http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=316783

Rabu, 12 Des 2007,
NU dan Pilkada Bojonegoro

Oleh: Akhmad Zaini

Kemenangan pasangan Suyoto dan Setyo Hartono (Toto) pada Pilkada 
Bojonegoro memang belum definitif. Itu masih berdasar hasil quick coun. 
KPU Kabupaten Bojonegoro baru mengumumkan hasil definitifnya beberapa 
hari lagi, diperkirakan 14-16 Desember 2007.

Namun, dalam banyak kasus, hasil perhitungan resmi KPU tidak jauh 
berbeda dengan hasil quick count. Artinya, perbedaan itu tidak sampai 
mengubah komposisi kemenangan. Dengan demikian, kemungkinan Suyoto yang 
diusung PAN, PNBK, dan PPP bakal menjadi orang nomor satu di Bojonegoro 
sangatlah besar.

Jika ini benar, kemenangan Suyoto adalah sebuah kejutan. Dalam bahasa 
Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (Pusdeham) Muhammad 
Asfar, kemenangan pasangan Toto di luar prediksi.

Semula pasangan M. Thalhah-Tamam Syaifuddin (Tahta) memang diprediksi 
bakal tampil sebagai jawara. Pasangan itu diusung oleh Partai Golkar dan 
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dua partai yang memiliki basis massa 
cukup kuat di Bojonegoro.

Bukan itu saja. Tahta secara menyakinkan memperoleh dukungan tokoh-tokoh 
NU, baik tingkat nasional maupun lokal yang diyakini memiliki pengikut 
besar di Bojonegoro. Dari tingkat nasional, ada nama KH Hasyim Muzadi 
(ketua umum PB NU) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sedangkan dari 
lokal, ada sederet nama kiai pengasuh pesantren-pesantren besar di 
Bojonegoro.

Untuk menyakinkan publik bahwa para kiai mendukung dirinya, Tahta secara 
kontinu menampilkan dukungan mereka di koran lokal Bojonegoro dalam 
bentuk advetorial (iklan). Begitu juga baliho-baliho yang dipasang di 
pinggir-pinggir jalan, Tahta sangat atraktif menunjukkan dukungan para kiai.

Sebagai orang yang pernah aktif di kepengurusan NU Bojonegoro (PC NU), 
Tahta juga secara atraktif menunjukkan bahwa merekalah yang paling layak 
mewakili institusi NU. Foto pasangan ini berlatar belakang lambang NU.

Memang, bukan hanya pasangan ini yang mengeksploitasi kiai dan NU dalam 
mencari dukungan. Dua pasangan lain juga begitu. Sowan (M. 
Santoso-Irawanto) menampilkan KH Abdullah Faqih (pengasuh Ponpes 
Langitan, Tuban) dan KH Maemun Zuber (pengasuh salah satu pesantren di 
Rembang, Jawa Tengah).

Suyoto setali tiga uang. Dia terkesan tidak pede dengan posisinya 
sebagai orang nomor satu di PAN Jawa Timur, partai yang basis massanya 
dari kalangan Muhammadiyah. Dia sangat sibuk meyakinkan publik bahwa dia 
juga keluarga besar NU.

Pertama, dia menyakinkan publik bahwa dirinya merupakan alumnus salah 
satu pesantren NU di Bojonegoro. Di koran lokal -melalui tulisan 
advetorial- jati diri istrinya dibeber ke masyarakat. Yakni, sebagai 
anak salah satu tokoh NU, mantan aktivis PMII, serta pernah tinggal satu 
rumah dengan Muhaimin Iskandar (ketum PKB) di kompleks Ponpes Denayar, 
Jombang.

***

Jadi, kalau melihat proses Pilkada Bojonegoro, lengkap sudah gambaran 
betapa NU sedemikian jauh diseret ke arena politik praktis. Sekarang, 
apakah hasilnya memang mencerminkan kekuatan NU dan kiai dalam politik 
praktis?

Jika ya, tentu yang menang seharusnya pasangan Tahta. Tapi, fakta 
berbicara lain. Toto nomor satu, kemudian Sowan, baru terakhir Tahta.

Menurut Asfar, itu terjadi karena warga Bojonegoro ingin perubahan (Jawa 
Pos, 11/12/2007). Untuk mewujudkan perubahan itu, ternyata warga NU 
tidak melihat lagi unsur NU atau kiai. Dengan rasionalitas yang mereka 
miliki, warga NU bisa menentukan pilihan tanpa dibayang-bayangi pengaruh 
NU dan kiai.

Fenomena itu semestinya bukanlah hal mengejutkan. Ketika Hasyim Muzadi 
maju dalam Pilpres 2004 bersama Megawati, fenomena itu sudah terjadi. 
Hasyim yang kala itu hanya nonaktif dari ketua umum PB NU dan didukung 
sejumlah kiai NU, juga tak berdaya menghadapi pasangan SBY-Kalla. 
Kekalahan itu termasuk di wilayah Jawa Timur yang merupakan basis utama NU.

Pada Juni-Juli 2007 lalu, dengan dikomandani Prof Dr Nur Syam (Purek II 
IAIN Sunan Ampel), Komunitas Tabayun melakukan penelitian di sejumlah 
pesantren besar di Jawa Timur. Salah satu hasil pentingnya, para santri 
mengatakan bahwa mereka masih menjadikan kiai sebagai rujukan dalam 
masalah agama. Namun, dalam masalah politik, sebagian dari mereka 
mengatakan tidak. Kiai tidak lagi menjadi rujukan politik. Mereka 
mengaku tidak merasa "berdosa" ketika pilihan politiknya berbeda dengan 
kiainya.

Prof Dr Kacung Maridjan dari Unair yang kala itu hadir sebagai pembahas 
menganalisis bahwa itu terjadi karena kiai sekarang telah terpolarisasi 
ke sejumlah partai politik. Fenomena itu bergeser jauh dari Pemilu 1955, 
karena mayoritas kiai masih kompak mendukung satu partai (Partai NU).

Dengan demikian, fenomena kekalahan Hasyim dalam Pilpres 2004 dan Tahta 
dalam Pilkada Bojonegoro harus dijadikan pelajaran bagi politisi yang 
kini mengincar NU untuk menjadi tunggangan politik. Kini, warga NU telah 
melek politik. Mereka punya logika tersendiri. Mereka bukan warga NU 
setengah abad lalu yang mudah digiring ke sana kemari.

NU harus dikembalikan lagi ke khitah yang sesungguhnya, jauh dari 
politik praktis. Mereka yang aktif di NU harus punya niat tulus, 
benar-benar ingin mengabdi ke umat. Bukan merebut posisi penting NU, 
hanya untuk mengapai jabatan presiden, gubernur, maupun bupati.

Jika "terpaksa" maju, majulah dengan jantan. Mundur dari kepengurusan NU 
secara definitif. Jangan hanya nonaktif. Langkah yang pernah dilakukan 
KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) dengan mundur secara definitif dari PB 
NU ketika hendak maju dalam Pilpres 2004 bisa dijadikan contoh. Wallahu 
a’lam bissawab. (*)


Akhmad Zaini, wartawan Jawa Pos dan Koordinator Komunitas Tabayun.


______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke