http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=321667
Selasa, 15 Jan 2008,
Dibongkar, Situs-Situs Nabi di Makkah, Yang Dibongkar dan Yang Terancam 
Dirobohkan(1)


Rumah Abu Bakar Jadi Akses Jalan Hotel Hilton
Untuk mengisi waktu yang agak panjang selama berhaji (sekitar 40 hari), 
kebanyakan jamaah berziarah ke tempat-tempat bersejarah, yang di 
antaranya terancam dibongkar. Berikut catatan wartawan Jawa Pos 
Kurniawan Muhammad yang baru saja pulang dari haji.

Pagi itu, jarum jam di Makkah menunjukkan sekitar pukul 09.00 (di 
Indonesia lebih cepat empat jam). Saya saat itu berada di sebelah timur 
di halaman luar Masjidilharam. Ketika melintas di bawah tiang lampu 
(dari beberapa tiang lampu yang ada), terlihat beberapa orang dari 
Pakistan sedang mengaji Alquran sambil menangis. Mereka bergerombol di 
bawah salah satu tiang lampu itu.

"Mengapa mereka tidak mengaji di dalam masjid saja? Bukankah pada 
jam-jam itu, di dalam masjid sedang longgar?" demikian pertanyaan yang 
mampir di benak saya.

Ternyata bukan hari itu saja saya menemui pemandangan orang bergerombol 
di bawah tiang lampu tersebut sambil mengaji. Esoknya, beberapa orang 
melakukan hal yang sama di tempat itu. Kali ini dari Bangladesh.

Mengapa mengaji di bawah lampu itu? Pertanyaan ini baru terjawab ketika 
KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Nur Haromain, Pandegiling, tempat 
saya bergabung selama beribadah haji mengajak ke tempat tersebut, 
beberapa hari kemudian. "Tempat ini dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW 
ketika membina rumah tangga bersama Siti Khadijah. Di sinilah dulu Nabi 
dan istrinya mengasuh anak-anaknya, hingga akhirnya Nabi hijrah setelah 
dikepung orang-orang Quraish," kata Ustad Ghazali Abdi, salah satu 
pembimbing KBIH Nur Haromain.

Lantas mengapa orang-orang membaca Alquran di tempat itu? "Karena 
ayat-ayat Alquran banyak diturunkan di sana. Setelah membaca Alquran, 
biasanya mereka lantas berdoa untuk keluarganya, agar bisa seperti 
keluarga Nabi," ujarnya.

Saya dan beberapa jamaah lain satu rombongan baru tahu saat itu bahwa 
lokasi di bawah tiang lampu tersebut dulu adalah rumah Nabi Muhammad SAW 
ketika membina rumah tangga bersama Khadijah.

Di Arab Saudi, pembongkaran tempat-tempat bersejarah bukanlah hal aneh. 
Termasuk rumah Nabi Muhammad itu yang saat ini sama sekali tak ada jejaknya.

Menurut sejarah, di lokasi bekas rumah Khadijah itu sempat dibangun 
masjid oleh Muawiyah. Kemudian pada 1379 H (1959 M), bangunan tersebut 
diubah menjadi madrasah untuk putri. Enam tahun kemudian dibongkar untuk 
kepentingan perluasan Masjidilharam. Sekarang, jejak itu sama sekali tak 
ada.

Tak jauh dari tempat bekas rumah Nabi itu (jaraknya 10 - 15 meter), 
dibangun toilet untuk pria. Karena itu, kadang, ketika berada di tempat 
tersebut, aroma toilet terasa. "Tempat untuk toilet itu dulu rumah Abu 
Lahab (paman Nabi yang jahat)," cerita Ghazali yang sudah lebih dari 
lima kali mengantar jamaah haji ini. Di dekat rumah Nabi dibangun 
toilet? Itulah yang terjadi.

Pada 1998, pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga membongkar makam Siti 
Aminah, ibunda Nabi Muhammad SAW. Sehingga, para jamaah haji yang 
berangkat setelah itu mungkin akan kesulitan jika ingin menapak tilas 
makam tersebut.

Begitu juga rumah Abu Bakar (sahabat Nabi Muhammad) yang ada di Makkah, 
dibongkar untuk keperluan pembuatan jalan menuju ke Hotel Hilton.

Pikiran saya lantas terbang ke tanah air. Kalau saja bekas rumah Nabi 
atau makam ibunda Nabi berada di Indonesia, mungkin keberadaannya akan 
awet sampai sekarang. Bahkan, mungkin akan dibangun dengan 
semegah-megahnya. Bukankah makam para wali songo (penyebar Islam di 
Pulau Jawa), sampai sekarang tetap terjaga?

Pikiran juga terbang ke Surabaya. Saya teringat dengan cerita masjid 
yang bertahun-tahun berdiri di tengah jalan, kemudian dipersoalkan, 
karena dalam perkembangannya keberadaan masjid tersebut membuat arus 
lalu lintas menjadi tidak lancar.

Satu-satunya cara agar lalu lintas di sana lancar adalah membongkar 
masjid tersebut. Rencana ini pula yang dilakukan Pemkot Surabaya. Pemkot 
Surabaya bahkan sudah menjamin membangunkan masjid di tempat lain 
sebagai pengganti. Tapi, rencana tersebut ternyata tidak mudah. Butuh 
waktu beberapa tahun, karena ada kelompok masyarakat yang sempat 
menentang keras. Tapi, akhirnya masjid itu berhasil dibongkar akhir 
Desember 2007.

Di Surabaya, membongkar masjid yang jelas-jelas untuk kepentingan umum 
dan jelas-jelas akan dibangunkan di tempat lain, sulitnya minta ampun. 
Sedangkan di Arab Saudi, membongkar tempat bersejarah, meski belum tentu 
peruntukannya untuk kepentingan umum, gampangnya bukan main. (bersambung)

Kirim email ke