Sepertinya menarik dan penting, sampai2 NU Online meresensi sendiri. Bagaimana 
dapat buku/jurnalnya. Trims

Nur

Memproklamirkan ‘Ahlussunnah wal Bidah Hasanah’
26/05/2008

Judul: Ahlussunnah wal Bidah Hasanah

Penulis: Tim Jurnal Kalimah

Penerbit: Lesbumi Yogyakarta

Cetakan: Mei 2008

Tebal: 169 halaman

Peresensi: A Khoirul Anam



Kalangan Nahdliyin (warga organisasi Nahdlatul Ulama/NU), juga para
kiai dan santri di pondok pesantren sering dihadapkan dengan gugatan
kelompok yang menamakan diri ‘kelompok pemurnian Islam’ atau ‘kelompok
modernis’. Mereka yang muncul belakangan ini ‘berteriak-teriak’
mengharamkan alias mencap sesat beberapa ritual peribadatan (ubudiyah)
yang sudah lama dijalankan semenjak Islam pertama kali berkembang di
Nusantara, seperti tahlilan, ziarah kubur, selamatan, selawat Nabi,
perayaan Maulid Nabi, dan masih banyak lagi yang lainnya.



Ada satu senjata andalan yang sering mereka todongkan yakni bahwa Nabi Muhammad 
SAW pernah menyatakan: “Kullu bid’atin dholalah, wa kullu dhalalatin fin nar”,
yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi: semua bid’ah atau
perkara baru dalam beribadah itu adalah sesat dan semua kesesatan itu
adanya di neraka.



Terkadang gugatan itu ditanggapi ditanggapi sambil lalu, terkadang
malah didiamkan saja. Namun terkadang juga ditanggapi serius seperti
ini: Bahwa kata ‘kullu’
dalam hadits Nabi di atas menurut kaidah kebahasaan tidak harus berarti
‘semua’ tetapi juga berarti ‘sebagian’. Kemudian dikutip juga kaidah
Imam Syafi’i bahwa bid’ah itu ada dua, adakalanya ‘bid’ah hasanah’,
adakalanya ‘bid’ah dhalalah’, bisa jadi baik, juga bisa saja sesat.



Kadang gugatan ditanggapi dengan sedikit rumit begini: ‘Bid’ah’ itu
kata benda, tentu mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau
mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak
disebutkan dalam hadits Nabi di atas yang dalam ilmu balaghah
dikatakan, “hadzfus sifat alal maushuf”, membuang sifat dari benda yang 
bersifat”. Seandainya dituliskan kata ’bid’ah’ maka terjadi dua kemungkinan: 
yang baik dan yang sesat. Dan seterusnya.



Namun kalangan penggugat tidak peduli dengan ilmu tata bahasa Arab yang
rumit sebagai prasyarat memahami dalil hadits. ”Pokoknya yang bid’ah
itu sesat, titik!” Dan itu terus bergulir sampai sekarang. Klaim bid’ah
sesat betapa pun tetap menjadi tambahan pekerjaan bagi Nahdliyyin yang
tidak mengenakkan, tidak berguna sama sekali.



Nah, ada selentingan yang menarik dari para penggiat Lembaga Seniman
dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi), lembaga kesenian NU di
Yogyakarta. Dalam jurnal ‘Kalimah: Jalinan Kreatif Agama dan Budaya’ edisi 
pertama ini mereka mengangkat istilah ‘ahlussunnah wal bid’atil hasanah’. 
Seakan mereka memproklamirkan bahwa ‘kami ini memang kelompok ahli bid’ah 
hasanah’.



Selama ini klaim warga Nahdliyyin sebagai 'ahlussunnah wal Jamaah'
(Aswaja) atau pengikut setia Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya
dianggap kurang menggigit; kurang membidik ke sasaran, karena kalangan
‘pemurnian Islam’ juga bisa mengkalim diri sebagai Aswaja. Sama saja
ketika kalangan Nahdliyin menyebut diri sebagai pengikut ulama salaf,
mereka juga sering menamakan diri sebagai kelompok salafi.



Maka proklamirkan saja kita sebagai ahli bid’ah hasanah, sekedar
mengakhiri polemik, karena terma ’bid’ah’ lah yang selama ini terus
menjadi andalan mereka. Lesbumi Yogyakarta sepertinya sedang mengkritik
kalangan Nahdliyyin yang sering berlaku defensif dan bersibuk melayani
gugatan kalangan ’pemurnian Islam’. Sekali lagi, perdebatan tentang
bid’ah itu sama sekali tida berguna. 



Memang, masih ada semacam ketakutan yang dibawa-bawa dari Tanah Arab
sana, dimulai pada permulaan abad-20 saat berkembangnya faham Wahabi.
Mereka sangat ketakutan dengan terma ’syirik’ atau menyekutukan Allah
SWT sehingga apapun bentuk ibadah yang tidak diajarkan, atau segala
bentuk laku hidup yang tidak pernah dicontohkan langsung oleh Nabi
jangan dilakukan! Makam para sahabat Nabi yang bernilai historis
diratakan agar tidak ada yang meminta-minta kepada arwah. Lalu,
bermadzab atau mengikuti pendapat ulama dilarang, karena semua hal
harus dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Hadits. 



Untung saja waktu itu KH Hasyim Asy’ary, KH Wahab Chasbullah dan para
kiai yang tergabung dalam ’Komite Hejaz’ (yang merupakan cikal bakal
organisasi NU) segera mengirimkan surat kawat dan memohon dengan hormat
kepada Raja Ibnu Saud agar menghargai perbedaan pandangan di kalangan
umat Islam seluruh dunia, dan alhamdulillah dikabulkan.



Demikianlah. Namun ketakutan untuk berlaku ’syirik’ itu terus
menjadi-jadi , apalagi ketika dicampuraduk dengan kepentingan politik.
Bahwa semakin banyak pilihan dalam beribadah, semakin banyak pendapat
ulama maka semakin sedikit kesempatan penguasa Arab untuk berlaku
otoriter. 



Tidak untungnya ketakutan itu terus menular ke Nusantara. Tidak
untungnya lagi, kalangan anti bid’ah ini berpretensi menghapuskan
apapun yang kelaku dalam tradisi masyarakat setempat (meskipun secara
diam-diam mereka juga sering mengamalkan bid’ah itu). Oleh kalangan
ini, Islam secara sadar kemudian selalu diidentikkan dengan segala
sesuatu yang berbau Arab.



Tidak! Islam tidak bersifat lokal. Islam bukan hanya untuk orang Arab saja. 
Islam adalah rahmatan lil alamin, untuk umat sedunia.



Dengan memproklamirkan terma ‘ahlus sunnah wal bid’ah hasanah’ dalam jurnal 
Kalimah sepertinya
para penggiat Lesbumi Yogyakarta ingin menyelesaikan perdebatan dengan
gaya menantang, mengatakan bahwa "kami inilah pelaku bid’ah hasanah."



Jurnal Kalimah edisi ini semakin lebih bermanfaat dengan
menghadirkan beberapa tulisan penting terkait terma tersebut, tentang
keislaman di Nusantara. Tulisan budayawan Agus Sunyoto mengkaji proses
pengembangan nilai-nilai keislaman melalui budaya Nusantara. K Muhaimin
ingin “Menemukan Ruas Sambung Agama dan Budaya Lokal." M Jadul
Maula membincang soal Islam dan tranformasi budaya lokal, sekedar
meyakinkan bahwa para ulama Nusantara adalah benar-benar waratsatul anbiya,
pewaris para Nabi. Anis Masduki menjelaskan Aswaja Nusantara sebagai
model Aswaja yang benar-benar ‘hidup’ di tengah-tengah tradisi dan
problematika umat Islam di Nusantara.



Para ahli bid’ah hasanah ini juga tidak tanggung-tanggung melakukan
riset mengenai produk-produk bid’ah yang telah berkembang di Nusantara
seperti hadrah, tradisi rumatan, tradisi alalabang, kenduren, dan
konversi pewayangan. Ada juga biografi singkat mengenai sosok seorang
ahli bid’ah hasanah di Nusantara, KH Soleh Darat.



Di awal perbincangan Lesbumi Yogyakarta mengingatkan kembali kiprah
warga Nahdliyin di bidang kesenian. Para ulama telah berkompromi dengan
para seniman. Bukan dengan cara memunculkan ‘seni Islami’ yang sangat
sederhana dengan dengan mendata dan memamerkan simbol-simbol keislaman
seperti sekarang ini, tetapi menjadikan seni sebagai saranan untuk
mengembangkan nilai-nilai keislaman.



Mungkin saja, saat ini bidang kesenian kurang tergarap oleh kalangan
Nahdliyin gara-gara terlalu sibuk menganggapi klaim bi’dah itu. Maka
sekarang jangan sungkan-sungkan, katakan, ahlussunnah wal bid’atil hasanah.
Kami ini adalah ahli bid’ah yang baik. Ini bukanlah ide, atau ajaran
yang perlu dihafal diperdalam lalu dipaktekkan, tapi sebuah sikap dalam
menghadapi berbagai persoalan dan gugatan yang tidak penting.



Peresensi adalah aktivis NU Online 
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=12771



      __________________________________________________________
Sent from Yahoo! Mail.
A Smarter Email http://uk.docs.yahoo.com/nowyoucan.html

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke