Jurnal Sairara:
   
   
  KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
   
   
  5.
   
   
  Barbara, istri Sitor, pergi mengambil mobil yang diparkir lumayan jauh dari 
Restoran Indonesia. Mencari tempat parkir bukanlah soal sederhana di Paris. 
Sambil menunggu , di beranda restoran,  Sitor dan aku berbincang-bincang ringan 
tentang berbagai soal dalam dunia sastra Indonesia, termasuk berbagai kejadian 
penting dalam sejarah sastranya. Aku selalu mencoba mengeksplorasi kekayaan 
pikiran dan pengalaman dari angkatan-angkatan pendahulu serta orang lain, 
termasuk mereka yang secara usia lebih muda dariku dengan bertanya dan cermat 
mendengar. Apalagi dari tokoh seperti Sitor.
   
   
  Di sisa waktu jumpa kami yang tinggal beberapa menit  lagi, aku menanyakan 
Sitor bagaimana ia melihat masalah silam seperti  polemik Lekra Versus kelompok 
Manifestan dihubungkan dengan perkembangan tokoh-tokoh kuncinya dan para 
pendukungnya seperti Arief Budiman, Goenawan Mohamad,Taufiq Ismail, Satyagraha 
Hoerip alm, dan lain-lain lagi.... 
   
   
  Dalam waktu yang sangat terbatas, aku sadar bahwa tidak gampang bagi Sitor 
dan siapa pun untuk menjelaskan masalah yang tidak sederhana secara 
panjang-lebar. Betapa pun  Sitor masih juga berusaha keras menjawabku. Dari 
jawaban singkat Sitor karena memburu waktu, masih terkesan padaku bahwa ia 
tidak bergeming dari posisi komitmen sosial dan kemanusiaan sastra.  Tapi 
komitmen demikian tidak menghalangnya mengolah tema-tema erotis atau tema apa 
saja dalam karya-karyanya seperti yang terdapat misalnya dalam antologi "Biksu 
Tak Berjubah".
   
   
  Ketika menyinggung sikap Pramoedya A Toer yang tidak mau memaafkan  Goenawan 
Mohamad [GM], dengan hati-hati menjawabku bahwa ia pun tentu saja mempunyai 
perbedaan dengan GM. "Tapi saya menghormati pendapat dan hak dia membela 
pendapat", tambah Sitor yang ketika masuk ke kepalaku kupahami sebagai sikap 
sejajar dengan politik kebudayaan "biar bunga mekar bersama seribu aliran 
bersaing suara". Aku tidak jelas, apakah sikap terbuka ini merupakan suatu 
kesimpulan dari  pengalaman masa silam di sekitar tahun 60an di mana ia 
langsung telibat?  Tapi aku menduga: ya! Karena masing-masing yang terlibat 
dalam polemik sengit pada waktu itu,  dari mereka banyak perkembangan 
pemikiran. Satyagraha Hoerip berobah, GM berkembang pemikirannya, demikian juga 
Arief Budiman. Tidak banyak yang tidak berkembang. 
   
   
  Melihat perkembangan begini, aku jadi teringat akan Satyagraha Hoerip [Mas 
Oyik]  yang mengharapkan agar kita bisa duduk menghadapi satu meja membicarakan 
masa silam guna menarik pelajaran demi keperluan hari ini dan esok.  Ide ini 
juga pernah dilontarkan oleh Bersihar Lubis, selaku pemimpin redaksi Majalah 
Medium Jakarta, dalam jumpa kami di kantor redaksi. Masihkah jumpa begini 
berguna? Gola Gong dari Rumah Dunia, Serang, pernah mencoba melakukan usaha ke 
arah ini walau pun agaknya tidak terlalu berhasil karena satu dan lain sebab.  
Tapi ia telah mencoba. Syarikat Indonesia, Yogyakarta pun dengan caranya 
sendiri juga sudah mencoba. Demikian juga Andi Makmur Makka dari The Habibie 
Center Jakarta juga melakukannya. 
   
   
  Mulai dari apa yang diajukan Sitor dan Mas Oyik di atas, lalu menyusur 
kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan dalam bidang kebudayaan, aku mendapatkan 
adanya suatu benang merah bernama hasrat mengujudkan rekonsialisasi nasional 
sejajar dengan rangkaian nilai republiken dan berkeindonesiaan. 
Mengejawantahkan motto "bhinneka tunggal ika" jadi kenyataan. Memandang 
keragaman kita sebagai suatu keberuntungan, sedangkan penyeragaman sebagai 
suatu jalan yang menjurus ke jurang petaka. Kalau aku tak salah tafsir, 
barangkali ini pulalah sari pendapat GM yang ia ajukan ketika berjumpa di 
Paris, bahwa "Pancasila adalah jalan keluar bagi Indonesia". Republik dan 
Indonesia bagiku adalah sebuah konsep haridepan yang masih tanggap dan 
apresiatif hanya masih sedang dalam proses menjadi. Kekuasaan militerisme 
selama 30 tahun setelah penggulingan Soekarno, merupakan salah satu tikungan 
tajam yang dilalui dalam proses menjadi ini. Menjadi manusia Indonesia yang 
republiken dan
 berkeindonesiaan pun, kukira,  suatu proses juga bukan otomatis karena menjadi 
warga negara Republik Indonesia.   
   
   
  Hitam malam makin mewarnai atap dan pojok-pojok jalan ketika Barbara tiba 
dengan mobilnya. Sitor memelukku. Mata kami bertatapan tanpa mengucapkan kaa 
sepatah.  Tapi kami tahu apa yang ingin kami ucapkan. Sadar bahwa kami 
"hanyalah pengembara" jika menggunakan ungkapan Ramadhan KH. Kurasakan tangan 
Sitor menepuk punggungku. 
   
   
  Kami saling melambaikan tangan ketika Barbara meluncurkan  mobilnya dengan 
mengganti perseneling menempuh  jalan-jalan malam kota Paris.***
   
   
  Paris, Mei 2008.
  ---------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
    Keterangan foto:
  * Sitor Situmorang sedang membacakan puisi-puisinya dalam antologi ''Biksu 
Tak Berjubah"di Koperasi Restoran Indonesia, Paris [Dari: Dok.JJK].
   
   *Foto Sitor Situmorang di Praha 1965, diambil dari Dok. Tahir Pakuwobowo 
yang dikirimkannya kepadaku].
      

   
  Sitor Situmorang di Praha,1965.
    
---------------------------------
  Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
Donate Now.


       
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
  Yahoo! Movies is all you need


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke