Semoga bermanfaat:

http://trisetyarso.wordpress.com/2008/01/11/pak-harto-adalah-pahlawan-bukan-pecu\
ndang/



Saya harus mengakui mengatakan ini:

Pak Harto adalah Pahlawan.

(Sejenak tidak percaya menuliskan ini, jika melihat prinsip yang saya pegang 10 
tahun yang lalu …)

Ketika masih mahasiswa, saya termasuk manusia yang kerjaannya mengkutuk 
Soeharto. Bagi saya ketika itu, Soeharto layaknya Firaun; tirani yang 
memelihara intelektual, pedagang dan militer demi melanggengkan kekuasaannya.

Namun, kini agaknya kita perlu memberikan apresiasi lebih kepada seorang 
Soeharto.

Soeharto bagaimanapun sebejadnya beliau, tetap memilih mengakhiri hidupnya di 
rumah sakit lokal; kalau mau, beliau dapat saja meninggal di rumah sakit paling 
mewah di muka bumi ini. Tapi itu tidak dilakukannya.

Hebatkah pilihannya itu?

Menurut saya hebat, bahkan “hebad”. Pilihan Soeharto itu diambil ditengah 
semakin pudarnya kebanggaan bangsa ini terhadap apapun yang berbau “Indonesia”, 
termasuk untuk urusan berobat. Bahkan untuk berobat saja, kelompok menengah 
atas bangsa ini lebih milih berubat ke Singapura daripada ke RSPP, sekalipun 
cuma untuk mengobati batuk alias bengek.

Untuk berobat saja kita sudah gak bangga, apalagi berjibaku membela bendera dan 
lagu kebangsaan di ajang olahraga dsb. Itu jawabannya mengapa sekarang ini 
Indonesia jadi pecundang selalu diberbagai ajang olahraga, mulai dari Asian 
Games sampai dengan SEA Games.

Inga … inga … di era Soeharto sepakbola kita cukup terhormat, lho … pernah di 
zaman Zulkarnaen Loebis, Herry Kiswanto dkk, bangsa ini pernah sampai ke 
Semifinal ASIAN GAMES !! Begitu juga SEA GAMES kita adalah langganan juara …

Jadi, Pak HARTO mengajarkan Nasionalisme yang sangat dalam …

Selain itu, Pak Harto juga taat hukum, sekalipun untuk yang satu ini, beliau, 
terkadang demi harus menjaga keadaan tetap stabil, harus tetap hati-hati dalam 
mentaati hukum agar tak terjadi kekacauan yang berlebihan.

Ketika tahun 1998, beliau rela mundur demi stabilitas.

Selanjutnya, beliau juga menyerahkan segalanya ke hukum; sehingga kita bisa 
saksikan anak-anaknya masuk ke persidangan … bahkan beliau sendiri juga rela 
menjadi tersangka …

(Terlepas dari dinamika persidangan yang masih carut-marut; tapi tetap saja 
beliau *TIDAK LARI* dari hukum. Pilihan beliau adalah INI NEGERIKU … aku akan 
tetap disini sekalipun langit ini runtuh!)

Hebat … sungguh prinsip yang perlu diapresiasi dan diteladani …

Pada pukul 17.00 hari Jumat kemarin, konon Pak Harto sudah menghembuskan napas 
terakhirnya, namun tetap diberikan napas buatan, untuk menjaga perasaan 
keluarga.

Kalau benar ini yang terjadi, maka beliau dapat dikategorikan mati syahid (saya 
ganti dengan husnul khatimah; mungkin lebih tepat), sebagaimana hadist 
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.*

*(rujukan yang saya rekomendasikan: 
http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=297&Itemid=145)

Selamat jalan, Pak Harto; terimakasih atas keteladanan yang ditinggalkan selama 
ini …

NB: Proses hukum terhadap kroni Pak Harto harus tetap berjalan. Tapi harus 
tetap berjalan dengan adil.

Salam,

Agung
Keio


Kirim email ke