Samudra-samudra Pengetahuan Nabi Muhammad saw
Mawlana Syaikh Nazhim Adil al Qubrusi al Haqqani
Cyprus, April 2, 2003
Bismillah hirRohmaanir Rohim
Subhanaka! Subhanaka! Subhanaka!
Halaman-halaman baru. Halaman-halaman yang tak terbatas. Semua yang dimiliki
Allah Yang Maha Agung adalah tak terbatas. Jika kalian mampu untuk menemukan
suatu limit atau batas dari bilangan, kalian boleh untuk berbicara sedikit
tentang karunia-karunia Allah
Taala. Karena itulah, Allah Azza wa Jalla mengatakan bahwa seandainya
samudera dan lautan menjadi tinta, dan pohon-pohon menjadi pena untuk menulis,
maka itu semua
hanya akan menjadi setitik zarah kecil dari pengetahuan surgawi yang dimiliki
Allah Taala. Dan tinta tersebut akan habis, bahkan jika seandainya kalian
membawa tujuh samudera bukan hanya satu samudera.
Bahkan seluruh samudera yang menjadi tinta itu akan habis dan kering, sedangkan
pengetahuan dan ilmu yang Allah Subhanahu wa Taala terus karuniakan pada
Penutup Para Nabi yaitu Nabi Muhammad saw, tak akan pernah habis, karena
beliaulah satu-satunya yang berbicara mewakili Allah Taala yang pertama.
Allah Taala tak pernah
berbicara pada siapa pun yang lain dalam Hadirat Ilahiah-Nya kecuali pada dia
yang paling terhormat di antara seluruh ciptaan, Sayyidina Muhammad saw.
Tak seorang pun mampu mendekati Hadirat Ilahi seperti Penutup para Nabi saw.
Allah Taala mula-mula menciptakan ruhnya, ruhnya yang berkilau bercahaya, dan
ruh tersebut adalah nur. Dan dari nur tersebut, Allah menciptakan! Segala
sesuatu diciptakan
(oleh-Nya) dari nur tersebut. Tak seorang pun atau apa pun mampu mencapaii
langsung esensi (Dzat) dari Allah Subhanahu wa Taala. Tak ada yang dapat
mencapainya, tak mungkin!!.
Hanya melalui Penutup para Nabi ringkasan dan esensi dari seluruh ciptaan
adalah bersama beliau. Itu telah dikaruniakan pada beliau, dan karunia tersebut
terus berlanjut bagi beliau tanpa berhenti, mengalir tak pernah berhenti atau
terputus, tidak!
A'udhu billahi mina-sh-shaitani- r-rajim, bismillahi-r- Rahmani-r- Rahim. La
haula wa la quwatta illa billahi-l 'aliyyi-l 'adhim.
Sultan-ul-Arifin Aba Yazid al-Bisthami, semoga Allah merahmatinya, (berkata)
untuk menjaga dan memelihara zikir mereka, untuk menjaga tetap mengingat
mereka, untuk berusaha selalu bersama dengan para pewaris dari Penutup para
Nabi, untuk berusaha agar ruh kalian berada dalam samudera-samudera dari
ruh-ruh suci mereka; karena setiap orang dari mereka Awliya (para Waliyyullah
kekasih Allah), para pewaris dari Penutup para Nabi, para Grand Wali (Wali-wali
besar) tersebut telah dianugerahi samudera-samudera pula.
Tetapi, samudera-samudera milik mereka, bahkan seandainya seluruh samudera
milik para Nabi dan Wali dikumpulkan bersama dan disatukan, jika itu semua
dibandingkan dengan apa yang telah dianugerahkan pada Penutup para Nabi,
hanyalah bagaikan setetes air yang
menempel di ujung jarum ketika kalian mencelupkan jarum itu sesaat ke dalam
suatu samudera. Hanya seperti itulah perbandingan sel uruh samudera (milik para
Nabi dan Wali) dengan samudera milik Penutup Para Nabi saw.
Dan seluruh Awliya dan para Wali, terutama Grand Wali, Grand Syaikh,
orang-orang pada barisan pertama, yang dekat dengan Penutup para Nabi,
Sayyidina Muhammad saw, mereka mengambil secara langsung dari beliau dan mereka
telah diberi lebih banyak dari yang lain. Dan ruh-ruh mereka tengah meminum
air dari samudera-samudera itu dan ruh-ruh mereka pun menjadi
samudera-samudera. Ruh dari setiap orang dari mereka adalah bagaikan sebuah
samudera dan hanya Nabi saw yang mengetahui apa yang ada dalam samudera
tersebut.
Allah tentu saja mengetahui segala sesuatunya; tetapi, pada maqam dari ciptaan
(makhluq), apa yang telah dikaruniakan pada seluruh Nabi, dan demikian pula pada
para Nabi-nabi besar, Awliya besar, Syaikh-syaikh besar mereka yang berada
pada saf pertama pewaris Rasulullah saw hanya Nabi saw, lah yang mengetahuinya.
Dan apa yang berada dalam samudera milik setiap orang, mereka mengetah uinya,
demikian pula Nabi saw mengetahuinya.
Karena itulah, mereka memiliki alam semesta-alam semesta, awalim,
ciptaan-ciptaan dalam samudera-samudera mereka. Dan ciptaan tersebut adalah
suatu karunia dari Penutup para Nabi saw. Dan karunia Tuhannya bagi dirinya
terus bertambah lebih banyak dan lebih banyak, dan karunia tersebut tidaklah
tetap sama. Allah Taala berfirman: Wahai hamba-Ku yang tercinta! Wa ladaynaa
maziid! Aku memberi dan tak akan pernah berhenti. Apa yang Ku-karuniakan padamu
tak akan pernah berakhir. Karena itulah, apa yang
dikaruniakan pada RasulAllah saw ketika beliau bersama kita, tidaklah sama saat
ini. Setiap detik, setiap tarikan nafas, karunia tersebut digandakan oleh Allah
Subhanahu wa Taala.
Karena itulah, ketika kami berkata tentang Aba Yazid al-Bisthami (r.a.):
Jagalah Auliya, berusahalah untuk berada bersama mereka, bahkan sekalipun
hanya dengan nama-nama mereka dan dengan asosiasi/majelis mereka. Saat kita
menyebut nama-nama mereka, suatu kasyf atau pembukaan datang pada diri kita.
Tidak kosong. Nabi saw mengatakan bahwa saat kita menyebut orang-orang yang
salih para Wali, Grand Wali, para Nabi, Nabi-nabi Besar, dan Penutup para Nabi,
tanzil-ur-Rahmah , rahmah dari samudera-samudera rahmah akan mendatangi diri
kita. Karena itulah, manakib-ul-aulia (pembacaan kisah para Wali) ada.
Quran Suci menyebut pula nama-nama para Nabi, karena setiap kali kita menyebut
nama mereka, rahmah yang berlimpah dari samudera-samudera rahmah mengaliri diri
kita. Karena itulah, diulang berkali-kali (dalam Quran) akan apa yang terjadi
pada Bani Israil, apa yang terjadi pada Sayyidina Adam, apa yang terjadi pada
Sayyidina Nuh, apa yang terjadi pada Sayyidina Ibrahim dan pada Nabi-nabi lain.
Ini adalah untuk menerima kemuliaan dari mereka, untuk mengambil bagian dari
nur mereka, dari cahaya-cahaya ilahiah milik mereka, agar datang pada dirimu.
Dan ini
adalah suatu persiapan bagi kalian untuk kehidupan abadi kalian, karena
keabadian dapat menampung sebanyak apa pun yang telah dikaruniakan pada kalian,
tanpa batas. Mereka yang berada pada (atau berusaha untuk) kehidupan abadi dan
memiliki target untuk meraih keabadian, mereka boleh meminta lebih dan lebih
tak terbatas.
Sama seperti suatu pesawat terbang yang tengah terbang melayang semakin banyak
petrol (minyak bahan bakar) yang kita isikan ke dalamnya, semakin lama ia akan
terbang, tak pernah berkata cukup, tidak! Sebanyak yang kita isikan ke
dalamnya, ia akan terus terbang. Dan ruh-ruh kita dalam Hadirat Ilahiah, jangan
berpikir bahwa ruh-ruh terebut diam berhenti mereka berlari dan berenang
melalui samudera-samudera yang tak terkira banyaknya. Semuanya itu milik dari
keabadian.
Karena itu, adalah suatu perintah sohbet, asosiasi kalian harus menjaga jalur
(hubungan) dengan mereka secara langsung. Hubungan itu akan mengalir melalui
wujud sejatimu. Jangan berpikir bahwa ini (tubuh wadag kasar kita) adalah wujud
kita yang sejati. Ini
hanyalah suatu bayangan dari wujud sejatinya. Wujud sejati tersbut, dunia ini
tak mampu menampungnya. Karena itulah, Pemimpin Malaikat Jibril (as)
kadang-kadang datang dalam bentuk seorang laki-laki, dan kita berkata Jibril
(as) baru datang.
Apakah ia meninggalkan maqam (posisi)nya dan datang ke sini? Saat ia datang
pada Nabi, apakah maqamnya kosong ia tinggalkan? Apakah ia datang dengan wujud
sejatinya? Bagaimana mungkin? (Apa yang nampak datang) hanyalah perwakilan
(dari wujud sejatinya), sebagai suatu bayangan dalam bentuk seorang laki-laki.
Wujud sejatinya tak pernah bergerak ke sini dan ke sana dari Hadirat Ilahi. Tak
pernah! Tak seor ang pun yang
matanya dapat melihat ke sana-sini! Apakah kalian pikir bahwa adalah wujud
sejati Penutup para Nabi yang pernah bersama kita (saat beliau hidup, red)?
Bagaimana mungkin dunia ini dapat menampungnya? Seluruh ciptaan akan lenyap
jika wujud sejati beliau termanifestasikan untuk eksis di sini. Tak ada lagi
ciptaan, segala sesuatunya akan lenyap dalam samudera-samudera beliau, tak ada
yang akan pernah
muncul. Tetapi segala sesuatunya, melalui Hikmah Ilahiah, telah diatur dan
diprogram. Tak seorang pun tahu bagaimana keadaannya dan bagaimana ia wujud,
tidak! Kita berada pada maqam kedudukan kita, dan Firman Ilahiah datang
mula-mula pada Rasulullah dan
kemudian pada kita. Jika seandainya Nabi tidak menjadi perantara (mediator),
Wahyu Ilahiah akan membakar segala sesuatunya di muka bumi ini. [Syaikh membaca
ayat]
"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quraan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan
perumpamaan- perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir."
[Surat al-Hashr, 21]
Karena itulah, orang-orang jahil yang berpikiran sempit itu masih pula
mengatakan bahwa Sayyidina Muhammad saw hanya seperti seorang tukang pos
hanya membawa dan menyampaikan suatu pesan. Betapa bodohnya! Dan kebodohan ini
kini menjalar ke seluruh dunia Islam, di Timur dan di Barat. Mereka sama sekali
tak memahami hikmah diutusnya Sayyidina Muhammad dan karunia Quran Suci bagi
beliau. Gunung-gunung tak mampu memikul (beban ini); tapi, hanya kalbu dari ia
yang paling berkilau bercahaya dan paling mulia-lah yang mampu untuk memikul
berat dari Wahyu Ilahiah. Bagaimana mungkin kalian mengatakan bahwa ia telah
habis dan mati sekarang, kemudian kita bisa bersama Allah tanpa Muhammad saw.
Kebodohan macam apa ini yang kini kita tengah berada di dalamnya?
Karena itu, begitu banyak masalah berdatangan pada orang-orang itu. Ya, memang
ini adalah suatu samudera yang demikian dalam yang kami tengah coba untuk
tunjukkan bagimu; kita tak mampu mencapainya. Aba Yazid al-Bisthami semoga
Allah merahmatinya, dan semoga cahaya-cahaya dari samuderanya menerangi
kalbu-kalbu kita. Kalbu-kalbu yang bercahaya, itulah kalbu-kalbu yang hidup!
Kalbu dan hati yang tak
bercahaya, itulah hati yang mati, kalbu yang terkunci. Karena itulah,
kalbu-kalbu dari begitu banyak ulama besar tengah terkunci. Mereka tidak
memahami apa yang kalian katakan.
Terkunci! Allah membuka kalbu dan hati kita pada Awliya-Nya. Kita memohon agar
saat kita berbicara tentang Awliya, agar mereka mengaruniakan pada kita
sesuatu, yang sesuai dengan kebutuhan kita. Karena itu, inilah yang disebut
rabithah koneksi dari kalbu ke kalbu. Saat kalian mel akukan rabitah,
cahaya-cahaya Ilahiah yang dianugerahkan pada Wali tersebut, Grand Wali, atau
Nabi, atau Grand Nabi, atau Khatm ul-Anbiya, akan mengalir melalui kalbu
kalian, dan kalian akan tercahayai olehnya.
Saat kita melihat ke langit di waktu malam, kita melihat bintang-bintang yang
bercahaya; tapi, ada pula miliaran bintang yang tidak bercahaya, karena nur
itu tidak datang pada mereka. Dan hal ini serupa pula pada manusia.
Makhluk-makhluk Langit tengah melihat
manusia dan memperhatikan siapakah di antara manusia tersebut yang bercahaya
dan berkilau sama seperti ketika kita melihat bintang-bintang yang berkilau
di langit. Karena itu, rabita, koneksi, hubungan, adalah medium yang paling
penting untuk meraih
cahaya-cahaya surgawi.
Siapa yang menyangkal hal ini akan terputus, tak ada cahaya yang datang ke
kalbu mereka habis! Orang-orang, karena itu, kini tengah berada dalam
kegelapan, karena mereka tidak memiliki hubungan dengan orang-orang langit
atau dengan hamba-hamba Allah yang bercahaya yang hidup di dunia ini di antara
kita. Kebanyakan orang kini tidak peduli lagi, mereka tidak tertarik, dan
mereka senang untuk hidup dalam kegelapan mereka, dalam dunya mereka yang
gelap. Sama seperti burung-burung malam (kelelawar) yang senang untuk berada
dalam kegelapan malam. Mereka tak suka untuk keluar di siang hari, karena
mereka tak menyukai cahaya.
Dan kini, 99% orang-orang di bumi tidak mau mencari cahaya-cahaya surgawi agar
diri mereka pun bercahaya, dan mereka pun senang berada dalam dunia yang gelap,
dalam suatu atmosfer yang gelap. Karena itulah mereka melakukan begitu banyak
hal, yang jika mereka dapat melihatnya, tentu mereka tak akan mau melakukannya.
Jika hati mereka tercahayai, mereka tak akan berkelahi, tak akan bertengkar dan
mengeluh. Mereka akan berbahagia dengan apa yang telah dikarunia kan pada
mereka dari Sang Pencipta, Rabb as-Samaawaati. Tapi, kegelapan telah mencegah
dan menghindarkan mereka dari mencapai titik itu, karena mereka tak mau mencari
hubungan ke dunia spiritual (ruhaniyya) atau
hubungan dengan spiritualitas dan makhluq-makhluq surgawi di muka bumi atau di
langit.
Itulah masalahnya. Semua orang-orang yang hidup dalam atmosfer gelap ini, yang
tak mau meminta hubungan dengan makhluk-makhluk surgawi, dengan wujud spiritual
makhluk-makhluk itu, semua orang-orang ini adalah pembuat masalah.
Orang-orang di negara kecil ini tak seorang pun mengakui negara ini
mengatakan, 80 juta orang di Turki dan 200.000 di Cyprus Utara, mereka meminta
untuk bergabung dengan kelompok Negara-negara Eropa. Mereka berpikir bahwa jika
mereka terhubungkan dengan
Uni Eropa, mereka akan menjadi bahagia, mereka berpikir bahwa masalah-masalah
mereka akan selesai dan segala sesuatunya akan berjalan lancar dan indah. Ini
adalah kesalahan terbesar mereka dan kesalahpahaman; karena materi
(benda-benda) tak akan pernah memberi istirahat atau suatu kehidupan yang baik
bagi orang-orang; tak akan pernah memberi mereka suatu kehidupan yang penuh
kenikmatan dan kesenangan hayaat-ut-tayyib tak pernah!
Sama saja! Jika mereka menjadi anggota Ekonomi Eropa, mereka tetap akan
memiliki masalah-masalah yang sama, karena mereka membawa bakteria yang sama
dari penyakit mereka bersama me reka. Sekalipun mereka mungkin bergabung dengan
EU, tapi penyakit yang sama masih bersama mereka atmosfer yang sama!
Kegelapan (di sini), kegelapan (di sana)! EU tak akan pernah memberi mereka
cahaya apa pun, mereka tak akan tercahayai. Mungkin mereka akan mendapat
sejumlah besar uang, hal-hal materi, tapi mereka akan tetap tak bercahaya,
selesai. Jika masalah Iraqi telah selesai, masalah lain akan muncul karena
penyakit yang sama masih bersama orang-orang bahwa mereka menolak hubungan
(koneksi) dengan wujud yang tercerahkan, dengan orang-orang yang
bercahaya. Mereka hanya berlari mengejar kegelapan dan orang-orang gelap.
Semoga Allah mengampuni saya, dan memberikan memberikan pada kita pemahaman
yang baik, karena ini adalah suatu hal penting yang mesti diketahui
bangsa-bangsa. Seluruh bangsa dan negara telah memutuskan hubungan mereka
dengan makhluk-makhluk
langit, mereka menyangkal keberadaannya, mereka menyangkal kenabian (nubuwwah)
dan kewalian (wilayah), dan segala sesuatunya yang terkait dengan Langit, dan
mereka terjatuh dalam dunia yang gelap. Dunia gelap, ke mana pun mereka
berlari, mereka hanya akan
menjumpai kegelapan dan masalah.
Allah! Allah! Ya Rabb! Ampuni kami, Ya Rabb! Kami memohon ampun dan maaf dan
barakah-Mu. Demi kehormatan dari ia yang paling terhormat dalam Hadirat
Ilahiah-Nya, Nabi Muhammad sallAllahu alaihi wasallam, Bihurmatil habib.
Al-Fatiha
Wa min Allah at Tawfiq
wasalam, arief hamdani
www.mevlanasufi. blogspot. com
www.sufilive. com
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]