Jurnal Sairara:
MENUJU SARAWAK [2]
"Smoothly and lightly the golden seed by the furrow is cover'd;
Yet will a deeper one, friend, cover thy bones at the last.
Joyously plough'd and sow'd! Here food all living is budding,
E'en from the side of the tomb Hope will not vanish away.
[Goethe. "To The Husbandman", 1789].
Dengan latar belakang keadaan seperti di atas, apalagi setelah berjumpa dan
berbincang dengan teman-teman sesama Dayak dari Sabah dan Sarawak mengenai
persoalan-persoalan masing-masing, maka aku menetapkan, sesudah berkeliling
Kalteng , harus menuju Sarawak. Lebih-lebih di Kuching terdapat Museum Dayak
terbesar dan perpustakaan tentang Dayak yang cukup penting. Sementara Museum
Dayak di Palangkaraya sama sekali tidak bisa dibilang membanggakan selain
megahnya gedung dan luasnya halaman, untuk tidak mengatakannya terlalu miskin
dan tidak padan untuk mengenal Kalteng, khususnya Dayak Kalteng. Pengunjungnya
pun lebih sepi daripada yang datang ke Perpustakaan Daerah dan perpustakaan
beberapa universitas. Museum dan perpustakaan belum nampak dirasakan sebagai
suatu keperluan yang niscaya. Apakah keadaan begini bukannya mencerminkan
sekaligus tingkat taraf pendidikan di suatu daerah atau nasion? Jika Martin
Luther King Jr. berkata: "I have a dream", aku pun sebenarnya
mempunyai mimpi tentang Dayak dan Indonesia. Mimpi yang bertolak dari hutang
moral dan cinta pada kampung-halaman karena ia telah mengasuhku dengan cinta
pula, cinta yang seperti dikatakan oleh Goethe:
"E'en from the side of the tomb
Hope will not vanish away".
Dari rahim cinta begini pulalah maka lahir mimpiku yang bernama keinginan
melihat "Manusia Dayak Dan Manusia Indonesia Bermutu Dan Tanggap Zaman".
Manusia yang berdiri di kampung halaman memandang tanahair merangkul bumi.
Museum dan perpustakaan yang sepi, pendidikan yang sebenarnya hak warganegara
diperdagangkan, diam-diam kurasakan bagai sebilah badek tajam beripuh menohok
ulu hati seorang pemimpi yang dikutuk menempuh jalan selalu sepi.
Cinta seperti yang dilukiskan oleh Goethe di atas, membuatku juga selalu
menating tanya di tiap jengkal benua yang kusinggahi: Apa yang bisa kudapatkan
dari sini untukmu kampung-halaman. Bukan untuk menyontek tapi sebagai acuan,
karena menyontek lebih menunjukkan ketiadaan kreativitas dan dayapikir.
Ketiadamampuan membaca keadaan dan menjawabnya secara tanggap. Ketiadamampuan
yang serupa jalan lurus menuju lembah terjal kejatuhan. Dari perjalanan ini,
sekarang kusadari benar bahwa sesungguhnya perjalananku, perjalanan tanya,
tidak punya ujung, hanya punya awal. Aku melihat bahwa perjalanan ini yang oleh
orang Dayak Katingan disebut sebagai "tamuei", "tamuei si Kayau Pulang", salah
seorang tokoh dalam legenda Dayak, sebenarnya tidak lain dari sebuah ruang
sekolah besar untuk memahami pengalaman putera-puteri bumi demi memanusiawikan
diri sesuai misi hidup-mati "rengan tingang nyanak jata"[anak enggang
putera-puteri naga]. Aku tidak menyesali langit dan bumi ketika
ternyata kemudian aku dikutuk sejarah Indonesia, menjadi seseorang yang tidak
lebih dari "hanyalah seorang pengembara", bila menggunakan renungan Ramadhan KH
alm. Pengembaraan, kemudian kusadari sebagai bagian saja dari guratan telapak
tangan "Utus Panarung" sebagaimana hidup tak terpisahkan dari suka dan duka,
dari tangis dan tawa yang jika pandai menanganinya, akan mengeraskan tulang
serta merarakan darah. Kukira inilah makna Sairara. Selalu berwarna rara
bernama harapan yang tak obah bagai matahari . Ada. Nyata. Tapi tak teraih
tangan di kurun waktu nafas tersedia. Wahai, absurditas! Absurditas pun
merupakan bagian tak terpisahkan, kadang nampak sangat akrab dengan kenyataan
yang kita hidupi. Mimpi. Berapakah jarak mimpi dari abusditas, tapi absurditas
yang tidak bisa tidak dimiliki untuk menjadi kandil di bukit ketika melangkah
di kegelapan.
Aku melihat keadaan di dunia pendidikan, kebudayaan dan bidang-bidang lain,
termasuk kebingungan manusia Dayak kekinian, hanyalah merupakan hasil dari
pilihan politik penyelenggara Republik Indonesia. Karena itu, waktu berada di
tengah konflik etnik tahun 2000 di Kalteng, yang memakan korban nyawa dan
hartabenda tidak kecil, aku mengusulkan sebagai solusi transisi , perlu
adanya "kekuasaan paralel", yaitu kesejajaran antara kekuasaan Masyarakat Adat
dan kekuasaan republik yang sering "ngaco" dan tak berdaya. Sebelum RI berdiri,
masayrakat lokal, cq. Kalteng, mampu mengurus diri mereka dengan baik,
menggunakan sistem dan nilai-nilai yang mereka punya . Sementara pilihan
politik dan penerapannya oleh penyelenggara negara yang mengelola RI sejak 1966
telah mencoba menghancurkan secara total nilai-nilai dan sistem ini. Cukup
berhasil tetapi tidak total. Secara kebudayaan berbarengan dengan eksploatasi
liar [savage exploitation, l'exploitation sauvage] sumber daya alam
Kalteng, bersama-sama remuk. Bukan hanya babakbelur. Hutan perawan jadi padang
pasir, sungai dipenuhi air raksa. Karena itu , aku pernah usulkan tambang emas
Hampalit dekat Kasongan, ibukota kabupaten Katingan, aku usulkan dijadikan
"museum alam bagi "keberhasilan pembangunan" Orba. Adanya museum alam begini,
akan membuat yang datang dan generasi berikutnya melihat "jasa" Orba di
propinsi ini. NKRI yang sentralistik dan otoriter bukan hanya sangat berdarah
secara harafiah, tetapi juga melakukan masakre terhadap pikiran dan mentalitas
anak bangsa ini. Siapa pun yang jadi presiden pda dewasa ini dan tahun
berikutnya tidak akan gampang seperti membalik telapak tangan mengelola dan
menata ulang Republik ini. Lebih-lebih jika konsep republik dan keindonesiaan
dijadikan sampiran politik.
Untuk pergi ke Sarawak, mau tidak mau aku membeli tiket pesawat ke Jakarta
dari Palangka Raya dulu. Baru kemudian ke Pontianak. Hubungan udara langsung
atau darat Palangka Raya-Pontianak tidak ada sekali pun berada di satu pulau.
Jika mau ke Pontianak dari Palangka Raya, pertama-tama perlu menggunakan bus ke
Pangkalan Bun, dan kemudian dari Pangkalan Bun menggunakan pesawat kecil
disebut pesawat DAS, bermuatan maksimal 10 orang, ke Pontianak. Keadaan begini
masih jauh lebih baik dibandingkan pesawat milik misionaris Katolik yang hanya
bermuatan empat orang, lima dengan pilotnya, untuk mencapai tempat-tempat di
pedalaman Papua Barat yang pernah kutumpangi untuk mencapai puncak-puncak bukit
di Papua Barat Dalam perjalanan yang kulanjutkan dengan jalan kaki naik turun
gunung dan jalan berlumur, kuketahui bahwa babi di pedalaman Papua Barat
berfungsi sebagai salah satu ukuran status sosial. Di sini aku juga melihat
betapa babi Papua yang makan ubi, nampak lebih sehat
segar dan lincah dibandingkan dengan penduduk Papua sendiri walau pun
memiliki alam kaya raya.
Aku melihat alam negeri ini sebenarnya sejak lama keras menyindir Republik
dan Indonesia. Malangnya, tak sedikit di antara anak negeri ini yang sudah
kebal pada sindiran dan kata yang menuturkan kenyataan. Hingga terkadang
kejujuran dipandang sebagai kejahatan. Oleh keadaan ini, aku sering merasa
terlanjur bersekolah dan bisa membaca aksara. Mengapa aku tidak jadi bandit dan
penjahat saja? Tokh ukuran benar salah pada zaman ini menjadi sangat nisbi.
Tuhan dan para dewa diajak berintrik ketika uang menjadi raja.
Melihat dengan mata kepala sendiri keadaan di daerah, aku hanya bisa merasa
sakit di hati. Daerah yang kaya raya, penduduknya hidup dalam kondisi
mengibakan. Babi lebih sehat dari manusia. Lalu salahkah jika kukatakan bahwa
sampai sekarang, jika menggunakan istilah Shakespeare dalam drama "Hamlet"nya:
"there is something wrong in the State of Danemark" dan "Denmark itu bernama
Indonesia? Bahkan aku sering berpikir, apakah negeri ini, bukannya dikuasai
oleh Brutus , salah satu tokoh Shakespeare dalam drama Julius Cesar, yang turut
berintrik membunuh Julius Cesar, sehingga RI pada dasarnya adalah Negara
Brutus? Apakah Brutusisme, Malinkundangisme, anak yang sanggup tak mengakui
ibunya, bukan merupakan nilai dominan, apalagi untuk zaman sekarang?
Brutusisme sangat rasuk [compatible] dengan globalisasi kapitalis? Malinkundang
dan Malinkundangisme apakah bukan produk dari suatu dasar ekonomi tertentu?
Betapa pun amburadulnya kampunghalaman, bagiku ia masih saja merupakan
negeri di mana kita tetap bisa berharap. Harapan cinta ini seperti pada 1789,
tahun resah di Eropa tapi Goethe masih berkata:
"E'en from the side of the tomb
Hope will not vanish away".
Dengan harapan cinta beginilah maka aku terus melangkah jatuh-bangun, jika
jatuh aku berdiri kembali sambil mengebaskan bekas-bekas kejatuhan dan
kekalahan lalu tertawa mengejek diri:"Khoq lu sampai jatuh sih?". Harapan cinta
inilah yang mengajakku ke Sarawak melalui Jakarta dan Pontianak.
Paris, Musim Dingin 2008.
------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
[Berlanjut...]
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]