All children are born geniuses ; 9.999 out of every
10.000 are swiftly, inadvertaently degeniusized by
grownups.
Buckminster Fuller

Minggu lalu saya memberikan pelatihan motivasi dan
pengembangan diri di suatu perusahaan blue chip. Saat
sesi tanya jawab, ada seorang peserta yang bertanya,
“Pak, apa yang menjadi kunci sukses untuk bisa
berhasil dalam penjualan/selling?”

“Mengapa bapak mengajukan pertanyaan ini?” saya balik
bertanya.

“Saya telah mengikuti sangat banyak pelatihan. Namun,
saya merasakan ada sesuatu, di dalam diri saya, yang
terus menghambat diri saya. Saya tidak bisa bekerja
secara maksimal,” jawab peserta ini.

Saya lalu menjelaskan mengenai Konsep Diri. Bagaimana
pengaruh Konsep Diri terhadap kinerja kita. Bila
Konsep Diri kita positip maka akan sangat mudah bagi
kita untuk meraih keberhasilan. Sebaliknya, bila
Konsep Diri buruk maka kita akan sangat sulit
berhasil, di bidang apa saja yang kita lakukan.
Prestasi hidup kita berbanding lurus dengan Konsep
Diri kita. Konsep Diri sebenarnya adalah operating
system yang menjalankan komputer mental kita.

“Kalau memang Konsep Diri itu sedemikian penting, lalu
mengapa kebanyakan orang Konsep Dirinya kurang baik?
Hal ini tercermin dari prestasi hidup mereka yang
biasa-biasa. Bisa Bapak jelaskan asal muasal
terbentuknya Konsep Diri?” kejarnya lagi.

Nah, pertanyaan saya pada anda, pembaca, “Sejak
kapankah Konsep Diri ini mulai terbentuk? Faktor apa
saja yang mempengaruhi pembentukan Konsep Diri?”

Apa yang saya uraikan di bawah ini adalah jawaban saya
kepada peserta seminar itu.

http://trisetyarso.wordpress.com/2007/12/13/semua-orang-pada-hakikatnya-jenius-lingkungan-yang-membentuk-jadi-idiot/

Salam,
Agung
Keio

Kirim email ke