Tempo, EDISI 10-16 Desember 2007
  Nasr Hamid Abu Zayd:
  Hidup Seperti Zaman Nabi Adalah Utopis
   
  FRONT ulama Al-Azhar, mesir, mencap pemikir Islam terkemuka ini murtad. 
Pemerintah diminta turun tangan: Nasr Hamid Abu Zayd disuruh bertobat 
atau—kalau tak mau—ia harus dihukum mati. Pengadilan kasasi juga memerintahkan 
agar istrinya, Dr Ebtehal Yunis, menceraikannya. Universitas Kairo, tempat dia 
mengajar semenjak 1972, pernah pula didesak agar memecat profesor ahli sastra 
Arab dan hermeneutik ini lantaran dikhawatirkan meracuni mahasiswa dengan 
pemikirannya yang sesat.
   
  Abu Zayd akhirnya hijrah ke Belanda pada 1995. Lembaga Franklin dan Eleanor 
Roosevelt, Juni 2002, menganugerahkan The Freedom of Worship Medal karena 
pemikirannya yang dinilai berani dan bebas, serta sikapnya yang apresiatif 
terhadap tradisi falsafah Kristen, modernisme, dan humanisme Eropa.
   
  Kedatangannya di Indonesia tiga pekan lalu disambut dengan pencekalan ketika 
akan tampil di Universitas Islam Malang, Jawa Timur. Yang membuat Abu Zayd 
gusar, pembatalan disampaikan melalui pesan pendek pejabat Departemen Agama 
begitu ia tiba di Indonesia. “Ini sungguh tidak sopan. Saya akan 
memperkarakannya, karena mereka telah membuang waktu saya,” kata dosen 
Universitas Utrecht dan Leiden ini.
   
  Abu Zayd terkenal dengan metode hermeneutik, yaitu penafsiran Quran dengan 
pendekatan linguistik, yang biasa digunakan untuk menginterpretasi Injil dengan 
menganalisis kondisi pengarangnya. Akibatnya, Nasr dinilai memposisikan 
Muhammad sebagai pengarang, padahal sebagian besar umat Islam menganggap Quran 
adalah wahyu.
   
  Menjelang kepulangannya ke Belanda pada akhir bulan lalu itu, pria kelahiran 
Tantra berumur 64 tahun ini menerima Yudono dan M. Nafi dari Tempo untuk 
wawancara di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, selama 40 menit. Berikut petikannya:
   
  Sejumlah pemuka Islam di Indonesia menuduh Anda sebagai agen orientalis dan 
liberal. 
   
  Tuduhan sebagai agen orientalis ini sangat bodoh dan merupakan fitnah. Tapi 
saya kira setiap orang akan bangga bis menjadi liberal. Saya akan selalu 
memperjuangkan kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, dan semua kebebasan 
yang lain.
   
  Tapi konsep hermeneutik yang Anda kembangkan banyak ditentang di sini.
   
  Apakah hadis Nabi bertentangan dengan hermeneutik? Hermenutik dalam bahasa 
Arab adalah takwil. Takwil adalah metode yang sangat-sangat Islami untuk 
memahami Al-Quran. Tidak peduli Anda Sunni, Syiah, atau apa, Anda perlu 
menginterpretasi Al-Quran. Hermeneutik adalah teori untuk menginterpretasi 
Al-Quran. Jadi, siapapun yang mengharamkan hermeneutik, ia keliru, ia tidak 
memahami hermeneutik. Ia tidak tahu sejarah penerjemahan Al-Quran.
   
  Bukankah hermeneutik itu hanya relevan sebagai alat bantu untuk menerjemahkan 
Injil.
   
  Katakan pada orang itu bahwa takwil digunakan untuk menerjemahkan Al-Quran, 
dan hermeneutik adalah takwil. Mereka tidak bisa membedakan antara takwil dan 
Injil. Saya belajar takwil, tidak ada hubungannya dengan orientalisme. Takwil 
tidak meminjam apapun dari Injil. Takwil konsep klasik, hermeneutik adalah 
konsep filosofi modern. Tidak ada salahnya bagi intelektual muslim untuk 
belajar filosofi modern. Masih banyak orang yang menutup mata dan pikirannya, 
dan hidup seperti pada abad kedelapan.
   
  Mungkin karena Al-Quran adalah wahyu dari Allah, jadi tidak perlu 
interpretasi berupa takwil yang kelewat berani ini.
   
  Apakah kita akan minta Tuhan menginterpretasinya untuk kita. Al-Quran adalah 
wahyu Allah untuk manusia, dan Tuhan berharap kita mengerti. Bagaimana kita 
mengerti? Itu bergantung pada pengetahuan manusia. Tidak mungkin saya minta 
Tuhan datang pada saya atau Malaikat Jibril mengajari saya. Memang Al-Quran 
dari Tuhan untuk manusia, dan manusia harus mengerti Al-Quran. Manusia hanya 
bisa mengerti Al-Quran berdasarkan pengetahuannya, tapi mereka harus mencoba 
meningkatkan pengetahuannya. Anda tidak akan tahu maksud Tuhan jika Anda tidak 
berilmu.
   
  Kelompok ahlussunnah menafsirkan Al-Quran dikaitkan dengan zaman Rasul, 
sehingga mereka tidak akan mendukung pembaharuan penafsiran.
   
  Konsep ahlussunnah adalah konsep ideologi yang harus diubah. Tidak ada 
seseorang atau satu kelompok yang mengklaim sunah sebagai milik pribadi. Ini 
sangat penting. Kelompok yang mengklaim sebagai ahlussunnah  yang eksklusif 
biasanya paling konservatif dan radikal. Mereka ingin membentuk kehidupan 
masyarakat seperti di zaman Nabi. Ini utopis dan tidak pernah bisa terjadi. Itu 
hanya khayalan orang sakit. Mereka mambatasi penafsiran keagamaan untuk 
memperkuat hegemoni kekuasaan.
   
  Kenapa interpretasi terhadap Al-Quran itu begitu penting?
   
  Tentu saja Tuhan mempunyai standar sendiri, dan kita tidak bisa berbuat 
apa-apa. Tapi Tuhan ingin kita mengerti apa yang Dia katakan, dan Dia mengerti 
kapasitas kita. Itu sebabnya Dia berbicara kepada kita. Jika orang tidak 
mengerti apa yang Dia maksud, orang bisa menginterpretasinya berdasarkan 
kapasitas sebagai manusia, tidak ada kaitannya dengan konservatif atau 
fundamentalis. 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke