http://www.suaramerdeka.com/
WACANA

07 Mei 2008
Dilema NU dalam Konflik PKB

* Oleh Mutohharun Jinan


PERSETERUAN di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang melibatkan keponakan 
dan paman (Muhaimin Iskandar dan KH Abdurrahman Wahid) cenderung menjauh 
dari islah. Masing-masing kubu menggelar musyawarah luar biasa (MLB) dan 
mengklaim diri sebagai kubu yang sah dan legitimate. Pengamat menilai 
penyebab konflik PKB lebih kepada faktor manajemen dan pelembagaan 
partai politik (parpol) yang belum terwujud.

Jika dilihat ke belakang, konflik yang pernah mendera pimpinan PKB tidak 
pernah berakhir mulus. Masa kepemimpinan Matori Abdul Djalil berbuah 
partai baru menjelang Pemilu 2004. Pada kepemimpinan Alwi Shihab juga 
melahirkan partai baru bernama Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).

Banyak orang menduga, akhir dari perlawanan dan nasib Muhaimin tidak 
jauh berbeda dari para pendahulunya, yakni meredup karir politiknya. 
Konflik internal di tubuh partai yang berbasis massa nahdliyin itu 
mengundang banyak keprihatinan. Mengapa? Karena, pertama, konflik PKB 
secara tidak langsung berdampak kepada dinamika organisasi 
kemasyarakatan (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdhatul Ulama (NU).

Hal itu berbeda dari konflik internal dalam partai-partai lain yang 
murni konflik kepentingan elite partai. Kedua, sangat memprihatinkan 
mengingat sosok Muhaimin sebagai politikus muda NU yang saat ini sedang 
menanjak karirnya. Terlebih dalam konteks wacana kepemimpinan kaum muda 
yang sedang hangat saat ini.
Getah Politik
Setiap kali terjadi konflik di PKB, dipastikan menjadi keprihatinan NU. 
Tetapi NU tampak gamang, apakah harus turun tangan mendamaikan kedua 
kubu yang sedang bertikai atau bersikap netral. Ada dorongan dari banyak 
pihak supaya secara struktural NU ikut campur memikirkan jalan keluar 
agar konflik tidak berlarut-larut.

Tawaran sejumlah pimpinan PBNU yang ingin memfasilitasi konflik rupanya 
tidak mendapat tanggapan yang memadai dari kedua kubu. Ada kesan, kedua 
kubu di PKB ingin menempatkan secara proporsional, bahwa konflik PKB 
bukan konflik NU, dan diselesaikan secara internal partai. Selain itu, 
sejak muktamar di Solo NU memantapkan diri memegangi khittah 1926, yaitu 
mengembalikan NU sebagai organisasi keagamaan dan menjaga jarak dengan 
parpol.

Secara historis keterlibatan NU struktural sebenarnya bisa dibenarkan. 
Sejak semula telah ditegaskan bahwa PKB adalah partai yang secara resmi 
didirikan oleh NU. Ibarat ayam dan telur, NU adalah induknya dan PKB 
telurnya. Sementara itu para kiai berharap PKB merupakan alat perjuangan 
politik NU. Sudah seharusnya penyelesaian masalah-masalah besar di PKB 
juga difasilitasi oleh PBNU dan para kiai.

Hanya saja PBNU belum menemukan mekanisme untuk menyatukan polarisasi 
politik PKB yang tidak merugikan salah satu pihak. Polarisasi yang 
terjadi sekarang menunjukkan sama-sama mendapat dukungan kultural dari 
warga NU.

Dari konteks itulah, NU mulai menghadapi persoalan dilematis. Di satu 
sisi, langkah-langkah yang diambil oleh PBNU belakangan ini sebenarnya 
ingin menunjukkan bahwa NU tidak identik dengan PKB karena ada juga 
partai lain berbasis nahdliyin; di sisi lain tetap saja bila konflik di 
tubuh PKB terus berlanjut akan berdampak negatif bagi perkembangan NU.

Sosok Muhaimin memiliki segudang modal politik, kultural, dan modal 
sosial untuk membangun politik NU beberapa tahun mendatang.

Barang kali itulah, risiko yang harus diterima oleh organisasi Islam 
yang bersinggungan dengan politik praktis. Konflik partai yang 
dilahirkan akan berimbas kepada dinamika ormas induknya. PKB berulah, NU 
kena getah.
Menyelamatkan Generasi
Adalah realitas politik yang tidak bisa dimungkiri, eksistensi NU sangat 
berpengaruh dalam konstelasi politik nasional. Apa pun sikap politiknya 
dapat mengubah dinamika politik di negeri ini. Diharapkan kader-kader 
muda NU muncul menjadi salah satu harapan bagi masa depan politik 
nasional yang lebih baik. Bersinarnya sosok muda Muhaimin Iskandar 
sejatinya sangat menguntungkan bagi proyek peremajaan kader NU dalam 
memperluas kepak sayap di bidang politik.

Ormas-ormas Islam yang potensial memiliki peran besar dalam membangun 
bangsa tidak bisa lari dari tugas untuk menyiapkan kader mudanya. 
Lebih-lebih wacana dan arus kuat di masyarakat saat ini, rakyat 
menghendaki adanya peralihan estafet kepemimpinan ke pundak kaum muda. 
Dalam konteks itulah, perseteruan di tubuh partai yang melibatkan 
politikus mudanya perlu disikapi secara kreatif.

Pada kasus PKB, sosok Muhaimin memiliki segudang modal politik, 
kultural, dan modal sosial untuk membangun politik NU beberapa tahun 
mendatang. Secara kultural Muhaimin memiliki basis yang kuat, karena ia 
berada dalam lingkaran ke-NU-an, yaitu trah kekiaian dari keluarga 
ìwahidî. Darah pergerakan politiknya telah dialirkan melalui sayap muda 
NU, di PMII pernah menjabat sebagai ketua umum. Secara ideologis, dia 
pula yang disebut-sebut sebagai anak ideologis Gus Dur.

Sudah termaklumi, berseberangan dengan Gus Dur jelas bukan pilihan, 
tetapi lebih sebagai keterpaksaan. Sebagaimana disinyalir Fachri Ali, 
Gus Dur tidak mungkin dilawan apalagi disingkirkan dari PKB, saat ini 
aturan main yang baku kalah wibawa dengan pengaruh yang dimiliki Gus 
Dur. Meski begitu, perlawanan Muhaimin terhadap Gus Dur semestinya tidak 
dilihat sebagai pembelotan atau kedurhakaan. Justru sebaliknya, harus 
dinilai sebagai keberaniannya bereksperimen dalam meletakkan fondasi 
peremajaan politik di PKB dan NU.
Hal itu penting dilakukan mengingat partai-partai besar lain telah gagal 
melakukan regenerasi politik dan tidak memberi kesempatan kepada kader 
mudanya untuk tampil menyelesaikan persoalan bangsa.

Kalaupun eksperimen itu pada akhirnya gagal dan harus menerima kenyataan 
terlempar dari PKB, nasib Muhaimin tidak akan seburuk pendahulunya 
(Matori dan Alwi Shihab). Sebab, konteks politik dan arus wacana 
kepemimpinan muda yang saat ini sedang menjadi pilihan rakyat merupakan 
lahan subur yang dapat menyelamatkan talenta politik Muhaimin. Plus, di 
NU sendiri masih banyak pintu yang bisa dimasuki untuk menyalurkan bakat 
politiknya, seperti di PKNU dan PPP.
Sebagai politikus muda yang sedang naik daun, perlawanan Muhaimin jelas 
dilandasi dengan kalkulasi politik yang matang. Sejumlah kiai yang ia 
sowani seperti KH A Mustofa Bisri, KH Mahfud Ridwan (Jateng), KH Abdul 
Aziz Mansur (Jombang), KH Subhan Maímun Brebes, dan KH Muhlas Dimyati 
(Cirebon) dipastikan mendukung sikapnya untuk tidak mundur dari PKB dan 
menggelar MLB.
Akhirnya, kewajiban NU-lah untuk menyelamatkan kader-kader mudanya yang 
potensial guna memperkuat barisan dalam membangun kepentingan bangsa 
yang lebih besar. Sudah barang tentu kewajiban itu dilakukan sambil 
tetap mengasah NU sebagai ormas Islam garda depan dalam penguatan civil 
Islam di Tanah Air.

— Mutohharun Jinan, pengasuh Pondok Pesantren Shabran UMS Solo, kandidat 
doktor UIN Yogyakarta.

------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke