DI MANA KUCARI KEBAHAGIAAN Halimi Zuhdy LS*) Suara angin mendesir menelusuri semak-semak dan bertiup lembut menerpa rambut panjang seorang pemudi yang lagi duduk termenung dengan suara gemuruh dadanya. Ia menatap rerumputan hijau dihadapannya, dengan tatapan kosong. Sesekali ia memukul-mukulkan tangannya yang lembut ke pahanya. Kadang ia tundukkan kepalanya dengan tetesan air matanya, kadang menengadah kelangit dengan menarik nafas panjang. Sudah lama ia duduk-duduk, namun belum menemukan noktah-noktah yang ia cari, yang ia temukan hanyalah bayangan dirinya yang sesekali menghilang karena matahari tertutup awan, ia hanya menemukan kesedihan dalam gerak lembut hatinya, sekelilingnya yang penuh dengan bunga-bunga mekar nan indah tidak membuatnya ia tersenyum. Sesekali ia torehkan isi hatinya pada daun jati yang berguguran disekelilingnya Kukejar angan Kukejar cita Kukejar hasrat Datanglah lelah dan payah Hatiku rapuh Bait-bait puisi yang ditulisnya, terkadang membuat ia tenang sejenak, namun sesekali ia berteriak keras dan melemparkan larik-larik puisinya diarus sungai yang gemercik membuat musik tersendiri. Namun musik-musik sungai itu tidak mampu menenangkan gejolak jiwanya yang mulai lelah. Ia tuliskan kegundahan hatinya pada arus air sungai itu . Aku ingin menangis Namun air mataku kering Aku ingin berteriak Namun suaraku habis Aku hanya menginginkan Ketenangan dan kebahagiaan namun dimanakah kau .. kekosongan makin senyap, "anakku!" ada suara menyapa dari balik rerimbunan pohon dibelakangnya, "sedang apa kau di sini?". Pemudi itu kaget, ditempat yang sepi dan senyap ternyata ada orang lain, pak tua itu bertanya lagi, "nak apa yang kamu lakukan ditempat yang sepi dan senyap ini?. Pemudi itu menarik nafas panjang"Pak tua..!, aku capek..!, aku lelah..!, aku sesak..!, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan aku terjang pagi dan petang. Aku tempuh lautan, lembah, gunung, bahkan duniapun sudah ada dalam genggamanku, demi untuk mencari setitik kebahagian, namun, aku belum temukan kebahagiaan itu dalam diriku, aku belum merasakan kebahagiaan yang hinggap dalam hatiku, aku pusing pak pak tua..! aku lelah..!. matanya berkaca-kaca, seakan-akan ia ingin menuangkan kekesalan dan kekecewaan hidupnya, pak tua..!, kapan aku mendapatkan rasa itu?". Pak tua itu diam dan membelai-belai rambut pemudi yang kusut terurai panjang itu, ia mendengarkan keluh kesah sang pemudi dengan penuh perhatian, sesekali ia menganggukan kepalanya, sesekali menatap pemudi itu dengan keheranan. Dari rona wajahnya kelihatan lelah dan tidak mempunyai gairah hidup. Ia pandang kembali wajah pemudi itu, lalu berkata, "Nak jika kamu ingin menemukan apa yang kaucari, dan ingin merasakan apa yang kau inginkan, di sana ada taman penuh bunga dan beraneka ragam kupu-kupu, tangkaplah kupu-kupu itu buatku." Pemudi itu menatap pak tua. Tidak percaya. Pak tua itu menganggukkan kepalanya, "ya..tangkaplah kupu-kupu itu untukku dengan tanganmu," pak tua itu mengulang kata-katanya. Pemuda itu mulai menuju taman yang tunjuk pak tua tadi, benar, ia menemukan taman yang indah yang disekelilingi dengan sungai-sungai, ditaburi bunga-bunga harum semerbak, ia lihat kupu-kupu menari-menari seakan mengajaknya untuk berdansa. "oh ..disana ada kupu-kupu bergerombol," ia bergumam. Ia mulai memasang kuda-kuda, mengendap-endap. Menuju gerombolan kupu-kupu yang lagi asik bercengkrama. Hap! Luput. Segera ia mengejarnya, hap!, luput. Takut kehilangan buruannya, ia kejar. Ia arahkan tangannya, di mana ada kupu-kupu yang terbang., hup!,Hup!,hup! luput. gagal!. Ia ingin menemukan apa yang ia cari yang dijanjikan pak tua tadi, ia mulai bergerak cepat, berlari tak beraturan. Menerjang ke sana ke sini. Bunga-bunga yang indah pun rontok, daun-daun yang menghiasi taman itu muali berguguran, rerumputan mulai layu. Ia merobek ilalang, menerjang perdu, mengejar kupu-kupu itu. Gerakan semakit gesit dan liar. Seluruh taman ia jelajahi, kupu-kupu kebingungan. Ia tidak menyerah, sejam, dua jam, ia terus mengejar kupu-kupu itu, namun belum satupun kupu-kupu tertangkap. Ia mulai kelelahan, gerakannya mulai lamban, keringatnya bercucuran. Namun tidak ada tanda-tanda ia ingin berhenti untuk menangkap. Ia terus memburu, terkadang ia jatuh sempoyongan. Nafasnya mulai naik-turun dengan cepat. Taman yang sebelumnya indah kini berubah tidak beraturan. Tiba-tiba, "berhenti dulu anakku, istrihatlah!" pak tua itu menghentikannya, dengan lahkah penuh wibawa raut wajah penuh rona kebijaksanaan, ia menghampiri pemudi tadi, dipundaknya ada dua kupu-kupu yang hinggap. " Nak ., kau sudah lelah, kau sudah capek.., berjam-jam kau berlarian, kau robek taman-taman yang indah dengan gerakanmu, tapi kau belum dapat menangkap kupu-kupu satupun untukku, begitukah caranya kau mengejar kebahagiaan? Berlari dan menerjang? Merusak pesona taman? Kau injak-injak rerumputan hijau? Kau tidak peduli apa yang ada disekelilingmu? hanya dengan waktu sekejap taman ini sudah berantakan, beginikah caramu mencari rasa kebahagiaan itu?,". Pak tua menatap pemudi itu dengan penuh kasih. Pak tua, memegang pundak pemudi itu. Lalu berkata, "Nak mencari kebahagiaan itu seperti menangkap kupu-kupu. Semakin kau terjang, ia semakin lari dan menghindar. Semakin kau buru, maka semakin ia menjauh dari dirimu." "Tangkaplah kupu-kupu itu dalam hatimu. Karena kebahagiaan itu itu bukan benda yang dapat kau genggam atau sesuatu yang dapat kau simpan. Carilah kebahagiaan dalam hatimu, telusuri rasa itu dalam kalbumu, ia tidak akan lari, bahkan tanpa kau inginkan ia muncul dan menampakkan,". Ia mengulang kata-katanya, "Nak..carilah kebahagiaan dalam hatimu", sambil ia memegang dada kirinya, "kebahagiaan itu disini, bukan di sana, dia selalu menyertaimu, selalu berada dekat denganmu!, kenapa kau jauh-jauh berpetualang hanya demi kebahagiaan yang tidak pasti kau dapatkan, mengapa kau sibuk siang malam dengan ego mu, yang tidak pasti kau dapatkan, Nak..! carilah dihatimu, karena ruang hati cukup luas, apa yang kau inginkan akan kau dapatkan dalam hatimu!,". Shobat, mencari kebahagiaan itu seperti mengejar kupu-kupu, semakin kita bernafsu untuk menangkapnya, semakin ia menjauh dari kita, semakin kita memburunya, ia semakin gesit dan sulit kita tangkap. Namun kadang sangat mudah kita menangkapnya, bahkan tanpa kita tangkap ia akan hinggap, bagi kita yang tahu caranya.
Shobat, kita terjang apa yang ada dihadapat kita, kita sikat apa yang menghalangi kita, kita sikut yang semua penghambat-penghambat. Namun kupu-kupu itu terkadang belum kita dapatkan. Kenapa .? Demikian juga dengan kebahagiaan!. Setiap kita mengejar kebahagian dengan nafsu dan kenginan yang meluap-luap, namun kebahagian belum kunjung tiba, semakin kita bernafsu semakin sulit ia hinggap dalam hidup kita. shobat, kebahagiaan itu bukan benda yang dapat kita indra, kebahagiaan itu bukan materi yang dapat kita genggam, keindahan itu bukan barang yang dapat kita simpat. Kebahagiaan itu bukan mobil yang mahal, bukan rumah yang mewah, bukan istri atau suami yang cakep, kebahagiaan itu bukan uang yang melimpah, kebahagiaan itu bukan nasab yang agung, kebahagiaan itu bukan wajah yang tampan, kebahagiaan itu bukan jabatan yang tinggi. Kebahagiaan itu bukanlah barang yang dapat digenggam,bahkan disimpan. Namun, kebahagiaan adalah udara, kebahagiaan aroma harum dari udara itu. Shobat, kebahagiaan itu ada dalam hati, ada dalam hati, semakin kita bernafsu mengejarkan ia semakin jauh. Shobat, temukalah kebahagiaan dalam hati kita. Biarlah ia merdansa dan menari-nari dalam hati kita, biarkanlah ia terus bersemayam dan abadi dalam kalbu kita. Maka temukanlah kebahagiaan dalam setiap langkah apa yang kita lakukan. Dalam susah, dalam belajar, dalam merenung, dalam sunyi, dalam kegembiraan, dalam kesedihan. Temukanlah kebahagiaan itu, dia tidak akan lari bahkan mendekat jika kita terus belajar mencari kebahagiaan dengan hati lembut, dengan hati tulus dan dengan hati tenang. Shobat, buatlah ia hinggap selalu dalam diri kita, karena ia ada dimana-mana, bahkan setiap langkah dan kerdip kita ia selalu menyertai, namun terkadang kita acuh dan cuek dengan itu, sehingga kita merasa tidak pernah ada kebahagiaan yang hinggap dalam diri kita. Temukanlah..! selalu kebahagiaan itu dalam hati kita, jangan mengeluh karena tidak bahagia, namun mengeluhlah kenapa hati tidak tulus mencari kebahagiaan.
