Ralat sedikit

"Hanafi membagi ulama/mufakkir menjadi dua: ulama/mufakkir jamahir (pemikir 
elitis) dan ulama/mufakkir nukhbah (pemikir populis)"

Yang benar adalah "Ulama/mufakkir jamahir = pemikir populis. Ulama/mufakkir 
nukhbah = pemikir elitis."




----- Pesan Asli ----
Dari: --::Irwan Masduqi::-- <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Selasa, 15 April, 2008 02:24:58
Topik: Bls: [kmnu2000] Re: Tentag GD, dan perbedaanya dengan Hasan dan Jabiri

Gus Mawhib dan Gus Anis,
Ada banyak dimensi yang membedakan Gus Dur dengan Hasan Hanafi maupun Jabiri. 
Serasional dan seliberal Gus Dur, beliau masih percaya "wangsit dari kyai 
khas". Kata beliau, "Saya nggak mau mencalonkan presiden untuk pemilu ke depan, 
kecuali mendapat perintah dari kyai khas". Sementara "kyai khas" tidak ada 
dalam kamus pemikiran Hasan dan Jabiri, hehehehehe. Diam-diam, sejatinya Gus 
Dur itu masih terjangkit paradigma irasional terkait teori "perwangsitan" .

Hasan Hanafi dan Jabiri tampak lebih suka "memproblematisasi" 
persoalan-persoalan yang sebenarnya simplistik. Sebaliknya, Gus Dur acap 
"mensimplifikasi" perkara-perkara problematis nan dilematis dengan ungkapan 
"Gitu aja kok repot"!!!

Meski demikian, ada sekelumit kesejajaran antara ide Hasan Hanafi dan Gus Dur 
terkait tipologisasi ulama. Hanafi membagi ulama/mufakkir menjadi dua: 
ulama/mufakkir jamahir (pemikir elitis) dan ulama/mufakkir nukhbah (pemikir 
populis), sedangkan Gus Dur membagi kyai menjadi dua: kyai khas dan kyai 
kampung. Tapi sejauh ini, saya belum pernah dengar Gus Dur membagi tipologi 
ayam menjadi dua: ayam khas dan ayam kampung, maklumlah Gus Dur kan bukan 
peternak ayam, hehehe. Cape dech.......

Benar apa yang disampaikan Gus Mawhib bahwa buku Hasan Hanafi, min al-Fana' ila 
al-Baqa' akan segera terbit. Kata Hasan Hanafi, buku itu akan diterbitkan oleh 
penerbit Beirut. Saya pun kemarin melihat naskahnya di kediamannya. Setelah 
menulis min al-Fana' ila al-Baqa', beliau akan menulis lagi buku berjudul min 
al-Naql ila 'Aql. Melihat umur Hasan Hanafi yang sudah tua, mengapa ya beliau 
tidak menulis buku yang berjudul min al-Mahdi ila Lahdi? hehehe.

Gus Anis, setahu saya, Jabiri dalam Madkhal ila al-Quran hanya menyebut nama 
Khalafullah satu kali, itupun hanya di catatan kaki halaman 259. Dalam 
diskursus studi narasi al-Quran, Jabiri menyetujui konklusi-konklusi yang 
dicapai Khalafullah. Bagi mereka berdua, Qashash al-Quran tidak serta-merta 
menunjukkan bahwa al-Quran adalah Kitab Sejarah. Narasi dalam al-Quran 
sejatinya hendak diproyeksikan dan difungsikan untuk dijadikan "teladan" 
(al-'idhah wa al-i'tibar). Tetapi mereka bedua berbeda dalam memberikan 
klasifikasi tipologi narasi. Khalafullah membagi narasi al-Quran menjadi tiga: 
1) narasi mitis pengaruh tradisi Yudeo-Kristiani (qashash usthuri); 2) narasi 
historis atau cerita yang sesuai dengan realitas sejarah (qashash tarikhi); dan 
3) narasi metaforis (qashash tamtsili). Sedangkan Jabiri, yang berambisi hendak 
memahami al-Quran secara "kronologis" , membagi narasi-narasi al-Quran 
berdasarkan rangkaian kronologis Makiyyah-Madaniyyah . Menurut
Jabiri, narasi al-Quran harus dipahami secara kronologis untuk melacak 
kesejajaran antara al-Quran dan gerak sejarah perkembangan dakwah dan sirah 
Nabawiyyah. Intinya, pendekatan Jabiri dan Khalafullah agak berbeda.

Buku Jabiri itu cukup menarik. Tetapi, menurut saya, Madkhal ila al-Quran 
adalah karya terjelek Jabiri. Diskursus penting yang digelindingkan Jabiri, 
menurut sekelumit yang saya ingat, antara lain:
1. Redefinisi al-Quran. Dalam chapter ini, ia mendekonstruksi definisi 
konvensional al-Quran yang dinilai ideologis-sektarian istik. Kemudian ia 
menawarkan definisi al-Quran versi al-Quran itu sendiri, yaitu kitab yang 
diturunkan oleh Allah kepada Muhammad via Jibril (tanpa diembel-embeli makhluq 
atau tidak, hadits atau qadim).
2. Dekonstruksi konsep Ummiyyat al-Nabi. Segendang sepenarian dengan George 
Maqdisi, Jabiri meyakini Muhammad saw tidak buta huruf.
3. Relasi doktrin monoteis Islam dengan sekte-sekte monoteis Kristen 
(Ebionistes dan Arrius). Buku Jabiri, seperti pengakuannya dalam wawancara, 
muncul didorong oleh banyak faktor, antara lain tragedi WTC. Ia sadar bahwa 
Islam/Quran telah dibajak oleh gerakan teroris-militan. Nah, untuk mengurangi 
ketegangan antara Islam dan Barat, maka diperlukan kajian pluralis dan inklusif 
yang mengetengahkan relasi-relasi dalam Abrahamic Religion. Dalam chapter ini, 
dibahas juga soal historisitas formasi trinitas.
4. Komparasi konsep kenabian menurut berbagai perspektif.
5. Dekonstruksi konsep mukjizat konvensional. Seperti Ibn Rusyd, Jabiri sampai 
pada kesimpulan bahwa Mukjizat Muhammad saw hanyalah al-Quran. 
Kejadian-kejadian nyleneh, seperti terbelahnya bulan dll, ditolak mentah-mentah 
dengan seabrek argumentasi rasional.
6. Problem originality al-Quran.
7. dll.

Saya pikir, buku Jabiri ini masih di bawah level buku Mushtafa Bouhindi, 
al-Ta'tsir al-Masihi fi Tafsir al-Quran. Sayangnya, karya Bouhindi ini kurang 
mendapatkan perhatian dan publikasi massif, sehingga kurang dikenal oleh 
kalangan luas. Padahal, kalau kita lihat bobot isinya, sungguh melampuai 
capaian Jabiri. Bouhindi, dalam bukunya itu, berhasil merombak secara 
besar-besaran struktur nalar tafsir sekaligus memberikan alternatifnya.

Ada informasi menarik seputar perkembangan intelektual Fatayat Mesir. Sejauh 
ini saya kebetulan diberi kepercayaan untuk menjadi supervisor dalam kajian 
Fatayat Mesir. Sekarang ini, Fatayat Mesir sedang sibuk mengkaji buku-buku 
antara lain:
1. Geschichte des Qorans (Tarikh Quran) karya Noldekke, Die Richtungen der 
Islamichen Koranauslegung (Madzahib Tafsir) karya Goldziher, dan karya 
orientalis lainnya seperti W. Muir, Regis Blachere, Arthur Jefferi, dll.
2. Madkhal ila Hermeneutika karya Adil Mushtafa
3. Beberapa karya Abu Zaid
4. Al-Quran wa al-Kitab karya Syahrour
5. Al-Nash al-Qurani karya Tayyib Tizini
6. Al-Hijaj fi al-Quran karya Abdullah Aulah
7. Nadhariyyatul Ma'rifat bayn al-Quran wa al-Falsafah karya Abd al-Hamid Kurdi
8. Komparasi antara Fann al-Qashashi karya Khalafullah dengan Asatir Awwalin 
karya Muhammad Karim Kuwwas
9. Tafsirul Quran bayn Qudama wa Muhaditsin karya Gammal Banna
10. Kayfa Nata'amalu ma'a al-Quran karya Yusuf Qardhawi
11. Komparasi al-Burhan Zamakhsari dengan Itqan karya al-Suyuthi. Komparasi 
untuk menindaklanjuti kajian Nollin terkait isu dependensi dan plagiasi 
al-Suyuthi terhadap Zamakhsari.
12. Madkhal ila al-Quran karya Jabiri
13. dll.

Insya Allah, ke depan Fatayat Mesir akan saya arahkan untuk mengkaji 
karya-karya klasik seputar ulum al-Quran yang selama ini kurang mendapatkan 
perhatian dari banyak kalangan. Contohnya, kita akan mengkaji Al-'Aql wa Fahm 
al-Quran karya al-Haris al-Muhatsibi (termasuk pioneer Sunni), Qanun al-Ta'wil 
karya Ibn al-Arabi, Qanun al-Ta'wil karya al-Ghazali, al-Mashahif karya 
al-Sijistani, Mutasabih al-Quran serta Tanzih Quran 'an Matha'in karya Qadhi 
Abd al-Jabbar, dll. Doakan semoga terlaksana dan bermanfaat.

Salam
Irwan Masduqi
Aktivis LAKPESDAM

----- Pesan Asli ----
Dari: Muhammad Mawhiburrahman <hammad_ahdal@ yahoo.com>
Kepada: [EMAIL PROTECTED] s.com
Terkirim: Minggu, 6 April, 2008 09:50:43
Topik: Re: [kmnu2000] Re: Tentag GD, dan perbedaanya dengan Hasan dan Jabiri

Anis,

Saya sepakat dengan kamu dalam poin bahwa gagasan dalam ranah apapun; termasuk 
di dalamnya adalah ideologi bisa menjadikan politik sebagai salah satu sarana 
manifestasi dengan tanpa melibatkan partisipasi agama.

Kembali pada kasus Gus Dur, saya melihat ada perbedaan yang krusial antara Gus 
Dur sebagai salah satu ikon pemikir Indonesia dengan para pemikir dunia Arab. 
Memang benar, Hassan Hanafi pernah terlibat gerakan IM pada masa mudanya. 
Jabiri pun demikian. Semasa mudanya, dia aktif dalam partai Union Nationale des 
Forces Popularies yang lantas menjelma sebagai Union Sosialiste des Forces 
Popularies. Jabiri muda bahkan termasuk dalam deretan kader militan bagi partai 
USFP ini.

Nah, perbedaan yang saya maksudkan disini adalah, Gus Dur, paling tidak dalam 
asumsi saya, menjadikan ideologinya yang brilian itu hanya sebatas sebagai 
relasi sosial. Hal inilah yang dalam bahasa Hassan Hanafi telah mengerangkeng 
Gus Dur dalam konflik-konflik politik yang kerap kontra produktif bagi 
pembumian gagasan pemikiran atau ideologinya.

Lain halnya, jika Gus Dur memposisikan ideologinya layaknya sikap yang diambil 
para pemikir Arab Modern dan Kontemporer. Sepemahaman saya, para pemikir Arab 
semodel Hassan Hanafi, Jabiri atau Nashr Hamid menempatkan ideologi mereka 
sebagai proyeksi rasional. Ini lantas mengapa, gagasan-gagasan mereka menuai 
apresiasi dan terkesan rapi serta matang, juga terencana. Berkebalikan dengan 
Gus Dur, yang konsepnya selalu memunculkan kesan acak-kadut, zig-zag dan tak 
mudah dipahami.

Tentang buku al-Jabiri yang kamu sebut itu, kawan-kawan Lakpesdam 5 bulan yang 
lalu telah membedahnya secara serius. Bahkan ketika abah Robith belum pulang ke 
Indonesia. Biarlah tema yang berbau Qur'an menjadi bidang garap Gus Irwan saja. 
Saya sungkan untuk melangkahinya. Saya takut tak mendapat doa kelulusan darinya.

Salam,

Muhammad Mawhiburrahman
Faculty of Theology 
Department of Creed and Philosophy
Al-Azhar University Cairo
http://www.mmawhib. blogspot. com
--- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---

----- Original Message ----
From: Anis Masduki <anismasduki@ softhome. net>
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Sent: Sunday, April 6, 2008 3:44:44 AM
Subject: [kmnu2000] Re: tentag GD, buku baru Hasan dan Jabiri

Muhib,

Pemikiran, ideologi dan bahkan agama (tepatnya pemahaman agama) tidak
ada salahnya (atau bahkan harus) diperjuangkan melalui politik...Tanpa
harus mengatasnamakan Tuhan sehingga yang terjadi adalah penindasan
manusia atas nama Tuhan. 

Pemikir-pemikir Mesir itu banyak yang aktif di politik.
Pemikir-pemikir Marxis afiliasinya ke partai-partai sosialis seperti
Khalil dan Rif'at Said. Termasuk Hassan dulu pernah di IM. 

Sering-sering lah kamu ke Ammu Hasan dan mungkin Jamal Al Banna. Di
Indonesia jarang saya menemukan pemikir yang ketika diwawancarai bisa
elaboratif dan mendalam, terutama dalam khazanah Islam klasik.

Makanya, saya kangen suasana wawancara dan seminar-seminar dengan
tokoh-tokoh besar Mesir itu...;)Di hadapan mereka gairah intelektual
saya terpuaskan meski hanya banyak mendengar.

Saya menunggu buku itu. Buku Jabiri yang terbaru, Madkhal Ila Al
Quran, sudah saya baca meski baru mukaddimah dan saya harus berhenti
untuk konsentrasi bidang saya.

Waktu saya wawancara Abu Zayd di Jogja, gagasan Jabiri dalam buku
terbarunya punya kesamaan dengan Khalafullah. Jika memang benar, apa
Jabiri menyebut Khalafullah? Abu Zayd bertanya begitu.

Saya kira teman-teman Lakpesdam sudah waktunya menyambut antusias buku
Jabiri yang baru ini dan mengkajinya perlahan. 

Salam,
Anis M 

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
You rock. That's why Blockbuster' s offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost. 
http://tc.deals. yahoo.com/ tc/blockbuster/ text5.com

[Non-text portions of this message have been removed]

____________ _________ _________ _________ _________ ________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers. yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      ________________________________________________________ 
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda! Kunjungi 
Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke