Kyai Mlangi Menggagas Sillaturrahim Kyai dan Ulama NU
Se-Sleman 



Jogjakarta – Para Kyai dan Alim Ulama NU se-Kabupaten
Sleman direncanakan akan mengadakan acara pertemuan
besok pada hari Ahad, 6 April 2008. Pertemuan itu
diberi tema "Silaturrahim Kyai dan Alim Ulama
se-Kabupaten Sleman". Acara yang rencananya akan
dihadiri ratusan Kyai dan Alim Ulama NU ini akan
diselenggarakan di Mlangi, tepatnya di PP. An-Nasyath
yang diasuh oleh K.H. Sami'an Muharram, Wakil Rais
Suriah PCNU Sleman. Pertemuan ini rencananya akan
dihadiri Suriah PBNU, K.H. Malik Madani. 

Forum sillaturrahim ini dilatarbelakangi oleh beberapa
hal. Pertama, kian kuatnya ekspansi organisasi Islam
radikal yang mengancam eksistensi warga nahdhiyyin dan
dengan demikian ideologi Islam ahlussunnah waljamaah.
Organisasi tersebut digerakkan dengan dukungan dana
kuat, manajemen yang rapi, dan jaringan internasional
yang luas. Hal ini harus direspons mengingat
keberadaannya yang berusaha menetrasi ke basis
nahdhiyyin. 

Kedua, situasi sosial ekonomi yang dirasakan semakin
menyulitkan masyarakat akar rumput. Seperti diketahui,
situasi nasional diwarnai melonjaknya harga komoditas
pangan, kelangkaan minyak, gas, yang kian mencekik
masyarakat. Situasi sosial ini harus menjadi perhatian
para kyai dan ulama karena memiliki akar-akar
kelembagaan struktural di tingkatan global yang
disebut dengan neoliberalisme ekonomi dan politik. 

Ketiga, keretakan kyai dan ulama sebagai dampak dari
keretakan dalam ranah politik. Fenomena majunya
beberapa pengurus NU dalam kancah pilkada atau pilgub,
atau terbelahnya dukungan kyai terhadap partai yang
lahir dari rahim warga NU, memerlukan manajemen
sillaturahim agar diaspora ruang spasial politik
tersebut bagian dari sebuah diversifikasi politik yang
akan dipertemukan oleh kepentingan strategis gerakan
ahlussunnah waljamaah. Hal ini juga agar para kyai dan
ulama tidak terkurasnya energinya karena terjebak
dengan isu-isu yang tidak jelas. 

Keempat, lemahnya sillaturrahim para kyai dan ulama
sehingga potensinya kurang tersinergiskan dan kurang
memiliki daya dorong dalam transformasi sosial
masyarakat. Selama ini sillaturrahim yang terjalin
baru sebatas seremonial yang secara intens tidak
membahas persoalan-persoalan besar bangsa dan
masyarakat. Karena itu, sillaturrahim ini digagas
untuk mengkonsolidasikan pemikiran dan gerakan kyai di
posisi dan ranahnya masing-masing sehingga mampu
memberikan pencerahan dan solusi-solusi cerdas
terhadap berbagai kebuntuan-kebuntuan persoalan
bangsa. 

Acara ini, menurut Bpk. Aminun selaku salah satu
anggota panitia, digagas dalam rangka sillaturahim,
untuk menciptakan ruang yang memungkinkan para kyai
dan ulama melakukan bahstu masail terhadap
problem-problem sosial keagamaan yang menghimpit
masyarakat. 

Menurut Muhammad Mustafied, tokoh pemuda Mlangi,
kepada NU Online, forum sillaturrahim yang cair dan
tidak birokratis, namun terarah dan sistematik,  serta
mampu mengkonsolidasikan kyai-kyai NU baik yang di
kultural maupun struktural, menjadi penting. Forum
seperti ini menjadi penting untuk selalu membaca
secara kritis dan rekontekstualisasi posisi sosial
kyai sehingga mampu memerankan kepemimpinan kultural
transformatif di tengah-tengah hiruk pikuk kekacauan
paradigma politik warga NU. Bagaimana kyai NU menjawab
gelombang neoliberalisme dan gerakan Islam radikal di
satu sisi, dan konservatifme masyarakat serta
liberalisme agama, di sisi lain, adalah salah satu isu
penting yang harus dijadikan poin pembahasan
sillaturrahim. Tanpa rekontekstualisasi posisi sosial
kyai, demikian ditegaskannya, kyai akan kehilangan
legitimasi kepemimpinan sosial keagamaan. (Anis
Masduki)  


Kirim email ke