membela hak-hak kaum lemah, dan berjuang
bersama mereka, demi terciptanya tatanan dunia baru yang berkeadilan.
Baru-baru ini dunia internasional dikejutkan oleh aksi protes ratusan ribu
biksu dan warga sipil Myanmar terhadap kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
yang dirasakan sebagian besar rakyat di sana mencekik leher. Namun, aksi demo
berangsur-angsur mengarah pada perlawanan terhadap rezim junta militer yang
sudah berkuasa selama 45 tahun itu.
Ternyata, di era modern seperti sekarang ini, agama masih memiliki cukup
energi untuk melakukan pembelaan terhadap kaum miskin dan tertindas. Agama
mampu mempelopori gerakan perlawanan terhadap penindasan, kekerasan,
ketidakadilan dan eksploitasi yang dilakukan negara.
Aksi ini membawa memori kita pada revolusi Iran 1979 yang menumbangkan rezim
otoritarian Syah Pehlevi dengan menggunakan kekuatan agama. Ini juga
mengingatkan kita pada Gustavo Gutierez, pencetus dan pelopor Teologi
Pembebasan asal Guatemala, yang memaknai teologi sebagai pembebasan spiritual
dan sosio-kultural golongan yang dimarjinalkan oleh pembangunan.
Apa yang dilakukan para biksu juga dalam rangka bagaimana agar agama mampu
memberikan empowering kepada yang tertindas untuk melakukan perlawanan.
Seperti yang kita ketahui, unjuk rasa dipicu oleh kenaikan BBM yang mencapai
500%. Tentu saja ini sangat memberatkan rakyat miskin yang ada di sana.
Sehingga, para biksu merasa terpanggil untuk melakukan protes atas kebijakan
yang tidak pro-rakyat tersebut. Kami unjuk rasa untuk rakyat, tutur seorang
biksu dari Aliansi Seluruh Biksu Burma.
Aksi protes para biksu ini tentu saja sangat menarik tidak hanya karena
dilakukan oleh pemuka agama, melainkan isu yang diangkat pun berkenaan dengan
isu-isu kerakyatan yang biasanya tidak pernah dihubungkan dengan persoalan
agama. Umumnya, aksi yang melibatkan kaum agamawan adalah ketika berkenaan
dengan simbol dan sentimen-sentimen keagamaan.
Karena itu, agama tidak boleh dipisahkan dari realitas sosial yang
melahirkannya. Semenjak awal kelahirannya, agama selalu berangkat dari
problem-problem sosial dan selalu berorientasi pada kemanusiaan. Ketika agama
tidak lagi berjangkar pada realitas, agama akan mandul dan tidak bisa berbuat
apa-apa, terlebih ketika dihadapkan pada ketimpangan-ketimpangan, baik sosial,
ekonomi maupun politik, yang terjadi di tengah masyarakat.
Agama dan praksis revolusioner
Realitas masyarakat dunia saat ini terbagi menjadi dua: penguasa/yang
dikuasai, kaya/miskin, kuat/lemah, dan seterusnya. Relasi keduanya acap kali
diwarnai ketidakadilan. Kerena itu, selaku pembawa misi keadilan, agama harus
berpihak dan berada pada posisi yang kedua. Agama harus bisa meredam
ketegangan-ketegangan dan konflik yang menyertai keduanya.
Dalam Islam, keadilan bertolak dari pandangan dunia tauhid. Artinya,
semuaberasal dan kembali kepada Allah swt. Tauhid, sebagaimana yang dikatakan
Hasan Hanafi, bukan dalam arti yang umum dipahami umat Islam, yakni
pengingkaran terhadap politeisme. Tauhid di sini dimaknai sebagai totalitas
kehidupan. Karena itu, dalam masyarakat tauhid, tidak dibenarkan diskriminasi
atau penindasan atas nama ras, agama, kasta, maupun kelas, bahkan tidak ada
perbedaan antara spiritual dan material (Shimogaki, 2004).
Berangkat dari pandangan dunia tauhid seperti di atas, agama akan kembali
memperoleh kekuatannya. Agama tidak lagi dimonopoli hanya dan kembali pada
kepentingan Tuhan, seperti yang terjadi dalam teologi skolastik. Agama
justeru akan menemukan momentumnya dalam gerakan dan perjuangan rakyat melawan
ketidakadilan, penindasan, kekerasan, eksploitasi dan sebagainya, karena secara
prinsipil berlawanan dengan semangat tauhid.
Tauhid dalam maknanya yang baru ini bisa dijadikan inspirasi dan spirit
untuk melakukan tranformasi sosial yang berkeadilan, kemaslahatan, kebebasan,
dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Di sini agama tampil dan ikut terlibat dalam
kehidupan sosial dan politik, dengan tauhid sebagai inspirasi dan sepirit
utamanya.
Kita bisa belajar dari aksi para biksu yang melakukan protes dan melawan
ketidakadilan kendatipun harus dibayar dengan darah dan nyawa. Aksi ini
sebetulnya membawa pesan sekaligus kritik terhadap mayoritas agama-agama yang
lebih memilih posisi aman di tengah situasi sosial-kultur yang timpang dan
korup.
Agama yang membiarkan situasi ketidakadilan dan penindasan adalah agama kaum
elit (agama pro status quo). Agama seperti ini tumbuh subur di tengah-tengah
masyarakat untuk membius, membodohi dengan janji-janji eskatalogis,
melanggengkan situasi penindasaan, dan candu masyarakat.
Sebaliknya, agama rakyat tumbuh bersama-sama rakyat untuk melakukan
perubahan, melawan ketidakadilan, penindasan, dan membongkar
kepercayaan-kepercayaan semu (janji-janji eskatalogis), sebagaimana yang tengah
dilakukan oleh para biksu di Myanmar melawan rezim junta militer pimpinan
jenderal besar Than Shwe. Selamat berjuang, pahlawan rakyat!
Jamaluddin Mohammad
http://wong-cerbon.blogspot.com/
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]