http://www.gatra.com/artikel.php?id=113961
    
Galtung: Tiga Corak Fundamentalisme

Siapa yang tidak kenal Profesor Johan Galtung; sosiolog, pemikir, dan 
aktivis perdamaian kelahiran 24 Oktober 1930 di Oslo, Norwegia. 
Karya-karyanya telah jadi rujukan dunia pada saat orang berbicara 
tentang perdamian, konflik, perang, dan cara-cara mengatasinya. 
Kritiknya terhadap penghasut perang terasa pedas sekali, tidak peduli 
siapa pun yang melakukan. Pada usia 12 tahun, Galtung pernah ditahan 
Nazi. Maka, mulailah ia mengerti betapa jahat dan kejamnya peperangan.

Galtung adalah pengagum Mahatma Gandhi, tokoh anti-kekerasan India yang 
legendaris. Pada 1970-an, Galtung pernah meramalkan keruntuhan Uni 
Soviet, yang kemudian menjadi kenyataan. Imperium Amerika sekarang ini 
juga diperkirakannya tidak akan bertahan lama, karena politik luar 
negerinya yang ekspansif dan cuek terhadap hukum internasional, 
sedangkan di dalam negeri, demokrasi dan hak-hak asasi manusia seperti 
dihormati.

Pada 14 September 2002 di Koln, di depan 25.000 pendukung gerakan 
perdamaian Jerman, setahun pasca-tragedi 11 September 2001, Galtung 
berseru: "Moderates all over the world, unite! (Kaum moderat sedunia, 
bersatulah!)". Di forum inilah Galtung berbicara tentang tiga corak 
fundamentalisme yang telah menjadikan penduduk bumi sebagai tawanannya.

Berbeda dari kebanyakan pers Barat yang membidikkan tombak 
fundamentalisme yang mengerikan itu lebih banyak kepada orang Islam 
pasca-tragedi September, Galtung meneropong bahwa ada tiga kekuatan 
fundamentalis yang berasal dari kultur berbeda tapi filosofinya serupa: 
pertama, faksi Wahabi Osama bin Laden; kedua, faksi puritan Protestan 
yang semula berasal dari Inggris, kemudian menyebar ke Amerika Serikat; 
ketiga, ini jarang didengar tapi yang tidak kurang kejamnya: 
fundamentalisme pasar.

Menurut Galtung, fundamentalisme corak pertama adalah yang bertanggung 
jawab terhadap perbuatan kriminal di belakang tragedi September. Baik 
faksi Wahabi maupun faksi Protestan sama-sama merasa dirinya sebagai 
manusia pilihan Tuhan. Keduanya berpikir sebagai orang yang mendiami 
Tanah yang Dijanjikan yang suci. Keduanya sama-sama menganut doktrin: 
"... he who is not with me is against me" (orang yang tidak ikut saya 
adalah musuh saya). Keduanya memandang enteng kematian orang lain. 
Keduanya begitu mirip, sehingga George bin Laden dan Osama Bush dapat 
bertukar percakapan. Keduanya merasa bahagia dengan membunuh ribuan manusia.

Anda bisa membayangkan, pada saat nama George W. Bush sedang melambung 
tinggi pasca-tragedi September, Galtung telah "menobatkannya" sejajar 
dengan Osama, dengan daya bunuh lebih dahsyat. Sungguh tidak banyak 
penduduk bumi yang punya reputasi internasional tapi berani bersuara 
lantang membongkar kebiadaban, kezaliman, dan kejahatan terhadap 
kemanusiaan seperti Galtung.

Saya rasa, umat manusia berutang budi pada sosok manusia dengan 
integritas pribadi yang prima dan konsisten ini. Jika ia menyerang 
praktek biadab, di saat yang sama ditunjukkannya bagaimana hidup secara 
beradab itu. Tidak sebaliknya, pada saat sementara orang berbicara 
tentang kasih sayang, perbuatannya malah mengobarkan budaya kebencian 
dan kekerasan. Ketika sementara pihak berbicara tentang demokrasi dan 
hak-hak asasi manusia, bangsa-bangsa lain dijadikan mangsa untuk 
dibinasakan dengan cara-cara brutal.

Galtung bertutur: "Dunia sarat dengan masalah, yang satu lebih besar 
dari yang lain. Masalah itu punya satu nama. Nama itu adalah Amerika 
Serikat, geofasis, di dalamnya ada sedikit demokrasi, di luar fasis. 
Mereka berpikir berada di atas hukum, langsung di bawah Tuhan, sehingga 
tidak ada ruang bagi PBB, hukum internasional, dan hak-hak asasi 
manusia." Gatung pun membidik Israel yang juga dikuasai kaum 
fundamentalis, resolusi-resolusi PBB ditentang secara sistematis.

Corak ketiga adalah fundamentalisme pasar. Kata Galtung, Amerika Serikat 
ditunggangi oleh tipe fundamentalisme lain: fundamentalisme pasar. Ada 
manusia pilihan di situ, yaitu CEOs (chief executive officers) dengan 
korporatnya. Di situ ada pula tanah suci: pasar.

Mereka berjuang di sana. Kata Galtung: "Siapa pun yang tidak percaya 
kepada pasar yang "tak terkekang" (unfettered) tapi punya gagasan dan 
cita-cita ekonomi yang lain harus diperlakukan sebagai pengkhianat. Dan 
mereka memandang hidup orang demikian ringannya, seperti 100.000 
kematian saban hari, terutama karena pasar tidak dapat memenuhi 
keperluan pokok mereka untuk makanan dan kesehatan, seperempat di 
antaranya semata-mata karena lapar."

Pungkasannya, kita ulangi seruan Galtung: "Kaum moderat sedunia, 
bersatulah!" Saya iringi: "Semua corak fundamentalisme adalah musuh 
sejati kemanusiaan, sekaligus musuh bebuyutan akal sehat!"

Ahmad Syafii Maarif
Guru Besar Sejarah, Pendiri Maarif Institute
[Perspektif, Gatra Nomor 21 Beredar Kamis, 10 April 2008]

Kirim email ke