BBM, REVOLUSI DAN KEMERDEKAAN RAKYAT
Oleh Abdul Muiz Syaerozie

Demi untuk menghindari defisit dan krisis APBN, Pemerintah harus 
menaikkan tarif Bahan Bakar Minyak (BBM). argumentasi ini bagi 
rakyat kecil dan miskin sangat irrasional. pasalnya, dalam kaca mata 
kaum miskin, tidak hanya dari BBM, negara ini dapat masukan. sektor-
sektor lain pun sebenarnya menyumbang negara sangat luar biasa. 
seharusnya ini dimaksimalkan hingga dapat mengimbangi kondisi krisis 
BBM internasional.

Selain itu, yang menjadikan APBN mengalami defisit, itu karena 
anggaran belanja untuk kebutuhan pejabat sangat besar. hampir 
menyamai anggaran untuk kebutuhan rakyat. minimalnya, coba kalau 
anggaran untuk pejabat dikurangi, dan kebutuhan rakyat untuk 
sementara tetap seperti yang ada, mungkin tidak perlu pemerintah 
menaikkan harga BBM.

jadi, dalam pandangan kaum miskin, menaikkan harga BBM sengaja untuk 
menyengsarakan rakyat, menguntungkan pemodal, dan untuk 
mempertahankan anggaran belaja pejabat pada level yang tinggi. cara 
berpikir sederhana ini paling tidak menggugah kita untuk mengamini 
pendapat kaum miskin.

sebab, yang paling merasakan pahitnya kenaikan harga BBM adalah 
rakyat kecil. dari naiknya harga BBM, naik pula kebutuhan-kebutuhan 
sehari-hari seperti tarnsportasi, komunikasi bahkan kebutuhan 
pokok. "Sudah sengsara malah dibikin sengsara", demikian kata tukang 
becak di Babakan Ciwaringin Cirebon.  

Revolusi karena BBM

Tak habis pikir. setiap pergantian kepemimpinan di negeri ini seolah 
olah menaikkan harga BBM menjadi suatu kewajiban dan menjadi tradisi 
dalam lika-liku perjalanan pemerintahan kita. Pada masa akhir 
pemerintahan Soeharto, BBM dinaikkan. masa Habibi dan Gus dur juga 
mengalami nasib yang sama. begitu pula pada masa kepemimpinan Mega, 
harga BBM selalu naik. Dan pada pemerintahan SBY-JK, yang pada masa 
kampanye berjanji tidak menaikkan harga BBM, juga tidak luput dari 
situasi ini..

Anehnya, pengalaman-pengalaman yang telah dilalui tidak pernah di 
jadikan sebagai bahan pelajaran. Malah dianggapnya ringan. Menaikkan 
harga BBM, rakyat dipaksa, persoalan telah selesai. Yang unik, 
argumentasi yang diungkap nyaris sama. yakni kondisi BBM 
internasional melonjak tinggi, maka untuk menyelamatkan APBN harga 
BBM dinaikkan. 

Ini menunjukkan bahwa elit-elit kita yang hendak menjadi pemimpin, 
dan dan elit-elit yang tergabung dalam tim ekonomi pemerintah, tidak 
pernah berfikir secara serius untuk dapat merumuskan solusi terbaik 
ditengah melonjaknya harga BBM. Mestinya, sesekali mencoba 
merumuskan langkah baru selain menaikkan harga BBM. Jika pun ada 
mengapa tidak dilaksanakan?
Disinilah titik keanehannya. Pasti ada sesuatu yang tak nampak 
dihadapan kita. Entah itu tekanan asing, keserakahan pejabat, 
ketulian pemerintah, atau kebekuan berpikir pemerintah kita. 

Jika karena kebekuan berpikir pemerintah, maka hendaknya pendidikan 
di Negara kita harus benar-benar ditingkatkan kwalitasnya. begitu 
pula sumber daya manusianya. sehingga  kedepan tidak ada lagi 
pejabat yang tak cerdas. Tetapi, jika karena keserakahan dan 
ketulian pemerintah, bahkan karena tekanan asing, maka revolusilah 
jawabannya. Revolusi mental, revolusi moral, revolusi kepemimpinan 
dan revolusi keterjajahan asing. 

BBM dan Kemerdekaan Rakyat

Negara ini mempunyai banyak sumber minyak. Tinggal bagaimana kita 
menyikapinya. Apakah serius dikelola untuk kepentingan rakyat atau 
dikelola untuk kepentingan pemodal dan asing. Namun yang jelas 
rakyat sangat berharap, melalui kekayaan alam dinegeri ini termauk 
kaya minyak, kehidupan rakyat benar-benar merdeka.

Melalui bahan baker minyak, kita bisa menegaskan kemerdekaan bangsa 
dihadapan neokolonialisme. Sumber-sumber minyak dan berbagai 
kekayaan alam ini dikelola oleh Negara kita. investor asing dapat 
ikut bergabung jika mau di perintah dan tunduk pada system pembagian 
berdasarkan keputusan pemerintah Indonesia. 

Dan ini bisa dilakukan jika pemerintah sudah dibersihkan dari para 
pejabat yang hanya mementingkan diri sendiri, bermental korup dan 
hanya yang selalu mengabaikan aspirasi rakyat. Sekaligus pejabat 
yang selalu berfikir projek orientied.

Sebagai contoh saja, dalam kasus mega proyek jalan tol Cikapa yang 
dihadapi masyarakat, santri dan Kyai di pesantren Babakan, ternyata, 
pejabat-pejabat yang berhubungan dengan hal itu mendapatkan bagian 
proyek seperti pengurugan, pemasangan tiang-tiang iklan dan lain 
sebagainya. Sehingga mereka bersikap acuh tak acuh terhadap gejolak 
protes masyarakat. Parahnya, yang membiayai awal adalah uang Negara. 
Jadi pejabat-pejabat itu mengambil keuntungan melalui uang Negara.  
Oleh karenanya, soal BBM harus ada revolusi besar-besaran demi 
menghindari pejabat yang bejat.

Wallahu'alam Bissawab.



Kirim email ke