Salam,
Karya Ibn Khaldun (w. 1406 M) yang sudah "kanonik",
"Mukaddimah", memuat banyak observasi yang masih
terasa segar dan relevan hingga saat ini. 

Saya tak habis-habisnya mengagumi karya satu ini;
karya yang nyaris mengagetkan bisa muncul dari
kalangan sarjana Islam pada era di mana peradaban
Islam sedang pelan-pelan mengalami kemunduran di
segala bidang, terutama di bidang pemikiran. Yang
lebih mengagetkan lagi, karya ini tidak mendapatkan
perhatian yang cukup dari kalangan Islam sendiri yang
lebih banyak "terpukau" oleh kajian fikih.

Terus terang, yang membuat nama Ibn Khaldun bersinar
terang kembali, antara lain, adalah para orientalis di
Bara yang bekerja dengan gigih untuk membongkar
"lumbung" intelektual Islam yang kaya sekali itu,
tetapi tak seluruhnya disadari oleh kalangan Islam
sendiri. Franz Rosenthal adalah orientalis pertama
yang membuat perhatian terhadap sarjana Islam yang
hidup di abad 14 ini bangkit kembali melalui
terjemahan dia atas "Mukaddimah". 

Rintisan Rosenthal diteruskan oleh sarjana Muslim asal
Irak yang lama mengajar di Universitas Chicago,
kemudian diteruskan di Universitas Harvard, Prof.
Muhsin Mahdi, melalui kajiannya atas filsafat sejarah
Ibn Khaldun. Prof. Mahdi baru meninggal bulan Juli,
2007 dalam usia 81. Minat Prof. Mahdi atas pemikiran
Ibn Khaldun, antara lain, diilhami oleh guru dia di
universitas Chicago, Leo Strauss, seorang filsuf dan
sarjana besar Yahudi asal Jerman yang juga dikenal
karena penelitiannya atas al-Farabi. 

Terjemahan "akademis" atas karya ini belum pernah
sekalipun dikerjakan di Indonesia. Yang kita punya
adalah terjemahan "komersial" (kalau boleh memakai
istilah ini) yang dibuat oleh Ahmadi Taha pada
pertengahan 80an dan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus,
Jakarta. Usaha Ahmadi Taha, bagaimanapun, layak kita
hargai di tengah kelangkaan sarjana Muslim Indonesia
yang bersedia "belepotan" untuk menerjemahkan
karya-karya kanon Islam ke dalam bahasa Indonesia,
terutama karya yang tak ada sangkut-pautnya dengan
kajian fikih. 

"Mukaddimah" karya Ibn Khaldun memuat banyak sekali
observasi atas "masyarakat manusia" yang, menurut
saya, masih terus layak dibaca dan dikaji hingga
sekarang. Buku ini adalah salah satu hasil "jenius"
dalam sejarah Islam yang sangat mengagumkan.

Sangat disayangkan bahwa karya besar ini sama sekali
tak memperoleh perhatian di kalangan pesantren. Kajian
Islam di pesantren atau umumnya lembaga-lemabaga
pendidikan Islam yang cenderung berpusat pada
"ilmu-ilmu ortodoks" (fikih, hadis, tafsir) layak
diperluas dengan melibatkan karya-karya "non-ortodoks"
seperti karya Ibn Khaldun ini.

Membaca buku ini, menurut saya, sangat nikmat dan
lezat bukan sekedar karena di sana kita bisa menjumpai
analisis Ibn Khaldun yang tajam terhadap sejumlah
gejala sosial pada zamannya, tetapi terlebih lagi
karena mutu bahasanya yang sangat baik dan cemerlang.

Bersambung....

 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke