--- In [email protected], "Kusni jean" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >Ikutilah Kajian Naskah Keagamaan Nusantara di Haramyn dan Cairo (Merajut Masa Lalu, Menatap Masa Depan)
Latar Belakang Pada abad ke 17, Mekah dan Madinah (Haramyn) telah menjadi semacam meminjam istilah Azyumardi Azra (1994)- melting pot, tempat dimana berbagai tradisi keislaman bertemu, berinteraksi, dan kemudian membentuk sebuah tradisi keilmuan tersendiri, yang dikemudian hari menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk ke dunia Melayu-Indonesia. Penyebaran keilmuan tersebut terjadi melalui saling-silang hubungan guru-murid antara ulama Haramyn dan Melayu-Indonesia atau yang disebut dalam berbagai sumber sebagai ashab al-Jawiyin. Pada gilirannya, di dunia Melayu-Indonesia sendiri, pengaruh dari saling-silang hubungan tersebut kemudian menyebar dari satu tempat ke tempat lain melalui pola hubungan yang nyaris serupa antara ulama Melayu-Indonesia yang pernah belajar di Haramyn dengan murid-murid yang datang dari berbagai pelosok dan belajar pengetahuan pada mereka. Kini, sebagai rekaman atas kompleksitas hubungan dan tradisi keilmuan Islam yang terjadi pada masa tersebut, kita dapat menemukan sejumlah besar naskah-naskah kuno (manuskrip) dalam berbagai bidang , seperti, Hadis, Fikih, Tafisr, Tasawuf dan lain sebagainya. Naskah-naskah tersebut jelas merupakan hasil akumulasi dan pergulatan tadisi, budaya, politik, adat-istiadat, dan pergulatan sosial keagamaan masyarakat pada masanya, sehingga memiliki dimensi dan makna yang sangat luas dan kaya. Beberapa dari naskah keagamaan itu pernah dikaji dan dipublikasikan. Akan tetapi masih terdapat naskah keagamaan dalam jumlah besar yang belum terjamah, khususnya oleh para peneliti lokal sendiri, dan terutama yang tersimpan dalam di berbagai perpustakaan di luar negeri. Salah-satu perpustakaan yang diduga kuat menyimpan khazanah naskah keagamaan yang berkaitan atau bisa dihubungkan dengan tradisi keilmuan di dunia Melayu-Indonesia adalah Perpustakaan Dar al-Kutub dan Perpustakaan Universitas al-Azhar, Cairo, Mesir. Sayangnya, identifikasi koleksi naskah perpustakaan-perpustakaan ini yang terkait dengan tradisi keilmuan Islam di dunia Melayu-Indonesia belum banyak di lakukan. Sebagai salah satu bentuk upaya melestarikan dan merekonstruksi khazanah intelektual tersebut kami Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir (PCINU-Mesir), berinisiatif akan menyelenggarakan , "Sarasehan Sehari Tentang Kajian Naskah Keagamaan Nusantara di Haramayn dan Cairo." Narasumber Narasumber sarasehan ini adalah DR. Oman Fathurahman (Research Fellow of Alexander von Humboldt Foundation, Germany) Signifikasni dan Tujuan Program Program ini dimaksudkan: a. memberikan pengetahuan kepada kelompok sasaran yang menjadi peserta sarasehan tentang khazanah naskah keagamaan pada umumnya, dan yang tersimpan di dua perpustakaan (Dar al-Kutub dan al-Azhar) pada khususnya b. memberikan pengetahuan pada kelompok sasaran tentang langkah-langkah dan tahapan yang perlu dilakukan untuk upaya pengkajian, pelestarian, pemanfaatan naskah-naskah kuno keagamaan c. mendukung upaya penyelamatan, pelestarian, dan pemanfaatan naskah-naskah kuno Nusantara secara keseluruhan Materi Pelatihan Secara umum materi sarasehan akan terdiri dari beberapa hal berikut: a. gambaran umum dunia pernaskahan di Indonesia b. gambaran umum mengenai saling-silang hubungan keilmuan Islam antara Haramyn, Cairo dan Melayu-Indonesia c. gambaran mengenai naskah-naskah melayu koleksi Dar al-kutub dan al-Azhar yang sudah teridentifikasi d. tahap-tahap dan metode kajian naskah e. gambaran sejumlah penelitian terkait yang pernah dilakukan Waktu, Tempat dan Masa Sarasehan Sarasehan ini akan dilaksanakan pada 12 Desember 2007, di Sekretariat KPMJB (Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat), Bawwabah III, Nasr City, Cairo, mulai pukul 14.OO sampai jam 20.OO. (Dua sesi) Peserta Dipersilahkan bagi siapa saja yang berminat dengan membayar infak: Dua Pound (2 Le). Dibayar pas hari H- di KPMJB. Nb. Untuk informasi lengkap silahkan hubungi: Muhamad Mawhiburrahman: 0109907964 Irwan Masduki: 22462404/0108248859 Mohon disebarluaskan. Terima kasih. > Surat Dari Montmartre: > > > NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN > DI KOPERASI RESTORAN INDONESIA PARIS > 04 Desember 2007 > > > "TIGA M" DAN PENJELASANNYA. > > > > Dalam Forum Peluncuran, ketika menjawab pertanyaan dari hadirin, Ayu Utami mengetengahkan hal baru -- paling tidak, baru saya dengar perumusannya malam ini secara langsung. Hal baru yang saya maksudkan itu adalah hal-hal yang disebutnya sebagai "Tiga M", yaitu: "masculinism, military, and modernity". "Tiga M" ini disebut oleh Ayu Utami sebagai "my enemies" [musuh-musuhku]. Novel baru yang sekarang sedang ia rancangkan penulisannya justru berangkat dari topik "Tiga M" ini. > > > Dilemparkannya perumusan "Tiga M", saya lihat menunjukkan bahwa dalam bersastra senantiasa merenung. Berpikir. Membaca. Terutama membaca kehidupan dan keadaan masyarakat di mana ia hidup. Masalah ini, saya baca bahwa Ayu Utami, mendapatkan ilham bersastra tidak sebagai sesuatu yang turun dari langit, tetapi langsung dari kehidupan yang ia hidupi. Sikap ini memperlihatkan bahwa Ayu Utami sudah mencapai tingkat bersastra sadar dalam berkarya. Tidak sibuk dengan diri sendiri. Tidak hanya berangkat dari getaran emosi. Emosi yang menggetarkan jiwa dan pikirnya, justru bermula dari damparan gelombang permasalahan yang dialami dan dilihatnya. Ia tidak asing dan tidak mau mengasingkan diri dari kehidupan. Kalau pengamatan saya benar, maka tidak jarang di Indonesia kita dapatkan adanya orang yang hidup di Indonesia tapi sesungguhnya asing dari Indonesia. Acuh tak acuh pada Indonesia. Hidup di suatu tempat, tidak menjamin dan bukan jaminan bahwa kita mengenal tempat itu, jika kita tidak berusaha keras membaca dan mengenalnya. Tapi benar dengan berada di tempat jika kita bisa membaca dan mengenal tempat itu, kita bisa merasakan greget permasalahan dalam pikir dan emosi. Kita mendapatkan roh dan apinya. Roh dan api masalah, kukira sangat penting. Dan penulis yang berpikir akan mampu, jika menggunakan istilah umum dikenal, penulis mampu menawarkan sesuatu alternatif jalan keluar. Tawaran usulan ini, tidak berarti ia adalah seorang yang jenius, tapi lebih karena ia rajin dan mampu membaca, mengenal lebih dahulu keadaan. Keterasingan diri, antara lain karena sibuk dengan diri sendiri, kiranya, bisa menjadi penyandung kita untuk membaca dan mengenal kehidupan, masyarakat dan juga diri sendiri. Menjadikan penulis sebagai sastrawan "anak raja", alias "pangeran" jika menggunakan istilah penyair Perancis Paul Elouard. Ketika Ayu Utami mengetengahkan perumusan "Tiga M", saya menduga bahwa Ayu sudah sampai di tingkat bersastra sadar dan meninggalkan fase bersastra instingtif sehingga dengan sampainya ia pada tingkat bersastra sadar ini, dari Ayu sebagai penulis, kiranya kita bisa bisa banyak berharap untuk membantu kita sebagai pembaca membaca kehidupan dan masyarakat serta memelihara harapan melanjutkan perjalanan menuju hari-hari yang jauh dalam usaha memanusiawikan diri, kehidupan dan masyarakat -- suatu usaha yang seperti kalimat tak punya titik, seperti laut pencarian yang tak berpantai. Tingkat bersastra sadar adalah suatu tingkat yang tidak indahkan selebritas, nama dan hal-hal narsistik, karena tingkat ini lebih memperhitungkan masalah besar, ketimbang hal-hal yang mengasingkan diri kita dari kehidupan dan berasyik ria dengan diri sendiri yang memang digiurkan oleh era globalisasi kapitalisme. > > > Hanya saja setelah mendengar istilah-istilah "Tiga M" dan "enemies" [kata yang bagi saya melukiskan keadaan masyarakat, menunjukkan kontradiksi pokok masyarakat kita hari ini], saya masih memerlukan penjelasan lebih jauh dan tidak saya dapatkan keterangan rincinya melalui forum peluncuran. Saya memerlukan penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksudkan dengan "masculinism, military and modernity" sehingga oleh Ayu Utami dipandang sebagai her "enemies". Tidakkah kata-kata ini merupakan suatu perumusan konsep serta analisa masyarakat kita sekarang, dan saya tidak ingin serta tidak adil apabila saya memahami konsep dan analisa masyarakat Ayu Utami berdasarkan pemahaman saya. > > > Dalam menanggap rumusan "Tiga M", hadirin bulé, memang sempat meneyeletuk: "Jadi Anda tidak mengkategorikan Muslim dalam "Tiga M"?". Dengan tegas Ayu menjawab "tidak" walau pun memang "kami" [maksudnya: Komunitas Utan Kayu" --JJK], mengalami gangguan dari kelompok-kelompok Islam ekstrim ["Islam ekstrim adalah istilah saya -- JJK]. Hal ini pun pernah dikemukan oleh Ayu Utami ketika berbicara di Forum Sastra yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia di Gedung Senat Perancis, Oktober 2006. Ayu memang mengkritik ekstrimisme, tapi sejauh yang saya pahami ia tidak pernah menyebut "Islam ekstrim" [banyak istilah lagi digunakan oleh banyak penulis untuk maksud serupa] sebagai musuh. Barangkali saya keliru, dan saya kira tentang hal ini pun akan ada baiknya jika Ayu Utami berkenan meluruskan tangkapan saya yang keliru. > > > Saya mengharapkan penjelasan-penjelasan ini, karena saya masih memandang kata sebagai wadah konsep dan konsep berdampak pada sikap dan tindakan. Kata-kata itu sudah diucapkan di depan publik. Ditambah lagi, saya kira, kata, bagi seorang sastrawan, mempunyai makna khusus. Kata sangat berarti karena penulis bekerja dengan kata. Harapan ini saya tuliskan secara terbuka, karena saya tak mempunyai banyak kesempatan bertemu Ayu. Ia pernah mencariku di Koperasi Restoran Indonesia, tapi ketika itu saya tidak ada. Maaf. Tadinya saya berharap, ia masih berada di Paris pada acara "Debat dan Membaca Sastra Indonesia: Siapa-siapa Sastrawan Indonesia Hari Ini" pada 14 Desember 2007 di L'Institut Neérlandais-- suatu acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia. Pada tanggal itu, Ayu Utami sudah meninggalkan Paris. > > > Pertanyaan seminar "Pasar Malam" tanggal 14 Desember 2007 ini: "Qui sont les écrivains indonésiens d'aujourd'hui" [Siapa-siapa gerangan para penulis Indonesia Sekarang?], jika kurenung ulang, sungguh merupakan suatu pertanyaan menarik , baik dilihat dari nasional , maupun internasional. Juga yang disebut "sastra" dan "sastrawan". Pertanyaan ini menyimpan makna yang mendasar secara teoritis dan hasil bacaan atas situasi sastra negeri kita. Melalui surat ini, pertanyaan tersebut saya sampaikan kepada semua. > > > > Paris, Desember 2007. > ----------------------------- > JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris. > > > > [Berlanjut...] > > > Keterangan Foto: > Foto terlampir memperlihatkan wajah kulit mula novel Saman edisi bahasa Perancis karya Ayu Utami yang diluncurkan di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 04 Desember 2007 malam. Terlampir juga foto diri Ayu Utami. [Dok. JJK. Foto Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia Pasar Malam", Paris]. > > > > > > > Roman SAman, Edite par flammarion, ET traduit en français par Elizabeth Inandiak (membre de Pasar Malam). > Saman sera en librairie le 18 janvier 2008. > Sebastien Fumaroli, attaché de presse chez Flammarion, sera présent.[Roman SAman, Diedit oleh Flammarion, dan Diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh elisabeth inandiak [anggota pasar malam] akan beredar di tokobuku-TOKOBUKU prancis tangan 18 januari 2008. > > > > > Ayu Utami > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
