Syeikh Al-Farran: Ulama Syafi'iyah pasti Hargai Perbedaan Pendapat
Rabu, 12 Maret 2008 08:09

 Jakarta, NU Online
Syeikh Ahmad Mustafa al-Farran, penulis kitab “Tafsir Imam Syafi’i”
mengatakan, para ulama penerus Imam Syafi’i (Syafi’iyah) pasti akan
menghargai berbagai pendapat yang berkembang di kalangan umat Islam.

Hal tersebut dikatakannya saat bersilaturrahim ke kantor Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Selasa (11/3). Kunjungan syeikh yang
mengajar di salah satu madrasah aliyah di Riyadh itu juga bermaksud untuk
mengenalkan kitabnya kepada NU, organisasi Islam terbesar di dunia yang
mayoritas anggotanya menganut madzab Imam Syafi’i.

“Para pengikut Syafi’i pasti akan berpandangan bahwa pendapat kami ini
benar tapi mungkin juga salah, sementara pendapat orang lain itu menurut
kami salah tetapi mungkin juga benar,” kata Syeikh al-Farran mengutip
kalimat populer yang pernah dilontarkan Imam Syafi’i.

Syeikh al-Farran pada kesempatan itu berbincang sangat akrab dengan Rais
Syuriah PBNU DR KH Masyhuri Naim dan KH Artani Hasbi tentang organisasi
NU, tentang dunia keilmuan fikih di Timur Tengah, dan terutama tentang
keahlian yang luar biasa.

Kiai Masyhuri Na’im mengatakan, Imam Syafi’i menjadi rujukan para ulama
dan intelektual Islam tidak hanya di bidang fikih, tetapi juga dalam hal
tata bahasa dan cara memahami teks. Makanya tidak heran kalau hampir semua
fikih dijarkan di pondok pesantren adalah karya Imam Syafi'i dan para
penerusnya. “Pokoknya tidak ada habisnya membahas keunggulan Imam
Syafi’i,” katanya.

Syeikh al-Farran menceritakan, bukunya Tafsir Imam Syafi’i yang telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indoensia oleh penerbit Islam di Jakarta,
Almahira, adalah disertasinya yang dikerjakan selama 4 tahun.

Dikatakan dirinya tidak sekedar mengkaji pemikiran imam Syafi’i tetapi
juga ingin mewarisi keahlian ulama besar itu. Kiai Masyhuri Naim dalam
kesempatan berseloroh menyebutnya sebagai ‘Syafi’i kecil’.

Pada kesempatan itu PBNU mengenalkan dua kitab baru berbahasa Arab karya
ulama dan intelektual muslim asal Indonesia kepada Syeikh al-Farran, yakni
Al-Hujaj al-Qatiyyah fi Shihhatil Mu’taqidat wal ‘Amaliyyat an-Nahdliyyah
karangan KH Muhyiddin Abdusshomad tentang dasar-dasar amaliyah dan ibadah
warga NU dan Audlohul Manahij karya H Agus Shihib Khoironi di bidang
gramatika Arab. (nam)



Kirim email ke