Assalamu alaykum wr wb
Dari kacamata tasawuf, sebenarnya tidak ada keanehan dalam berita dibawah
ini. Guru kami Mawlana Syaikh Nazim qs pun banyak mengatakan hal seperti ini.
Banyak universitas2 dunia menjadi Pusat2 Ajaran Setani dengan mengajarkan ide2
setani. Seperti teori Darwin, dan menjadikan sesuatu yang berasal dari Kitab
Suci bukanlah merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan yang Hakiki.
Banyak penceramah saat ini bergelar Profesor, Doctor dll, dan kalu kita
memanggil dan mengundang mereka maka akan ada rasa bangga, bahwa yg berceramah
adalah para Profesor. Lihatlah bagaimana Rumi mengatakan dalam Puisi-puisinya,
Cintaku tak memiliki pikiran dan akalmu
Cintaku telah menenggelamkanku dalam lautan derita
Mari Datang..datanglah wahai para pecinta
Nikmati anggur kemabukan dan ekstase tak berakhir
Kami hanya perluka engaku para pecinta, maka datanglah kemari masuklah
Sementara kau manusia intelektual menolak cinta dan kemabukannya
maka Diamlah kau wahai
.yang mengaku intelektual
Kami tak perlu engkau, jika kau tetap memaksa masuk
Maka kukatakan padamu jalanmu telah tertutup
Dalam badai cinta, akalmu hanya serangga tak berharga
Bagaimana mungkin pikiranmu menemukan ruang untuk mengembara cinta
Ketika akal intelektualmu tengah menimbang untung rugi untuk pergi
Cintaku telah membawaku sampai kelangit ketujuh
Maka diamlah kau intelektual dungu
Kami tak butuh dirimu
jauhkan si dungu ini dari diriku
Bau busuk otakmu telah tercium dari hakikat cintaku padaNya
Dihadapan Robbku, akalmu hancur lebur tak bersisa
sementara para pecinta tenggelam dalam kemabukan bersama wajah kekasih yang
mempesona, Mari..datang..datanglah para pecinta
.
Kami hanya inginkanmu dalam ekstase berputar bersama mu
..
( diambil dari Puisi Mawlana Rumi )
Nah apakah Rumi artinya tidak setuju dengan para Intelektual? Bagaimana
masyarkat saat ini menempatkan Intelektual, Ulama, Wali dan Selebritis untuk
mengajar agama?
Menjadi Imam solat bukanlah terlalu bermasalah, tetapi mengeluarkan fatwa,
bukanlah pekerjaan intelektual, tetapi pekerjaan Ulama yg tidak korup, Ulama yg
memiliki CahayaNYa, Ulama yg juga Wali Allah, yang memiliki cahaya Hakikat.
Lihatlah begitu banyak saat ini Intelektual yg dipanggil utk berceramah,
selebritis, bahkan waria, orang yg sering memakai pakaian wanita untuk
berceramah? Orang yg mendengarkan akan menyangka ooo..inilah islam. Begitu
banyak Kotib kutbah jumat anak2 muda, selebritis yg kemudian menjadi
Pengkutbah, dimana sebenarnya ada banyak yg harus dimiliki para Khotib untuk
sampai ditempat tersebut.
MUI adalah sebuah lembaga Agama yg akan banyak ber ijtihad untuk mengeluarkan
Fatwa, siapa yg sebaiknya di letakkan disana? Intelektual yg mengajar dan
mendalami agama sebagai pekerjaan separuh waktu krn tersita pekerjaan
intelektualnya. Atau para Ulama yg dibesarkan semenjak kecil dengan pelajaran
Agama Islam yg mendalam.
Ada ulama yg sekedar mewarisi ilmu syariah, tetapi ada ulama yg mewarisi ilmu
syariah dan ilmu hakikat, maka dialah para Wali Allah, yg menjadi bintang yg
menerangi. Siapapun Wali yg kalian ikuti ( ada 124.000) maka dialah guru yg
sebenarnya. Dia akan membimbing kalian menuju yg haqq. Tanpa ketakutan akan
dunia, politik, uang dll.
Imam Hanafi memiiki 900 guru, 300 guru yg mengajarkan Syariah/Fikih/Hukum
Islam dan 600 adalah guru yg mengajarkan Tasawuf/Hakikat/Jalan Sufi. Dijaman
Sayidina Ali ra Karamawlahu wajhah, beliau berkeliling ke 200 masjid utk
melihat para Kotib Kutbah Jumat, dari 200 Ulama hanya 2 yg tetap diijinkan
untuk berkutbah, mengapa??? Karena meskipun mereka menyampaikan kebenaran, atau
menyampaikan quran dan hadist, tetapi bila disampaikan tidak dengan hikmah,
bila disampaikan dengan Ego, maka yg mendengarkan akan terbakar dalam ego, utk
mengerjakan kebaikan.
Jadi tidaklah aneh, bila sebaiknya dipilih ulama2 Khos untuk duduk, Ulama yg
juga Wali Allah, Ulama yg Jujur dan tidak berkepentingan terhadap POLITIK.
Keikhlasan dan Politik tidaklah serasi sebagaimana Iman dengan Penipuan.
salam, arief hamdani
Naqshbandi Haqqani Sufi Way
www.mevlanasufi.blogspot.com
Anis Masduki <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam,
Saya postingkan dari milis sebelah. Sori jika tidak tercantum sumber
beritanya, barangkali ada teman-teman yang bisa mendukung dan
melengkapinya...
Saya pikir berita di bawah ini keanehan MUI, dan akan banyak lagi
keanehan-keanehan yang akan terjadi...MUI memang aneh!! ;)
salam,
am
Ketua MUI: Kita Butuh Ulama, Bukan Ilmuan Ketua Majelis Ulama
> Indonesia (MUI) KH. Kholil Ridwan menyatakan, semestinya tradisi
> keilmuan dalam Islam melahirkan ulama, bukannya ilmuan. Sebab, antara
> ulama dengan ilmuan itu tidak sama. Menurutnya, ulama itu mempunyai
> kepekaan terhadap kondisi akidah umat, berjuang dengan ikhlas, tidak
> ingin popularitas, tidak menghallakan segala cara demi kekuasaan,
> apalagi mau disetir oleh pemikiran asing atau yang lebih buruk
> meninggalkan Islam itu sendiri.
> > "Tradisi ilmu dalam Islam itu melahirkan ulama. Ulama berbeda
> dengan ilmuan, " ujar KH. Kholil Ridwan di sela-sela acara Tasyakur 5
> tahun Institute for Study the Study of Islamic Thougth and
> Civilization (INSISTS) di Depok.
> > Dijelaskannya, sosok ulama punya tanggungjawab keilmuan, moral, dan
> agama kepada Allah Swt. Sedangkan ilmuan bisa bebas dari nilai-nilai
> agama, moral, ataupun tidak beriman kepada Allah sekalipun.
> > "Ulama dalam menyampaikan ilmunya harus berangkat dari iman. Jadi
> ia punya tradisi keimanan dan keilmuan secara berbarengan. Bebeda
> dengan ilmuan. Ia bisa bicara dan berbohong tergantung kemauannya
> karena tidak terikat iman, " papar pengasuh pesantren Husnayain itu.
> > Ia mengungkapkan, dalam hadis Nabi Muhammad Saw juga disebutkan,
> bahwa ulama itu pewaris para nabi. Jadi bukan ilmuan yang mewarisi
> kenabian. "Al-'Ulama waratsah al-Anbiya. Di situ jelas sekali ulama
> yang ditunjuk Nabi sebagai pewaris para nabi, bukan semua orang yang
> berilmu, tapi harus punya dan menjaga imannya, " sambung dia.
> > Karena itu, Kyai Kholil berharap ke depan lahir ulama-ulama yang
> betul-betul mewarisi tradisi keilmuan yang dijarakan para nabi
> sebagaimana yang pernah dilakukan oleh ulama-ulama kita, bukannya
> mengikuti cara berpikir Barat.
> >
> > -----
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]