(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm)
Seruan umum FRONT PERJUANGAN RAKYAT
tentang kenaikan harga BBM
Perlawanan dari kalangan yang luas sekali terhadap rencana pemerintah untuk
menaikkan harga BBM merupakan tantangan yang luar biasa besarnya bagi
kekuasaan polltik SBY-JK. Dari hari ke hari dan berturut-turut, aksi-aksi
untuk menentang dinaikkannya harga BBM, yang dilakukan oleh berbagai gerakan
mahasiswa dan organisasi-organisasi massa lainnya di banyak kota di
Indonesia makin menggebu-gebu.
Menggeloranya gerakan menentang dinaikkannya harga BBM ini dipacu juga oleh
banyaknya berita internasional tentang makin tingginya harga pangan di
dunia, dan membubungnya harga minyak mentah ke tingkat yang paling tinggi
selama berpuluh-puluh tahun. Di dalam negeri, banyak orang dari berbagai
kalangan mengaitkan perlawanan terhadap rencana kenaikan harga BBM ini
dengan terpaksa turunnya Suharto dari kedudukannya sebagai presiden tanggal
21 Mei 1998, dengan 10 tahun diluncurkannya reformasi (yang ternyata macet
di jalan !), dengan Hari Kebangkitan Nasional, dan dengan makin semrawutnya
pemerintahan.
Suara yang menentang dinaikkannya harga BBM sekarang ini sudah bertambah
santer dengan pernyataan dari pimpinan DPR, MPR dan juga DPD yang juga tidak
menyetujui kenaikan harga BBM. Di samping itu, tulisan Kwik Kian Gie tentang
keanehan-keanehan sekitar rencana kenaikan harga BBM, menunjukkan tidak
benarnya politik pemerintahan SBY-JK. LBH Jakarta juga mengeluarkan
pernyataan bahwa pemerintahan SBY-JK sudah gagal.
Sementara itu adalah menarik untuk diperhatikan bahwa berbagai organisasi
massa yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat mempersiapkan aksi-aksi
besar-besaran menghadapi rencana kenaikan harga BBM ini. Dengan adanya
aksi-aksi oleh Front Perjuangan Rakyat ini, maka gerakan menentang kenaikan
harga BBM, yang juga dimotori oleh Front Pembebasan Nasional, dan dilakukan
oleh berbagai golongan lainnya di seluruh negeri, akan bertambah luas.
Mengingat makin hebatnya perlawanan dari berbagai golongan dalam masyarakat
terhadap rencana kenaikan harga BBM maka sekarang tidak dapat diperkirakan
bagaimana akhirnya sikap pemerintah, apakah akan tetap meneruskan rencananya
atau membatalkannya. Seandainya pemerintah membatalkan rencananya pun
gejolak masyarakat sudah tidak dapat dikendalikan lagi, mengingat naiknya
harga-harga sembako dan sulitnya kehidupan rakyat akibat luasnya kemiskinan
dan besarnya pengangguran.
Berikut di bawah ini adalah bahan-bahan yang berkaitan dengan Front
Perjuangan Rakyat :
A. Umar Said
=====
SERUAN UMUM FRONT PERJUANGAN RAKYAT
Front Perjuangan Rakyat pada tanggal 18 Mei 2008 telah mengeluarkan seruan
umum yang berselogan Tolak Kenaikan Harga BBM !!! Turunkan Harga Kebutuhan
Pokok !!! Naikkan Upah Buruh dan Buruh Tani !!! Laksanakan Reforma Agraria
Sejati (Land Reform) !!!. Seruan umum ini selengkapnya berbunyi sebagai
berikut :
« Detik-detik kenaikan harga BBM tinggal sebentar lagi. Artinya, rakyat
Indonesia tengah menanti sebuah pukulan penderitaan yang lebih dahsyat
dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM hingga 30 persen. Kenaikan
harga BBM kali ini merupakan yang ketiga kalinya selama masa kekuasaan
SBY-Kalla. Akibat kenaikan harga BBM, yang terjadi adalah PHK meluas
dimana-mana, mahalnya biaya produksi, membludaknya pengangguran,
bertambahnya kemiskinan, naiknya biaya transportasi dan melonjaknya
harga-harga kebutuhan pokok. Lantas, apa yang harus kita lakukan melawan
tindakan membabi buta dari rejim yang sejak berkuasa tidak pernah
mempedulikan rakyat sedikitpun?
Harga BBM Naik Karena SBY-Kalla Tidak Becus
Pemerintah SBY-Kalla menyatakan kenaikan harga BBM merupakan pilihan
satu-satunya karena melonjaknya harga minyak dunia. Menurut pemerintah
kenaikan harga minya dunia akan membuat kas negara tekor karena harus
membeli BBM impor dengan harga pasar dunia yang mahal. Benarkah demikian?
Ada fakta menyedihkan, karena Indonesia saat ini telah menjadi negeri
pengimpor minyak dengan produksi hanya 980.000 juta barel (1 barel = 159
liter) per hari. Tragis memang, karena kita sampai saat ini masih masuk
dalam organisasi pengekspor minyak (OPEC).
Kenapa Indonesia menjadi negeri pengimpor minyak?
Di Indonesia sebagian besar sumber-sumber minyak dan gas (migas) dikuasai
perusahaan migas asing negeri-negeri imperialis (AS, China, Uni Eropa) dan
antek-anteknya (borjuasi besar komprador, tuan tanah besar dan kapitalis
birokrat) di dalam negeri, seperti Exxon Mobil Oil (EMOI), Caltex, Shell,
Unocal, British Petroleum (BP), Stanvac, Conocco Philips, Petrochina,
Petronas, Medco, Lapindo, dsb. Pertamina hanya memiliki sedikit sekali
kilang dan sumur-sumur minyak yang tidak bisa lagi beroperasi karena dimakan
usia, ditambah lagi keterbatasan untuk memproduksi minyak mentah menjadi
BBM. Perusahaan migas asing dan antek-anteknya ini yang banyak menguasai
pasokan minyak dalam negeri. Migas yang mereka kuasai digunakan untuk
memasok ke cadangan minyak di negeri asalnya dan mereka lepas ke pasar
internasional dengan harga tinggi. Artinya mereka menjadi penimbun sekaligus
pemain harga (spekulan) atas komoditas minyak.
"Akibat menipisnya pasokan migas dalam negeri, kaum imperialis yang didukung
antek-anteknya memaksa Indonesia mengimpor BBM mereka dengan harga mahal.
Hal itu membuat kita harus mengeluarkan biaya yang besar. Dengan dalih
itulah, pemerintah kemudian melahirkan kebijakan mencabut subsidi BBM atau
menaikkan harga BBM. Padahal, Indonesia juga mengekspor minyak. Seharusnya
kita justru untung jika harga minyak dunia tinggi, tetapi hasil keuntungan
ekspor habis untuk membeli BBM impor dan dikeruk para broker atau pemain
harga dalam negeri.
Kaum imperialis dan antek-anteknya di dalam negeri juga memaksa kita
menaikan harga jual BBM di dalam negeri, agar mereka mendapatkan keuntungan
yang lebih besar dari penjualan BBM milik mereka di dalam negeri. Mereka
bukan saja menguasai minyak tapi juga menguasai jalur perdagangannya. Jika
harga BBM yang disubsidi pemerintah tidak dipangkas, maka harga minyak
mereka yang dijual berdasarkan harga pasar dunia pasti akan sulit terbeli.
Dengan memanfaatkan produksi minyak kita yang sedikit, tidak ada pilihan
selain membeli BBM yang mereka jual dengan harga mahal, karena BBM sangat
dibutuhkan untuk produksi, industri, listrik, transportasi dan sebagainya.
Itu juga kenapa yang membuat listrik terus mahal dan harga-harga kebutuhan
pokok terus melambung tinggi. Jika pemerintah terbatas dananya untuk membeli
BBM dari kaum imperialis tersebut, mereka tidak tanggung-tanggung untuk
mengucurkan utang sebagai penutup kebolongan kas negara, sehingga kita terus
terjerat dalam utang yang bebannya harus ditanggung oleh rakyat dengan
pencabutan subsidi dan penggenjotan pajak.
Alasan pemerintah bahwa subsidi BBM membuat kas negara terkuras
sesungguhnya tidak betul. Selama ini kas negara justru terkuras karena
membayar utang luar negeri. Setiap tahun, 30 persen (Rp. 63 triliun) APBN
dihabiskan untuk membayar cicilan bunga utang saja, belum utang pokoknya.
Utang itu sendiri tidak dinikmati rakyat, karena untuk mendanai
proyek-proyek imperialis dan antek-anteknya di dalam negeri seperti
pembangunan jalan tol, perumahan mewah, gedung-gedung perkantoran mewah,
pusat-pusat perbelanjaan besar, dan perluasan areal-areal perkebunan untuk
tanaman komoditi pesanan imperialis seperti kelapa sawit, jarak, jagung
untuk energi alternatif (biodiesel). Belum lagi habis untuk gaji pejabat
tinggi, untuk anggaran militer dan kepolisian, dan pos-pos lain yang tidak
terlalu berarti.
Kenapa semua itu bisa terjadi?
Pemerintah SBY-Kalla selama ini telah menutupi kenyataan bahwa kita
terpaksa melakukan itu semua karena tekanan imperialis agar mendapatkan
impor bahan baku bagi industri "rakitan" di dalam negeri. Alasan lainnya,
kita membutuhkan devisa (utang luar negeri) untuk mengimpor barang baku
industri 'jahitan" dalam negeri dan beberapa barang keperluan pokok, seperti
beras, gula, tekstil dan lain sebagainya. Dimana secara nota bene-nya dapat
dihasilkan di dalam negeri dengan syarat ada reforma agraria sejati,
terutama land reform (redistribusi tanah).
Dengan demikian, kenaikan harga BBM sesungguhnya menunjukkan betapa tidak
becusnya pemerintah SBY-Kalla dalam mengelola sendiri energi dalam perut
bumi ibu pertiwi untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. "Duet maut"
SBY-Kalla yang terus menghancurkan penghidupan rakyat Indonesia sehari-hari,
lebih sedia dan berdiri tegak sebagai pembela kaum imperialis dan
antek-anteknya di dalam negeri, daripada membela rakyatnya yang terus
tercekik dan terhimpit. Rezim berkuasa ini lebih memilih menaikkan harga BBM
daripada menaikkan upah (buruh dan buruh tani) dan gaji (pegawai dan
prajurit rendahan), melaksanakan land reform, membuka lapangan pekerjaan,
menurunkan harga kebutuhan pokok, menjamin kesempatan mengenyam pendidikan
bagi seluruh rakyat ataupun memberikan pelayanan kesehatan terjangkau dan
bermutu bagi rakyat.
Penderitaan Rakyat Akibat Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga BBM tak pelak lagi akan menambah penderitaan rakyat di
tengah melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Jika harga BBM dinaikkan
akan memicu naiknya inflasi karena melonjaknya harga-harga. Inflasi
mencerminkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang menekan daya beli
masyarakat di luar perkiraan. Artinya kenaikan harga BBM pasti akan memicu
kenaikan harga di segala lini. Dengan rendahnya upah dan pendapatan rakyat
Indonesia yang rata-rata di bawah 2 dollar AS per hari, bisa dipastikan
barang-barang dan berbagai kebutuhan lainnya akan sulit terjangkau oleh
masyarakat. Hal ini tentu saja akan mematikan perekonomian dalam negeri.
Kemiskinan dan angka pengangguran juga pasti akan meningkat. Ketika harga
BBM dinaikkan bulan Maret dan Oktober 2005, telah mengakibatkan peningkatan
jumlah angka kemiskinan dari 15,97% pada Februari 2005 menjadi 17,75% pada
Maret 2006 (Hasil Susenas BPS, 2006). Angka kemiskinan saat ini menurut BPS
sekitar 36,8 juta jiwa atau 16, 85 persen dari total penduduk Indonesia.
Sementara Lembaga Kajian Reformasi Pertambangan dan Energi memperkirakan,
kenaikan harga BBM sebesar 30 persen berpotensi mengakibatkan orang miskin
bertambah sebesar 8,55 persen atau sekitar 15,68 juta jiwa dan pengangguran
diprediksikan meningkat 16,92 persen dari angka pengangguran resmi yang
dilansir BPS sebesar 10,11 juta hingga Agustus 2007.
Kepastian jelas dari kenaikan harga BBM bahwa penghidupan massa rakyat
semakin merosot dan hancur. Daya hidup buruh, kaum tani miskin dan buruh
tani, pegawai negeri rendahan, prajurit rendahan, nelayan, intelektual
demokratis, pedagang kecil dan semua klas semi-proletar perkotaan (tukan
asongan, loper koran, dsb) semakin lemah dan terancam bangkrut. Buruh
terancam PHK secara luas akibat pengusaha melakukan efisiensi dengan alasan
mahalnya ongkos produksi untuk bahan baku sebagai akibat naikknya harga BBM,
atau menambah jam kerja buruh untuk terus meningkatkan produksi agar
perusahaan tidak lekas bangkrut. Hal ini terutama mengancam
industri-industri kecil dan menengah. Di pedesaan, kaum tani miskin akan
sangat mudah kehilangan tanah akibat jeratan utang para lintah darat yang
mengincar tanah mereka, dengan memanfaatkan ketidakberdayaan tani miskin
dalam memenuhi beban kebutuhan hidup akibat kenaikan harga BBM. Buruh tani
akan kehilangan pekerjaan, karena biaya produksi pertanian yang tinggi dan
tuan tanah-petani kaya akan mengurangi penggunaan tenaga kerja dan
mengurangi waktu kerja, termasuk meningkatkan jumlah kerja yang tidak
dibayarkan. Angka anak putus sekolah terutama dari kaum tani miskin dan
buruh tani meningkat tajam, karena tidak sanggup membayar uang gedung, SPP,
dan biaya buku serta seragam sekolah.
Di sisi lain, para nelayan terancam kehilangan pendapatan akibat mahalnya
biaya solar untuk melaut. Ibu rumah tangga semakin pusing tujuh keliling
karena minyak tanah dan gas mahal dan sulit didapatkan. Ongkos tranportasi
umum naik, biaya sekolah juga ikutan naik dan pastinya kenaikan biaya
keperluan hidup paling pokok seperti beras-lauk pauk dan sandang. Ini tentu
akan diikuti beban penderitaan langsung maupun tidak langsung yang
menggerogoti penghasilan, gaji atau upah yang bernominal tetap.
Sementara rencana pemerintah memberikan bantuan langsung tunai (BLT)
sebagai kompensasi BBM, dengan skema uang Rp 100 ribu + minyak goreng + gula
bukanlah jawaban. Selama ini BLT hanya menyusahkan dan pastinya tidak akan
mampu mengatasi kebutuhan hidup sehari-hari. Jadi, Wapres Jusuf Kalla
sebaiknya menarik ucapannya yang asal bahwa demo menolak harga BBM hanya
membela orang kaya dengan alasan adanya kompensasi bagi rakyat miskin?
Menyikapi hal tersebut, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyatakan Sikap :
1. Tolak Rencana Kenaikan Harga BBM
2. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok
3. Naikkan Upah
4. Laksanakan Reforma Agraria Sejati (land reform)
Mari Bergerak Tolak Kenaikan Harga BBM
Tidak ada kata lain bagi kita selain menolak rencana pemerintah menaikkan
harga BBM, karena hanya akan membawa penderitaan, kemelaratan dan kemiskinan
bagi rakyat Indonesia. Untuk itu, Front Perjuangan Rakyat (FPR) MENGAJAK dan
MENYERUKAN kepada seluruh organisasi yang tergabung didalamnya diberbagai
kota serta lapisan masyarakat Indonesia untuk :
1. Terus menerus melakukan aksi Penolakan terhadap rencana Pemerintah
Menaikkan Harga BBM dengan berbagai macam cara, mulai aksi-aksi pemogokan di
pabrik, kawasan-kawasan industri, perkampungan, relly-relly di jalan-jalan
sampai pendudukan kantor-kantor pusat kekuasaan seperti kantor Gubernur,
Bupati/Walikota dan juga Istana Presiden/istana Negara.
2. Terus memperkuat dan mensolidakan barisan serta melakukan
konsolidasi intensif untuk terus menggalang kerjasama perjuangan melalui
politik front persatuan dengan organisasi massa demokratis lainnya,
memperluas politik FPR disemua lini dan kesempatan dalam rangka memblejeti
dan melawan rezim SBY-Kalla khususnya dalam Menolak Kenaikan Harga BBM.
3. Untuk terlibat dalam Aksi Demonstrasi Nasional Menolak Kenaikan
Harga BBM sekaligus memperingati 10 tahun reformasi pada 21 Mei 2008,
mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM.
Untuk itu Bagi seluruh Masyarakat Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) kami
harapkan bisa terlibat dalam "Aksi Front Perjuangan Rakyat /FPR Kepung
Istana Negara" "Menolak Kenaikan Harga BBM" pada 21 Mei 2008 dengan titik
kumpul di Bundaran Hotel Indonesia ( HI ) mulai Pukul 09.00 Wib dan bergerak
Ke Istana Negara/presiden.
Aksi ini akan kami lakukan serentak secara nasional oleh
organisasi-organisasi yang tergabung dalam FPR di berbagai kota yaitu :
Medan, Jambi, Palembang, Bandar Lampung, Jakarta, Bandung, Garut,
Jogjakarta, Purwokerto, Wonosobo, Jombang, Malang, Surabaya, Lamongan,
Denpasar, Mataram, Pontianak, Palu, Makassar, Donggala, Bulukkumba, Kendari,
Banyuwangi, Banjarmasin, Tasikmalaya dan Aceh.
JAKARTA, 18 MEI 2008
FRONT PERJUANGAN RAKYAT
Keterangan tambahan :
F R O N T P E R J U A N G A N R A K Y A T
Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria
(AGRA), Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Serikat Buruh Aspirasi
Pekerja Indonesia (SB-API), Forum Buruh Cengkareng (FBC), Serikat Buruh
Eterna Jaya Industries (SBK-EJI), Gerakan Rakyat Indonesia (GRI), Front
Mahasiswa Nasional (FMN), Gerakan Mahasiswa Keristen Indonesia (GMKI),
Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), Gerakan Mahasiswa
Nasional Kerakyatan (GMNK), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia
(PMKRI), Central Gerakan Mahasiswa Universitas Bung Karno (CGM-UBK), Sarekat
Hijau Indonesia (SHI), Liga Pemuda Bekasi (LPB), Komite Pemuda Cengkareng
(KPC), Arus Pelangi (AP), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI),
Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI), Serikat Pekerja Hukum Progresif
(SPHP) Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong (ATKI-HK), INFID, INDIES,
LP3ES, MIGRANTCARE, UPC, UPLINK, PBHI Nasional.
* * *
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.20/1452 - Release Date: 17/05/2008
18:26
[Non-text portions of this message have been removed]