Salam all,
Jawaban dari pak abdul a'la. Silakan dibincangkan. ________________________________ From: Abd A`la [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, February 15, 2008 4:37 PM To: Syaikhul Amin - MTD Subject: Re: Kiai Organik v Kiai Karbitan Assalamu'alaikum untuk semua sahabat di KMNU dan mailing list di KMNU Terima kasih respon cepatnya. Berikut tambahan catatan saya. Mohon diforward ke KMNU. Terkait dengan komentar seputar tulisan saya mengenai kyai di Jawa Pos, kita perlu kembali kepada realitas atau fenomena yang berkembang di tanah air. Jika saya menyebut kyai organik dan karbitan, bukan berarti tidak ada tipologi lain selain dua tipologi tersebut. Namun tampaknya sebagian sahabat terperangkap kepada pandangan dikotomis, dan hal ini justru yang saya hindari. Sebagai misal, ketika kita memotret keberagamaan neomodernisme versus neofundamentalisme, bukan berarti tidak ada keberagamaan lainnya. Masih ada keberagamaan modernisme klasik dan sebagainya. Hanya selain dua hal itu tidak menjadi fokus kajian. Lalu apakah itu akademik atau tidak? Bagi saya tidak ada persoalan. Orang lain berhak untuk menilai karena kebenaran ilmiah itu positif yang harus direvisi dari saat ke saat. Namun saya tetap yakin, tulisan saya masih ada dalam tataran akademik karena berangkat dari fenomena yang ada, dan menganalisisnya sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. Justru saya melihat tanggapan teman-teman yang agak emosional, ada nuansa prejudis, prakonsepsi dan sejenisnya. Tanggapan mas Baso, misalnya, yang langsung menuduh pandangan saya orientalistik, dan orientalisme pasti kurang pas dst... Jika saya menggunakan Islam normatif-historis Fazlur Rahman karena saya menganggap bahwa kerangka ini sampai derajat tertentu masih bisa untuk memotret fenomena. Kendati demikian, bukan berarti saya taqlid pada Fazlur Rahman. Dalam menyikapi pandangan saya tidak cepat-cepat menolak atau menerima, sebagaimana juga tidak bisa menerima atau menolak seutuhnya. Saya berusaha untuk bersikap apresiatif-kritis terhadap segala apa yang ada di hadapan saya. Kerangka itu saya gunakan untuk membedakan antara ajaran dan penafsiran. (di Madura orang yang disebut kiyai ada yang benar-benar berkolaborasi dengan blater. Tidak percaya, silahkan datang sendiri) Kembali ke persoalan, saya menulis berdasarkan pengamatan saya karena fenomena yang berkembang seperti itu, maka saya berusaha untuk mengungkapnya sesuai dengan kemampuan saya. Artinya ada kyai model ini, dan ada model seperti itu, bahkan ada yang model kyai simbolis (kyai yang nyaris tidak memiliki nilai kekiyaian, tapi kartu namanya pakai kyai, dan untuk mengukuhkan diri mendirikan pesantren. Namun saya pada tulisan itu tidak membahasnya). Akhirnya, kita sebagai warga NU seharusnya tidak menutup mata atas fenomena-fenomena yang akan membiaskan NU dari jati dirinya. Oh ya mengenai kunjungan saya ke Palestina dan Israel, saya tidak pernah mengatasnamakan NU. Saya berangkat sebagai pribadi. Hanya kebetulan saja saya NU. Sayangnya banyak orang yang percaya begitu saja terhadap pemberitaan media, padahal pada umumnya tidak konfirmasi kepada saya atau delegasi. Mungkin itu dulu jawaban saya. Mohon maaf jika yang ada yang kurang berkenan. Atas segala komentarnya saya menyampaikan terima kasih. JazakumAllah ahsana al-jaza'. Wassalamu'alaikum wr. wb. al-dlaif abd a'la Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. <http://us.rd.yahoo.com/evt=51734/*http:/tools.search.yahoo.com/newsearc h/category.php?category=shopping> [Non-text portions of this message have been removed]
