saya kira menarik respon sdr Abd A'la (ini tidak ada kaitannya dengan sst yang 
personal. kantor saya tetangga dengan kantornya, sama-sama di menteng!).
betul, ada kiai yang demikian, dan ada kiai yang begitu, atau ada kiai yang 
koalisi dengan blater, atau yang lebih ekstrim lagi.
tapi, persoalannya, sebuah kasus bisa menjadi model pencitraan -- atau 
"representasi" dalam bahasa Edward Said atau mikhyal jamai dalam bahasa Jabiri 
-- untuk yang lainnya, sehingga ditarik menjadi sebuah ESENSI ttg arti kai, 
atau menjadi kiai. bahasa sehari-hari, sebuah kasus menjadi pola untuk sebuah 
character assassination untuk keseluruhan. saya tidak sedang meminta membaca 
buku-buku Said yang njelimet itu. 
tapi cukup lihat sendiri misalnya, dalam khazanah NU sendiri. dalam tradisi 
fiqih, ada perbedaan antara logika istidlali dan logika istiqrai. yang pertama 
lebih deduktif, sedang yang kedua bersifat induktif. yang deduktif model FPI 
yang lain main konklusi tanpa tahu konteks, sedang yang istiqrai lebih konteks 
oriented, tidak main pukul rata. model fiqih yang dinamik dalah justru yang 
istiqrai ini, dan Imam Syafii sudha jago dalam soal itu. sementara yang 
erkembang dalam logika kaum orientalis adalah deduktif, asal pukul rata: 
seperti konstruk ttg "tradisdionalis", "konservatif", "khurafat", "jumud", dst, 
yang sellau dilektakna kepada kelompok islam-nasionalis tertentu.

nah, ketika saya menulis NU STUDIES, saya mau justru membalik logika 
orientalisitk" itu, BAGAIMANA SEANDAINYA SEROANG KIAI YANG DIANGGAP KARBITAN 
MENULIS-BALIK TTG FAZLUR RAHMAN YANG BERKOLABORASI DENGAN REZIM MILITER AYUB 
KHAN DI PAKISTAN UNTUK MELANCARKAN IDE-IDE PEMBARUAN DAN MODERNISASINYA? MAKA, 
IA AKAN MENGATAKAN BAHWA RAHMAN ADALAH SEORANG MODERNIS OTORITER-MILITERISTIK! 
(ttg rahman, baca buku saya NU STUDIES bab ttg modernisme Islam)
tapi, sayangnya, meski Rahman seperti itu, tidak ada yang menyebut Rahman 
seorang karbitan, modernis penegcut, modernis otoriter, militeristik, dan 
seetrusnya. tapi, sebaliknya, ektika ada kiai yang dekat-dekat dengan blater, 
dengan mudah langsung dicap macam-macam, sampai karbitan, penjual agama, jumud, 
bodoh, ....dst. 
malah Rahman yang "out of context" dibaca untuk konteks seorang kiai madura, 
untuk kemudian diuniversalisasi.... bahwa yang namanya kiai itu seperti itu, 
bahwa yang namanya madura ya sepetti itu, dan yang namanya blater ya seprtrti 
itu ..... dst
jadi, itulah yang saya maksud dengan relasi kuasa-pengetahuan.
ingat cerita Iskandar Agung yang menangkap seorang perompak di laut? ia disebut 
perompak, sementara iskandar disebut Agung meski merampok dan menjarah dan 
membunuh penduduk lokal ............... kiai adalah "perompak" itu sementara 
Rahman dan murid2nya adalah "yang Agung" itu .........................

salam
ab

 

----- Original Message ----
From: Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Monday, February 18, 2008 9:23:00 AM
Subject: [kmnu2000] FW: Kiai Organik v Kiai Karbitan

Salam all,

Jawaban dari pak abdul a'la. Silakan dibincangkan.

____________ _________ _________ __

From: Abd A`la [mailto:[EMAIL PROTECTED] com] 
Sent: Friday, February 15, 2008 4:37 PM
To: Syaikhul Amin - MTD
Subject: Re: Kiai Organik v Kiai Karbitan

Assalamu'alaikum untuk semua sahabat di KMNU dan mailing list di KMNU

Terima kasih respon cepatnya. Berikut tambahan catatan saya. Mohon
diforward ke KMNU.

Terkait dengan komentar seputar tulisan saya mengenai kyai di Jawa Pos,
kita perlu kembali kepada realitas atau fenomena yang berkembang di
tanah air. Jika saya menyebut kyai organik dan karbitan, bukan berarti
tidak ada tipologi lain selain dua tipologi tersebut. Namun tampaknya
sebagian sahabat terperangkap kepada pandangan dikotomis, dan hal ini
justru yang saya hindari. Sebagai misal, ketika kita memotret
keberagamaan neomodernisme versus neofundamentalisme, bukan berarti
tidak ada keberagamaan lainnya. Masih ada keberagamaan modernisme klasik
dan sebagainya. Hanya selain dua hal itu tidak menjadi fokus kajian.

Lalu apakah itu akademik atau tidak? Bagi saya tidak ada persoalan.
Orang lain berhak untuk menilai karena kebenaran ilmiah itu positif yang
harus direvisi dari saat ke saat. Namun saya tetap yakin, tulisan saya
masih ada dalam tataran akademik karena berangkat dari fenomena yang
ada, dan menganalisisnya sesuai dengan prinsip-prinsip akademik. 

Justru saya melihat tanggapan teman-teman yang agak emosional, ada
nuansa prejudis, prakonsepsi dan sejenisnya. Tanggapan mas Baso,
misalnya, yang langsung menuduh pandangan saya orientalistik, dan
orientalisme pasti kurang pas dst... 

Jika saya menggunakan Islam normatif-historis Fazlur Rahman karena saya
menganggap bahwa kerangka ini sampai derajat tertentu masih bisa untuk
memotret fenomena. Kendati demikian, bukan berarti saya taqlid pada
Fazlur Rahman. Dalam menyikapi pandangan saya tidak cepat-cepat menolak
atau menerima, sebagaimana juga tidak bisa menerima atau menolak
seutuhnya. Saya berusaha untuk bersikap apresiatif-kritis terhadap
segala apa yang ada di hadapan saya. Kerangka itu saya gunakan untuk
membedakan antara ajaran dan penafsiran. (di Madura orang yang disebut
kiyai ada yang benar-benar berkolaborasi dengan blater. Tidak percaya,
silahkan datang sendiri)

Kembali ke persoalan, saya menulis berdasarkan pengamatan saya karena
fenomena yang berkembang seperti itu, maka saya berusaha untuk
mengungkapnya sesuai dengan kemampuan saya. Artinya ada kyai model ini,
dan ada model seperti itu, bahkan ada yang model kyai simbolis (kyai
yang nyaris tidak memiliki nilai kekiyaian, tapi kartu namanya pakai
kyai, dan untuk mengukuhkan diri mendirikan pesantren. Namun saya pada
tulisan itu tidak membahasnya) . 

Akhirnya, kita sebagai warga NU seharusnya tidak menutup mata atas
fenomena-fenomena yang akan membiaskan NU dari jati dirinya. Oh ya
mengenai kunjungan saya ke Palestina dan Israel, saya tidak pernah
mengatasnamakan NU. Saya berangkat sebagai pribadi. Hanya kebetulan saja
saya NU. Sayangnya banyak orang yang percaya begitu saja terhadap
pemberitaan media, padahal pada umumnya tidak konfirmasi kepada saya
atau delegasi. 

Mungkin itu dulu jawaban saya. Mohon maaf jika yang ada yang kurang
berkenan. Atas segala komentarnya saya menyampaikan terima kasih.
JazakumAllah ahsana al-jaza'.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

al-dlaif

abd a'la

Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo!
Search.
<http://us.rd. yahoo.com/ evt=51734/ *http:/tools. search.yahoo. com/newsearc
h/category.php? category= shopping> 

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke