ini contoh pendidikan bagi rakyat ala gus Dur. nggak ngomong thok...tapi dengan 
tindakan dan teladan......gak kayak kethoprak model idatan negara dan 
dpr....hehe....

http://enhidayat.multiply.com/
http://enhidayat.blogspot.com/

  ----- Original Message ----- 
  From: Mukhlisin 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, February 20, 2008 8:29 AM
  Subject: [kmnu2000] Gus Dur "Kethoprakan" di Ciganjur


  Gus Dur "Kethoprakan" di Ciganjur
  Sabtu, 9 Februari 2008 16:55
  Jakarta, NU Online
  Mantan presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menyelenggarakan 
  pagelaran seni budaya rakyat di lapangan Pondok Pesantren Ciganjur, 
  Jakarta Selatan. Tidak seperti biasa, pagelaran seni Jum'at (8/2) tadi 
  malam bukan wayang tapi kethoprak dari Jawa Timur.

  Kisah yang dipilih adalah tentang "Berdirinya Masjid Demak" yang 
  dimainkan oleh grup kethoprak Mitra Remaja dari Nganjuk, Jawa Timur.

  Aris Junaidi, ketua panitia acara saat mememberikan kata sambutan 
  mengatakan, Gus Dur bercita-cita terus mengembangkan berbagai bentuk 
  seni budaya tradisional.

  "Orang Jakarta jarang yang tahu kethoprak, dikiranya lontong campur 
  sayur," katanya disambut tawa hadirin. Gus Dur sendiri sudah bersiap di 
  kursi depan meyaksikan bagaimana masjid Demak "didirikan" oleh para 
  pemain kethoprak.

  Ada bagian cerita yang sangat menegangkan yakni pada saat Raden Patah 
  dan rombongan akan pulang ke Ampel dihadang oleh segerombolan perampok 
  di hutan salam. Terjadilah pertempuran sengit yang kemudian dimenangkan 
  oleh Raden Patah.

  Terjadilah dialog soal ketuhanan yang sangat vulgar dan mendalam. Para 
  perampuk pun akhirnya bertaubat dan justru menjadi pengikut Raden Patah.

  Kisah "Berdirinya Masjid Demak" memberikan gambaran betapa sulit para 
  ulama dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di bumi Nusantara. Para ulama 
  misalnya harus bisa merubah kebiasaan biadab berupa sesembahan manusia 
  untuk meminta hujan.

  Ada yang khas bahwa para ulama menyebarkan Islam dengan sangat arif, 
  menghargai nilai-nilai lokal. Nilai-nilai yang tidak bermanfaat dibuang 
  dan digantikan dengan Islam, atau beberapa tradisi yang baik tetap 
  diberlakukan dengan menambahkan sedikit unsur keislaman.

  Dan Masjid Demak pun akhirnya berdiri megah dengan tatal (potongan kayu) 
  yang diikat dengan rumput, bacaaan bismillah, dan shalawat. Percaya atau 
  tidak, demikianlah kethoprak dan lihat bagaimana arsitektur Masjid Demak 
  sekarang ini.

  Sebagian penonton dari Jakarta yang tidak faham dengan dialog-dialog 
  dalam bahasa Jawa itu mau tidak mau harus faham karena dialog apapun 
  dalam kethoprak tadi malam selalu dipadu dengan aksi teaterikal yang 
  sederhana dan mudah dicerna.

  Sesekali ditampilkan selingan yang membuat ger-geran. Diselipkan pemeran 
  rakyat biasa yang tidak ada kaitan dengan alur cerita, namun mereka 
  pintar mengcok perut penonton, dan lagi, bisa berbahasa Indonesia. (nam)


   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke