Yth. teman-teman mail-list KMNU

Saya melihat Fazlur Rahman, sama dengan tokoh yang lain, bukan sebagai seorang 
yang sempurna. Bahkan saya mengkritrik dia mengenai sikapnya terhadap Hadith. 
Saya juga sampai derajat tertntu mengagumi al-Jabiri. Tapi saya harus 
menghindari dia ketika dia bertekuk lutut tanpa daya di hadapan Ibn Rusyd.  
Artinya, jika saya menganggap pas untuk dijadikan bahan rujukan, maka saya 
pakai, jika tidak kita buang. Namun saya bukan seorang eklektik, saya tetap 
berusaha untuk mengembangkan sendiri motode yang pas. Karena itu saya coba 
sandingkan dan sekaligus modifikasi dengan, misalnya, dekonstruksi Derida atau 
al-Jabiri. Berdasarkan hal itu, saya melihat keberagamaan umat, Islam historis, 
tidak dalam oposisi biner. Justru saya ingin mengembangkan wacan alternatif, 
yang tidak membalik persoalan. Sebab jika sekadar membalik, hannya menimbulkan 
persoalan baru. Sebagai misal, saya tidak melihat perempuan lawan laki-laki, 
atau kyai organik lawa non-organik, yang terjajah menjadi penjajah dst...
Atas dasar itu, saya melihat kyai karbitan  bukan hanya merujuk kepada oknum 
per oknum tapi merupakan fenomena menguat dari saat ke saat, yang sama-sama 
mengembangkan wacananya sejalan dengan wacana yang dikembangkan kyai model 
lain. Melalui pembacaan semacam itu, apa yang saya ungkap bukan sebuah titik 
akhir, tapi sebuah proses terbuka. Masing-masing dengan kelebihan dan 
kekurangannya. Persoalannya, siapa yang tidak menyadari kekurangannya, maka 
dia/ mereka akan tergilas zaman.
OK, terima kasih komentarnya.
Selamat bekerja

abd a'la


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke