Bismilahirrahmanirrahiim

Belajar dari kesalahan petinggi2 Masyumi dulu, dimana Masyumi ingin mendirikan 
negara Islam di Indonesia yang plural

Petinggi2 Masyumi tidak memperhatikan perintah ALLAH bagaimana bermasarakat 
yang plural dan damai.

Dalam al Quran dijelaskan bahwa Rasul harus berlaku adil dan berkasih sayang 
dgn umat non islam Dhimmi.QS.60:7-8 dan QS.5:8.

Petinggi2 masyumi ingkar akan perintah2 ALLAH diatas, akirnya masyumi tdk 
mendapat bantuan dari ALLAH, kemudian di bubarkan oleh pemerintah.

Jadi dlm negara yang plural, harus berkerja sama dgn adil dgn orang2 non islam 
dhimmi, tidak boleh diskriminasi karena berbeda agama dan keyakinan.

Kalau PKS mau belajar dr keslahan2 Masyumi dulu, maka seyokyanyalah PKS harus 
menjadi PARTAI TERBUKA, sebagaiman PAN, PKB GOLKAR dll.

wassalam

kader cikarang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                               PKS, 
Partai Buka-Tutup, Menanti Krisis
 
 Laporan Aboeprijadi Santoso
 
 29-02-2008
 Pendiri Partai Keadilan Sejahtera PKS, Mashadi, cemas, PKS tak akan mampu
 mencapai perolehan suara sebanyak 20 persen dalam pemilihan umum 2009.
 Dengan demikian PKS akan kesulitan untuk mencapai target yang pernah
 diputuskan yaitu ikut mengendalikan Negara pada tahun 2012. Sejumlah survey
 belakangan ini memang menunjuk pada keunggulan popularitas partai-partai
 sekuler, atau yang tidak berbasis agama. Kemerosotan inilah yang menimbulkan
 kontroversi gagasan PKS tetap
 sebagai partai dakwah alias partai tertutup, ataukah menjadi partai terbuka.
 Banyak petinggi PKS di DPR tergoda politik uang, demikian ujar Mashadi
 kepada Radio Nederland Wereldomroep.
 
 Mashadi: "Kami belum bisa mengklaim bahwa ada sebuah sukses yang kami capai
 karena kami baru memulai dan kemampuan kami juga masih sangat terbatas di
 dalam keterlibatan kami terutama menyangkut masalah pengelolaan negara."
 
 Berpendidikan Tinggi
 
 Partai Keadilan Sejahtera, PKS, yang dulu bernama, Partai Keadilan, PK,
 partai Islam yang bermisi dakwah ini dikenal berdisiplin, dan menekankan
 etika dan moral Islami ini, naik daun sejak didirikan tahu 1998. Citranya
 sebagai partai yang peduli dan bersih, pernah membuatnya melesat pada pemilu
 2004.
 
 Militansinya mirip sumber inspirasinya yaitu Ikhwanul Muslimin yang awalnya
 merupakan gerakan radikal di Mesir. Dan citra partai bersih yang melayani
 kebutuhan masyarakat mengingatkan orang pada Hamas yang mengalahkan PLO
 dengan telak di Palestina.
 
 Namun, PKS bukan kumpulan ulama jebolan madrasah seperti Ikhwanul Muslimin,
 melainkan lahir dari kalangan muslim berpendidikan tinggi. PKS juga tidak
 dibesarkan dalam konteks konflik internasional seperti Hamas, melainkan
 dibesarkan di perkotaan sejak tahun 1990an, yaitu sejak partai ini digagas
 pada tahun 1996 saat pemerintahan Soeharto mulai kehilangan legitimasinya.
 
 Merosot
 
 Sekarang, citra bersih dan tangguhnya PKS itu merosot. Menurut Mashadi, dari
 faksi PKS fardiyah (pengajian) yang bertentangan dengan faksi PKS pragmatis
 yaitu politisi PKS di lembaga-lembaga negara, kemerosotan itu terjadi karena
 kader-kader partainya masih sangat kurang. Jumlah kader PKS baru 200an ribu,
 hanya satu persen dari penduduk Indonesia. Sejumlah petinggi PKS di DPR
 mengejar kuantitas, dan seperti wakil-wakil rakyat terhormat dari
 partai-partai yang lain, fraksi PKS juga tergiur oleh milyaran rupiah yang
 mengalir setiap kali dewan menggolkan rancangan undang-undang.
 
 Maka, atas desakan PKS daerah, dalam Munas PKS di Bali awal bulan ini muncul
 gagasan menjadikan PKS partai terbuka. Partai terbuka berarti terbuka bagi
 semua kelompok dan dapat berkoalisi dengan siapa saja. Tapi bagaimana
 mungkin sebutlah seorang Hindu-Bali atau Kristen Minahasa dapat menjadi
 caleg mewakili partai dakwah Islam ini? Maka akhirnya Majelis Syuro PKS
 selaku dewan paling berwenang di Partai, memutuskan tetap menyatakan PKS
 sebagai partai dakwah. Pernyataan majelis itu mengimbau "supaya tidak lagi
 mewacanakan isu "partai terbuka" untuk menghindari mudharat yang lebih
 besar".
 
 Namun ketua majelis tersebut, Ustadz Hilmi maupun Presiden PKS Tifatul
 menyatakan PKS tetap terbuka bagi kelompok non-Muslim.
 
 Buka-Tutup
 
 Maka tak heran, Munarman, mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
 Indonesia, YLBHI, yang mengaku bukan anggota PKS melainkan "pengamat dari
 dalam", menyebut sikap Majelis Syuro PKS itu gamang. "PKS sedang mengalami
 krisis ideologis, dia tidak tegas menganulir keputusan Munas
 Bali, tapi mengambil jalan tengah". Jalan tengah melalui label
 keprofesionalan dalam moto baru itu, dalam istilah Munarman, menjebak PKS
 menjadi "partai buka-tutup".
 
 Munarman, sejalan dengan Mashadi, berpendapat krisis itu dapat membuat
 partai mudah bergoyang karena tidak menegaskan Islam sebagai "perilaku yang
 memandu kepartaian". Sedangkan Mashadi menganggap dalam sejarah Indonesia
 sampai sekarang sebenarnya tak ada "partai Islam" kecuali Masyumi, yang ada
 sekarang hanya partai partai "berlabel Islam".
 
 Tetap Berambisi
 
 Namun Mashadi, pendiri PKS yang berada di luar struktur partai ini, mengaku
 tidak pesimis, dan tetap yakin akan jati diri dan strategi partainya.
 
 Mashadi: "Kami ingin bagaimana terlibat di dalam dua sektor tadi yang saya
 katakan yaitu sektor pendidikan dan sektor pertanian. Karena ini menjadi
 kunci apa yang sekarang persoalan-persoalan bangsa. Kami tidak langsung pada
 keinginan untuk mendirikan negara Islam, tapi kami ingin lebih bagaimana
 menyelesaikan persoalan-persoalan yang sekarang menjadi persoalan pokok
 bangsa Indonesia ini."
 
 Dengan kata lain, PKS tetap berambisi menguasai negara dengan mengisi
 birokrasi pemerintahan, lembaga-lembaga publik dan ormas-ormas, dengan kader
 kadernya, dengan berpanut pada Syariah Islam. []
 
 http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pks_menanti_krisis080229
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                               

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke