SEGERA DAPATKAN JURNAL NUANSA EDISI KE-16
DITERBITKAN OLEH LEMBAGA MEDIA & INFORMASI NAHDHATUL ULAMA (LMINU) PCI-NU MESIR
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT HUBUNGI: +20108248859
ATAU DATANGI LANGSUNG SEKRETARIAT PCI-NU MESIR 27/01 SWESSRY A NASR CITY, 
CAIRO, EGYPT, 11528
 
BERIKUT ABSTRAKSI JURNAL NUANSA:
QUR`ANIC STUDIES; Dialog Sarjana Islam dan Barat
Artikel pertama Jurnal Nuansa yang bertajuk "Sejarah Qur`anic Studies di Eropa" 
memotret transformasi-transformasi epistemik dalam gerak sejarah studi 
al-Qur`an dalam bidang Islamologi, yakni dari abad ke-10 hingga abad ke-21. 
Menurut penulis, Qur`anic Studies tak senantiasa ajeg, melainkan memiliki 
mutasi-mutasi yang dipengaruhi oleh bongkar-pasang varian approach yang 
diaplikasikan oleh para Islamolog Barat. Nalar Qur`anic Studies era 
penerjemahan al-Qur`an ke bahasa Latin yang dimulai pada abad ke-11 berbeda 
dengan nalar Qur`anic Studies pasca Renaisans. Nalar Qur`anic Studies era 
Renaisans juga berbeda dengan nalar Qur`anic Stuides modern. Dengan pendekatan 
sosio-historis, penulis juga membidik geliat konstalasi politik global yang 
ikut mempengaruhi dan membentuk inklinasi-inklinasi motif orientalisme.
 Artikel kedua tidak kalah memukau. Penulis, yang notabene adalah mahasiswa 
Islamic Studies pada Faculty of Arts, Leiden University, mencoba menyuguhkan 
dialog al-Qur`an antara sarjana Barat dengan sarjana Islam. Penulis 
mendeskripsikan perkembangan studi-studi al-Qur`an melalui telaah atas beberapa 
publikasi penting yang diasumsikan representatif. Penulis memilih buku-buku 
yang merupakan hasil editan yang secara khusus didedikasikan untuk kajian 
al-Qur`an. Secara periodik, buku-buku yang dipilih diterbitkan sejak era 
1980-an hingga awal dekade abad ke-21.  Fokus utama tulisan ini adalah 
bagaimana perkembangan metodologis kajian al-Qur`an sebagaimana terefleksikan 
dalam buku-buku tersebut.
 Masih dalam konteks Qur`anic Studies, artikel ketiga memaparkan dengan apik 
kajian sosio-historis atas karya monumental Theodore Noldeke, Geshichte des 
Korans. Bagi penulis, menyenarai diskursus al-Qur`an yang dilakukan sarjana 
Barat terasa perlu dan bahkan menjadi wajib. Selain bermaksud memperoleh 
pemahaman yang terang benderang seputar al-Qur`an dalam perspektif sarjana 
Barat, senarai tersebut diharapkan mampu menjadi modal awal dalam melakukan 
komparasi kajian al-Qur`an antara sarjana Barat dengan para intelektual Timur. 
Pun mampu mengurangi ketegangan intelektual yang menimpa keduanya.
 Artikel keempat menawarkan hasil penggalian arkeologis peta epistemologi 
tafsir-tafsir al-Qur`an yang mengendap di bawah lapisan geologis bumi 
interpretasi. Penulis, dengan elaborasi renyah, memaparkan varian exegetical 
genre mulai era formatif, klasik, skolastik, hingga modern. Dalam artikel ini, 
pembaca akan menemukan historisitas tafsir-tafsir al-Qur`an. Bagi penulis, 
tafsir-tafsir al-Qur`an merupakan bentuk respon para penafsir atas problematika 
sosio-kultural, politik, ekonomi dan etik-moral yang terjadi di tengah-tengah 
komunitas Muslim. Tafsir-tafsir al-Qur`an tak lain merupakan bentuk hasil 
dialog antara teks-teks keagamaan dengan realitas.
 Artikel kelima ditulis oleh mahasiswa al-Azhar yang kapasitas intelektualnya 
tidak kalah dibandingkan dengan jebolan-jebolan Barat. Dengan menggunakan 
data-data primer, penulis menyajikan santapan segar bagi penikmat hermeneutik 
al-Qur`an. Jika secara kronologis orang-orang sering bermula dari hermeneutik 
Schleirmaicher yang psikologis, kemudian Dilthey yang humanis, Heidegger yang 
ontologis, Gadamer yang filosofis sampai pada Recoeur yang naratif dan 
“nyastra”, maka penulis artikel ini lebih tertarik membincang fungsi 
hermeneutik untuk kemudian dikomparasikan dengan diskursus tafsir dan ta'wil 
dalam tradisi Islam. Artikel kelima ini dikukuhkan oleh artikel keenam yang 
membahas tema yang sama. Artikel keenam mencoba meninjau ulang hermeneutik 
sebagai alternatif perangkat interpretasi al-Qur`an. Di sini kita juga akan 
menemukan jawaban atas isu-isu desakralisasi al-Qur`an dan sebagainya.
 Untuk menambah gebyar ranah studi al-Qur`an, kami menghidangkan wawancara 
lezat dengan tajuk "Proyek Kritik Nalar Tafsir" ala Abid al-Jabiri. Al-Jabiri 
—pemikir dekonstruktif yang terpengaruh gerakan strukturalis Prancis dan tokoh 
post-modernisme seperti Levi-Strauss, Foucault, Derrida, dan Gadamer— mencoba 
menawarkan pembacaan kritis terhadap al-Qur`an. Ia juga tak segan-segan 
melancarkan kritik terhadap para penafsir pendahulu yang dinilai tidak memiliki 
kesadaran historisitas teks karena tak pernah menafsirkan secara kronologis.
 Rubrik Resensi diisi oleh tulisan yang menelanjangi secara bulat-bulat 
berbagai konsepsi Goldziher yang terpatri dalam karya monumentalnya, Richtungen 
der islamischen Korananslegung, yang telah diarabkan oleh Abd al-Karim al-Najar 
dengan judul Madzâhib al-Tafsîr al-Islâmi. Menurut resentator, buku ini cukup 
otoritatif dalam ranah Exegetical Studies. Goldziher, orientalis Yahudi asal 
Hungaria yang pernah belajar di al-Azhar, Kairo, secara historis memaparkan 
sejarah al-Qur`an beserta problem originality yang menjangkitinya. Tidak 
berhenti di sini, ia secara tipologis memaparkan corak-corak tafsir Islam, 
mulai dari tafsir transmisional (ma`tsur), tafsir rasional, hingga tafsir era 
modern yang dipandegani oleh para reformis sekaliber Abduh dan kolega-koleganya.
 Rubrik Kajian Tokoh diisi oleh biografi Bintu Syati yang menjadi representasi 
penafsir perempuan. Penulis tidak hanya memaparkan latarbelakang sosio-kultural 
Bintu Syati', melainkan juga menjabarkan secara gamblang pernak-pernik 
gagasan-gagasannya. Dari apa yang diuraikan oleh penulis tentang ide-ide Bintu 
Syati', kita patut berbahagia lantaran dinamika disiplin ilmu tafsir sejatinya 
masih terus bergerak hingga kini, tak terkecuali di tangan feminin.
Salam, 
Irwan Masduqi
Pimpinan Umum


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke