Surat Dari Montmartre:
NOVEL "SAMAN" EDISI PERANCIS, DILUNCURKAN DI KOPERASI RESTORAN INDONESIA PARIS 04 Desember 2007 Beberapa Diskursus & Diskursus Perempuan Pertanyaan seminar "Pasar Malam" tanggal 14 Desember 2007 ini: "Qui sont les écrivains indonésiens d'aujourd'hui" [Siapa-siapa gerangan para penulis Indonesia Sekarang?], jika kurenung ulang, sungguh merupakan suatu pertanyaan menarik , baik dilihat dari segi nasional , maupun dari segi internasional. Juga yang disebut "sastra" dan "sastrawan". Pertanyaan ini menyimpan makna yang mendasar secara teoritis dan hasil bacaan atas situasi sastra negeri kita. Melalui surat ini, pertanyaan tersebut saya sampaikan kepada semua. Saya anggap pertanyaan ini bersifat mendasar, terutama jika ada yang menganggap bahwa seorang sastrawan baru dipandang "syah" sebagai sastrawan jika karya-karyanya sudah diterbitkan oleh badan penerbit tertentu dan harian-harian tertentu saja. Suatu anggapan yang meremehkan banyak pihak serta barangkali bisa disebut sebagai pemonopolian dan sentralisasi nilai dengan memandang takaran diri mereka sendiri sebagai standar nasional dan universal. Pandangan begini kukira tidak tidak republiken dan tidak mengindahkan keindonesiaan. Demikian juga pertanyaan "siapa-siapa gerangan penulis Indonesia sekarang", kukira menyimpan janin debat, apakah yang dimaksudkan dengan "sekarang", dan apa yang dimaksudkan dengan Indonesia? Apakah hanya sebatas tulisan-tulisan yang ditulis dalam bahasa Indonesia, sedangkan yang ditulis dalam bahasa lokal dianggap bukan sastra Indonesia. Kemudian nasib sastra lisan yang masih terdapat di daerah-daerah, apakah masih masuk hitungan atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan begini, muncul di benakku, karena pada masa pemerintahan Soekarno, masih tercatat jelas di ingatanku, bahwa di masa itu ada usaha sadar mengembangkan sastra berbahasa lokal dari berbagai etnik sesuai dengan pandangan konsep Indonesia dan republiken. Bahkan di daerah-daerah yang berpenduduk dominan etnik Tionghoa, waktu itu diterbitkan koran-koran berbahasa Tionghoa dan sastra berbahasa Tionghoa. Para petani Jawa didorong untuk menuliskan karya-karya mereka. Sehubungan dengan muatan lokal [baca:budaya lokal], tahun 2007 ini, ketika berbincang-bincang bebas dengan para guru Sekolah Dasar dan Taman Kanak-kanak Putra Bangsa di Klaten, Jawa Tengah [di mana Kak Seto menjadi salah satu penasehat utamanya], saya pernah mendapat pertanyaan: "Apakah budaya lokal tidak bertentangan dengan nilai-nilai universal manusiawi?". Terhadap pertanyaan ini dengan tegas saya katakan: Sama sekali tidak ada pertentangan. Alasan saya: budaya lokal pun mempunyai nilai universalitasnya. Contoh: pandangan menepuk air di dulang memercik ke muka sendiri, merupakan pandangan yang dialektis dan sesuai hukum sebab-akibat yang nalar. Pada masa sekarang, oleh adanya dan masih adanya rasa rendah diri pada Barat serta modernisasi ditafsirkan identik dengan Baratisasi, memang akan lebih mentereng dan dirasakan bermartabat jika sedikit-sedikit nyontek dan mendewakan Barat [Tanpa pengertian menolak belajar dari Barat dan dari mana pun juga!]. Nyontek tanda ketiadaan kreativitas. Pendewaan dekat dengan perbudakan jiwa, pikiran dan perasaan. Budaya lokal bisa menjadi bahasa kita berdialog dengan budaya dunia tanpa kehilangan diri kita sendiri. Kehilangan diri dekat pada keadaan layang-layang putus tali, daun kuning rontok dari dahannya. Saya mengkhawatiri dengan konsep-konsep yang bercorak rendah diri, kadang mengambil bentuk kepongahan, bangga hanya jadi "catatan kaki", kita sesungguhnya memperlihatkan keasingan diri kita terhadap budaya tanahair kita sendiri, rela digiring dengan teoritiasi orang lain atas data yang dikumpulkan, kita sesungguhnya memperlihatkan keasingan diri kita terhadaop budaya tanahair kita sendiri, asing dari diri sendiri, walau pun secara raga kita hidup di tanahair itu sendiri. Petunjuk bahwa secara pola pikir dan mentalitas masih anak jajahan dengan jubah "Republik dan Indonesia" yang merdeka. Seberapa jauh kita memahami arti "Republik" dan "Indonesia" walau pun dengan fasih kita bisa ucapkan secara otomatis? Dari milis tertentu, saya sempat membaca adanya orang asing yang dalam tulisan-tulisannya, melecehkan secara pukul rata sastra Indonesia. Seakan dia, si orang asing ini yang jadi standar kehebatan dan kemutuan bersastra. Keadaan ini memang membuat saya berpikir, mengapa si asing ini sampai berani ngoceh demikian? Barangkali, sikap pongah begini, mendorong kita pun untuk perlu mawar diri. Mengapa ada orang asing yang merasa lebih tahu Indonesia dari orang Indonesia dan menyamaratakan yang disebut sastra Indonesia. Pernyataan begini saya tulis karena saya teringat akan kata-kata Prof. Dr. Denys Lombard dalam salah satu kuliahnya di l'Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales [l'EHESS], Paris: "Sehebat-hebatnya seorang Indonesianis, tidak bakal bisa menggantikan orang Indonesia itu sendiri". Pendewaan asing dan pelecehan orang asing terhadap diri bangsa kita , barangkali hanyalah dua sisi dari satu mata uang saja jika dilihat dari segi pola pikir dan mentalitas , baik dari segi orang Indonesia, mau pun si orang asing [dalam arti harafiah] itu. Dua-duanya sama asing dari obyek. Dua-duanya sama kadaluwarsa, tak buta aksara tapi tak bisa membaca. Asing dari keadaan. Kalau menggunakan istilah orang Banjar, "sama kada balampu" [sama-sama tidak berlampu]. "Lalu kadap" [hingga gelap-gelita]. Kemudian "jual koyok" alias nampang. Sedangkan sikap nalar, kukira, senantiasa berusaha dengan rendah hati, jujur, membaca dan menanggap zaman, tidak berkutat di pola pikir dan mentalitas anak jajahan serta pola pikir dan mentalitas penjajah. Kritik sastra-seni yang sungguh pun, kukira, tidak berurusan dengan pola pikir dan mentalitas orang "kada balampu". Aku khawatir, di negeri ini, kita sering bergerak dalam keadaaan "kada balampu". Oleh adanya keadaan "kada balampu" maka bukan tidak mungkin bakal dan memang sudah terjadi tindak kekerasan hingga berdarah-darah. Debat "kada balampu" pun akan menimbulkan kericuhan karena bicara asal bicara, tanpa tahu dan menguasai apa yang dibicarakan. Kembali kepada peluncuran novel Saman karya Ayu Utami. Terkesan padaku bahwa diskusi tentang buku ini jauh lebih "meriah" di meja-meja para peserta dibandingkan dengan diskusi langsung di Forum Peluncuran. Apalagi terkesan pada saya, bahwa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan, Ayu nampak berbicara sangat singkat, kurang memasuki rinciannya, istilah-istilah yang meninggalkan pertanyaan tak berjawab, seperti soal "Tiga M" yang telah kusebutkan terdahulu. Demikian juga ketika menjawab soal "KUK" [Komunitas Utan Kayu] atau masalah "kritik"di Indonesia terhadap diri Ayu dan karya-karyanya. Sedangkan terhadap soal terakhir ini, soal yang segera menarik perhatian utusan Penerbit Flammarion", Ayu hanya menjawab, sekaligus berkelit, bahwa persoalan-persoalan tersebut sangat bersifat "lokal", tanpa penjelasan lebih jauh sehingga mematikan diskusi yang diharapkan hadirin dan Penerbit. Pertanyaan saya, apakah karena kritik bersifat "lokal" maka kritik-kritik itu tidak bermakna, tidak mempunyai arti umum dan pengingatan; maka tidak patut dijawab, padahal utusan Flammarion dengan segera menyeletuk:"Apa bagaimana kritik yang bersifat lokal itu"? Barangkali Ayu pada waktu itu kurang terbantu oleh penterjemah yang mengerti benar nuansa kata-kata yang digunakannya. Saya tidak tahu. Tapi saya mengikuti presentasi Ayu bukan hanya kali ini. Saya pernah mengikuti presentasinya di Gedung Senat bersama Seno Gumira yang tak banyak berkata apa-apa juga selain tentang riwayat dirinya, kemudian "terlanjur" menulis di Harian Kompas, Jakarta, mengejek hadirin Indonesia dari Paris yang ikut serta dalam seminar sehari itu sebagai orang tak tahu sastra-seni [lihat komentar Ben Abel di milis Apsas dan tulisan Seno Gumira di Harian Kompas]. Barangkali oleh jawaban-jawaban singkat dan sangat berhati-hati dari Ayu Utami begini, maka diskusi yang menjadi ramai tentang berbagai masalah, baik sastra atau yang bukan sastra-seni, adalah diskusi di meja-meja peserta. Bukan di Forum Peluncuran. Dengan berkata begini, saya hanya mau jujur pada diri sendiri, tanpa maksud mendiskreditkan siapa pun. Salah satu masalah yang dimunculkan dalam diskusi di meja-meja peserta antara lain masalah tendensi yang disebut pornografis dalam "Saman". JacquelineCamus, anggota "Pasar Malam", yang pernah diperkenalkan kepadaku sebagai "mantan penerbang", mengatakan bahwa ia tidak mendapatkan dalam novel Saman adanya tendensi pornografi. Yang Jacqueline Camus dapatkan dari membaca Saman edisi Perancis, bukanlah tendensi pornografis.Yang saya lihat, demikian Jacqueline Camus, yaitu apa yang disebutnya sebagai diskursus perempuan tentang perempuan. Perempuan berbicara tentang dirinya. Melalui diskursus perempuan oleh perempuan, Jacqueline Camus memahaminya sebagai bentuk perlawanan terhadap yang disebut oleh Claude Alzon sebagai le "pouvoir mâle", kekuasaan lelaki, [lihat, Claude Alzon, "La Femme Potiche et La Femme Bonniche.Pouvoir Bourgeois et Pouvoir Mâle", Cahier Libres 248, François Maspero, Paris, 1973, 115 hlm.], sejalan dengan yang disebut F. Engels tentang sejarah perkembangan atau asal usul keluarga, hak milik dan kekuasaan negara [bandingkan juga dengan konsep Mao Zedong tentang "tiga gunung besar" yang menindas perempuan]. Artinya le "pouvoir mâle", jika mengacu pada alur pikiran ini, tidak bisa menempatkan perempuan pada posisi primer anti lelaki. Perempuan, yang dijadikan obyek oleh suatu sistem ekonomi atau masyarakat, tidak dilahirkan , tetapi dijadikan. Feminisme, dalam pengertian ini, agaknya, tidak ada taut-menautnya dengan "anti lelaki" primer, tapi justru sejalan dengan usaha pembebasan manusia, untuk memanusiawikan diri, manusia, kehidupan dan masyarakat dilakukan bersama oleh para lelaki dan perempuan. Usaha memanusiawikan diri, manusia dan masyarakat , kiranya tidak mungkin dilakukan dengan ekstrimisme anti lelaki apalagi oleh le "pouvoir mâle", paternalisme dan cabang-cabangnya. Tema seks, seperti dilakukan oleh Sade dari Perancis, juga Serat Centini dan lain-lain, termasuk sastra-seni lisan yang masih hidup di berbagai pulau, Kamasutra, tidak otomatis menjadikan karya itu karya pornografis. Tergantung bagaimana sastrawan-seniman mengolah tema tersebut. Dari segi ini, saya tidak memandang novel Saman, merupakan pembidas. Sangat jauh dari posisi pembidasan. Secara keseluruhan, mengatakannya demikian barangkali terlalu diada-adakan, sama mengada-adakannya jika mengatakan bahwa mantera dalam puisi negeri kita sebagai penemuan penyair tertentu [Saya membedakan antara puisi yang memanterakan dengan mantera]. Kalau mau disebut pembidas, untuk menyenangkan pemujanya, barangkali, patut dilihat dari konteks sejarah periode tertentu saat novel atau karya tersebut ditulis. Seks dan kedudukan perempuan, di Perancis, memang dibahas terus dari berbagai segi sehingga muncul istilah "seks pertama", "seks kedua", "seks ketiga" dan mungkin sekarang ada "seks keempat". Jika tidak awas-awas bisa terjadi bahwa "femininisme" dan "maskulinisme" merosot ke tingkat primer dan kadaluwarsa. Berpura-pura alim dengan menolak pengolahan tema seks dalam sastra-seni, saya kira tidak lain dari ujud kemunafikan -- mentalitas dominan negeri ini sekarang. Dari debat di meja-meja pada saat peluncuran novel Saman, saya melihat kembali dan lagi-lagi melihat suatu keniscayaan belajar terus-menerus bagi yang ingin berprofesi sebagai penulis serius. Insting, berada hanya pada kedudukan "penulis insting" atau primer agaknya akan segera menempatkan yang ingin jadi penulis dan sudah memproklamirkan diri sebagai penulis serta mengaku diri penulis, akan ketinggalan zaman dan tak mampu tanggap zaman. Menjadi penulis adalah tanggungjawab manusiawi, keluasan pengetahuan, ketajaman pandang yang membuatnya jadi sangat peka. Keadaan begini kusebutkan sebagai penulis berwawasan dan berkomitmen manusiawi. Keadaan yang jauh dari narsisme dalam berbagai pengejawantahannya. Keadaan begini sering saya lukiskan sebagai perjalanan sebuah "pinisi" yang tak punya dermaga. Melihat dunia dan kemanusiaan tanpa penggaris. Tapi globalisasi kapitalis, di mana uang dijadikan sang raja, mau mengukur dunia, manusia dan kehidupan dengan penggaris tunggal seperti yang sekarang nampak di dunia sastra-seni serta penerbitan negeri kita. Penggaris tunggal yang mengancam keragaman, nilai republiken dan keindonesiaan. Mengancam kemanusiaan. Merasuki dan mengintevensi seluruh bidang kehidupan berbangsa dan bernegeri. Adalah tidak adil jika menilai Saman dari satu segi ini saja, apalagi jika dilihat dari segi penilaian yang takluput dari segala tafsir subyektif atau pun yang disebut obyektif. Sementara Saman juga bicara soal-soal lain sesuai dengan tekhnik penuturan longgar, sehingga tidak fokus, seperti yang dikatakan oleh Ayu sendiri. Mujur saja ada situasi "l'état de grace" setelah Soeharto dipaksa turun panggung oleh keadaan politik [bukan seperti yang umum dikatakan "lengser ke prabon" dengan "kemuliaan" kisah raja-raja Jawa , dan apakah benar mulia?!], sehingga Saman tidak dibredel", ujar Jacqueline Camus, pencinta Indonesia dan kebudayaan Indonesia, serta sering melakukan penterjemahan karya sastra Indonesia ke bahasa Perancis untuk majalah Le Banian [Pohon Beringin], organ resmi Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Berakhir sudah acara peluncuran Saman, novel Ayu Utami, tapi sekian persoalan tertinggal di hadapan masih menanti jawab. Persoalan-persoalan dan berbagai diskursus itu, terutama yang diletakkan di meja-meja forum masih mengiang dan terus mendengung di telingaku. Di antaranya, karya siapa berikutnya yang akan menarik perhatian penerbit-penerbit Perancis sedangkan hari ini, 14 Desember 2007 di l'Institut Néerlandais, Paris dilangsungkan seminar para pakar tentang "siapa penulis Indonesia kekinian?". Benarkah Anda memang seorang penulis dan dengan kadar bagaimana? Dan Ayu Utami, kukira memang seorang penulis yang berangkat sadar sedang terus mengarungi kesadaran itu. Sedangkan berbagai tafsiran, kritik dan pujian pada Saman hanya menunjukkan bahwa karya akhirnya seperti anak kandung menempuh jalannya sendiri. Perjalanan sebuah teks. Para pembaca yang berdaulat mengukur kadar teks itu dengan garisan masing-masing. Terimakasih sudah datang, Ayu, termasuk segala bawaannya! Paris, Desember 2007. ----------------------------- JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia Paris. [Berlanjut.....] Keterangan Foto: Ayu Utami pada peluncuran novel Saman edisi bahasa Perancis, di Koperasi Restoran Indonesia Paris, 04 Desember 2007 [Dari :Dok. JJK. Foto: JJK]. [Non-text portions of this message have been removed]
