IN MEMORIAM KANG ALI
Oleh : Abdul Muiz Syaerozie

Seharusnya, santri tidak gagap technologi (GATEK). Kedepan santri 
tidak perlu merasa asing terhadap perkembangan technologi. Bukan 
sekedar menikmati, tetapi juga mampu menciptakan dan mengembangkan 
technologi baru, untuk kepentingan umat manusia.

Gagap technologi yang menimpa kaum santri akibat sikap pesantren 
yang berupaya menjauhkan santri dari dunia technologi. Seolah-olah 
technologi adalah bid'ah dolalah (Bid'ah yang sesat) yang harus di 
hindari dari dunia relegius kaum santri. Padahal, technologi sangat 
dibutuhkan untuk perangkat da'wah di masa kini.

Karena itu, pesantren saharusnya menghentikan prilakunya yang 
menganggap technologi bukan sebagai bagian penting dalam kehidupan 
da'wah islamiyyah. Pesantren harus mulai menata dan merumuskan 
technologi sebagai bagian ilmu yang patut dipahami kaum santri 
walaupun sebatas ekstrakulikuler.

Pendapat ini mengingatkan pada sosok Moh. Ali Hannan. Dia selalu 
melontarkannya saat berdiskusi dengan kawan-kawannya tentang dunia 
pesantren. Tak heran jika dalam setiap aktivitasnya, kang ali, 
demikian pria ini akrab dipanggil, selalu mendampingi santri dalam 
mengenal technologi.

Demikian pula, kemampuannya dalam bidang technologi, kang Ali selalu 
menjadi rujukan masyarakat dan santri dalam berkonsultasi tentang 
beragam persoalan technologi. 

Satu hal yang menarik pada sosok kang Ali adalah kemampuannya 
menerangkan isi  kitab kuning (kitab klasik) dengan menggunakan 
metode analogi. Dia, dalam menerangkan makna yang disampaikan kitab 
kuning, tak jarang menganalogikannya dengan sitem yang berlaku dalam 
technologi. Kemampuan menerangkan kitab kuning dengan nalar 
technologi adalah prestasinya yang luar biasa.

Selain itu, dia mampu membuat stasiun pemancar radio, stasiun 
pemancar televisi, merakit komputer, dan lain sebagainya. Penguasaan 
terhadap technologi, baik secara teoritik maupun praktik, diraihnya 
secara otodidak. 

Sebab, Setamat SMP, dia tidak melanjutkan ketingkat SMU. Apalagi 
kuliah. Kang Ali, pasca SMP  hanya mendalami ilmu keislaman 
tradisional di beberapa pesantren salaf. (pesantren yang tidak 
menggunakan sistem madrasi, melainkan sistem pengajian blandongan 
dan sorogan). Walaupun demikian dia selalu berinteraksi dengan dunia 
tecnologi.  

Salah satu cita-cita besarnya adalah memberdayakan santri bukan 
hanya pinter ngaji, melainkan juga pinter technologi, sekaligus 
berakhlaqul karimah. Oleh karena itu, dia mendidik santri mengenal 
elektronik dan dunia komputer. Ini dilakukan melalui kursus gratis 
dalam setiap bulan bagi santri. 

Kang Ali, enggan muncul ke publik. Namun selalu ada dalam barisan 
ketika gerak bersama kawan-kawanya. Misalnya dalam gerakan advokasi 
menuntut pemerintah memindahkan tol agar tidak melewati areal 
pesantren, aktif menghidupkan majalah Laduni, gesit mengcounter 
gerakan wahabisasi, dan lain-lain. 

Kini Kang Ali telah tiada. Dalam usianya yang masih muda, belum 
berumah tangga, kang Ali sangat lur biasa. Cara pandangmu mampu 
merubah pandangan kaum santri terhadap technologi. 

Selamat jalan Kang Ali, selamat jalan Kang Ali, Selamat Jalan Kang 
Ali, kini, aku dan semua kawanmu merasa kehilangan. semoga amal 
ibadahmu diterima disisi Allah Swt. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa 
akrim nuzulahu. Waj'al qobrohu raudlotan min riyadlil jinan. Amin.



Kirim email ke