http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=328417&kat_id=23



Sabtu, 29 Maret 2008  22:06:00
Film 'AAC' Penuhi Kerinduan Umat Pada Sosok Cerdas Lagi Berakhlak

Brisbane-RoL-- Film "Ayat-Ayat Cinta" (AAC) yang mampu menyedot jutaan
orang penonton di Tanah Air mencerminkan kerinduan umat Islam
Indonesia pada kehadiran sosok pemuda Muslim yang cerdas dan begitu
fasih berbicara soal agama tetapi berakhlak mulia, kata seorang
cendekiawan Muslim di Australia.

Kerinduan umat pada kehadiran sosok seperti yang ada dalam diri tokoh
utama Fahri bin Abdullah (Fedi Nuril) itu merupakan kunci sukses novel
dan film AAC, kata Ra'is Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul
Ulama (NU) Australia dan Selandia Baru, Dr.Nadirsyah Hosen, di
Brisbane, Sabtu.

Dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Wollongong Australia itu
memaparkan pendapatnya tentang film hasil garapan sutradara muda,
Hanung Bramantyo, yang diambil dari cerita dalam novel karya
Habiburrahman El Shirazy ini dalam kata pengantar ceramahnya bertajuk
"tafsir ayat-ayat cinta" di depan forum pengajian bulanan Masyarakat
Muslim Indonesia di Brisbane (IISB).

Di dalam ceramahnya, Nadirsyah Hosen mengatakan, "ayat-ayat tentang
cinta" memang dapat ditemui di dalam kitab suci Al Qur'an. Salah
satunya adalah Surat Al Nisa ayat 69 yang memberikan kabar gembira
kepada orang-orang yang mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya (Nabi
Muhammad SAW) bahwa mereka akan bersama Nabi di surga.

Ia memaparkan bagaimana ketinggian cinta Nabi Muhammad kepada umatnya
sehingga para sahabat beliau sangat berduka saat beliau wafat karena
kehadiran Rasulullah di tengah-tengah mereka menjadi penghalang bagi
datangnya azab.

Di dalam kehidupan di dunia, setelah mencintai Allah dan Nabi Muhammad
SAW, seorang Muslim dianjurkan untuk menempatkan ibunya sebagai orang
ketiga yang patut dicintai dan disayangi mengingat pengorbanan dan
kasih sayangnya yang tiada tara kepada anak.

Bahkan kehebatan seorang ibu, katanya, tercermin dalam kehidupan
keseharian anak-anaknya. Ia bisa "menjelma" menjadi seorang "dokter"
atau "suster" ketika anaknya jatuh sakit karena dialah orang pertama
yang "mengobati" anak-anaknya sebelum dibawa ke dokter.

Ibu pun menjelma sebagai seorang "guru" bagi anak-anaknya di saat dia
menemani mereka belajar dan membantu memecahkan masalah-masalah
pelajaran sekolah mereka, kata Nadirsyah Hosen.

Pengajian bulanan IISB yang dihadiri puluhan orang Indonesia baik yang
berstatus mahasiswa maupun residen tetap di Queensland itu juga diisi
dengan penampilan tim kesenian Islam IISB serta makan siang bersama. ant/

Kirim email ke