Hm, Manusia setengah dewa. Mungkin tulisan bernuanssa features ini sangat 
menarik, segar, reflektif. Tepat untuk reader yang belum begitu lama mengenal 
sosok gus dur beserta perjalanan hidup, pemikiran, guyonannya. Gus Dur Sang 
Mantan Presiden RI, ternyata masih menebarkan pesona. Beliau tidak pernah 
capek, selalu bersemangat, tidak pernah merasa sakit meski dia jelas-jelas 
dalam kondisi sakit, hangat, selalu berjalan mempertahankan prinsip kebenaran 
yang dia yakini (meski tak jarang dengan menyakiti pendukungnya sendiri). Gus 
Dur cukup mampu dengan nyaris sempurna mengekspresikan Will To Power untuk 
meneguhkan diri sebagai Uberman (Manusia Setengah Dewa).
   
  Namun bagi orang yang sudah lama bergulat dengan sejarah, pemikiran dan 
kepribadian Gus Dur gus dur sudah lama dikenal sebagai seorang Dewa. Bagi kaum 
nahdhiyin -yang ikut secara kolektif merasakan bagaimana NU pada masa orde baru 
di telantarkan dan didholimi oleh negara- Gus Dur adalah "Bapak",  waliyullah, 
simbol perlawanan, simbol kenabian (pewaris perjuangan nabi), Meski Sang 
Waliyullah yang kebetulan cucu pendiri NU ini sering dianggap nyleneh. Masak 
kiai mau jadi juri FFI, mau khotbah di depan umat kristiani, mau mengganti 
assalamualaikum dengan selamat pagi
   
  Kiai Sang pelindung bagi kaum minoritas ini selalu bisa dimaklumi 
kenylenehannya oleh kaum nahdhiyin, karena apapun yang dilakukannya adalah 
bagian "hak prorogatif" yang diberikan kepadanya karena ke-wali-annya. Sampai 
hari ini kaum nahdhiyin (wong kampung, santri, ustadz, kiai, politisi, bahkan 
intelektual muda NU) banyak yang masih menyakini bahwa Gus Dur adalah Wali, 
bahkan Wali Qutb, setiap tindakan dan pemikirannya akan selalu ada HIKMAH dan 
KEMASLAHATAN. Apapun yang dikatakan hampir mendekati kebenaran, kalaupun tidak 
terbukti, kebenaran sabda Gus Dur diyakini sedang tertunda. atau sabdanya harus 
diinterpretasikan secara mendalam. Ya, dahulu hampir semua Gus Dur Mania sangat 
mengkultuskan (baca : Ta'dhim) Gus Dur. Mengapa, karena Gus Dur adalah wali, 
kekasih tuhan, makhluk yang berada diantara tuhan dan manusia biasa (baca 
:Dewa). Saya jadi ingat tahun 1998 ketika ada pembukaan piala dunia antara 
Brazil dengan kesebalansan mana itu, lupa. Sebelum pertandingan
 dimulai Gus Dur sudah memastikan sekornya 3-2 untuk Brazil. Sebuah prediksi 
skor yang modus statistiknya kecil, lebih kecil dibandingkan skor 0-0. 1-0. 1-1 
dan 1-2. Tapi toh that's rigth. Sebuah contoh kecil yang mengigatkan kita bahwa 
gus Dur bukan kiai sembarangan. 
   
  Dia adalah Wali, yang melalui sosoknya Tuhan tengah berbicara, memberikan 
tauladan, kadang juga hiburan, dan sering memberikan kita pelajaran untuk tidak 
keras kepala dalam ber-positioning. Ketika semua orang benci suharo, dia malah 
menjenguknya. Ketika orang membenci Golkar dia, malah kemana-mana dengan Ketua 
Golkar (Tutut). 
   
  Kini (setidaknya dalam 5 tahun terakhir), ketika Gus Dur ternyata bisa 
dilengserkan dari presiden, dan ketika kenylenehannya mulai (tidak tabu untuk) 
diperdebatkan banyak orang (termasuk para Kiai Khos, mantan pendukung PKB, 
intelektual muda, bahkan juga adik-adik dan keluarganya), umatpun mulai sadar 
bahwa Sang Waliyullah bisa sakit, bisa salah, Sang Bapak bisa marah-marah 
kepada anak-anaknya, Sang Pejuang Kebenaran bisa dipengaruhi oleh pembisik, 
Sang Bapak Demokrasi bisa anti demokrasi (setidaknya menurut para pemikir 
demokrasi), Sang Pelindung ternyata bisa menyakiti, Sang Bijaksana ternyata 
bisa menjadi pendendam (tidak memaafkan kesalahan). Akhirnya muncul kesimpulan 
bahwa Sang Dewa ternyata setengah Manusia
   
  Meski ini hanyalah di tingkatan persepsi (sebagian) umat, tapi inilah yang 
banyak diartikulasikan orang-orang. Tapi mereka tidak membenci Gus Dur, mereka 
masih meyakini bahwa gus Dur adalah Wali yang dilahirkan Tuhan untuk memabawa 
"pencerahan" terhadap umat. Gus Dur masih tetap menjadi sosok yang menjadi 
salah satu rahasia terbesar tuhan setelah ajal, rizki, dan jodoh. Umat masih 
mencintai gus Dur sebagai kiai yang gigih memperjuangkan kebenaran, dan membela 
ketertindasan. Kaum minoritaspun masih banyak yang berlindung dibalik kebesaran 
kasihnya. 
   
  Tak jarang banyak orang yang marah-marah karena umat mulai melakukan 
demitologi terhadap Gus Dur. Demitologi dianggap melecehkan gus dur, menghina 
gus dur, dsb. kemarahan ini hanyalah ekspresi cinta kepada sang wali. Seperti 
kemarahan Sang Umar Bin Khaththob ketika orang mengabarkan bahwa Muhammad SAW 
sudah mati. Biarkan saja dia marah-marah, itu cara dia mencintai, tapi perlahan 
kita bisikkan ke telinga dia bahwa Gus Dur bukanlah Dewa. Gus Dur hanyalah Dewa 
Setengah Manusia.
   
  Salam
  Rian
   
  Malang, 5 April 2008

hamzah sahal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Manusia Setengah Dewa (2) 
Kamis, 3 April 2008 - 09:19 wib
Tidak lama kemudian, suster penjaga memeriksa tangan kanan, sehingga tersingkap 
selang-selang yang menghubungkan tubuh Gus Dur dengan mesin pencuci darah.

Setelah memastikan semuanya beres setelah satu jam mesin bekerja, yang masih 
membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam lagi untuk penyelesaian cuci darah secara 
total, suster merapikan tempat tidur beliau dan mengeluarkan radio kecil di 
bawah selimut beliau dan mematikannya.

Suster mungkin ingin agar tidur siang Gus Dur tidak terganggu. Ternyata 
kemudian dia keliru, sebab setelah radionya mati, Gus Dur lalu berbaring ke 
sana dan ke mari, lalu terbangun dari tidurnya. Di luar dugaan, Gus Dur segera 
berusaha membuka mata, menandakan bahwa beliau sudah terjaga dan menanyakan di 
mana radionya?

Suster kemudian menjelaskan posisi radio itu dan pengawal pun memberitahukan 
bahwa saya ada di ruangan untuk mewawancarai beliau sejenak. Perkenalan dan 
wawancara dimulai, tanpa basa-basi, walau saya belum pernah sekalipun bertemu 
langsung dan berkunjung ke Gus Dur.

Saya memperkenalkan diri secara singkat, hanya memberi tahu nama dan keperluan 
wawancara menulis disertasi tentang periode pemerintahan Gus Dur dan kaitannya 
dengan reformasi militer. Tampak Gus Dur menyambut secara antusias, dan saya 
pun segera mengajukan pertanyaan pertama. Tidak disangka, beliau, yang saya 
kira sedang lemah dan baru bangun tidur, dapat segera merespons pertanyaan 
pertama saya.

Substansi wawancara saya sendiri saya tuliskan dalam bagian lain. Di 
tengah-tengah wawancara saya, masuk seorang wanita keturunan Tionghoa, yang 
langsung menyalami Gus Dur dan memperkenalkan diri sambil meraih tangan beliau 
dan menyalami erat-erat beliau yang tengah berbaring.

Rupanya ia seorang dokter yang bekerja di rumah sakit ini yang menangani soal 
cuci darah. Mereka kemudian bercakap-cakap secara akrab sebagaimana seseorang 
yang tengah berjumpa dengan sahabat lama layaknya. Keakraban mereka dalam 
berbincang-bincang dan bergurau menandai betapa dalam dan hangatnya hubungan 
Gus Dur dengan berbagai kalangan minoritas di negeri ini.

Dokter itu pun bertanya sejak kapan Gus Dur harus menjalani cuci darah. Gus Dur 
menjelaskan sudah sejak beberapa lama belakangan ini. Dengan enteng, secara 
ceplas-ceplos Gus Dur bercakap, tidak ada sedikit pun rasa cemas tebersit di 
wajahnya. Seperti kebiasaan sehatnya, Gus Dur pun mulai beraksi membuat 
banyolan-banyolan di depan lawan bicaranya.

Wawancara serius saya pun terhenti sementara. Namun, tidak mengapa, sebab 
banyolan-banyolan beliau tidak kalah menariknya karena merupakan pula rekaman 
perjalanan dan pengalaman politiknya- yang masih ada hubungannya dengan riset 
disertasi saya. Entah dapat wangsit dari mana, tiba-tiba saja Gus Dur berguyon 
tentang mantan orang kuat Orde Baru, Soeharto, tokoh yang pernah menjadi mitra 
maupun lawan politiknya dulu. Juga berguyon tentang hubungan segitiganya dengan 
Soeharto dan Oom Liem (Sioe Liong), salah satu konglomerat Indonesia.

Beliau bercerita, konon Oom Liem mencari-cari Soeharto dan bertanya kepada Gus 
Dur tentang keberadaannya. Gus Dur yang suka iseng menjawab cari saja ke LA 
(Los Angeles, Amerika Serikat), karena menurutnya Soeharto ada di sana. Oom 
Liem yang mengira info Gus Dur serius, segera mencari Soeharto ke LA.

Di sana, Oom Liem tidak kunjung ketemu sehingga harus kembali ke Jakarta untuk 
menanyakannya kembali pada Gus Dur. Gus Dur lalu menjawab, "Lha, kamu cari ke 
mana? Di Los Angeles? Coba dong cari ke ?RE'," sambil mengeja dua huruf itu 
dalam lafal bahasa Inggris yang ia plesetkan seperti ?LA', yang maksudnya 
bukanlah Los Angeles, tetapi artis ternama tahun 70-80-an yang cantik dan 
pernah menurut kabar burung (namanya juga gosip) dekat dengan mantan tokoh Orde 
Baru itu.

Belum selesai ketawa kami dengan lelucon itu, Gus Dur sudah mulai lagi dengan 
guyonan lain.Yang ini bukan hal baru, tetapi tetap segar mendengarnya, karena 
beliau sendiri yang menyampaikannya. Gus Dur cerita, setelah beliau lengser, di 
Eropa bertamu ke Habibie.

Beliau ditanya Habibie tentang apa yang diomongkannya sama Presiden Castro, 
karena Habibie penasaran dengan kunjungan Gus Dur ke Cuba dulu. Setelah 
dipaksa-paksa Habibie, Gus Dur bilang bahwa beliau bercerita pada Castro bahwa 
empat presiden yang dimiliki Indonesia punya karakter yang aneh-aneh. Presiden 
pertama menurutnya adalah orang yang gila wanita.

Presiden kedua adalah orang yang gila harta, sedangkan yang ketiga, Habibie, 
adalah orang gila teknologi. Sementara, presiden keempat, dirinya, adalah yang 
bikin semua orang jadi gila! Namanya juga joke, semua celotehan beliau itu 
tidak perlu dianggap serius. Sekalipun bukan joke baru buat beliau, karena kami 
pernah mendengarnya, namun ketika diungkapkan kembali, kami tertawa 
terbahak-bahak.

Tampak tidak ada yang berubah dari Gus Dur, ia selalu saja lucu dengan 
guyonannya. Gus Dur tetap melanjutkan guyonannya sebelum bercerita ke hal yang 
serius, masalah politik sungguhan. Beliau bercerita, suatu waktu, saat 
berkunjung ke Timur Tengah, beliau membawa serta Supermie (merek mi instan 
produksi PT Indofood) untuk bekal makannya.

Karena sempat sempatnya beliau membawa bekal Supermie dan begitu suka dan 
sering makan bekalnya itu di negeri Arab, tuan rumahnya pun heran dan bertanya 
mengapa hal itu mesti dilakukan. Gus Dur lalu menjawab, "Saya membawa Supermie 
banyak dan suka makanan ini karena saya kan 'Abu Noodle (mi)' yah, masih 
saudara dengan Abu Mussa dan lainnya di negeri Anda!" Dari guyonan bisa saja 
Gus Dur mengalihkan ceritanya ke topik-topik serius.

Suatu waktu, beliau mengajak Akbar Tandjung berkunjung ke Habibie untuk 
menyarankan Habibie agar mundur dari kursi kepresidenannya. Entah bagaimana, 
Gus Dur menceritakan Akbar mau saja dan menurut sarannya, sehingga pergilah 
mereka berdua menghadap Habibie.

Akbar pun mengatakan pada Habibie tanpa tedeng aling-aling (secara tembak 
langsung) apa yang disarankan Gus Dur. Tentu saja Habibie terkejut mendengar 
permintaan Akbar agar segera lengser, sehingga Habibie membetulkan duduknya dan 
berhadapan langsung dengan Akbar sambil emosional mengatakan apakah 
sungguh-sungguh Akbar menyuruhnya mundur.

Kemudian Habibie memberondongnya lagi dengan banyak pertanyaan yang semakin 
emosional. Di sini Gus Dur hendak menceritakan bagaimana Akbar dimarah-marahi 
Habibie yang emosional karena ulah Gus Dur yang jahil itu. Sebelum mengakhiri 
guyonan, sebelum tamu kami, ibu dokter Tionghoa ahli hemodialisis itu pergi, 
Gus Dur sempat bercerita bagaimana tokoh penting di Kanada menyarankannya untuk 
menjadi Presiden Indonesia lagi.

Di sini tampaknya secara sepintas Gus Dur ingin mengungkapkan harapannya untuk 
dapat maju kembali sebagai calon presiden yang akan datang, dalam Pemilihan 
Presiden 2009. Kalau ini memang serius dan telah menjadi tekad Gus Dur yang 
kuat, tentu saja bagi orang awam seperti saya ambisi Gus Dur ini merupakan hal 
yang luar biasa di tengah-tengah kesadaran, sekaligus kepesimisan dan kesinisan 
orang akan kondisi kesehatan beliau saat ini.

Hebatnya tentu, berbeda dengan kondisi orang yang dalam kondisi kesehatan 
seperti beliau, semangat, cita-cita, tekad dan ambisi Gus Dur sangat luar biasa 
sekali. Berbagai guyonan itu memang tidak boleh ditelan mentah-mentah, karena 
masih harus dibuktikan kebenarannya.

Semua guyonan itu tidak perlu diperlakukan serius, seperti sikap Gus Dur yang 
easy going atau EGP (emangnya gue pikirin, gitu aja kok repot?!) Namun, di luar 
itu, semuanya menjadi guyonan tetap baru dan segar didengar alias lucu, 
sekalipun mungkin sudah pernah diungkapkan beliau. Sehingga, tidak juga keliru 
tampaknya untuk mengatakan bahwa Gus Dur memang dilahirkan untuk guyon, dan ia 
akan guyon sampai akhir hayatnya.

Namun, jangan sekali-sekali menganggap sepele beliau. Gus Dur memang pantas 
dijuluki "manusia setengah dewa". (*)

Poltak Partogi Nainggolan
Penulis sedang menyelesaikan disertasi doktoral di Universitaet Freiburg Jerman 
(//mbs) 

---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]



                           
    
---------------------------------
  You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster 
Total Access, No Cost.

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke