http://www.suaramerdeka.com/
Membangun Peradaban Islam

    * Oleh Jamal Ma'mur Asmani

TAHUN Baru Hijriyah 1429 yang jatuh pada 10 Januari 2008 adalah momentum 
strategis umat Islam untuk mengencangkan ikat pinggang, merevitalisasi 
potensi yang dimiliki, dan memfokuskan target yang akan diraih.

Polarisasi dan fragmentasi internal umat Islam dalam berbagai kelompok 
dan golongan -Nahdlatul Ulama (NU) Muhammadiyah, Persis, Al-Wasliyah, 
Lembaga Dakwah Islamiyah Indoesia (LDII), dan lain-lain-, justru 
menjadikan kekuatan umat itu terpecah belah, sehingga mudah diadu domba 
oleh musuh, dilemahkan potensinya, dan akhirnya menjadi umat yang terus 
berkubang pada kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan kemunduran 
dalam semua aspek kehidupan.

Rendahnya kesadaran politik menjadikan umat Islam menjadi objek 
politikus yang pintar mengail di air keruh, memanfaatkan situasi dan 
kondisi untuk meningkatkan bargaining position-nya di tengah konstelasi 
dan kompetisi politik kekuasaan yang berujung pada jabatan, popularitas, 
prestis, matrealisme, dan hedonisme, bukan pada upaya menyejahterakan 
rakyat, menegakkan keadilan, dan meningkatkan transparansi, 
akuntabilitas, dedikasi, serta supremasi hukum.

Rendahnya kesadaran berorganisasi membuat umat Islam tidak mampu 
beranjak secara kolektif dari stagnasi, degradasi, dan dekadensi dalam 
semua aspek kehidupan, pendidikan, ekonomi, budaya, teknologi, dan 
sosial kemasyarakatan.

Egoisme personal masih menjadi ciri mayoritas umat itu. Soliditas dan 
kohesivitas sosial yang menjadi modal utama dalam melangkah ke depan 
habis oleh vested interest. Kebersamaan, kekompakan, dan 
kegotong-royongan hilang di tengah perang kepentingan masing-masing 
individu dan kelompok (conflict of interest).

Konflik internal dan agresifnya pihak eksternal menghancurkan umat itu 
menambah wajah umat tersebut semakin suram. Stigma terorisme, 
radikalisme, ekstremisme, dan fundamentalisme yang gencar 
digembor-gemborkan Barat dan didukung oleh dominasi dan hegemoni media 
informasinya, semakin memojokkan reputasi Islam sebagai agama pembawa 
pesan perdamaian, kesejahteraan, persaudaraan dan keadilan, berubah 
menjadi agama kejam, penuh dendam, dan mudah menghalalkan nyawa manusia.

Dalam tataran politik global, umat Islam tidak banyak berkutik di 
hadapan negara-negara maju yang sekuler. Mereka mudah dipecah belah, 
dijadikan sasaran tembak, dan dieksploitasi sumber daya alamnya secara 
tidak manusiawi. Mereka dengan enak menjajah ekonomi, budaya, dan 
moralitas dengan sesuatu yang bertentangan dan meracuni falsafah dasar 
umat dan bangsa ini.

Ikon Kebangkitan

Di tengah suram dan gelapnya potret umat Islam itu, Iran muncul sebagai 
kekuatan yang menunjukkan kepada dunia bahwa umat Islam tidak akan 
pernah menyerah terhadap penjajahan Barat dalam aspek ekonomi. Umat 
Islam akan terus merumuskan langkah ke depan, mempercepat proses 
konsolidasi dan melakukan aksi maksimal dalam memperjuangkan keadilan 
universal yang telah lama dirampas Barat.

Negara-negara Barat tidak ingin disaingi dalam hal apa pun, karena hal 
itu akan mengancam eksistensi dan dominasinya terhadap dunia 
internasional. Namun, Iran tidak peduli hal tersebut. Negara yang 
terkenal dengan revolusi Islam 1979 melalui tokoh kharismatiknya, 
Ayatullah Khomeini, yang menjungkirkan kekuasaan Raja Pahlewi dukungan 
penuh AS, ingin membangkitkan semangat juang umat Islam, membangunkan 
kesadaran dan tidur panjang umat tersebut, serta mengobarkan spirit 
kejayaan, keemasan, dan kemenangan umat Islam.

Iran ingin memberikan pelajaran kepada negara-negara lain, bahwa Islam 
punya kekuatan dahsyat yang akan menandingi dan melampaui negara-negara 
maju jika mampu mengelola dan mengembangkannya secara progresif, 
produktif, dan kompetitif.

Namun, jika umat itu pasif, stagnan, dan tidak kreatif-dinamis, maka 
masa depan akan semakin suram dan penjajahan Barat tidak akan 
berkesudahan. Barat akan terus melakukan eksperimentasi, riset, dan 
pengembangan bidang-bidang stategisnya, seperti persenjataan, ekonomi, 
teknologi, dan pendidikannya, tanpa henti.

Hal itu tidak mungkin dikejar kecuali umat Islam mencurahkan semua 
kemampuan terbaiknya, baik secara individu maupun kelompok; 
membangkitkan potensi besar yang selama ini dilalaikan, dan menggapai 
prestasi eksponsional.

Di era modernisasi dan globalisasi sekarang ini, perang sesungguhnya 
bukan perang militer sebagaimana yang terjadi antara Iran dan AS. Perang 
yang sesungguhnya adalah perang teknologi, budaya, pendidikan, politik, 
dan ekonomi. Umat Islam harus secara masif dan eskalatif memajukan dan 
meningkatkan kualitas pendidikan, teknologi, ekonomi, dan budayanya.

Agenda Masa Depan

Dalam hubungan horizontal, umat Islam disuruh untuk mengedepankan 
moderasi, toleransi, dan koperasi. Namun, prinsip-prinsip moderasi, 
toleransi, dan koperasi itu jangan menjadikan umat tersebut lengah, 
leha-leha, dan apatis terhadap problem riil yang dihadapi. Umat Islam 
harus mengedepankan modernisasi progresif, toleransi dinamis, dan 
kooperasi kompetitif.

Itulah yang harus disosialisasikan secara luas kepada saudara seiman dan 
seakidah. Dengan prinsip yang progresif, dinamis, dan kompetitif, umat 
Islam akan mampu merespons tantangan masa depan yang sangat kompleks.

Bidang pendidikan adalah prioritas agenda masa depan yang tak bisa 
ditawar-tawar. Pendidikan adalah entry point mencetak kader-kader masa 
depan yang andal, profesional, dan produktif. Lembaga pendidikan yang 
dimiliki harus ditingkatkan kualitas maupun sarana dan prasarananya.

Kualitas guru menjadi garapan utama, sehingga mereka mampu memotivasi 
dan menjadi inspirasi anak didik dalam mengembangkan potensi. Guru yang 
motivatif dan inspiratif harus dicetak lewat intensifikasi training 
motivasi, metodologi, pengembangan wawasan, profesionalitas profesi, dan 
kecepatan berorganisasi.

Research and development (R&D) dijadikan kegiatan utama. Lembaga 
pendidikan yang mengandalkan kekuatan penelitian dan pengembangan, akan 
menjadi lembaga pendidikan primadona dan dicari banyak orang.

Praktik harus mendapat porsi lebih banyak dalam segala hal. Praktik 
itulah yang akan mengantarkan pendidikan meraih prestasi pada aspek 
kognisi, afeksi, dan psikomotorik secara maksimal. Tanpa praktik, anak 
didik tidak akan termotivasi dan tertarik untuk mendalami materi dan 
mengembangkannya.

Perpustakaan menjadi sarana penunjang yang sangat menentukan peningkatan 
kualitas anak didik. Perpustakaan yang berisi jutaan koleksi buku 
rujukan dari berbagai belahan dunia, akan mempercepat proses pematangan, 
pengembaraan, dan perluasan cakrawala pemikiran dan pergerakan anak 
didik di tengah kontelasi dunia.

Fasilitas internet yang dikelola dengan baik, akan semakin membuka mind 
set dan perspektif anak didik menjadi kosmopolit, global, dan universal. 
Internet seperti itu adalah internet yang sudah diseting dengan 
menghilangkan menu-menu negatif-destruktif, seperti situs porno dan 
dehumanisme. Internet yang betul-betul bisa dijadikan media pembelajaran 
konstruktif bagi dinamika keilmuan, penelitian, dan karya.

Mercusuar Peradaban

Dengan lahirnya kader-kader muda Islam potensial, diharapkan mercusuar 
peradaban Islam menjadi kenyataan. Mercusuar peradaban Islam ditandai 
dengan lahirnya ilmuwan Islam tingkat dunia yang mengembangkan khazanah 
keilmuannya secara genuine dan mengkombinasikannya dengan metodologi 
ilmiah yang rasional, analitis, progresif, dan produktif.

Ilmuwan seperti itu melahirkan karya-karya intelektual dalam bidang 
agama, ekonomi, budaya, politik, sosial, dan teknologi. Ilmuwan yang 
lintas sektoral atau dalam bahasa Anwar Ibrahim (Malaysia), intelektual 
yang mutafanni, yang menguasai banyak bidang ilmu.

Selain itu, mercusuar peradaban Islam ditandai pula dengan kokohnya 
bangunan ekonomi, makmurnya tingkat kesejahteraan penduduk, tingginya 
penguasaan teknologi, meningkatnya apresiasi terhadap bidang budaya, 
seni, dan estetika, serta terjalinnya solidaritas keislaman dan 
kemanusiaan secara sinergis-integral-holistik.

Tahun baru Hijriyah 1419 ini, semoga menjadi starting point untuk 
mewujudkan mercusuar peradaban Islam di muka bumi, dan tentu, cita-cita 
besar itu menjadi impian dan tanggung semua umat Islam. Amin.(68)

- Jamal Ma'mur Asmani, pengurus harian Robithoh Ma'ahid Islamiyah Cabang 
Pati dan pengamat keislaman.

Kirim email ke