Siang ini saya menyaksikan sebuah tayangan televisi tentang khazanah
budaya Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta. Acara tersebut
menampilkan tatanan upacara adat dari sebuah suku tertentu, sejenis ritual
pemberian nama anak. Saya kurang hafal nama tempat dan dimana letak dari
perkampungan suku itu, namun saya hafal nama upacaranya kalau tidak salah,
yaitu ulu balehe (kurang lebih begitu).
Salah satu susunan upacara adat tersebut adalah menyirami tubuh sang ibu yang
bayinya tengah menjalani prosesi upacara. Dalam acara tersebut ada tayangan
ketika si ibu tadi telanjang setengah badan dan menyirami tubuhnya dengan air
dari sebuah bejana. Dalam acara itu pihak televisi atau dari si pemilik acara
berani menampilkan daerah bagian payudara si ibu, tanpa ada sensor atau apapun
seperti efek blur atau blok hitam yang menutupi dadanya.
Menyaksikan tayangan tersebut membuat rekontruksi ulang pemikiran saya tentang
apa itu yang disebut dengan pornografi dan pornoaksi media. Nyatanya pada ranah
adat dan kebudayaan, wilayah yang biasanya paling getol terkena sensor menjadi
sangat biasa untuk ditayangkan di muka publik, bahkan pada saat siang hari,
alias jam primer rakyat Indonesia menonton televisi, bukan saja bagi orang
dewasa melainkan juga anak-anak.
Tapi yang saya pikirkan ketika itu bukan masalah tayangan atau acara
televisinya, melainkan jika saja sang ibu yang telanjang itu bukan wanita
berkulit coklat kehitam-hitaman dengan payudara yang kendur serta tidak
berwajah superstar, boleh jadi diganti dengan salah satu VJ MTV Rianti, atau
para selebritis lainnya yang suka tampil seksi (mis: Sarah Azhari, Julia Perez,
Catherine Wilson, dsb), maka apakah tubuh bugil mereka dengan payudara polos
terbuka akan tetap ditampilkan? Saya jadi bertanya-tanya sekaligus penasaran.
Jika memang dalam ranah budaya, adat atau ilmiah sekalipun boleh menayangkan
secara terbuka dan gamblang daerah organ vital wanita, ya kenapa tidak,
sekali-kali pihak televisi mengganti lakonnya dengan perempuan-perempuan
sekaliber yang saya sebutkan diatas serta ditayangkan pada jam-jam primer,
hitung-hitung memertaruhkan kredibilitas dan konsistensi dari orang-orang yang
suka memisahkan antara pornografi dan pornoaksi media dengan agama dan budaya
serta adat masyarakat.
ps:
Kemungkinan saya akan betah di depan televisi pada waktu kerja, agar dapat
melihat seleb-seleb perempuan itu telanjang
---------------------------------
Rise to the challenge for Sport Relief with Yahoo! for Good
[Non-text portions of this message have been removed]